Untuk mengukuhkan kerja sama dan persahabatan yang sudah terjalin cukup lama, Bara dan Elang menjodohkannya anak sulung mereka, Nathan dan Zea. Namun, pada kenyataannya, justru Zio-putra ketiga Baralah yang akhirnya menikahi Zea. Kok bisa?
"Gue bakal tanggung jawab, lo nggak usah nangis lagi," ucap Zio.
"Aku nggak butuh tanggung jawab kamu, pergi!" usir Zea.
Zio berdecak, "terus, lo mau abang gue yang tanggung jawab? Itu benih gue! gue yang bakal tanggung jawab!"
Tangis Zea semakin pecah," semua gara-gara kamu, aku benci kamu Zio!"
"Bukannya lo emang udah benci sama gue?"
" Aku makin benci sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Suasana di dalam mobil Elang saat perjalanan pulang dari kediaman Osmaro hening. Tak ada obrolan antara Elang, istrinya maupun Zea. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Daddy benar-benar kecewa padamu," ucap Elang membuka percakapan.
Zea yang sejak tadi hanya diam menunduk sembari terus meremat ujung dress yang ia kenakan langsung mengangkat wajahnya, menatap sang daddy yang sedang mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang tersebut.
"Maafkan Zea, dad," ujar Zea. Ia tahu, yang di maksud daddinya adalah soal Zio.
"Kenapa kamu tidak jujur dari awal sama daddy dan mommy?"
"Karena Zea nggak mau menikah dengan Zio, Dad. Zea tidak mencintai Zio," sahut Zea.
"Tapi, menikah dengan Nathan juga tidak mungkin sayang, dengan keadaanmu sekarang," ucap Senja.
"Zea tahu, mom. Sekarang Zea juga tidak mengharap bang Nathan lagi," sahut Zea pasrah.
Elang menghela napas, "tidak akan mudah jika kau membesarkannya sendiri," ucapnya.
"Zea akan berusaha, Dad. Menikah dengan Zio juga bukan pilihan yang tepat," Zea kekeh dengan keputusannya.
Entahlah, kenapa putrinya tersebut sangat keras kepala, Elang tak tahu lah harus bagaimana," Tapi, dia butuh ayahnya,"
"Aku akan berusaha menjadi yang terbaik," kata Zea.
Elang hendak membuka mulutnya kembali, namun di sergah oleh Senja. Jika di biarkan anak dan ayah itu akan terus berdebat tanpa hasil. Yang ada mereka bisa celaka karena masih di jalan, "Kita bahas ini nanti saja kalau sudah sampai rumah. Kau sedang menyetir Boo, hati-hati," ucap Senja.
Elang menurut, jujur ia sangat pusing sekali dengan masalah ini.
..........
Hingga siang hari, kediaman Osmaro terasa sunyi. Tak ada satupun aktivitas Yang terjadi di rumah tersebut seperti biasa.
Para penghuninya saling menyendiri di kamar masing-masing .kecuali Bara yang masih betah di ruang kerjanya hingga terdengar suara pintu ruang kerjanya di Ketuk dari luar.
"Masuk!" ujar Bara yang sejak tadi memejamkan mata dengan tangan yang terus mengurut pangkal hidungnya.
"Tuan, makan siang sudah siap," kata seorang pelayan.
Bara langsung membuka matanya, "Saya belum lapar. Katakan sama nyonya untuk makan duluan," ucapnya.
"Sejak pagi tadi, nyonya sama sekali tidak keluar dari kamar. Beliau juga menolak untuk makan, tuan," ucap pelayan dengan takut-takut.
Terlalu pening dengan keadaan, Bara lupa jika istrinya pasti tersinggung atas ucapannya Tadi pagi. Ia lekas berdiri dan keluar dari ruang kerjanya, tanpa bicara apa-apa kepada pelayan yang masih di ruang kerjanya tersebut.
Bara langsung menuju ke kamarnya. Saat masuk ke dalam kamar, ia melihat Syafira tengah meringkuk membelakangi pintu. Punggung wanita tersebut bergetar, menandakan jika dirinya masih menangis diam-diam hingga sekarang.
Bara merasa sangat bersalah. Tak seharusnya ia berkata seperti itu tadi. Apalagi di depan banyak orang, pastilah itu sangat melukai perasaan Syafira.
