NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15. pusat dunia dan cerita yang belum usai

Setelah berpamitan dengan Ratu Elara, kami pun turun dari Gunung Es Abadi dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Kabut dingin yang tadinya menyelimuti jalan kini menyebar perlahan, seolah mengantar kepergian kami dengan penuh harapan. Elara tetap berdiri di puncak gunung sambil melambaikan tangan, hingga sosoknya perlahan hilang tertutup jarak.

“Jika kalian membutuhkan bantuan, panggil saja namaku! Angin akan menyampaikan pesan kalian!” teriaknya dari kejauhan, suaranya terdengar jelas dan hangat meski terhalang jarak.

Perjalanan menuju Pusat Dunia terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Jalanan yang kami lalui tidak lagi terasa kosong atau menyedihkan. Hutan yang dulu berantakan kini tumbuh rapi dan subur, Sungai Tinta mengalir dengan air yang jernih, dan dari kejauhan kami dapat mendengar samar-samar alunan lagu dari Pegunungan Suara serta keramaian hangat yang berasal dari Kota Permata. Semua tempat yang telah kami kunjungi kini berdenyut dengan kehidupan yang nyata.

Semakin dekat dengan titik tengah, pemandangan di sekitar kembali berubah. Tanah di sana terasa seperti campuran dari segala unsur alam: ada pasir, ada batu, ada rerumputan, ada tetesan air, dan bahkan butiran es yang melayang perlahan di udara. Namun tepat di tengah-tengahnya, terbentang ruang yang terasa paling hampa dari semuanya sebuah cekungan luas yang dikelilingi kabut tebal berwarna abu-abu gelap.

“Inilah dia,” kata Valgus dengan nada rendah dan waspada. “Pusat Dunia. Di sinilah segala sesuatu bermula, dan di sinilah kekosongan itu terbentuk. Dulu kau tidak menuliskan apa pun tentang tempat ini, Leon. Benar-benar kosong.”

Leon mengangguk sambil memegang buku catatannya erat-erat di dada. “Aku ingat. Waktu itu aku pikir cukup dijadikan sebagai tempat asal saja, tanpa perlu diisi detail. Ternyata justru bagian yang paling penting inilah yang paling membutuhkan makna.”

Kami pun melangkah masuk ke dalam kabut itu. Begitu melewati batasnya, suasana berubah secara drastis. Suara dari dunia luar menghilang seketika, digantikan oleh keheningan yang sangat pekat. Di depan kami, tepat di tengah cekungan itu, terlihat sesuatu yang membuat kami tertegun.

Bukan bangunan, bukan pula makhluk, melainkan sebuah ruang raksasa yang berisi ribuan, bahkan jutaan, benang cahaya yang menggantung bebas tanpa arah. Beberapa benang itu bersinar terang dan bergerak dengan lincah, namun sebagian besar terlihat redup, kaku, atau bahkan putus dan melayang tak menentu.

“Ini adalah benang-benang cerita,” gumam Leon dengan suara yang sedikit bergetar. “Setiap benang melambangkan satu kehidupan, satu tempat, atau satu peristiwa. Yang sudah kita perbaiki bersinar terang, sedangkan yang belum… masih tergantung tanpa tujuan.”

Tiba-tiba, dari tengah ruang kosong itu muncul sebuah sosok yang tidak berbentuk hanya berupa gumpalan kabut abu-abu yang berputar perlahan, mengeluarkan suara yang bukan marah, bukan sedih, melainkan hampa sepenuhnya.

“Mengapa… kalian mengubah segalanya? Mengapa mengisi kekosongan yang indah ini? Tanpa tujuan, tanpa perasaan, tanpa aturan… semuanya terasa tenang, semuanya sama. Tidak ada rasa sakit, tidak ada kekecewaan, tidak ada perubahan.”

Leon melangkah maju sendirian, meninggalkan Liora, Zarek, dan Valgus yang tetap bersiaga di belakang. Ia menatap gumpalan kabut itu dengan tenang, tanpa rasa takut sedikit pun.

“Memang benar, dalam kekosongan tidak ada penderitaan,” jawab Leon dengan tegas. “Namun di sana juga tidak ada kebahagiaan. Tidak ada pertumbuhan, tidak ada persahabatan, dan tidak ada cinta. Jika semuanya diam dan sama, itu bukanlah kedamaian itu hanyalah keberhentian.”

“Mengapa harus berubah? Mengapa membutuhkan makna?” tanya suara itu kembali.

“Karena itulah hakikat dari kehidupan,” jawab Leon sambil membuka lebar halaman bukunya. “Makna tidak membuat kita terikat, justru ia memberikan arah. Kebebasan bukan berarti menjadi tidak memiliki apa-apa, melainkan berarti dapat memilih untuk menjadi apa yang kita inginkan.”

Saat Leon mengucapkan kata-kata itu, cahaya lembut mulai memancar dari halaman buku tersebut. Cahaya itu menyentuh benang-benang yang redup satu per satu. Benang yang tadinya kaku mulai bergerak, yang pudar mulai bersinar kembali, dan yang putus perlahan menyambung dengan sendirinya.

“Pusat Dunia ini bukanlah tempat untuk tetap kosong,” lanjut Leon dengan suara yang bergema memenuhi seluruh ruang. “Ini adalah jantung dari segala cerita. Di sinilah segala kemungkinan bermula. Di sinilah mimpi lahir, dan di sinilah jalan baru terbuka. Mulai hari ini, tempat ini menjadi ruang tak terbatas , tempat di mana setiap makhluk dapat menulis nasibnya sendiri, tempat di mana cerita lama dapat dilanjutkan dan cerita baru dapat dimulai kapan saja.”

