NovelToon NovelToon
Melati

Melati

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Romansa / PSK
Popularitas:86.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jenk kelin

Melati...

Cantik, kan? Tentu saja. Nama itu sesuai dengan parasku.

Cantik, anggun dan berkelas.

Semua ku dapat dalam genggamanku. Semuanya. Tapi tidak dengan kebahagiaan.

Akankah kutemukan kebahagiaan itu? Apakah masih ada jatah bahagia untuk seorang ja lang sepertiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jenk kelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Calon Suami

"Bukan aku yang menghajar Rama." Ucap mas Bima. Garis wajahnya yang tegas, tampak mengeras. Ku rasakan rahangnya mengetat. Urat pelipisnya sampai menyembul keluar.

Sekian lama bersama, aku sudah paham gerak-geriknya, tahu dia berbohong atau tidak, kali ini aku yakin seribu persen, Mas Bima serius. Aku melipat tangan di depan dada, menunggu ia meneruskan ucapannya.

"Aku membawanya pulang ke rumah malam itu. Kami sudah sepakat menemui orang tua Shinta hari ini. Mau tak mau, aku harus menyelamatkan masa depannya, dia anakku." Mas Bima menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.

"Jam dua pagi, aku melihat mobilnya keluar rumah. Instingku sudah tak enak, aku coba share ke Tim untuk mengawasi mobil Rama. Mereka bilang, GPS mobilnya berhenti lama di satu titik.

Saat mereka cek lokasi, Rama sedang dihajar habis-habisan. Beruntung lima orang itu tertangkap. Tapi Rama menghilang, titik GPSnya perlahan menjauh dari mereka. Aku tahu itu jalan menuju apartemenmu."

"Kira-kira, kenapa Rama memilih menemuiku?" Gumamku heran. Seingatku, hubungan kami tidak begitu baik. Rama mengataiku ja lang, juga hidungnya dipukul Mas Bima karena menghinaku.

"Kemungkinan tempat aman terdekat ada di apartemenmu." Tebak Mas Bima. Masuk akal juga, sih. Memangnya aku mengharapkan apa? Mengharapkan Rama memang membutuhkanku? Hal yang mustahil.

"Lalu Mas tahu darimana kalau Rama ku bawa kemari?"

"Dia bilang tetanggamu, seorang gadis, mungkin masih SMA. Rambutnya pendek, matanya bulat."

Aku mendengus, seimut itu Dara, sampai dikira masih SMA.

"Oke, jadi siapa kira-kira pelakunya?" Tanyaku.

Oh, astaga! Aku menutup mulut saat bayangan Dewan berkelebat dikepalaku.

"Nggak mungkin Dewan, kan?" Desisku. Aku takut Dewan membalas perlakuan Rama padanya waktu itu.

Mas Bima menggeleng, pundakku langsung merosot, lega.

"Satu-satunya yang mempunyai kemungkinan besar melakukan ini adalah Shinta. Atau bisa jadi orang tuanya, saat ini, kita masih proses interogasi pelaku di kantor."

Aku manggut-manggut, sudah pasti motifnya adalah sakit hati. Rama menghamili Shinta, bukannya tanggung jawab, malah minta di gugurkan.

"Untuk saat ini keselamatan Rama terancam, kita tidak bisa percaya begitu saja dengan orang sembarangan. Orang tua Shinta itu licik seperti rubah, menghadapinya harus pakai taktik." Bisik Mas Bima.

"Lalu bagaimana dengan rumah sakit ini?" Aku mulai ikut khawatir, takut membayangkan Shinta atau orang suruhan mereka akan nekat menghabisi Rama. Tidak menutup kemungkinan itu terjadi kan? Mengingat Rama sampai dibuat begitu.

"Satu-satunya hal yang aku syukuri, kamu membawanya kemari. Bukan ke rumah sakit lain." Mas Bima menatapku dengan pandangan lembut. Aku jadi kangen pelukannya. Eh,

Aku mengernyit, ini karena Marina Medika adalah rumah sakit terdekat dari apartemenku. Apanya yang istimewa? Apa karena rumah sakit ini elit dan modern?

