Elena seorang anak bungsu dari keluarga Raymond dan memiliki empat saudara kandung yang sangat tampan. Saat berada di kampus, ia menjadi korban pembullyan karena mendekati Raymond bersaudara. Penampilan Elena yang sangat cupu membuat semua orang tidak mengetahui identitas gadis itu yang sebenarnya memiliki kepribadian ganda. Elena yang tidak tahan di bully terus menerus, ia membalas perlakukan semua orang yang menindasnya. Di balik penampilan cupunya, ia adalah seorang ketua organisasi mafia terkenal di negaranya. Namun, identitas yang ia sembunyikan dari para saudaranya akhirnya terbongkar, membuat keluarganya menjadi incaran musuh Elena. Apakah nantinya Elena bisa melindungi keluarganya dan kembali ke sosok kepribadian Elena yang dahulu?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecupan Istimewa
RASA YANG TERPENDAM DAN KECUPAN MENDADAK
"Sudahlah, biarkan waktu yang bekerja. Aiden, cobalah dengarkan kata hatimu. Dia adalah orang yang sangat berarti bagimu sejak kecil. Bahkan saat kehilangan jejaknya, kamu mencari informasi tentangnya ke mana-mana dan menutup hatimu rapat-rapat dari wanita manapun," ujar Adriel mencoba menenangkan.
"Tapi Kak..."
"Kakak tahu kamu tidak bisa mengingat apa-apa sekarang, Len. Kakak tidak akan memaksamu atau ikut campur urusan hati. Kakak hanya tidak ingin kamu terluka lagi," tambah Adriel lembut. Ia mengelus puncak kepala adiknya sekali lagi, lalu pamit pergi bersama Aiden, meninggalkan suasana yang mendadak menjadi canggung.
Di sudut ruangan, Erick menyaksikan semua itu dengan dada yang sesak. Rasa cemburu dan sakit hati menguasai dirinya. Cintanya yang terpendam bertahun-tahun seolah hancur berkeping-keping melihat kedekatan Aiden dan Elena. Tanpa pamit, ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah berat.
Saat sedang terburu-buru menuju mobilnya, ia tak sengaja menabrak seseorang.
Bugh!
"Aduh! Ada apa sih jalan nya kayak angin puting beliung gitu?" protes Dela yang ternyata orang yang ditabraknya.
"Bukan urusanmu! Minggir!" jawab Erick ketus, matanya merah menahan emosi.
Alih-arak pergi, Dela justru dengan beraninya membuka pintu mobil dan masuk duduk di kursi penumpang. Erick terbelalak kaget.
"Heh! Apa yang kamu lakukan di mobilku?! Keluar sekarang! Aku lagi nggak punya waktu buat main-main!"
"Nggak mau! Kamu bohong! Aku tahu kamu lagi patah hati," jawab Dela santai tapi tegas.
"Jangan asal ngomong!"
"Aku tahu semuanya. Aiden pasti sudah tahu siapa Elena kan? Dan kamu melihat semuanya," tebak Dela tepat sasaran.
Erick menatap gadis itu lekat-lekat. Dela salah tingkah, pipinya memerah karena ditatap begitu intens oleh pria idamannya.
"Jadi kamu tahu... Kamu nggak akan pernah mengerti rasanya mencintai seseorang tapi cintanya bertepuk sebelah tangan," keluh Erick pelan, lalu mendudukkan dirinya di balik kemudi.
"Aku mengerti..." bisik Dela dalam hati. 'Karena pria yang aku cintai juga tidak pernah sadar kalau aku menyukainya. Bahkan dia malah mencintai sahabatku sendiri.'
"Sepertinya kita sama, sama-sama mencintai dalam diam. Ayo, aku bawa kamu ke tempat rahasia aku," ajak Erick tiba-tiba.
Mobil pun melaju kencang meninggalkan area gedung. Hati Dela berbunga-bunga, kupu-kupu seakan berterbangan di perutnya. Bisa sedekat ini dengan Erick adalah mimpi baginya, meskipun tahu mereka sama-sama sedang terluka karena orang yang berbeda.
DI ATAS BUKIT DAN BAJU YANG TERTINGGAL
"Kita sampai," kata Erick mematikan mesin. Mereka berada di kaki sebuah bukit dengan pemandangan alam yang sangat asri dan menenangkan.
"Apa kita harus naik ke atas?" tanya Dela ragu melihat penampilannya yang rapi dengan rok dan high heels.
"Iya, biasanya kalau aku lagi banyak pikiran, aku naik ke sana, teriak sekencang-kencangnya, terus rasanya lega banget bisa terima kenyataan."
Erick menatap penampilan Dela. "Hmm, sepatumu nggak cocok. Tunggu sebentar, kayaknya ada baju ganti di bagasi."
Dela tersipu malu. 'Dia perhatian banget sama aku,' batinnya girang, bahkan ia hampir melompat-lompat kegirangan menunggu Erick kembali.
Namun, senyumnya langsung pudar saat Erick menyerahkan setelan kaos dan celana training itu.
