Peringatan Misi Kematian! Sisa waktu: 10 menit.
Tugas: Hadapi Dewi Kuno, atau jantungmu meledak.
Sebagai murid buangan yang tertindas, Lin Huang mendadak memiliki kekuasaan instan berkat "Tanda Batas Batil" di pergelangan tangannya. Tidak butuh waktu ratusan tahun, kultivasinya meningkat eksponensial dalam hitungan detik—tetapi harganya adalah risiko nyawa yang mengerikan!
Setiap detik adalah pertarungan. Setiap misi adalah perjudian.
Fast-Paced Xianxia | Kultivasi Ekstrem | Romansa Paksaan Dewi
Rasakan adrenalin tanpa jeda di setiap bab!
"Ini bukan tentang menjadi abadi, ini tentang bertahan hidup di detik berikutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aula Cermin Batil, Ilusi Masa Lalu
BZZZZT!
Hitungan mundur hitam di dalam kesadaran Lin Huang langsung melesat berdetak dari angka tertinggi begitu aroma es dari sapu tangan Ye Qingyue memudar dari wajahnya.
[00:59:59]
[00:59:58]
[Tugas Berantai Keempat telah dipicu!]
[Deskripsi: Anda telah memasuki 'Aula Cermin Batil'. Tempat ini dilapisi oleh formasi ilusi mental tingkat tinggi yang mengekstraksi penyesalan, ketakutan, dan trauma terdalam dari jiwa target.]
[Tugas: Hancurkan ilusi penyesalan terdalam Anda dan tarik keluar Dewi Ye Qingyue dari belenggu ilusi mentalnya dalam waktu 20 Menit!]
[Waktu Khusus Tugas: 20 Menit (Hitungan mundur internal).]
[Hukuman: Gagal keluar atau tenggelam dalam ilusi \= Kesadaran ilahi hancur total, menjadi mayat hidup selamanya.]
"Dua puluh menit? Benar-benar tidak memberi ruang untuk menarik napas," Lin Huang mendengus kasar.
Baru saja dia ingin memperingatkan Ye Qingyue, koridor sempit di depan mereka mendadak runtuh secara visual, berganti menjadi sebuah aula melingkar yang teramat luas. Dinding, langit-langit, bahkan lantai di bawah kaki mereka terbuat dari potongan-potongan cermin raksasa berwarna perak kehitaman yang memantulkan bayangan mereka dalam ribuan sudut yang terdistorsi.
Huuuung...
Sebuah kabut ungu yang sangat tebal dan berbau manis mendadak menyembur dari sela-sela cermin. Begitu kabut itu menyentuh indra penciuman, Lin Huang merasakan kepalanya mendadak menjadi sangat berat. Pandangan matanya mengabur, dan pendaran cahaya perak dari tubuh Ye Qingyue di sampingnya perlahan-lahan menghilang, digantikan oleh kegelapan total.
"Lin Huang..." Suara Ye Qingyue terdengar sangat jauh dan bergaung, sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya.
Saat Lin Huang kembali membuka matanya, dia tidak lagi berada di dalam makam bawah tanah yang dingin. Dia mendapati dirinya sedang berlutut di sebuah lapangan batu yang sangat akrab—lapangan utama Sekte Pedang Awan, tempat di mana dia menghabiskan tiga tahun hidupnya sebagai murid sampah pengumpul obat.
Di sekelilingnya, puluhan murid dalam berpakaian mewah berdiri membentuk lingkaran, menatapnya dengan pandangan yang dipenuhi oleh penghinaan, jijik, dan tawa meremehkan.
"Lihat si sampah ini! Hanya berada di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 1 selama tiga tahun, masih berani memimpikan putri tetua besar?"
"Patahkan kakinya! Seret dia keluar dari sekte! Orang cacat sepertinya hanya mengotori tanah suci kita!"
