Kisah seorang wanita bernama Kiko, karena trauma masa lalu nya membuat Ia jijik jika di sentuh oleh seorang pria.
Lebih parahnya akan membuat Ia panik, gemetar bahkan Pingsan.
apalagi Pria itu Tampan.
kemudian Ia bertemu dengan seorang Pria Tampan dan anehnya Ia bisa bersentuhan langsung dengannya, Karena hal itu lah yang membuat Kesalah Pahaman ini Terjadi.
Kiko tidak tahu bahwa Pria tersebut adalah Pria mapan, tampan dan berhati dingin. banyak di Gilai oleh banyak kaum hawa.
Pria tersebut tak lain bernama Dion, pengusaha muda sukses yang memiliki kuasa serta segalanya.
ikutilah Kisah mereka, jangan di lewatkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menepati Janji
Kiko masih tertegun atas apa yang dibilang oleh Yogi tadi.
kenapa Tuan itu nyuruh aku hati hati ya, apa si Dion itu penjahat, mafia atau malah buronan? eh, tidak tidak. gak mungkinlah. tapi apa ya maksudnya?
Kiko bergidik ngeri setelah membayangkan hal hal terburuk yang akan Dion lakukan.
kemudian Ia hendak kembali ke ruangan kerjanya pasalnya sudah memasuki waktu istirahat yang biasa digunakan untuk menyantap makan siang.
"kau disini saja, sebentar lagi pesanan akan datang!" pinta Gogo
"terimakasih tapi aku bisa makan siang dikantin bersama dengan rekan kerja yang lain" Kiko tidak enak hati pasalnya ruang luas nan megah ini pasti di khususkan untuk pejabat penting di perusahaan pikirnya.
"tidak apa apa, santai saja", Gogo menarik kursi untuk Kiko duduki kembali, "selama disini tak ada oranglain, kau bisa berbicara santai denganku"
"sungguh tidak apa apa aku makan siang denganmu?" tanya lagi Kiko memastikan
"tidak masalah, apalagi Tuan Dion eh maksudku Dion akan datang kemari untuk menyantap makan siangnya"
"oh jadi Tuan juga biasa makan siang bersamamu disini?"
"eheeemm eheeemm" Dion berdehem memutus pembicaraan mereka berdua
"eh Tuan", Kiko menarik kursi didekatnya untuk Dion duduki, "duduk disini Tuan"
"kenapa kau bisa ada disini?" tanya Dion sembari melirik tajam pada Gogo
"tadi aku bertemu dengan seseorang disini, katanya sih teman mendiang kedua orangtuaku"
Dion kaget, pasalnya ruangan ini khusus miliknya dan tak ada orang lain yang berani menggunakan ruangan ini kecuali..
"siapa namanya?" tanya Dion menelisik
"ah itu namanya...", Kiko melihat kartu nama yang digenggamnya, "namanya YOGI MOTEGI", Kiko lebih terhentak kaget, "bukankah dia ini adalah Tuan Besar ayah dari Presdir kita? ya ampun aku tidak menyangka bisa bertemu dengan orang sehebat dia" Kiko ber decak kagum
"haisss, biasa saja tidak usah berlebihan" ketus Dion
"ternyata gosip tentang orangtua direktur itu salah, Tuan Besar Yogi tidak seperti yang mereka bicarakan tadi"
"memangnya para karyawan membicarakan apa tentang pa.. eh orang Tua Presdir?"
"dia", menunjuk Gogo, "mengatakan kepada Hilda kalau Tuan Besar jahat, kejam dan buruk rupa"
Dion menoleh dan memicingkan matanya tajam pada Gogo hingga Gogo langsung ciut seketika.
"padahal Tuan Besar Yogi adalah pria yang tampan dan sexy yang pernah aku temui didunia ini"
Byuurr Uhuk Uhuk
seketika Dion dan Gogo tersedak kaget bersamaan.
"apa sih kalian berdua, aku tahu kalian sudah seperti belahan jiwa tetapi tidak harus bersamaan jika tersedak seperti ini" gerutu Kiko
"Diam!" teriak Dion dan Gogo juga bersamaan
Kiko kaget, "dih marah nya juga barengan!"
****
"kau kemana saja? sudah makan siang?" tanya Hilda
Kiko mengangguk, "sudah, tadi aku bertemu seseorang"
"siapa? siapa?" tanya Hilda penasaran
"tapi kau jangan bilang bilang ya", bisik Kiko yang dianggukkan oleh Hilda, "Tuan Besar Yogi menemuiku"
"apa?" Hilda kaget dengan nada tinggi
"Husss! ini rahasia"
"maaf maaf, untuk apa Tuan Besar Yogi menemui mu? apa dia seseram yang dikatakan Tuan Gogo?"