Merasa ada pergerakan mendekat, Syafira langsung menyeka air matanya dan duduk di tepi ranjang. Ia berusaha terlihat baik-baik saja saat melihat suaminya mendekat.
"Sayang, ayo makan siang," ajak Bara.
"Mas saja, aku tidak lapar," ucap Syafira ketus. Ia bangun untuk pergi namun tangannya langsung di cekal oleh Bara. Pria itu menariknya ke dalam pelukan, "Maafkan atas ucapan mas tadi. Sungguh mas tidak bermaksud untuk menyakitimu, mas menyesal. Maafkan mas, sayang," ucapnya penuh sesal.
Syafira melepas pelukan suaminya, "Mas nggak salah. Aku yang salah, aku yang seharusnya minta maaf sama mas dan juga Nathan. Karena anakku...."
"Sssttt, Zio juga anakku. Tolong maafkan mas, jangan seperti ini, mas menyesal. Kamu yang lebih tahu seberapa besar mas mencintaimu. Sungguh mas tidak bermaksud membandingkan kamu dengan Olivia. Kamu adalah segalanya buat mas. Kamu hidup mas. Kamu adalah bundanya anak-anak, kamu yang terbaik buat mereka," ucap Bara. Ia benar-benar menyesal dan merutuki kebodohannya yang tak bisa mengontrol emosi sehingga bisa mengeluarkan kalimat setajam itu.
Air mata Syafira kembali tumpah," Aku nggak pernah membedakan mereka. Semuanya anakku. Aku yang mengurus mereka sejak kecil. Tapi, tak ku sangka, mas bisa mengungkit perbedaan mereka. Maaf kalau aku belum bisa menjadi ibu yang baik buat mereka," ucapnya. Jujur, hatinya begitu tersayat saat ini.
" Mas mohon, maafkan mas sayang. Ya, kamu adalah bundanya mereka, tak seharusnya mas hilang kendali seperti tadi," Bara bahkan berlutu di depan istrinya memohon.
" Maaf, kalau putraku menyakiti putramu, mas," ucap Syafira. Yang detik kemudian ia semakin terisak. Rasanya sangat sakit ketika mengatakannya. Ia sama sekali tak pernah membedakan anak-anaknya sama sekali. Tapi, apa yang Bara katakan sangat melukai perasaannya.
" Sayang, jangan katakan seperti itu. Mereka semua anakku. Anak-anak kita," sungguh Bara merutuki kebodohannya. Terlalu sakit hato Syafira rasakan hingga kata itu bisa keluar dari bibirnya yang biasanya selalu berkata lembut.
"Mas yang memulai memperlihatkan perbedaan mereka. Di depan semua orang," sahut Syafira.
"Iya dan mas akui mas salah. Maafkan mas, Nathan pun marah dengan mas karena mas sudah melukai perasaan bunda kesayangannya," ujar Bara.
Mengingat putra sulungnya, Syafira semakin terisak, "Zio memang salah dan aku tak akan membelanya. Tapi, apa yang mas lakukan tadi berlebihan dan itu salah!. Mas bisa bertanya baik-baik tanpa harus melukainya. Maaf bukan maksudku membela Zio. Aku juga sedih melihat Nathan. Tapi , tak seharusnya mas memukul Zio hingga babak belur seperti itu. Dia memang suka semaunya, tapi mas lebih tahu bagaimana Zio di luar sana daripada aku,"
" Iya, mas akui mas salah. Tak seharusnya mas terbawa emosi, "
"dengan seperti itu, justru menunjukkan kalau mas membedakan mereka,"
Bara menghela napas, sangat sulit untuk mendapat maaf dari istrinya. Sekali dia menyenggol perasaannya akan terus di ungkit seperti ini. Dan ia tak bisa menyalahkannya, karena apa yang dia katakan benar-benar melukai perasaan Syafira. Sayangnya ia tak bisa menarik ucapannya tersebut yang sudah terlanjur terucap. Yang ada hanya sesal.
Syafira terlihat mencari sesuatu di laci-laci yang ada di kamar. Entah mencari apa. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah kotak obat.
Sebelum keluar, Syafira menoleh pada suaminya, "Mas mau sampai kapan berlutut seperti itu? Ingat umur, nanti kecapean encok, aku yang susah! Bangun!" ucapnya masih terdengar sinis.