Seorang pemuda tampan dengan jubah sulaman emas melangkah maju, menginjak tangan kiri Lin Huang dengan sepatu botnya hingga terdengar suara retakan tulang yang mengerikan. Rasa sakit itu terasa sangat nyata, merasuki saraf dan jiwanya, mencoba membangkitkan kembali rasa hancur, kemarahan, dan keputusasaan yang pernah dialami oleh pemilik tubuh asli ini di masa lalu.
Lin Huang menatap tangan kirinya yang diinjak. Di sana, tidak ada tato jam pasir mistis. Hanya ada darah dan daging yang hancur.
"Penyesalan terdalam? Ketakutan?" Lin Huang perlahan mendongak. Di wajahnya yang dipenuhi darah fana, sebuah seringai gila dan tebal perlahan terkembang, memancarkan aura kegilaan sejati seorang anti-hero yang menolak tunduk pada ilusi takdir.
"Jika ini adalah Lin Huang yang lama, dia mungkin akan menangis dan mengemis," Lin Huang bangkit berdiri dengan perlahan, mengabaikan bot sepatu yang menginjaknya seolah-olah berat tubuh pemuda tampan itu tidak lebih dari sebutir debu. "Tapi bagi aku yang sekarang... masa lalu hanyalah seonggok sampah yang sudah kubakar habis! Hari ini, aku adalah maut yang mengejar langit!"
Boom!
Di dalam jiwa Lin Huang, Teknik Pemurnian Jiwa Api Suci (Fase 1) yang baru saja dia dapatkan dari tugas ketiga seketika beresonansi dengan kegilaan murninya. Setitik api biru keputihan meledak dari pusat jiwanya, menyebar ke seluruh lautan kesadarannya dan membakar habis seluruh kabut ungu ilusi yang mencoba meracuni pikirannya.
Fisik Perunggu Kuno Fase 2 miliknya kembali mewujud secara instan di dunia nyata cermin. Lin Huang melayangkan satu tinju mentah ke depan, menghantam wajah pemuda tampan di ilusinya.
PRANG!!!
Dunia di sekitar Lin Huang—lapangan sekte, para murid yang menghina, langit palsu—seketika pecah berkeping-keping bagai kaca yang dipukul palu besar. Kesadaran Lin Huang kembali ke Aula Cermin Batil.
[00:11:02]
Tersisa sebelas menit untuk hitungan mundur khusus. Lin Huang menoleh cepat dan menemukan Ye Qingyue berdiri hanya tiga meter di sampingnya. Namun, kondisi sang Dewi saat ini sangat mengkhawatirkan.
Kedua mata perak Ye Qingyue terpejam rapat, tubuh anggunnya bergetar hebat, dan energi es murni dari Tanaman Sembilan Jiwa Ice yang baru diserapnya kini meledak keluar secara tidak terkendali, membekukan lantai cermin di bawah kakinya hingga retak-retak. Wajah cantiknya yang seputih porselen dipenuhi oleh ekspresi penderitaan, kemarahan, dan pengkhianatan yang teramat mendalam.
Di dalam ilusi cerminnya, Ye Qingyue sedang dipaksa menyaksikan kembali detik-detik di mana Dewa Pengkhianat Cang Xuan menusuk jantungnya dari belakang dengan belati hitam, menghancurkan seluruh istana langit dan mengubur para pengikut setianya di bawah lautan darah emas.
"Cang Xuan... kau harus mati... aku akan mencabik jiwamu..." Ye Qingyue mengigau, suaranya dipenuhi oleh kebencian absolut yang sanggup meruntuhkan sebuah kekaisaran fana. Energi esnya semakin mengamuk, membentuk badai sabit salju tajam di sekeliling tubuhnya yang mulai menyayat dinding-dinding cermin aula.
Jika dibiarkan, energi es yang mengamuk itu akan menghancurkan meridian jiwanya sendiri sebelum waktu ilusi habis.
"Sialan! Dewi, sadarlah!" Lin Huang menerobos masuk ke dalam zona badai es Ye Qingyue tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri.
Slas! Slas!
