Sahara tak pernah menyangka akan pernyataan cinta Cakra yang tiba-tiba. Berjalan bersama komitmen tanpa pacaran, sanggupkah mereka bertahan di atas gempuran hubungan rumit kedua orang tua Cakra dan Sagara yang ternyata adalah ayah kandung Sahara.
Apakah Cakra dan Sahara akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Janji dua remaja
"Kamu juga suka lagu ini?" tanya Sahara membenarkan headset yang dipasang Cakra.
"Ya, lagu ini selalu ngingetin aku sama kamu! Waktu kita masih jauhan."
"Tapi bentar lagi kita bakalan jauhan Cakra!" Entah kenapa, Sahara merasakan kalau Cakra akan jauh dari jangkauannya setelah lulus sekolah. Mungkin, itu adalah jawaban doa dari orang-orang tersayang Cakra. Pemuda itu lolos dan dapat beasiswa.
"Belum tentu, aku ada opsi kedua kalau gak lolos lima besar. Otak aku pas-pasan, nggak kaya Rival yang hobi nelen buku dari kecil, Ra!"
"Harus yakin dong! Gak ada jaminan orang pinter dari orok lolos. Siapa tahu perjuangan kamu akhir-akhir ini membuahkan hasil."
"Oke karena kamu yakin, aku pasti juga yakin. Ra, kalau aku gak lagi di kota ini, gimana sama kamu!"
Sahara diam, ia memilih menatap ke luar jendela bus. Dimana banyak kendaraan lain di luar sana berlalu lalang.
"Aku baik-baik aja kok, dan gak keberatan kalau itu soal masa depan kamu!"
Lalu telapak tangan Cakra terasa hangat menggenggamnya.
"Janji? Janji kamu nggak apa-apa? Kamu harus tetap baik-baik saja?"
Sekali lagi Sahara mengangguk, padahal mah ia mati-matian agar tak mewek di hadapan Cakra. Sialnya, hal itu tak berlangsung lama. Toh bulir bening yang sedari tadi tertahan di ujung mata akhirnya luruh juga. Dan satunya kelemahan Cakra adalah melihat Saharanya bersedih.
"Aku akan sering-sering pulang kalau kita jauhan, aku bakal sempet-sempetin punya waktu buat selalu ngabarin kamu. Aku nggak akan melirik-lirik cewek lain disana, jadi kamu juga harus janji satu hal sama aku..."
Sahara mendongkak, Cakra sudah lebih dulu menghapus lelehan air matanya.
"Gak boleh nangis! Cengeng, masa gitu aja nangis." Cakra tersenyum.
"Dih ngatain cengeng!" Ketus Sahara memalingkan wajah. Cakra kembali meraih tangan mungil Sahara dan mengecupnya sekilas. Debar aneh jelas terasa oleh sepasang remaja yang saling mengucap janji. Sebuah komitmen tanpa kata pacaran, mungkin terdengar gila. Apalagi umur mereka masih delapan belas tahun, rasanya mustahil di usia labil bisa memiliki hubungan yang serius.
Hingga bus berhenti di ujung jalan raya menuju komplek rumah Sahara. Mereka turun bersama.
"Harusnya kamu tetep naik, kan aku bisa pulang sendiri. Kalau gini kan kamu ngeluarin ongkos dobel."
Masih terlihat jelas omelan Sahara tadi saat ia ikut turun demi mengantarnya sampai depan rumah. Cakra sampai tersenyum sendiri dibuatnya. Kini, ia kembali menaiki bus menuju rumahnya.
Cakra sampai di rumah sudah hampir sore, rumah yang beberapa waktu lalu ia dan Kinanti tinggalkan.
"Mama sama papa belum pulang bi?" tanyanya pada Art di rumah.
"Belum Den, sepertinya menginap di rumah Nyonya besar. Soalnya tadi bibi dengar mamanya pak Lendra dilarikan ke rumah sakit," jelas bibi membuat Cakra terkejut.
"Rumah sakit, bi?" ulangnya tak percaya diangguki bibi.
Gegas Cakra mengganti seragamnya dan menghubungi sang papa, menanyakan di rumah sakit mana mereka berada.
"Kamu langsung ke rumah oma aja ya, Cak! kami semua menuju kesana."
Ya, Oke Pa!"
Cakra melihat ke garasi, tak ada motor. Tapi ada mobil mamanya, Cakra langsung mencari dimana kunci mobil berada setelah mengganti pakaiannya.
"Nggak makan dulu, den?"
"Nanti aja bi, belum laper. Cakra ke rumah Oma ya bi," pamitnya diangguki art rumah.
"Hati-hati, Den!"
***
Cakra baru saja sampai, akan tetapi terkejut saat melihat bukan mobil papanya yang datang. Melainkan mobil ambulan jenazah, tubuhnya merosot. Jadi maksud papanya tadi, Oma nggak ada gitu?
Dengan tubuh tak bertenaga, Cakra paksakan bangkit berdiri. Menghampiri mobil itu dan membantu entah apa. Tangis mamanya masih pecah disana. Pun dengan sang papa yang membantu menurunkan jenazah oma meski sebisa mungkin menahan tangisnya.
Belum selesai keterkejutannya, satu lagi yang membuatnya sesak tak bisa berkata-kata.
"Kakek, kok bisa bareng gini ya Allah."
Cakra menghampiri Kinanti dan memeluknya. Lendra masih berusaha menahan tangis di hadapan istri dan anaknya. Hal itu tak berlangsung lama. Setelah jenazah kedua orang tua papanya dikebumikan. Lendra merosot dengan bahu terguncang hebat.
"Pa..."
"Mas..." Cakra dan Kinan kompak memeluk Lendra erat. Di depan tanah makam yang masih basah, tanah makam kedua orang tuanya. Kecelakaan tunggal menyebabkan keduanya meregang nyawa di tempat.