"Aku kenal baik pemiliknya, ia tidak akan membiarkan pasiennya terancam bahaya saat berada di dalam sini. Aku sudah menghubunginya tadi. Dia berjanji akan memperketat pengamanan." Jelas Mas Bima, menjawab keherananku.

Aku mengerti, sekelas Mas Bima pasti banyak relasi.

"Terima kasih, Mel. Kamu pulanglah, Rama bisa aku titipkan. Aku harus ke kantor pagi ini."

Aku tersenyum, membalas ucapan Mas Bima. Entah mengapa, hatiku berdenyut nyeri. Kasihan Rama, meski ini adalah konsekuensi dari perbuatannya, tapi dalam keadaan seperti ini, ia pasti butuh seseorang di sampingnya.

"Lia..."

Aku menoleh saat mendengar namaku dipanggil.

"Yayan..." Desisku. Duh, mati aku. Jam berapa ini? Pasti Brian mengira aku mencoba kabur darinya. Aku melirik Bima sekilas. Ia nampak memandang Brian penuh tanya.

Pria itu berjalan menghampiri kami.

"Hei, bukannya kamu walinya Dewan? Kalian saudara?" Mas Bima menyapa Brian saat Brian sudah berdiri dihadapan kami.

Mereka bertemu pertama kali di kantor polisi, saat itu Rama mengeroyok Dewan di jalan.

Brian menjabat tangan Bima, sambil tersenyum lebar, aku tahu itu palsu.

"Senang bertemu kembali dengan anda Pak, saya calon suaminya Melia."

Seperti yang kuduga, bukan Yayan kalau nggak bikin aku dongkol.

Mas Bima memiringkan kepalanya, menatapku.

Aku menekuri ujung sepatu. Baru kali ini aku tak berani membalas tatapan Mas Bima.

***

Brian berdiri menjulang di hadapanku, yang terduduk di bangku taman rumah sakit Marina Medika.

Mas Bima sudah pamit duluan. Aku tahu ia masih penasaran dengan ucapan si Yayan sialan ini tentang 'calon suami'. Tapi untuk bertanya lebih lanjut, Bima nampak sungkan. Ia sadar jika bukan ranahnya lagi mencampuri urusanku.

Bisa jadi ia berfikir, aku ada main dengan Brian sejak masih terikat kontrak dengannya. Karena menyebut calon suami tepat setelah usai kontrak, terdengar sangat mencurigakan.

Tapi Mas Bima cukup dewasa untuk tidak membuat keributan disini, jadi ia hanya mengucapkan selamat lalu pamit pergi.

Brian memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Stelan tuxedo broken white dengan dasi kupu-kupu yang ia kenakan, kontras sekali dengan tempat yang ia kunjungi. Jasnya mungkin saja ia tinggal di mobil, Brian hanya memakai vest.

Ini jam sembilan tepat.

"Jadi mau kabur sama Pak Jendral, ceritanya?" Tanya Brian ketus. Mukanya masam, nggak enak banget dilihat.

"Aku nggak kabur." Selaku, tak terima.

"Lalu, ini apa? Cih, kabur kok ke rumah sakit. Nggak ke hotel sekalian?" Cibirnya kasar sekali.

Aku melirik sebal.

"Dari mana kamu tahu, aku disini?" Tanyaku sambil berdiri mensejajarkan wajahku dengannya.

"Sekarang jamannya meta, kamu boker juga aku tahu posisinya gimana."

Aku mendengus, curiga Brian memasang sesuatu untuk memata-mataiku.

"Jadi bukan Dara?" Selidikku, memastikan.

"Apa hubungannya sama Dara? Memangnya kamu pamit kabur sama dia?"

Aku lega, Dara benar-benar berada di kubuku. Setidaknya dia berhasil mengulur waktu dengan pura-pura tak tahu, agar Brian melacak sendiri keberadaanku.

Padahal rencana awal kami termasuk extrem, aku sempat ragu Dara bisa. Tapi ternyata semua rencana itu nggak berguna sama sekali. Justru Rama yang menyelamatkanku.

