Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10.Terpikirkan.
Pintu besar Aula Keluarga Zhang tertutup perlahan di belakang punggungnya, meninggalkan keheningan yang berat di sepanjang lorong panjang itu. Langkah kaki Li Hua terdengar tenang, namun wajahnya yang biasanya bersinar cerah kini tampak kaku, bibirnya terkatup rapat, alisnya sedikit berkerut seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.
Di luar gerbang aula, Qiao'er sudah menunggu sejak tadi, mondar-mandir dengan wajah cemas. Begitu melihat sosok yang keluar, gadis itu segera berlari mendekat.
"Nona!" panggil Qiao'er napasnya sedikit terengah. Ia menatap wajah Li Hua lekat-lekat, lalu tatapannya berubah menjadi sedih dan khawatir. "Nona... apa Nona gagal?"
Li Hua berhenti melangkah, menatap pelayannya itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya. "Gagal?"
"Ya..." Qiao'er menunduk, meremas ujung kain bajunya. "Wajah Nona terlihat begitu serius, seolah ada beban berat di pundak. Jangan sedih dulu, Nona. Mungkin hari ini belum beruntung... tapi besok kita pasti bisa! Kita akan berlatih lebih keras, saya janji akan bangun lebih pagi untuk membangunkan Nona, dan—"
Li Hua tertawa pelan, memotong ucapan Qiao'er. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Apa yang kau bicarakan, Qiao'er? Kau meragukan kemampuanku?"
Bibir Qiao'er terkatup, ia mendongak cepat. "Bukan begitu, Nona! Hanya... hanya wajah Nona..."
Li Hua tersenyum tipis, namun matanya masih menyimpan ketegasan yang sama. Ia melanjutkan langkahnya, berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi pepohonan rindang.
"Kalau begitu, apa yang sebenarnya membuat wajah Nona begitu tegang?" tanya Qiao'er mengejar langkahnya, berjalan di samping gadis itu. "Kalau bukan karena gagal?,lalu apa yang membuat raut wajah nona di tekuk seperti itu."
Li Hua berhenti sejenak, menatap dedaunan yang bergoyang ditiup angin. "Aku sedang memikirkan cara, Qiao'er."
"Cara apa?"
"Cara mengambil kembali barang milikku sekaligus membalas perbuatan Kakak," jawab Li Hua pelan namun tegas, lalu kembali melangkah maju.
Qiao'er terbelalak, mempercepat langkahnya agar tetap sejajar. "Membalas... Nona bermaksud?"
Belum sempat Li Hua menjelaskan, suara tawa yang tidak jelas dan langkah kaki yang sempoyongan terdengar mendekat. Mereka berdua menoleh, dan melihat sosok pria yang dibopong oleh pelayan pribadinya, berjalan terhuyung-huyung menuju kediaman utama. Wajahnya memerah, pakaiannya sedikit berantakan, dan aroma alkohol yang menyengat tercium bahkan dari jarak beberapa langkah.
Itu Mo Chen — kakak laki-laki Li Hua, putra sulung keluarga Zhang.
"Ah... adik kecilku yang cantik..." Mo Chen tersenyum lebar saat melihat Li Hua, mencoba melepaskan diri dari pelukan pelayannya namun kakinya tidak menurut. "Kau ke mana saja? Ayo... ikut Kakak minum lagi yuk! Kakak ingin mengajakmu minum sebagai sambutan hangat..."
"Tuan muda, mohon tenanglah," pelayan yang membopongnya tampak cemas sekali, menahan tubuh tuannya agar tidak jatuh. "Kita kembali ke kediaman dulu. Jika Tuan besar mengetahui keadaan Tuan sekarang, Tuan pasti akan dihukum berat."
Mo Chen mendengus, melambaikan tangannya dengan tidak peduli. "Diamlah... Ayah tidak akan tahu! Aku pulang lebih awal dari dia..."
Li Hua mendekat sedikit, lalu segera menutup hidungnya dengan tangan. Ia menggelengkan kepala sambil menatap kakaknya itu.
"Kakak bau sekali," ucapnya dengan nada tidak percaya. "Jika Ayah tahu Kakak pulang dalam keadaan seperti ini, pasti Kakak akan dihukum, bukan?"
Mo Chen menempelkan jari telunjuknya ke bibir, menyuruhnya diam. "Ssttt... jangan bilang-bilang Ayah, ya? Aku... aku tadi dari tempat hiburan, itu saja..." Ia tertawa kecil, lalu bersandar berat pada pelayannya. "Cepat... bawa aku pergi dari sini..."
"Iya, iya... cepat pergi," ucap Li Hua sambil menggelengkan kepala, menatap punggung kakaknya yang perlahan menjauh. "Dasar pemabuk..."
