Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.8
"ALI....ALI!" Denis berteriak saat melihat teman sebangku nya di pukul dengan tanpa ampun oleh Raka. Tatapan nya langsung tajam ke arah Raka.
"Apa yang kalian lakukan!"
"Minggir kau! gausah ikut campur urusan ku dengan bocah miskin ini!"
"Dia adalah teman ku, jadi dia juga urusan ku!"
Melihat ada Denis disini, Ali takut akan membuat Denis mengalami cedera yang sama. Dengan bergegas di bangkit, walaupun wajah nya bengkak akibat pukulan dari Raka dan teman teman nya
"Denis, jangan!" cegah Ali yang langsung memegang tangan teman sebangku nya itu.
"Ali, sudut bibir mu berdarah!"
"Sudah jangan di lawan Mereka. Kekuatan mereka besar denis, aku tak ingin kau bernasib sama seperti ku!"
"Tapi Ali..."
Dengan berusaha menarik tangan denis, akhirnya keduanya pergi tanpa membalas sedikit pun serangan dari Raka tadi. Ali langsung berlari menarik tangan denis. Dia tak ingin teman nya terlibat pertarungan tersebut.
Ali membawa Denis memasuki kelas nya. sebab sebentar lagi pelajaran akan segera di mulai.
"Bos, kenapa di biarkan kabur begitu saja." ucap salah satu teman nya Raka.
"Ada pak Imran. biarkan saja dia lolos, tapi setelah ini, bocah tengik itu akan mampus di tangan ku." ucap Raka dengan penuh ambisi.
Ali membawa Denis ke ruangan kepala sekolah nya. Denis yang awalnya ingin protes, langsung berbinar saat Ali membawa nya ke tempat ini
"Kau sangat bijak Ali, kau benar benar jenius."
"Apa ini juga alasan mu, membiarkan mereka memukul mu sesuka hati?"
"Iya.... Aku tak ingin membalas nya dengan tenaga percuma. Jadi biarkan kepala sekolah yang bertindak. Dia sudah termasuk kekerasan, dan kriminalitas!"
"Bagus Ali, aku tak tau bahwa ide mu sangat cemerlang."
"Tapi, apakah kepala sekolah akan mempercayai mu?"
"Maksud ku, dia adalah anak berpengaruh disini. Pasti akan sulit menemukan jejak kriminal nya."
"Tentu saja, luka ini akan menjadi saksi nya!"ucap Ali sambil meringis kecil saat luka itu mulai terasa sakit sekarang.
"Kenapa kalian berdua tidak masuk ke kelas?" tanya guru yang melihat mereka di ruangan guru.
"Bu, tolong bantu kami." ucap ali dengan tatapan memelas.
Saat melihat ali mengalami Luka luka di bibir dan wajah nya, Bu Lusi kaget.
"Loh Ali, apa yang terjadi nak?" tanya nya dengan kaget melihat Ali yang babak belur.
"Bu, saya di pukuli oleh raka dan temen temen nya. Tolong berikan saya keadilan Bu."
"Benar Bu, saya saksi nya. Ali di pukuli oleh raka dan temen teman nya!" ucap Denis yang membantu sahabat nya itu.
"Ayo ikut ibu keruangan kepala sekolah!"
Permasalahan ini harus segera ditindaklanjuti. Sebab ini termasuk kekerasan. dia tak suka ada siswa yang menindas orang yang lemah.
"Baik Bu." ucap ali bernafas lega. Bu Lusi bisa membantu nya untuk menghukum raka dan teman teman nya.
"Tok...tok...tok..
"Masuk!" ucap suara berat dari dalam yang masih fokus dengan komputer di depan nya.
"Eh Bu Lusi, ada apa?"
"Pak, siswa ini mengalami perundungan dan kekerasan oleh raka dan teman teman nya." ucap Bu Lusi yang menceritakan kejadian yang tadi Ali jelas kan.
pak Imran langsung menoleh ke arah ali. Dan terlihat wajah anak itu tampak lembab dan sudut bibir nya tampak bengkak.
"Raka lagi raka lagi!" ucap nya menghembuskan nafas berat melihat satu nama siswa yang menguras energi nya itu.
"Nak, sekarang obati luka mu di ruang UKS. Biar Raka bapak yang akan urus. Dan akan memanggil orang tua nya nanti!"
"Terima kasih banyak pak." ucap Ali yang langsung menyalami kepala sekolah dan Bu Lusi. Untung saja sekolah ini memberikan perlindungan untuk nya. dan tidak membela yang salah.
"Setelah itu, masuk lah ke kelas. Dan kalau tidak tahan, kau bisa kembali pulang untuk beristirahat di rumah!"
"Baik pak, saya pamit dulu..... assalamualaikum."
"Walaikumsalam."