Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Coretan Cokelat dan Suapan Pertama
Di dalam rumah, suasana mendadak ramai dan penuh tawa. Dua bucket es krim premium yang dibawa Naira kini sudah tersaji di atas meja kayu ruang tamu. Naira dan Dika duduk lesehan di atas karpet plastik, sibuk menikmati es krim sambil mengobrol seru, seolah-olah mereka adalah teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Kak Naira, lihat deh! Kak Rama kalau makan es krim belepotan kayak anak TK!" seru Dika jahil.
Naira menoleh ke arah Rama yang duduk agak menjauh di atas sofa. Cowok lempeng itu memang sedang menikmati es krim vanilanya dengan tangan kiri, dan benar saja, ada sedikit sisa es krim di sudut bibirnya yang lebam.
Melihat celah untuk membalas dendam atas insiden latihan tadi, Naira langsung mencolek es krim cokelat di mangkuknya dengan ujung jari. Dengan gerakan secepat kilat, dia maju dan mencoretkannya ke pipi kanan Rama.
"Nah! Biar adil, Ram! Hahaha!" tawa Naira pecah, matanya menyipit membentuk bulan sabit yang sangat cantik.
Rama tersentak, mengerjapkan matanya yang melebar karena terkejut. Pipi kanannya terasa dingin karena coretan es krim cokelat. Dika sudah tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Rama menatap Naira yang sedang tertawa puas, lalu dengan helaan napas pasrah, dia meraih tisu dan mengusap pipinya sendiri.
"Kalian ini kompak banget ya kalau urusan ngerjain saya," gumam Rama lempeng, meski matanya memancarkan binar jenaka yang jarang dia tunjukkan.
Mendengar keributan yang penuh kehangatan itu, Ibu Rama menyembul dari arah dapur sambil membawa mangkuk besar. "Aduh, asyik banget mainannya sampai coret-coretan begitu. Naira, ini Ibu baru selesai masak. Sini Nak, cobain masakan Ibu. Masih hangat loh."
Naira menghentikan tawanya, menatap Ibu Rama dengan sopan. "Eh, iya Bu..."
Tepat di saat yang sama, pintu depan terbuka. Bapak Rama melangkah masuk dengan kaos oblong yang agak basah oleh keringat dan celana kain lusuh, membawa sebuah cangkul kecil di tangannya. Beliau baru saja pulang dari kebun kecil di ujung gang.
"Wah, ada tamu cantik ternyata," sapa Bapak dengan senyum ramah yang khas, menyeka keringat di dahinya.
"Siang, Bapak," sapa Naira buru-buru berdiri dan mengangguk hormat.
"Siang, Nak. Ya sudah, ayo semua langsung ke meja makan. Bapak mandi sebentar, kita makan siang bareng-bareng," ucap Bapak ramah.
Beberapa menit kemudian, mereka semua sudah berkumpul di ruang makan yang merangkap dapur. Di atas meja, kotak-kotak makanan mewah bawaan Naira ayam goreng krispi utuh dan sup jagung sudah ditata rapi. Namun, di samping makanan mewah itu, tersaji pula menu rumahan masakan Ibu Rama yang baunya sangat menyengat dan menggugah selera: semur jengkol yang kuahnya pekat kecokelatan, tumis pete, dan ikan asin goreng yang renyah.
Naira menatap hidangan rumahan itu dengan dahi berkerut halus. Matanya terpaku pada bulatan-bulatan hijau dan potongan-potongan cokelat yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya di restoran bintang lima mana pun.
"Ini apa, Bu?" tanya Naira polos, menunjuk ke arah piring tumisan.
Ibu Rama tersenyum lebar sambil mengambilkan nasi hangat ke piring Naira. "Oh, ini namanya pete, Nak. Terus yang ini semur jengkol, dipadu sama ikan asin. Naira gak suka ya?" tanya Ibu, mendadak merasa agak tidak enak karena menyadari Naira adalah anak orang kaya yang pasti terbiasa dengan makanan steril dan mewah.