Saat Mo Chen berpapasan tepat di sampingnya, sesuatu yang tergantung di ikat pinggangnya menarik perhatian Li Hua. Itu adalah gantungan kecil dari batu giok berbentuk segi delapan, berukir pola naga yang sangat halus, berkilau samar terkena cahaya matahari. Ia memperhatikannya lekat-lekat, lalu menoleh ke arah Qiao'er.
"Qiao'er..." panggilnya pelan.
"Ya, Nona?"
Li Hua menunjuk ke arah sosok kakaknya yang semakin menjauh. "Gantungan seperti yang terpasang di pinggang Kakak... apakah semua pria memakainya?"
Qiao'er mengikuti arah pandangannya, lalu mengangguk. "Benar, Nona. Hampir semua pria bangsawan memakainya sebagai tanda identitas. Bentuk dan ukirannya berbeda-beda menurut kedudukan dan asal keluarganya."
Mata Li Hua menyipit sedikit. "Lalu... apakah Pangeran Li Yun memilikinya?"
"Tentu saja, Nona," jawab Qiao'er dengan yakin. "Itu adalah tanda identitas resmi keturunan bangsawan, terutama bagi putra mahkota dan pangeran dari kerajaan. Tanpa gantungan itu, mereka bisa dianggap bukan siapa-siapa. Jika hilang, itu bisa sangat berbahaya."
Li Hua menatapnya tajam. "Berbahaya? Seperti apa?"
Qiao'er berpikir sejenak, lalu menjelaskan dengan serius. "Gantungan itu bukan sekadar hiasan, Nona. Bisa disalahgunakan untuk menjebak seseorang — misalnya ditinggalkan di tempat kejadian perkara, sehingga orang yang memilikinya dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya. Atau dipakai untuk menyamar sebagai pemilik aslinya, lalu melakukan kejahatan atas nama orang tersebut. Banyak hal buruk yang bisa terjadi jika benda itu jatuh ke tangan yang salah."
Li Hua terdiam. Ia berdiri diam di tempat, menatap tanah, pikirannya berputar cepat menyusun potongan-potongan teka-teki yang tiba-tiba terhubung satu sama lain. Giok merah yang diambil paksa Shi Yin, gantungan identitas, Pangeran Li Yun, rencana pernikahan...
Tiba-tiba ia mendongak, matanya berbinar terang, senyum lebar terlukis di bibirnya — senyum yang penuh keyakinan, penuh rencana yang baru saja ditemukannya.
"Aku tahu sekarang..." gumamnya pelan, namun penuh semangat. "Aku tahu harus bagaimana."
Qiao'er menatapnya bingung. "Tahu apa, Nona?"
Li Hua menoleh ke arah pelayannya, menggenggam tangan gadis itu erat-erat. "Qiao'er, kita harus menemui Pangeran Li Yun sekarang."
"Sekarang?" Qiao'er terkejut. "Tapi Nona, ini sudah hampir sore... apa ada hal mendesak?"
"Penting sekali," jawab Li Hua tegas, lalu menarik tangan Qiao'er. "Ayo, cepat!"
Tanpa menunggu jawaban, ia menarik pelayannya itu berjalan cepat, bahkan hampir berlari menyusuri jalan setapak yang menuju ke bagian belakang kediaman — kediaman Li hua. Rambutnya yang terurai sedikit berantakan karena angin, namun wajahnya tampak penuh semangat, tidak ada sedikit pun keraguan.
"Namun Nona..." Qiao'er berusaha mengimbangi langkahnya yang cepat. "Apa yang akan Nona bicarakan dengan Pangeran? Beliau mungkin sedang beristirahat..."
"Justru karena itu, kita harus segera menemuinya," jawab Li Hua tanpa menoleh, langkah kakinya semakin cepat. "Waktu tidak menunggu, Qiao'er. Jika aku terlambat sedikit saja, Shi Yin bisa membawa pergi milikku."
"Tentang apa?"
"Gelang giok merah pemberian ibu," jawab Li Hua pelan, matanya menatap lurus ke depan. "Kakak mengambilnya,padahal ibu sendiri yang menghadiahkan nya padaku, aku pasti mengambilnya dan menghukumnya."
Qiao'er terdiam, menatap punggung tuannya yang berjalan tegap di depannya. Ada sesuatu yang berbeda pada Li Hua — dulu dia menganggap Li hua gadis desa yang penurut tapi setelah melayaninya beberapa hari dia bukan penurut tapi tidak suka diinjak-injak siapapun dan membalas sesuai dengan kesalahannya.
Sesampainya di depan pintu kamar yang sederhana itu, Li Hua berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. Ia menarik tangan Qiao'er agar berhenti, lalu menatap pintu kayu yang tertutup itu dengan napas yang sedikit memburu.