Bagai mimpi buruk yang nyata, jelas, lagi menekan seorang gadis bernama Sharena setelah dijadikan alat tukar hutang ayahnya pada seorang Presdir kejam, Keanu Abraham. Bukan hanya itu, kehidupannya bagai di neraka semenjak terperangkap dalam kebencian Keanu yang menuduhnya sebagai penyebab kematian saudaranya. Benci, dendam, berselimut luka dan cinta.
“Tegakkan kepalamu, sambutlah neraka di depanmu!” (Keanu Abraham)
“Aku tidak pernah melakukan seperti yang kamu tuduhkan.” (Sharena)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sharen yang hampir terlelap terjingkat kaget mendapati pintu kamarnya dibuka dengan kasar. Kean masuk dengan langkah cepat. Melempar tas kerjanya asal, lalu menarik dasinya dan membuka kancing kemejanya begitu saja seraya menuju kamar mandi. Cukup lama pria itu ada di dalam sana, meredakan tubuhnya yang serasa panas menyiksa. Gejolak syahwatnya meronta jiwa meminta disalurkan.
Sementara Sharen kembali terjaga, bahkan sedikit merasa takut dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah itu. Mengemas tas milik suaminya, lalu menaruh di atas meja kerja. Memungut pakaian kotor yang berserakan di lantai kamar.
Perempuan itu seperti biasa menyiapkan ganti untuk suaminya. Menaruh di atas ranjang, lalu sengaja membuatkan kopi barang kali pria itu butuh minuman hangat itu sebagai teman malam ini. Setelahnya kembali ke sofa bersiap untuk tidur.
Keanu sendiri masih di dalam kamar pandai, pria itu menggeram kesal saat rasa panas itu tak kunjung hilang dari tubuhnya. Ia mulai merasa pusing sedikit tak terkendali.
"Ya Tuhan ... ramuan setan apa yang sudah dicampur ke dalam minumanku," keluh Keanu merasa khawatir. Ia sudah menceburkan dirinya di bak, dan mengguyur dengan air hangat agar tubuhnya rileks. Berharap banyak keringat yang keluar. Tetap saja tidak begitu membantu, membuatnya kesusahan menahan diri.
"Daniel sialan!" umpat Keanu kesal. Pria itu menarik handuknya, lalu keluar dari kamar mandi.
Sementara Sharena sendiri belum tidur, namun dengan posisi yang memunggungi. Pria itu mendekati sofa, menarik selimut Sharen begitu saja.
Sharen yang hampir terpejam terlonjak kaget, ia langsung terduduk dan mendapati Keanu berdiri tak jauh dari sofa. Pria itu menatap dengan wajah tak karuan dan netra memerah.
"Pindah ke ranjang!" titahnya sembari menarik tangan istrinya.
Gadis itu kebingungan sendiri, terlebih melihat penampilan suaminya yang hanya memakai handuk sebatas pinggang. Membuat Sharen jelas ketakutan saat Keanu menghempaskan ke ranjang.
"Mas, mau apa?" tanya Sharen dengan suara bergetar. Perempuan itu benar-benar dalam posisi yang tidak siap menerima sentuhan apa pun.
"Kamu," jawab Keanu dingin. Ia masih sedikit berusaha menahan diri, tetapi tak cukup mempunyai kontrol yang baik. Tubuhnya menggelinjang hebat saat netra itu bertemu, tak sengaja melihat bibirnya yang ranum. Seakan merasai saat itu juga.
"Jangan Mas, kamu tidak menyukaiku, seharusnya tidak melakukan itu!" tolak Sharen ketakutan. Ia beringsut mundur memberi jarak.
Keanu memegangi kepalanya yang terasa makin berat.
"Seseorang memasukan obat dalam minumanku, aku butuh kamu untuk meredakannya," ucap pria itu di titik nadhir. Tidak maksud hati memaksanya. Namun, pada kenyataannya pria itu tidak mengindahkan penolakan istrinya.
Sharen langsung pucet, rasanya ingin lari dari kamar itu saat itu juga bila mungkin. Ia benar-benar merasa takut, lebih takut lagi menolaknya dan pria berstatus suaminya itu akan bermain kasar.
"Jangan membuatku dalam masalah, menurutlah, aku suamimu," kata pria itu merangkak ke atas ranjang.
Pria itu langsung mendekat tanpa persetujuannya, tubuhnya semakin haus sentuhan lawan meminta dimanjakan. Pria itu tidak peduli lagi ketakutan Sharen yang bahkan terasa kaku, saat menerima sentuhan di bibirnya.
Perempuan itu ingin memberontak, tetapi tidak punya cukup tenaga. Haruskah ia pasrah memenuhi kebutuhan biologis suaminya tanpa pria itu sadari seutuhnya.
Satu persatu kain yang menutup tubuh istrinya mulai koyak dari tempatnya. Pria itu melepas asal dengan tubuh sedikit tak sabar. Sharen sendiri berusaha menguatkan hati untuk menerima semuanya, walau sesungguhnya ia takut luar biasa.
Dengan gerakan nakal, pria itu benar-benar memainkan perannya dengan lihai. Mengabsen seluruh tubuh istrinya dengan begitu minat. Hingga membuatnya merasa mendapatkan sesuatu yang begitu diinginkan.
Tubuh Sharen bergetar hebat saat sesuatu yang paling asing itu mulai memaksa bertamu. Perempuan itu menjerit tertahan merasakan sakit luar biasa. Sementara pria itu nampak menikmati permainan yang tengah ia ciptakan.
Keanu benar-benar kalap, memanjakan tubuhnya malam itu yang begitu terasa hebat. Hingga ia merasa senang, bahagia, dan seketika rasa menyiksa yang sempat mendera sirna begitu saja berganti perasaan lega tak terkira.
Dirinya benar-benar baru merasakan perasaan luar biasa ini. Membuatnya dimabuk kepayang hingga tanpa sadar ingin mengulangi hal yang sama.
Sharen sendiri hanya bisa pasrah saat tubuh itu benar-benar terkulai lemas. Ia merasakan seluruh tubuhnya lelah, tak berdaya dan terlebih sakit dan ngilu di area sensitifnya.
Keanu sendiri langsung terlelap damai, benar-benar tak pernah menemukan tidur senyaman ini. Tubuhnya terasa begitu rileks, dan perasaannya sangat bahagia. Setelah banyak kesedihan, dan banyaknya luka yang mendera hatinya. Sejenak, pria itu seperti menemukan obat, damai jiwanya.
Keesokan paginya, Keanu terjaga dengan tubuh begitu prima. Ia membuka matanya, sejenak berpikir semalam mungkin hanya mimpi indahnya. Namun, pikiran itu langsung ditepis ketika sadar dirinya yang masih polos tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Diperkuat dengan adanya bercak darah yang menempel di seprei, dengan tempat yang begitu acak-acakan.
Seketika pria itu menatap sofa yang kosong, sebelah ranjang juga kosong. Ke mana Sharen sepagi ini. Keanu bergegas ke kamar mandi membersihkan diri, bersiap dengan pakaian kerjanya. Pria itu keluar dari kamar, di dapur nampak mbok Art sedang sibuk membuat sarapan.
"Mbok? Ke mana Sharen?" tanya Keanu mencari-cari istrinya yang pagi ini belum terlihat.