Naira buru-buru menggelengkan kepalanya panik, takut menyinggung perasaan Ibu Rama. "Eh, b-bukan gak suka, Bu... tapi Naira belum pernah coba sebelumnya," jawab Naira jujur, wajahnya tampak ragu sekaligus penasaran.
Mendengar itu, Ibu Rama justru tertawa renyah, rasa canggungnya langsung hilang. "Oh, belum pernah coba toh? Berarti hari ini harus jadi hari pertama!"
Ibu Rama mengambil sedikit nasi putih hangat, menyatukannya dengan potongan kecil jengkol yang empuk, secuil ikan asin, dan satu butir pete. Menggunakan jari-jarinya sendiri dengan cara tradisional yang penuh kasih sayang, Ibu mengarahkan tangannya ke depan mulut Naira.
"Kamu harus coba, Nak. Sini, Ibu suapin," ucap Ibu Rama lembut, tatapan matanya begitu keibuan dan tulus.
Naira tertegun. Di rumah mewahnya, jangankan disuapi, makan bersama kedua orang tuanya saja adalah hal yang sangat langka. Kalaupun makan bersama, yang ada hanyalah denting sendok yang sunyi atau obrolan berat tentang bisnis. Belum pernah ada tangan seorang ibu yang bergerak tulus ingin menyuapinya seperti ini.
Rama dan Dika memperhatikan dengan diam. Rama sempat ingin melarang ibunya karena takut Naira merasa risi, namun kalimatnya tertahan di tenggorokan saat melihat mata Naira mendadak berkaca-kaca karena haru.
Tanpa ragu lagi, Naira membuka mulutnya yang mungil. "Aam..."
Suapan pertama masakan rumahan itu masuk ke dalam mulut Naira. Rasa gurih-manis dari semur jengkol bercampur dengan asinnya ikan dan tekstur renyah dari pete langsung meledak di lidahnya. Itu adalah perpaduan rasa yang sangat asing, kuat, namun entah mengapa rasanya luar biasa nikmat.
"Gimana, Nak? Enak gak?" tanya Ibu dengan wajah penuh harap.
Naira mengunyah perlahan, lalu senyuman lebar langsung terbit di wajah cantiknya. Dia mengangguk mantap dengan mata
berbinar-binar. "Enak banget, Bu! Jengkolnya empuk, gak pahit sama sekali!"
"Hahaha! Tuh kan, bener kata Ibu! Ayo, sekarang makan yang banyak, dihabisin ya!" seru Ibu senang, langsung menambahkan lauk pauk itu ke atas piring Naira.
Rama yang duduk di sebelah Naira diam-diam mengembuskan napas lega. Dia menatap wajah Naira yang tampak sangat bahagia menikmati makanan sederhana di rumahnya. Di bawah atap rumah papan yang sempit ini, dengan bau semur jengkol dan pete yang menyengat, Naira tidak lagi terlihat seperti seorang putri keraton yang tak tersentuh.
Siang itu, dia terlihat seperti seorang gadis remaja biasa yang akhirnya menemukan kehangatan sebuah keluarga yang sesungguhnya.
Naira mengunyah suapan keduanya dengan pipi yang menggembung lucu. Rasa gurih, manis, dan sedikit sensasi unik dari pete berpadu sempurna di lidahnya. Air mata harunya kini berganti menjadi binar kepuasan yang murni.
"Ibu... masakan Ibu enak banget! Naira suka banget!" seru Naira setengah heboh, sampai lupa dengan tata krama makan ala jaim yang biasa dia pelajari.
Ibu Rama yang melihat reaksi jujur itu tertawa senang, hatinya lega luar biasa. Beliau mengelus pundak Naira yang berbalut kaos olahraga lilak itu dengan penuh sayang. "Alhamdulillah kalau Naira suka. Ibu sempat takut kamu gak doyan makanan kampung begini. Nanti, kalau kamu main ke sini lagi, kita masak bareng-bareng ya, Nak? Ibu acarin cara bersihin jengkolnya biar gak bau."
Mendengar tawaran itu, mata Naira berbinar-binar. "Mau banget, Ibu! Mau banget!"
