Dia datang untuk menemui saudara kembarnya tapi kenyataan pahit harus dia terima, saudara kembarnya sudah meninggal dua hari sebelum bertemu dengannya.
Lila meninggal karena kecelakaan, mobil yang dia kendarai masuk ke dalam jurang.
Luna hadir ke dalam keluarga tersebut, dan menyamar menjadi seorang pembantu, dan dia menemukan fakta bahwa saudara kembarnya meninggal tidak wajar. Ada sekelompok orang yang sengaja ingin melenyapkan nya.
Luna marah dan bersiap untuk balas dendam, satu persatu informasi dia dapat dan perlahan dia memberikan hukuman kepada para penjahat tersebut.
Bagaimana Luna membalas mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Alvian
Pagi menyapa dengan sinarnya yang terang benderang. Seterang hati Luna dan lila saat ini.
Luna masih di rumah sakit, gadis itu menawarkan diri untuk menjaga Rena, bukan tanpa alasan dirinya sampai mau berbuat hal yang demikian,
Rena, gadis itu harus menerima semua perbuatannya di masa lalu. Gadis itu kerap kali menghina, mencaci maki dan menyakiti Lila. Dan aku yang akan membalasnya secara perlahan, tunggu saja Rena, kini saatnya kau menikmati hari hari bahagia mu, hehehehe batin Luna bahagia.
"Kau sampai tega merebut kekasih adik mu sendiri, dan hamil lagi. Sungguh perbuatan yang tidak bisa dimaafkan, Tapi aku bersyukur karena akhirnya adikku tidak menikah dengan pria brengs*k seperti mu.
Dan luna gadis itu akan memastikan jika Rena akan menderita. Dia ingin membuat gadis itu semakin parah, bila perlu gila sekalian. Luna tidak akan menyerang fisiknya tapi akann menyerang psikisnya.
"Aku akan sangat bahagia melihat kau menangis dan gila karena kehilangan orang-orang yang kau cintai."
***
Miranda mengikuti saran Luna, dia pulang ke rumah dan beristirahat. Wanita itu masuk ke dalam kamarnya menjelang subuh dan hingga saat ini belum juga menampakan diri.
Sementara Alvian, dia baru saja terbangun. Kepalanya lumayan terasa berat, efek minuman keras yang dia minum semalam masih menguasai sebagian dari dirinya.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya pria itu pelan sambil memegangi kepalanya yang masih terasa berat.
"Bik, bibik..." panggilnya pada Bik Anne, wanita tua itu Langsung tergopoh berjalan mendekati Luna yang masih memasak.
Dia belum sadar jika wanita itu adalah Lila. Gadis itu sengaja menyamar menjadi Luna.
"Bik, di panggil pak Alvian," bisik Lila pelan
"Alvian? mau apa? bibik takut non!" ucap wanita paruh baya itu,
"Mana Luna tau Bik, udah sana buruan keburu orangnya marah. Bahaya Bik,"
"Huh!" Bik Anne menghembuskan napas kasar, kemudian berjalan menuju kamar Alvian
Bik Anne mendatangi Alvian, "Ya tuan" ucapnya
"Kenapa lambat sekali?"
"Maaf tuan, tadi saya sedang mencuci di belakang, ada apa tuan?"
"Kenapa sunyi," tanya pria itu sambil mengedarkan pandangannya, dia tidak melihat Miranda maupun Rena. Biasanya jam segini kedua wanita itu sedang sarapan bersama.
"Maksud tuan non-"
"Mana nenek lampir itu?" tanya Alvian yang lagi
"Nyonya masih di kamarnya dan non Rena di.rumah sakit." jelas Bik Anne
"Di rumah sakit? kenapa?"
"jatuh tuan, tadi malam,"
"Kau boleh pergi, buatkan air penghilang hangat untukku,"
"Baik tuan." ucap bik anne yang berjalan' menuju dapur.
Sesampainya disana dia bingung karena tidak lagi melihat Luna, padahal.tadi gadis itu disana dan membuat makanan.
Makanan yang dia buat juga tidak ada, semua bersih seperti sedia kala. "Kemana gadis itu? apa dia tidur ya!" ucap bik Anne pelan.
"Bik, mana minumannya?" terdengar suara Alvian menggelegar.
Bik Anne tersadar dan dia segera membuat minuman untuk Alfian dan mengantarkannya.
Baru saja Bik Anne meletakan tehnya di meja, Miranda pun turun dari lantai atas.
"Bik, buatkan saya wedang jahe."
"Baik nyonya."
"Aku dengar putrimu kecelakaan, baguslah akhir nya dia mendapatkan balasan atas apa yang dia perbuat pada keponakan ku, Allah sudah membalasnya sebelum aku turun tangan." ucap Alvian
Miranda yang ingin berjalan ke dapur berhenti mendengar kalimat Alvian yang sangat menyakiti hatinya.
"Sekarang kau bisa tertawa sepuasnya tapi nanti aku sendiri yang akan membungkam mulut lemes mu itu,"
"Oh ya, aku tidak takut." sahut Alvian
"Kapan kau akan menikahkan mereka, jangan menunggu hingga perut putrimu membesar, karena itu akan mencoreng nama baik keluargaku." ucap Alvian lagi dan kali ini penuh penekanan.
"Darimana kau tau putriku hamil?"
"Hahahaha....apa yang tidak aku ketahui?" ucap Alvian dengan tatapan tajam.
"Aku tau semuanya, Aku bukan Surya yang bodoh itu, dan aku bisa tau semuanya tanpa aku tinggal disini, termasuk kau yang memperlakukan Lila layaknya seorang pembantu."
Miranda mundur beberapa langkah , dia merasa bingung, merasa kalah dan tidak tau harus berbuat apa.
"Apa maumu?"
"Hehehehe, yang aku mau?" tanya Alvian?
"Iya, apa maumu?" tanya wanita itu, kesal.
"Aku ... aku mau....."
Bersambung....
othor fokus 1 novel aja spy g salah, yg baca jd bingung & byk typo lho SMP part ini
hpmu jgn lupa diambil, lumayan merekam smua obrolan bs jd bukti
skip" obrolan pas nenek lampir & anak'a
siapa hayo yg kepoin Luna...