IG : Srt_tika92
Adrian Putra Haidar adalah Pria tampan berprofesi sebagai sutradara terkenal, dia pria yang memiliki banyak kekasih. Tidak sedikit wanita yang mengejarnya demi popularitas.
Dunianya berubah saat menikahi gadis cantik akan kesederhanaan nya yaitu Elsa yang baru di kenalnya. Pernikahannya terjadi karena suatu kesalahan.
Akankah pernikahan mereka berjalan semestinya?
Apakah cinta akan tumbuh di antara mereka?
Ini karya ke 2 ku
Baca juga karya pertama ku yang berjudul Cinta Pertama Ceo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susi sartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2 Aisha
Semenjak hari dimana Adrian dan Elsa tau hubungan Karin dengan mantan pujaan hati Elsa, Karin tidak lagi bolos kerja di kantor nya, Adrian mengancam akan memberitahukan hubungannya pada kedua orang tuanya.
Adrian tidak suka jika Karin tidak bertanggung jawab atas pekerjaan nya dan lebih memilih untuk membantu Umar menjadi kasir di restoran yang sangat sederhana, menurut Adrian.
Adrian tidak melarang Karin untuk menjalin hubungan dengan siapa pun atau mempermasalahkan status sosialnya. Tapi, Adrian masih sangat membenci Umar yang dulu selalu mendapatkan perhatian lebih dari Elsa.
*
" Permisi mas Umar " Sapa Aisha yang lengkap menggunakan gamis panjangnya yang menutupi seluruh aurat nya hingga tak terlihat lekuk tubuhnya.
" Iya Aisha.. ada yang bisa saya bantu? " jawab Umar dengan ramah.
" Ini mas, saya mau tanya kalo mau bayar IPL ( iuran pemeliharaan lingkungan) ruko ini dimana ya mas? " tanya Aisha yang memang tidak tau tempat untuk membayar IPL karena dia masih baru menyewa rukonya.
" Oh bayar IPL di blok sebelah, Aisha bisa tanya ke security yang sedang bertugas di pos. " jawab Umar.
Aisha masih belum mengerti blok mana yang Umar maksud. " Emm.. dimana ya? apa mas Umar gak keberatan kalo mengantar Aisha. Soalnya Aisha masih belum paham area sini. " terang nya.
Umar tampak berpikir dulu sebelum mengiyakan permintaan Aisha, di lihat restorannya yang masih sepi pengunjung, Umar bersedia mengantarkan Aisha. Bukan apa, Umar hanya tidak tega membiarkan Aisha mencari tempat pembayaran IPL yang lumayan jauh jika berjalan kaki. " Okelah, saya antar.. mau naik motor apa jalan kaki aja? " tanya Umar.
" Kalo deket jalan kaki aja mas "
" Deket sih, tapi kalo jalan kaki ya lumayan capek. "
" Jalan kaki lebih sehat mas. " Aisha.
Umar mengernyit heran pada Aisha yang memilih untuk berjalan kaki padahal itu akan menguras tenaganya.
" Oh.. gitu ya. "
Di sepanjang perjalanan, Aisha banyak bertanya tentang Umar, Umar pun menjawabnya dengan santai. Melihat Aisah dia jadi teringat dengan adiknya.
" Umur kamu berapa Aisha? " tanya Umar.
" Umur ku 20 tahun mas. kenapa emang? "
" Saya punya adik perempuan, tapi masih sekolah si.. gak jauh lah usia mu sama usia Nisa. " ucap Umar.
" Oh adik mas Umar namanya Nisa? gak pernah di ajak ke resto mas, aku belum pernah lihat? "
" Dia sering ke sini bantuin saya kalo weekend. "
Aisha hanya mengangguk anggukan kepalanya. Tidak butuh waktu lama untuk mereka tiba di tempat yang di tuju. Setelah urusan Aisha beres, mereka kembali ke ruko. Aisha gadis yang humble, asik untuk di ajak ngobrol.
Saat mereka tengah asik mengobrol di perjalanan pulang, bunyi ponsel Umar berbunyi. Umar tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
" Aisha maaf, saya angkat telpon dulu ya. kamu bisa duluan jalan kalo mau. " ucap Umar lembut, dia tidak mau diganggu saat menerima panggilan dari sang pujaan hati dan meminta Aisha untuk melanjutkan perjalanan nya karena jarak ke ruko pun sudah dekat.
" Iya mas gak papa angkat saja telpon nya. Aisha tungguin. "
Umar terdiam mendengar jawaban Aisha yang masih ingin menunggunya. Tidak mau ambil pusing, Umar segera menerima panggilan dari Karin.
" Hallo ayang beb, kok lama sih angkat telponnya lagi sibuk ya. " suara Karin di sebrang sana.
" Hehe.. maaf ya Rin, kamu lagi apa? " tanya Umar tanpa memperdulikan Aisah yang masih berdiri di sampingnya.
" Aku lagi kangen ama kamu ayang beb, " ucap Karin begitu manja.
" Iya.. iya.. besok weekend kita ketemu ya, "
" Weekend resto kan rame ayang beb, gak papa kamu jalan sama aku. "
" Ada Nisa yang bantuin, jadi aku bisa ngajak kamu jalan. "
" Bener nih gak papa? atau aku aja yang ke resto sekalian bantu kamu. yang penting kan aku liat kamu terus. lagian jalan berdua juga gak ngapa-ngapain, kiss aja gak kamu kasih. "
" Hehehe... bukan gak mau kasih, takut aku kebablasan. hahaha... "
" Iihhh ayang beb mah gitu. males dehhh.. kebablasan juga gak papa biar aku cepet di nikahin ama kamu. hihihi. "
" Mulai deh ngomongnya.. yasudah aku nurutin apa mau kamu aja. " Umar.
" Di resto aja deh bantuin jaga kasir. tapi ntar kasih kiss ya. "
" Liat ntar aja ya. gak janji. " Umar.
" Hemm.. iya.. iya.. yaudah aku kerja lagi ya ayang beb, ntar di marahin si kutukupret gara-gara gak selesai laporan nya. Bye ayang beb.. muachhh.. "
Umar hanya terkekeh mendengar tingkah laku Karin.
" Siapa mas? pacar mas Umar? " tanya Aisah yang sedari tadi mengamati percakapan Umar.
" Heh.. iya teman dekat saya. " jawab Umar sembari tersenyum..
" Oh.. " Aisha. " Mas terimakasih ya udah anterin Aisha. "
" Iya Aisha sama-sama. "
" Oke aku duluan ruko udah deket. Asalamualaikum.. "
" Walaikumsalam.. " Umar merasa heran kenapa Aisah tiba-tiba ingin berjalan sendiri, padahal dari tadi Umar sudah menyuruhnya untuk jalan lebih dulu. Umar mengedikkan kedua bahunya tidak mau ambil pusing.
*
*
*
Bye.. bye..