"Ini pakai aja, kayaknya muat. Aku emang biasa siapin baju cadangan di mobil buat Elena, kebetulan masih ada satu set yang belum kepakai."
Jleb!
Hati Dela serasa dicemplungkan ke dasar sumur. Ternyata semua baju itu untuk Elena. Wajahnya langsung masam, ia merebut baju itu dengan kasar lalu pergi berganti tanpa mengucap terima kasih.
"Ada apa sama cewek ini? Moodnya berubah drastis banget... Jangan-jangan dia juga punya kepribadian ganda kayak Elena?" gumam Erick bingung.
Saat Dela keluar dengan penampilan santai, Erick memang memuji tampilannya yang terlihat imut, tapi bagi Dela, pujian itu terasa seperti duri karena alasan di balik penyediaan baju itu adalah untuk sahabatnya sendiri.
"Ukuran tubuhmu sama kok sama Elena, jadi nggak sia-sia aku siapin," kata Erick polos.
"SUDAH! Udah selesai puji-pujiannya?!" sentak Dela kesal lalu berjalan mendahului menanjak bukit.
MOMEN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Di atas bukit, angin berhembus kencang membelai wajah mereka. Erick terlihat jauh berbeda, ia lebih santai, tertawa lepas, dan terlihat sangat manusiawi. Tidak ada lagi aura dingin asisten pribadi yang menakutkan.
"Kau jauh lebih santai daripada saat di kantor atau markas," komentar Dela.
"Ya iyalah. Di luar sana aku harus pasang tampang garang biar orang nggak berani macam-macam sama aku. Apalagi Boss-ku Elena itu galaknya minta ampun, jadi aku harus ikutan keren biar seimbang," jawab Erick tertawa.
"Bisa nggak sih kalau ngomong jangan sebut nama Elena terus?! Aku bosan dengarnya!" protes Dela ketus, bibirnya manyun kesal.
Erick menatapnya lalu terkekeh. "Hahaha... Kamu lucu banget sih. Kayak pacar yang lagi cemburu."
"ERICK! Itu nggak lucu!"
"Yah terus kenapa? Apa emangnya kamu suka sama aku sampai cemburu gitu?" goda Erick iseng.
JEDAG JEDUG!
Jantung Dela berdegup kencang bukan main. Karena terlalu gugup dan kakinya lemas, ia terpeleset dan tubuhnya hampir terguling jatuh ke tebing!
"Awas!"
Dengan sigap Erick menarik tangan gadis itu hingga tubuh mereka beradu dan Dela terperangkap dalam pelukan kokoh miliknya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Napas Dela tercekat, wajahnya pucat karena kaget, sementara Erick menatapnya dengan wajah cemas namun intens.
"Dela, bernafaslah! Astaga kamu ini ya, ceroboh banget sih," omel Erick lembut sambil melepaskan pelukannya.
"K-kamu... kamu bikin aku hampir mati jantungan!" seru Dela sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.
"Salah sendiri juga! Kalau tadi aku nggak tangkep, badanmu bisa hancur lebur di bawah sana! Masih aja ngomel..."
Belum sempat Erick menyelesaikan omelannya, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Dengan keberanian yang entah datang dari mana, Dela mendekatkan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lembut tepat di bibir Erick!
Cup!
Waktu seakan berhenti. Mata Erick melotot lebar, otaknya blank total, tidak bisa berpikir sama sekali. Ia terpaku sempurna.
"A-a-aku mau turun! Pulang!" teriak Dela yang sadar sudah bertindak keterlaluan. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Ia langsung berbalik dan lari tunggang langgang menuruni bukit, meninggalkan Erick yang masih diam membatu.
'Bodoh! Bodoh! Dela kamu kenapa sih berani banget?! Maluuuu! Gara-gara dia ganteng jadi aku nekat!' batin Dela memaki dirinya sendiri sepanjang jalan.
Di atas bukit, Erick masih memegangi bibirnya, merasakan sisa kehangatan sentuhan itu.
"Dia... dia menciumku? Agresif banget sih dia!" Erick akhirnya sadar dan langsung berlari mengejar. "DELA! TUNGGU! KAMU ITU NGAPAIN SIH?!"
Namun saat sampai di parkiran, Dela sudah lebih dulu berhasil menghentikan taksi dan masuk ke dalamnya.
"Tunggu Dela! Jangan lari!" teriak Erick tapi terlambat. Mobil taksi itu pun melaju menjauh.
Erick mendengus kesal tapi ada senyum tipis yang terbit di bibirnya. Matanya tertuju ke bangku penumpang, ada tas dan baju seragam Dela yang tertinggal di sana.
"Hmph, masih ada barang kamu di sini. Pasti kamu bakal cari aku lagi buat ambil ini. Berani banget ya cium orang terus kabur... Tunggu aja kalau sudah ketemu, kamu nggak bakal bisa lari dariku lagi!" gertaknya penuh tantangan, namun hatinya kini terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya.
wahh... makin seru saja, semakin kesini semakin mengerti alur cerita nya👍🏼