Sabit-sabit es tajam menyayat kulit perunggu Lin Huang, meninggalkan beberapa goresan merah yang mengeluarkan darah emas. Namun, dengan Tubuh Perunggu Fase 2 Kesempurnaan, Lin Huang memaksakan tubuhnya untuk terus maju menembus badai es tersebut, hingga akhirnya dia berhasil menjangkau tubuh anggun sang Dewi.
Tanpa ragu satu detik pun, Lin Huang menarik tubuh Ye Qingyue ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat demi menstabilkan getaran jiwanya yang mengamuk melalui ikatan Simbiosis Jiwa mereka.
"Qingyue! Lihat aku! Cang Xuan tidak ada di sini!" Lin Huang berteriak langsung di dekat telinga sang Dewi, membiarkan energi Api Suci dari jiwanya mengalir lewat pelukan mereka untuk membakar kabut ilusi yang mengunci kesadaran Ye Qingyue. "Pria berjubah hitam itu sudah lama runtuh di Alam Atas! Di sini hanya ada aku, Lin Huang! Suamimu yang akan membantumu naik kembali ke langit untuk membantainya!"
Pelukan yang teramat erat dan hangat itu, dipadukan dengan aliran Api Suci, seketika menjadi jangkar realitas di dalam lautan kegelapan ilusi Ye Qingyue.
Deg.
Jantung Ye Qingyue berdenyut pelan. Di dalam pikirannya yang dipenuhi oleh darah emas dan pengkhianatan, sosok kejam Cang Xuan perlahan-lahan memudar, digantikan oleh wajah tebal penuh kelancangan dan mata merah gila milik Lin Huang yang selalu berdiri di depannya menantang maut.
Mata perak Ye Qingyue seketika terbuka dengan sentakan keras.
Prang!
Seluruh cermin di Aula Cermin Batil meledak hancur secara bersamaan, berubah menjadi debu perak yang berjatuhan di sekitar mereka bagai hujan bintang yang indah. Badai es yang mengamuk di tubuh Ye Qingyue seketika surut, kembali masuk ke dalam meridian jiwanya dengan tenang.
[00:00:05]
[00:00:04]
Tato di tangan Lin Huang memancarkan cahaya hijau aman yang berkedip cepat.
[Tugas Berantai Keempat Selesai Sempurna!]
[Keberhasilan 100%. Anda telah menghancurkan Ilusi Cermin Batil dan menyelamatkan Dewi Ye Qingyue.]
[Tanda Batas Batil beralih ke hitungan mundur otomatis untuk Tugas Berantai Kelima...]
Ye Qingyue napasnya terengah-engah, bersandar di dada bidang Lin Huang yang masih telanjang dan memancarkan kehangatan perunggu sejati. Menyadari dirinya sedang dipeluk dengan sangat erat oleh seorang pria fana, rona merah muda yang pekat seketika menjalar dari leher hingga ke pipinya yang indah.
Dia mendorong dada Lin Huang dengan panik, kembali memasang ekspresi dinginnya yang agung meski matanya tidak bisa menyembunyikan rasa bimbang yang mendalam. "L-Lepaskan aku, manusia lancang! Berani sekali kau memelukku seperti ini?!"
Lin Huang melangkah mundur setengah langkah, menyeringai tebal tanpa rasa bersalah sedikit pun sambil mengusap hidungnya. "Dewi Ye, jika aku tidak memelukmu tadi, jiwamu sudah membeku menjadi es batu. Anggap saja ini sebagai pelukan penyelamat nyawa."
Ye Qingyue berniat membalas dengan ancaman belati es seperti biasa, namun sebelum kata-kata keluar dari bibirnya, lantai cermin hancur di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar hebat.
CRACK—BOOM!!!
Seluruh lantai Aula Cermin Batil runtuh total ke bawah, menciptakan lubang runtuhan raksasa sedalam puluhan meter. Tanpa daya dorong, tubuh Lin Huang dan Ye Qingyue langsung jatuh bebas, meluncur lurus menuju ruang utama terdalam yang berada di dasar Makam Dewa Kuno: Altar Utama Xing Tian. Badai di jam kelima telah menanti kedatangan mereka dengan kapak perang yang terangkat.