NovelToon NovelToon
HOPE

HOPE

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:156.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.

Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.

Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Lingga menjatuhkan kepala ke belakang dan mengertakkan gigi sambil menggeram buas, urat lehernya bertonjolan karena kemarahan menerjang sekujur tubuhnya. Otot-ototnya gemetaran karena keinginan menyalurkan amarah secara Fisik, tapi rintihan wanita di pelukannya membuat Lingga sadar dia harus menguasai diri untuk menenangkan Jenaka.

Dia memeluk dan membelai Jenaka dengan lembut, Lingga mendaratkan bibirnya ke rambut Jenaka, lalu bergeser merasakan kelembutan kelopak matanya, hamparan kulit sehalus sutra yang membungkus tulang pipinya yang sensual, serta bibir lembut indahnya yang merekah memabukkan.

Lingga berbisik kepada Jenaka, mengeluarkan kata-kata mesra, meyakinkannya dengan kalimat betapa cantiknya Jenaka, betapa Lingga menginginkannya. Dia berjanji takkan menyakiti Jenaka, baik dengan ucapan maupun perbuatannya.

Jenaka berangsur tenang, perlahan mengulurkan tangannya dan menggeser tangannya untuk memeluk punggung Lingga. Jenaka lelah, tenaganya terkuras karena ketegangan emosional malam itu hingga tubuhnya melemas di tubuh Lingga, tapi Lingga belum puas, ia ingin tahu semuanya. “Ceritakan kepadaku sayang.”

“Tidak,” erang Jenaka sambil memalingkan wajah dari Lingga dengan gerakan lemah. “Aku tidak bisa.”

“Kau bisa. Kau harus bisa. Itukah alasanmu bercerai? Apakah suamimu tidak bisa menerima musibah yang kau alami?” ucapan Lingga mengenai Jenaka seperti batu-batu berjatuhan, membuatnya memar di pelukan Lingga.

Lingga meraih dagu Jenaka dan memutar kepala Jenaka agar kembali menatapnya, “Bajingan macam apa dia, berpaling darimu di saat kau sangat membutuhkannya?"

Tawa nyaring yang tegang terlontar dari bibir Jenaka, dan seketika ia menghentikan tawanya dengan membekap mulut, Jenaka berubah histeris. “Dia… Oh, ini lucu! Dia tidak kesulitan menerima musibah yang kualami karena dia pelakunya. Suamiku sendiri yang memerkosaku.”

Tubuh Lingga kaku, tertegun karena kata-kata Jenaka. Jenaka kembali tertawa melengking tersendat yang lagi-lagi ia hentikan sendiri, ia berusaha menahan diri untuk meraih kembali kendali dirinya. Setelah Jenaka berhasil menguasai diri, ia berbaring di pelukan Lingga, pria itu bisa merasakan emosi Jenaka terperas keluar, menyisakan sosok wanita yang kelelahan, kehabisan tenaga…

“Ceritakan kepadaku,” pinta Lingga.

Detak jantung Jenaka berubah yang tadinya berdetak hebat menjadi lambat. Haruskan aku buka kembali kenangan yang sudahku kubur dalam-dalam?

“Jee,” desak Lingga.

“Aku tidak tahu alasanku menikah dengannya,” ucap Jenaka dengan sedih. “Kurasa aku tidak pernah mencintainya. Tapi dia tampan dan punya banyak uang, sesuatu yang tidak pernah kumiliki. Dia membuatku silau dengan uang, karena dia membelikanku banyak hadiah, membawaku ke banyak tempat, mengatakan dia sangat mencintaiku. Kurasa karena itu, dia mengatakan dia mencintaiku. Seumur hidup tidak pernah ada yang berkata seperti itu kepadaku, kau mengerti, kan? Tapi saat itu aku masih bersikap dingin kepadanya, dan Cakra tidak tahan menghadapi sikap dinginku, karena belum pernah ada yang berani menolak keinginannya. Jadi, dia memaksaku untum menikah dengannya.”

Lingga menunggu Jenaka melanjutkan ceritanya, ketika wanita itu masih diam saja, dia menyenggol ringan. “Lanjutkan sayang.”

“Di malam pengantin kami, dia menyakitiku,” ucap Jenaka. “Dia penganut s*x dengan kekerasan sehingga dia begitu kasar... Aku mulai melawan, dan aku berhasil menjatuhkannya. Tapi dia berubah menjadi ganas… Dia menyiksaku sebelum berhubungan int*m dengannya. Itu pengalaman pertamaku, dan kupikir aku akan mati saat itu juga." Jenaka menutup matanya, rasa sakit itu masih sangat terasa di hatinya.

“Saat itu aku tahu pernikahan adalah kesalahan yang mengerikan, dan aku ingin melepaskan diri dari pernikahan itu, tapi Cakra tidak mau melepaskanku. Tiap malam aku melawan keinginannya, dan dia lagi-lagi menyiksaku. Dia bilang akan mengajariku cara menjadi wanita yang bisa memuaskan pria, meski harus mematahkan semua tulang di tubuhku. Aku tidak berhenti melawan,” ucap Jenaka. “Aku tidak pernah diam saja dan membiarkan Cakra melampiaskan keinginannya. Aku harus melawan, kalau tidak rasanya sesuatu dalam diriku akan mati. Jadi, aku melawan, dan makin kulawan, perlakuannya makin kasar. Dia bukan hanya memukuliku tapi juga menendangku.”