Tanpa pikir panjang, saking bahagianya merasakan kehangatan yang tulus, Naira langsung memutar tubuhnya dan memeluk Ibu Rama dari samping dengan erat. Dia menyurukkan kepalanya di bahu Ibu Rama, menghirup aroma khas masakan dan minyak telon yang terasa begitu menenangkan sesuatu yang sangat asing, tapi sangat dia rindukan.
Ibu Rama sempat terkejut, namun sedetik kemudian beliau membalas pelukan itu tak kalah erat sambil terkekeh hangat.
Rama yang sedang mengunyah ayam goreng bawaan Naira langsung tersedak melihat pemandangan itu. Uhuk! Cowok lempeng itu buru-buru menyambar gelas teh manisnya dengan tangan kiri. Dia benar-benar heran melihat Naira yang biasanya sedingin es di sekolah, sekarang malah mendadak menempel pada ibunya seperti anak kucing yang menemukan induk baru.
Melihat kakaknya yang salah tingkah, Dika langsung menyenggol lengan Rama dengan sikunya. "Cie, Kak Rama cemburu ya gak dipeluk juga?" goda Dika dengan volume suara yang sengaja dikeraskan.
"Dika, diam," potong Rama lempeng dengan wajah datar, walau ujung telinganya mendadak berubah agak kemerahan.
Naira melepas pelukannya sambil nyengir lebar ke arah Dika. Namun, karena dia bergerak terlalu bersemangat saat melepas pelukan tadi, siku tangan kanannya tidak sengaja menyenggol ujung sendok garpu yang ada di pinggir piringnya sendiri.
TANG!
Gagang sendok itu tertekan kuat, membuat bagian depannya mengungkit sebuah butiran pete bulat yang masih berlumur bumbu tumis di tepi piring. Seperti peluru ketapel, butiran pete itu melesat mulus ke udara, terbang melewati tengah meja makan, dan...
PLUK!
Pete itu mendarat dengan sangat akurat tepat di atas kening Rama, lalu merosot perlahan melewati hidungnya sebelum akhirnya jatuh ke dalam mangkuk sup jagung di depannya.
Suasana ruang makan seketika hening sedetik.
Bapak yang baru mau menyuap nasi sampai menghentikan tangannya di udara. Dika melongo, sementara Ibu langsung menutup mulutnya terkejut. Rama sendiri membeku, menutup matanya pasrah saat merasakan sensasi dingin dan bau bumbu pete tertinggal di ujung hidungnya.
Naira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melotot horor. "A-Astagfirullah... Rama! Maaf! Aku gak sengaja, sumpah!"
"Hahaha! Kak Rama dikasih headshot pakai pete!" Tawa Dika langsung meledak paling keras sampai menggebrak meja, membuat suasana tegang itu pecah seketika. Bapak dan Ibu akhirnya tidak bisa menahan tawa mereka melihat wajah pasrah anak sulungnya.
Rama membuka matanya perlahan, meraih selembar tisu dengan tangan kirinya, lalu mengusap ujung hidungnya dengan gerakan super tenang. Dia menatap Naira yang wajahnya sudah merah padam karena menahan tawa sekaligus rasa bersalah.
"Ra," panggil Rama, suaranya terdengar sangat dalam dan lempeng.
"I-Iya, Ram?" cicit Naira takut-takut.
"Tadi di halaman katanya tangannya lemes gak bisa ambil kuda-kuda," ucap Rama sambil menunjuk mangkuk supnya yang kini
kemasukan pete. "Tapi kalau urusan numbuk pete jarak jauh pake sendok, akurasinya boleh juga. Minggu depan gak usah latihan karate, kamu latihan memanah aja."
"Ih, Rama! Maaf tahu!" seru Naira, yang akhirnya ikut tertawa lepas bersama seluruh anggota keluarga Rama.
Malam minggu kemarin di jalan sepi mungkin terasa seperti mimpi buruk bagi Naira, tapi siang ini, di dalam ruang makan yang sempit dan dipenuhi aroma semur jengkol, Naira tahu bahwa dia telah menemukan potongan kebahagiaan yang selama ini hilang dari hidupnya.