"Bantu aku, maka aku akan mengingat kebaikan mu ini!" Ujar seorang pria yang menodongkan sebuah senjata ke perut Laela.
Mata Laela tentu saja membelalak lebar.
"Ba... baik!" jawab Laela gugup.
Apa jadinya jika perjalanan liburan sekolah Laela malah membuatnya bertemu dengan seorang bos mafia yang baru saja terluka dan melarikan diri dari para pembunuh bayaran yang mengincar nyawanya?
Setelah menolong pria itu, bagaimanakah cara pria itu membalas kebaikan yang ia janjikan pada Laela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Semenjak pertemuannya dengan Kabir, Laela lebih banyak diam beberapa hari ini. Hatinya sendu, rasanya tidak ada pelangi lagi menyinari dan memberi warna disana. Ketika Ringgo mengajaknya bercanda pun, Laela hanya menanggapinya dengan malas dan tak banyak menyiksa Ringgo seperti biasanya.
Hal itu pun tak luput dari perhatian Almira. Tiba hari setelah peristiwa itu, Laela memang lebih banyak diam, dia memilih tak banyak bicara. Karena takut salah bicara, masalahnya yang ada di otak dan mimpi dalam tidurnya itu Kabir. Dia takut keceplosan menyebut nama Kabir dan akhirnya membuat masalah untuk semua orang.
Setelah selesai mengerjakan tugas kuliahnya, Laela tak langsung merapikan buku-bukunya seperti biasanya. Dia membiarkan bukunya tercecer di meja dan di karpet tempatnya duduk. Sambil memandang ke arah sebuah buku yang sebenarnya tak di baca juga olehnya.
Almira yang memergoki putrinya lebih sering melamun tiga hari ini pun duduk di sebelah Laela sambil merapikan buku-buku Laela yang berantakan.
"Apa yang kamu pikirkan Laela?" tanya ibu pelan.
Dan benar saja, ketika Almira bertanya dengan suara pelan sambil merapikan buku-buku Laela lalu meletakkan semua buku itu di atas meja. Laela tak kunjung menyadari kalau ibunya tengah bicara dan bertanya padanya. Almira yang menyadari hal itu langsung menepuk bahu putrinya itu dengan perlahan.
"Hah!"
Laela baru menyadari keberadaan sang ibu di sampingnya setelah bahunya di tepuk lembut sang ibu. Laela langsung menoleh ke arah Almira dan bertanya.
"Ada apa Bu?" tanya Laela cepat.
Almira pun tersenyum.
"Tidak ada apa-apa. Ini kamu sudah selesai belum belajarnya, kalau sudah bereskan bukumu dan bersiaplah!" jawab Almira.
Laela tampak bingung.
"Bersiap? memangnya kita mau keman Bu?" tanya Laela.
Almira langsung menaikkan sedikit alisnya ke atas.
"Loh, kamu gimana sih? tadi kan pas nak Arman ngantar kamu pulang. Dia minta ijin sama ibu ngajak kamu nonton, ini kan malam minggu Laela. Pergilah dengan nak Arman, tapi pulangnya jangan malam-malam ya!" ujar sang ibu.
Laela mengedipkan matanya perlahan. Dia tidak ingat kalau Arman mengajaknya untuk nonton film. Tapi kejadian sebenarnya adalah, Arman memang mengajaknya nonton tapi saat itu Laela masih melamunkan tentang kisah cintanya yang rumit. Hingga akhirnya saat Laela tersadar dan Arman bertanya bagaimana? Laela hanya mengangguk saja. Arman menganggap itu sebagai persetujuan dari Laela.
Setelah merapikan buku-bukunya, Laela pun bersiap. Hari ini dan dua hari ke depan sang ayah memang tidak ada di rumah untuk menghadiri konferensi para pedagang jadi Arman meminta ijin pada Almira. Setelah selesai bersiap, Arman pun datang. Dan mereka pun pergi ke bioskop.
Setibanya di bioskop, tampak suasana tempat yang memang selalu ramai di malam minggu itu benar-benar di penuhi pasangan dan muda mudi yang mungkin baru pedekate. Setelah membeli tiket, Arman dan Laela menuju ruang studio yang memutarkan film yang akan mereka tonton.
Setelah menemukan tempat duduk, Arman bertanya pada Laela.
"Aku tidak tahu kalau kamu suka film horor?" tanya Arman sambil tersenyum.
Laela pun menaikkan sedikit alisnya.
"Film horor?" tanya Laela bingung.
"Iya, saat aku tanya kamu mau nonton film yang mana tadi, kamu menunjuk yang ini!" kelas Arman.