Bara sedikit meringis, benar yang di katakan Syafira. Saat berdiri, ia sedikit pegal dan tak nyaman, "kamu mau kemana? Mas belum selesai meminta maaf, kamu belum deal memaafkan mas loh?"
"Mau ke kamar putraku, mau mengobati lukanya. Kalau luka hatinya, semoga tak separah itu akibat ucapan daddinya tadi," sindir Syafira.
Bara mendekat dan mengambil alih kotak obat itu, "Biar mas saja," ucapnya.
Syafira kembali merebut kotak obat tersebut, "Jangan, dia putraku, biar aku saja,"
"Fir, mas mohon, dia juga putraku, sayang. Sini, biar mas saja karena mas yang sudah memukulnya tadi," Bara mengulurkan tangannya untuk meminta kotak obat itu.
"Nyesel kan udah mukul anak sendiri. Apalagi kata-kata mas tadi mukul mentalnya juga," sindir Syafira.
Bara langsung mengatup.
........
Jika kedua orang tuanya sedang bernegosiasi siapa yang akan membawa kotak obat ke kamar Zio, Nathan lebih dulu mencuri start. Dia membawa kotak obat yang ia ambil dari sebelah dapur menuju ke kamar Zio.
Mengetuk pintu kamar Zio tanpa menunggu di persilakan masuk, Nathan membuka pintu kamar tersebut yang mana membuat Zio yang sedang memetik senar gitarnya guna sedikit menghibur diri, menoleh ke arah pintu.
"Kalau abang ke sini buat nagih kata maaf, gue nggak mau minta maaf," ucap zio sembari meletakkan gitarnya. Lukanya belum ia obati. Lebih tepatnya ia biarkan saja.
"Dasar, brandal!" ucap Nathan sambil terus berjalan mendekat. Zio tak peduli maupun sakit hati dengan ucapan Nathan.
Nathan duduk di seberang Zio "Kamu sengaja kan, melakukannya?" tanyanya.
"Syukurlah kalau abang tahu," ucap Zio cuek.
Nathan tersenyum tipis mendengarnya, "Kenapa nggak kamu minta baik-baik? Kamu tahu apapun akan aku kasih buat kamu,"
Zio tersenyum sinis, "Setidaknya lo marah sama gue, pukul gue kek! atau hajar gue! Setidaknya biar terlihat lo ada sedikit effort buat Zea, ada rasa sakit dan kehilangan karena tunangan lo hamil sama gue," ucapnya
Bugh!
Baru saja Zio selesai bicara, Nathan sudah melayangkan sebuah pukulan di wajahnya, "Jangan selalu berasumsi dengan pikiranmu sendiri, tahu apa kamu soal perasaanku?" ucap Nathan sinis.
Zio tersenyum, "Maaf, gue yang akan menikahinya, bang. Maafin gue!" ucapnya.
Nathan menghela napas, ia menunjuk kotak obat di meja dengan matanya, "obatin luka kamu, nggak lucu calon pengantin babak belur begitu! Apa mau aku yang obatin?"
"Gue bisa sendiri,"
Nathan acuh, ia berjalan menuju ke pintu namun berhenti tepat di depan pintu lalu menoleh, "Kalau aku bilang, aku mau menikah dengannya karena cinta, apa kamu percaya?" tanyanya serius.
Zio terperangah dan menatap sang kakak, ada rasa bersalah muncul di benaknya jika benar itu adanya, "Sayangnya lo terlambat, bang," ucapnya.
Nathan mendengus, tersenyum sinis lalu menghilang di balik pintu.
Zio menatap pintu yang kembali tertutup tersebut, "Maafin gue, bang. Kalau itu benar, kenapa nggak dari dulu lo cinta sama dia?" batinnya.
...----------------...
hampir tiap hari nyari2 notif barangkali nyempil /Sleep//Sleep//Sleep/
ternyata hari ini kesampaian juga
makasih kak author
sehat" selalu 😘
🌸🏵️🌼 tetap semangat 💪
Zio cinta Zea tapi Zea tunangan dgn Nathan, kakaknya Zio. Karena suatu hal, Zio tidur dengan Zea akhirnya mereka menikah.
alhamdulillah semoga terus lanjut ya kka smpai tamat...
di tunggu up beriktnyaa