Lingga mengumpat kasar, membuat Jenaka terlonjak dan mengangkat tangan untuk menutupi wajah. “Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud berkata kasar padamu, umpatan itu untuk bajingan yang telah menyakitimu,” ucap Lingga terbata-bata. “Jee, saat dia mulai memukulmu, mengapa kau tidak melaporkannya ke polisi?”

“Saat itu aku tak mengerti apa-apa,” sahut Jenaka dengan lelah. “Aku bodoh sekali. Aku pikir setelah menikah suamiku berhak melakukan apa pun yang dia inginkan kepadaku, selain pembunuhan. Semakin lama Cakra semakin mengerikan. Dia memerkosaku sekasar yang dia bisa."

“Kemarin kau bilang usia pernikahanmu hanya tiga bulan, apa kau tinggal bersamanya hingga tiga bulan?"

“Aku tinggal dengan Cakra tidak sampai selama itu. Aku tidak ingat tepatnya, hanya saja waktu itu dia mendorongku dari tangga, hingga aku di larikan ke rumah sakit karena mengalami patah tulang tangan dan gegar otak. Aku dirawat beberapa hari, dan seorang perawat mengetahui aku jatuh dari tangga bukan karena terpeleset. Aku bicara padanya jika aku tidak ingin tinggal lagi dengan Cakra, perawat itu membantuku untuk visum dan mengizinkanku tinggal bersamanya.”

Suara Jenaka terdengar lebih tenang. “Keluarga Cakra yang mengetahui aku menjalani visum langsung ketakutan. Sebetulnya mereka orang baik, orangtua Cakra berjanji akan memaksa Cakra untuk menyetujui gugatan ceraiku, membiayaiku kuliah, menjamin perlindungan untukku agar Cakra tak menggangguku lagi. Aku menyetujui perjanjian itu dan mereka menepati janjinya. Mereka yang mengurus perceraianku, menyekolahkanku hingga aku menjadi seorang terapis, dan mereka membawa Cakra keluar negeri agar tidak lagi mengejarku, di sana mereka memasukkan Cakra konseling kejiwaan. Sepertinya membuahkan hasil karena sekarang Cakra sudah menikah lagi, dan keluarga mereka kelihatan bahagia. Dia memiliki dua putri.”

“Apakah kau pernah berhubungan lagi dengannya?” tanya Lingga dengan sangsi.

“Tentu saja tidak!” Jenaka menggeleng. “Tapi saat ibunya Cakra masih hidup, wanita itu terus melacak keberadaanku, beliau seperti menjagaku dan memastikanku tidak kekurangan apa pun. Ibunya Cakra tidak pernah melupakan apa yang terjadi padaku, seolah itu kesalahannya karena Cakra adalah putranya. Beliau pernah bercerita dan sempat mengundangku ketika Cakra akan menikah lagi, dan beliau pun bercerita ketika cucu-cucunya lahir. Sekarang beliau sudah meninggal dua tahun yang lalu.”

“Jadi, pria itu hidup bahagia selamanya, sementara selama belasan tahun kau ke sana kemari dengan menyeret beban dan kaki seperti dirantai,” ucap Lingga dengan marah. “Kau takut membiarkan siapa pun menyentuhmu, kau menjauh dari semua orang dalam jarak aman… menjadi orang yang hanya setengah hidup.”

“Bukankah dari lahir hidupku memang tidak pernah bahagia? " tanya Jenaka.

Lingga tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa memeluk Jenaka dengan lembut, kehangatan tubuh Lingga terasa nyaman di kamar yang dingin, gemuruh debaran jantung Lingga di dadanya yang kuat terasa menenangkan. Jenaka bisa merasakan kekuatan di tubuh yang memeluknya, merasa aman dalam dekapan Lingga yang kuat. Jenaka yang memberikan kekuatan itu kepada Lingga, jadi tepat kalau sekarang ia mengandalkan kekuatan pria itu.

1
RithaMartinE
luar biasa
Ersa
yakin aka selesai malam ini??
Ersa
jgn terus bermonolog dg pikiran & asumsi mu sendiri Jee, bicarakan saja dg lingga
Ersa
melting aku Bang
Ersa
jian ngeyel mrengkel tenan Jenaka ki🤲🏻
Ersa
jantung & hatiku berasa gak aman🤭
Ersa
cinta at first sight 🥰
Ersa
ya Allah aku sempet feeling klo mrk menikah krn kasus rudap*ksa Aya Selama menikah cakra merudap*ksa Jenaka
Ersa
lingga jadi ahli Terapi meraba🤣
Ersa
typo ya 🤭
Ersa
Jee...Sayang... aahh meleleh..
Ersa
simbiolisme mutualisme sama2 saling menguntungkan... jenaka perlahan sembuh dari trauma dekat dg lelaki ,lingga sembuh dari kelumpuhan
Ersa
Modus🤣
Ersa
usil apa medium tuh😁
Ersa
🤣
Ersa
jenaja butuh Terapi mental & sentuhan ketulusan hati
Ersa
atokah mrk menikah krn kejadian rudap*aksa
Ersa
🥰🥰
Ersa
cakra mantan Suami Jenaka ?? rudap*ksa??..🤔
Ersa
lalu bgmn saat menikah dg cakra, apakah tdk pernah disentuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!