Laela yang terlanjur canggung pun hanya tersenyum kaku dan menganggukkan kepalanya perlahan.
"Iya bang, aku suka film horor!" ucap Laela.
'Aih, film horor. Baru denger musiknya aja udah merinding. Gimana nih?' tanya Laela dalam hati yang sangat merasa gusar.
Laela menghela nafas berat, ini akibat dia terus memikirkan kejadian beberapa hari lalu. Dan terus mengingat apa yang dikatakan oleh Kabir. Membuat hidupnya jadi sangat kacau. Tubuh, pikiran, dan hatinya tidak sejalan. Jadinya dia sering banyak melamun.
'Huh, ayolah Laela. Pria itu tidak akan pernah muncul!' ujar Laela dalam hatinya. Sekaligus meyakinkan dirinya untuk melupakan Kabir.
Setelah film di putar, Laela terus menutupi matanya dengan kedua tangannya. Arman yang melihat itu hanya tersenyum. Karena dia melihat pasangan di depannya, semakin sang wanita takut, maka dia akan memeluk pacarnya yang ada di sebelahnya. Harapan Arman tentu saja, kalau Laela semakin takut, maka Laela akan memegang tangannya. Itu maksimal yang dia harapkan, dia tidak berani berharap lebih karena dia sangat menghargai Laela.
"Kalau takut kenapa nonton film horor?" tanya orang di sebelah Laela sambil berbisik di dekat telinga Laela.
Laela terkesiap, dia langsung menoleh ke arah samping kanannya karena merasa suara yang bicara itu tidak asing baginya, terdengar begitu familiar di telinga Laela.
Dan benar saja, saat Laela menoleh matanya langsung melotot melihat siapa pri di sampingnya itu.
'Kabir!' pekik Laela dalam hatinya.
Laela terkejut bukan main.
"Laela, kenapa?" tanya Arman yang melihat Laela malah menoleh ke sampingnya bukan ke arah depan.
Menyadari Arman masih berada di sampingnya. Laela langsung berbalik menoleh ke arah Arman.
"Ah, tidak apa-apa!" jawab Laela gugup.
Tentu saja, kakinya sudah di silangkan. Laela memang seperti itu.
"Katamu kamu tidak takut hantu kan?" tanya Arman yang masih ingat saat berjalan bersama Laela berdua di dekat danau yang gelap dulu dia sama sekali tidak takut.
Laela langsung terdiam.
"Apa bang Arman suka film ini?" tanya Laela dan Arman mengangguk dengan cepat.
"Kalau begitu tidak apa-apa, aku tidak takut kok!" sahut Laela yang ingin Kabir mendengar apa yang Laela katakan itu.
Laela ingin Kabir tahu kalau dia begitu perduli pada Arman. Dan harapan Laela agar Kabir tahu itu memang terwujud, Kabir mendengar dan mengepalkan tangan setelah sikap manis Laela pada Arman itu di depan matanya.
Laela mendadak merasa punggungnya begitu dingin, Laela menghirup udara dalam-dalam sebelum dia membenarkan posisi duduknya menghadap ke arah depan. Karena dia sadar, Kabir sedang menegaskan rahangnya dan mengepalkan tangannya.
Laela jadi serba salah, alhasil dia sama sekali tidak fokus pada film yang dia tonton. Saat semua penonton wanita berteriak takut, histeris dan heboh. Laela malah hanya menghela nafasnya saja. Posisinya benar-benar sangat tidak nyaman.
Membuat seramnya film yang dia tonton masih lebih horor lagi situasinya berada saat ini. Di kiri ada Arman, tunangannya yang begitu wise dan baik hati. Di kanan ada pria tampan yang menyukainya dan terus mengikutinya seperti bayangan.
Apalagi ekspresi wajah Kabir benar-benar lebih horor dari film horor yang dia tonton. Beberapa saat terdiam, akhirnya Kabir meninggalkan Laela. Laela menghela nafas lega begitu Kabir pergi, meskipun dia tak juga bisa fokus menonton film itu hingga filmnya selesai.
Begitu film selesai, Arman mengajak Laela untuk pergi makan malam. Tapi saat sampai di tempat parkir. Arman sangat terkejut karena ke empat ban mobilnya menghilang.
Laela yang terkejut bukan main dengan hal itu, hanya ingat satu nama pria yang bisa melakukan semua ini.
'Kabir!' gerutu Laela dalam hatinya.
***
Bersambung...
thanks ya atas karyanya
Mampir Thor 🙋
terimakasih author
👍👍👍👍👍👍