"dia itu ternyata teman mendiang kedua orangtuaku, makanya dia menemuiku dan ingin membalas budi dan juga.." Kiko tersenyum, "Tuan Yogi itu tampan dan juga sexy"
"oh ya Tuhan, ya Tuhan", Hilda memegang dadanya, "aku mau jantungan"
"ha ha kau pasti tidak menyangka, kau di tipu oleh Gogo"
"hiiiksss, kenapa tidak aku saja yang jadi dirimu? bertemu dengan orang hebat seperti Tuan Besar Yogi yang ternyata juga tampan dan sexy, Arghhh"
"aku juga tadi hampir jantungan juga tahu, dia memang benar benar pria idaman banget" Kiko menggeleng kepala penuh kagum
"terus terus, kalau gosip tentang Tuan Besar salah jadi tentang Presdir juga dong?"
"ah iya kau benar", Kiko memutar otaknya, "menurut supir Gogo, Presdir itu orangnya tinggi putih tampan dan juga sempurna"
"oh ya Tuhan, ya Tuhan", Hilda memegang dadanya lagi, "dengar perkataan ini saja rasanya jantungku sudah mau meledak, bagaimana kalau aku bisa bertemu langsung dengannya ya? mungkin aku akan mati mendadak"
"beneran mau mati?"
"eh tidak tidak, maksudku, aku akan bahagia. sesulit apapun ketika aku menjalani hidup tapi jika aku hanya dengan bertemu dan melihat orang paling hebat dan sempurna seperti Presdir. pasti aku akan merasa segalanya baik baik saja"
"hallaaah kau berlebihan", Kiko terkikik geli pasalnya Hilda tak urung seperti sahabat gilanya, Nina.
****
Kiko sepertinya akan pulang terlambat, pasalnya banyak pekerjaan yang masih belum selesai Ia kerjakan agar akhir pekannya berlalu dengan tenang.
"pekerjaanmu masih belum selesai?" tanya Riko mendekati
"dikit lagi selesai kok", Kiko masih fokus dengan beberapa berkasnya, "kau sendiri belum pulang?"
"ah, aku tidak enak meninggalkan perempuan sendirian"
"dih, kata kata mu manis banget sih", Kiko terkekeh, "pulang duluan saja!"
"tidak, aku akan menunggumu sekalian menagih janji"
"janji?" Kiko menoleh pada Riko
"iya janji, bukannya pernah bilang mau ikut denganku"
"eh iya, tapi apa harus malam ini ya?"
Kiko merasa dirinya sangat lelah karena seharian dihadapi dengan sejumlah pekerjaan yang menumpuk, jadi jika Ia harus pergi keluar malam ini, sungguh itu akan melelahkan.
apalagi sebentar lagi akan memasuki waktunya makan malam, dimana Kiko harus menyiapkan makan malam untuk Dion. lebih lagi Kiko sangat takut jika berhadapan dengan kemarahan pria dingin itu.
"kenapa? apa kau ada janji?", entah kenapa pikirannya tertuju pada pria lain, Dion.
"tidak kok tapi....", melihat ekspresi sedih Riko membuat Kiko tak tega jika harus menolaknya dua kali, "baiklah aku mau, mau ikut denganmu"
Kiko berharap Dion akan mengerti.
dan tentu Riko senyum merekah seketika.
"kita pergi makan malam di restoran yang baru buka diseberang, bagaimana?"
"baiklah, terserah padamu"
eh, kenapa aku mengikuti kata kata si Dion itu sih.
****
"selamat menikmati"
Mereka saling menuang bir.
"sejak kapan kau suka minuman berakohol?" tanya Riko
"ah, itu tidak lama sih. ya mungkin sejak aku mulai frustasi karena terlalu lelah menjadi pengangguran" jawabnya sedikit kaku
"pffftt memangnya kau selama ini tidak pernah mempunyai pengalaman bekerja?"
Kiko menggelengkan kepala, "tidak pernah, ini pekerjaan pertamaku. maka dari itu aku harus berjuang mati matian untuk mempertahankannya"
"serius?" Riko takjub pasalnya perusahaan sekelas THORY GROUP tidak akan sembarangan menerima pekerja.
"aku serius, aku nih ya orangnya sangat pekerja keras. untunglah perusahaan besar ini yang mampu melihat kemampuanku yang terpendam" Kiko menyombongkan diri
"iya aku percaya kalau soal itu"
Kini Kiko semakin tak terkendali dan kepalanya pusing akibat terlalu banyak meneguk minuman berakoholnya.
"kau tidak apa apa?" tanya Riko saat melihat Kiko sudah hampir setengah sadar
"aku tidak apa apa, aku belum mabuk kok"
Kiko merebahkan kepalanya di meja.
"apa aku boleh bercerita dan bertanya sesuatu?"
"iya boleh, silahkan!"
"begini, sahabatku itu akhir akhir ini jantungnya suka berdebar saat dekat dengan seorang pria"
"mungkin dia sedang jatuh cinta" sahut Riko menebak
****