Tiba-tiba aku teringat anak itu.

"Mau tahu, aku ngapain disini?" Tanyaku.

Brian menaikkan dagunya, terlihat sekali dia menantang alasanku.

Aku berjalan meninggalkan taman, menuju ruang ICU, dimana Rama masih belum sadar juga.

Aku bertanya sebentar dengan suster jaga, untuk ijin melihat Rama sebentar. Mereka hanya mengijinkan melihat lewat jendela kaca .

Aku mengajak Brian kesana.

Aku menunjuk ranjang yang di pakai Rama. Anak itu sudah memakai baju pasien, sedang tertidur tenang dengan banyak alat menopang kehidupannya, malang sekali.

Brian memicingkan matanya, kelihatannya ia tidak mengenali wajah Rama yang babak belur. Tapi sebentar kemudian ia mendesah lirih, "Rama..." ucapnya.

Kami sama-sama terdiam disana, didepan jendela kaca. Menekuri sesuatu yang telah terjadi.

Aku tahu, banyak pertanyaan yang ingin Brian tanyakan. Tapi melihatku terpekur sedih, sepertinya dia cukup mengerti untuk tidak banyak tanya dulu.

Jadi ia diam saja di sampingku. Aku yang menatap Rama dan Brian yang menatapku.

***

1
Madonna Donna
hallooo 🤨
Vlink Bataragunadi 👑
ahiiiiiw /Facepalm/
Vlink Bataragunadi 👑
eeeeeeh/Chuckle/
Vlink Bataragunadi 👑
iiih kalian iseng bangettt/Facepalm/
Mamah Aish
awal nya maju mundur mau lanjut baca ,,tapi dari sini udah enak dibaca ,,aku suka thorr
Esti Purwanti Sajidin
kpn ka mel di bikin sibuk ka otor
sryharty
Doni patah hati mel,,karena tambatan hatinya malah pacaran sama Ade kamu,, wkwk
Esti Purwanti Sajidin
mel yg di sayang kita yg guling2 gigit2 bantal,,,wewww suami mna suami
Esti Purwanti Sajidin
di bikin hamil biar mel lebih bahagia
Madonna Donna
Mau mandiii kucing 🐱🐈🤭😊
Siska habibah
jeng mau kaya brian di dunia nyata ada g ya🤭
Siska habibah: /Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
sryharty
tenang marni
bang Brian memberi restu kalian ko
brian cuma lg nguji kamu doang biar makin kuat
Esti Purwanti Sajidin
pokokna klo teh meli udah keluar di cerita behhhh langsung wae greget yakaaannn
sryharty
entah lah mau komen apa aku ini
Jenk kelin: komen dong jenk, biar seru nih/Applaud/
total 1 replies
sryharty
nah gitu dong Marni,,
kamu juga harus ikut memperjuangkan ketulusan. cinta dewan
buat Zain kamu hebat bisa menyadarkan marni
Madonna Donna
novel ini sangat hidup
tokoh tokohnya keren
dialognya kekinian membuat para pembaca terkoneksi ke situasinya.
tulisannya menjadi candu yg nikmat terasa saat dibaca.

great job
you're the best Jeng Kelin ❤️🌹
Jenk kelin: ayo kita ngopi jenk. tersanjung akutu/Grin//Smirk//Pray/
total 1 replies
Madonna Donna
"... dalam hitungan ketiga, kamu lupa semuanya." 😀😁😂🤣
Anna Kusbandiana
wah bskalan sda doble date wedding nih....😅😅😅😘👍💖💖💖
Esti Purwanti Sajidin
ahhh sweet bgt,berasa se uprit baca nya,boleh serakah gak sih ka otor up yg byk
Jenk kelin: boleh kakaaakkk/Sob/ tapi tunggu otor kilap yak/Drool/
total 1 replies
Madonna Donna
apa cuma aku yg bayangkan ;
adegan situasinya..
dialognya..
complicated nya..
haa haa haa 🤣

you did it JENG KELIN ❤️🌹
Jenk kelin: let's we do it babe/Smirk//Kiss//Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!