Cahaya itu semakin terang, menyebar ke segala arah dan menyentuh setiap sudut dunia yang dapat kami lihat. Kabut abu-abu di tengah itu perlahan berubah warna, menjadi bening dan berkilau bagaikan air yang tenang. Ia tidak lagi menjadi kekosongan yang haus, melainkan berubah menjadi wadah luas yang siap menampung segala hal yang akan datang.

Ketika cahaya itu perlahan meredup, di tempat gumpalan kabut itu kini berdiri sebuah sosok baru — wujud yang terbentuk dari cahaya dan hembusan angin, tanpa rupa yang tetap namun memancarkan ketenangan.

“Kini aku mengerti,” katanya dengan suara yang lembut dan hangat. “Kekosongan bukanlah akhir, melainkan sebuah permulaan. Terima kasih telah mengajarkanku untuk menjadi tempat yang membuka jalan, bukan menutupnya.”

Semua benang cahaya kini bergerak dengan indah, saling terhubung satu sama lain dan membentuk jaringan yang megah serta penuh kehidupan. Dunia ini kini telah utuh, tidak lagi terputus atau terabaikan.

Beberapa hari kemudian, kami kembali ke istana di ibu kota. Berita tentang perubahan yang terjadi di seluruh penjuru negeri menyebar dengan sangat cepat. Orang-orang datang dari berbagai tempat, membawa cerita, hasil karya, serta rasa syukur yang mendalam.

Pada malam hari, di balkon istana yang menghadap ke taman yang luas, Leon berdiri memandangi langit yang kini dipenuhi bintang-bintang yang terang. Liora datang dari belakang dan meletakkan tangannya di bahu Leon.

“Kita telah menyelesaikan semuanya,” katanya dengan lembut. “Semua tempat telah memiliki tujuan, dan semua makhluk telah memiliki makna hidupnya masing-masing.”

Leon tersenyum, lalu memegang tangan Liora dan memutar tubuhnya hingga saling berhadapan. Wajahnya terlihat tenang, namun terselip sebuah pertanyaan yang selama ini tersembunyi di dalam hatinya.

“Benar, semuanya telah selesai,” jawabnya pelan. “Namun ada satu hal yang masih mengganjal. Aku hanyalah orang yang berasal dari dunia lain. Aku hanyalah seorang penulis yang datang ke sini untuk memperbaiki kesalahanku. Jika tugasku telah selesai… apakah aku harus kembali ke tempat asalku?”

Liora terdiam sejenak, lalu menatap mata Leon dengan pandangan yang penuh keyakinan dan kasih sayang.

“Baru saja kau mengatakannya, bukan? Cerita tidak berhenti sampai di sini. Jika setiap makhluk berhak memilih jalannya sendiri, mengapa kau tidak dapat memilih?”

Belum sempat Leon menjawab, terdengar suara langkah kaki yang riuh mendekat. Zarek datang membawa dua gelas minuman, diikuti oleh Valgus yang berjalan dengan tenang namun tersenyum tipis.

“Wah, sedang membicarakan apa? Jangan memikirkan hal yang tidak perlu!” seru Zarek sambil menyodorkan gelas itu.

Valgus mengangguk setuju. “Dunia ini bukan lagi sekadar tulisan di atas kertas. Ia telah hidup, dan ia telah memilihmu sebagai bagian dari dirinya. Jika kau berkeinginan untuk tinggal, tidak ada yang akan melarangmu.”

Leon menatap satu per satu wajah sahabatnya, lalu menatap Liora yang memandangnya dengan penuh harap. Ia merasakan jantungnya berdegup kencang, bukan karena keraguan, melainkan karena kebahagiaan yang meluap-luap.

“Baiklah,” katanya akhirnya sambil tersenyum lebar. “Jika demikian… aku memilih untuk tetap tinggal. Aku ingin melihat cerita ini terus berlanjut, hari demi hari, bersama kalian semua.”

Liora tersenyum bahagia, lalu memeluk Leon dengan erat. Di bawah langit malam itu, bintang-bintang tampak berkelap-kelip seolah turut merayakan keputusan tersebut.

Perjalanan untuk memperbaiki dunia telah selesai, namun kisah kami baru saja benar-benar dimulai. Tidak lagi sebagai penulis dan karakternya, melainkan sebagai sahabat, sebagai keluarga, dan sebagai jiwa-jiwa yang bebas menulis takdir mereka sendiri.

1
Rafi Hafizh
bagus ceritanya 👍
Ananda Anggit
🤭🤭
Ananda Anggit
siap ka, terimakasih saran nya 😁🙏
Sarah
Ya kalau dateng... kalau gak ada yang dateng? Basi dong. /Sweat/
Sarah
Aku juga sudah menduganya. 😂
Sarah
Aduhhh, Leon dipuji mulu tiap bab sama heroine nya ini. 😁
Sarah
Ceritanya lucu banget. 😁
Sarah
Kalau nama awalannya harus huruf kapital yah, “Leon”
Sarah
Ketika catatan penulis yang biasa ada di dalam kurung di tengah-tengah cerita jalan... beneran masuk ke cerita. 😂
Sarah
Bagus, cuma... ini pov orang ketiga (narator) sama pov orang pertama (Leon alias MC) yang konsisten yah. Kalau mau ganti pov tandain dulu. Biar gak bikin bingung. Atau tandain kata kayak “Pikirnya”, “Batinnya”, “Ucapnya dalam hati” untuk nunjukkin apa yang ada di otak Leon.
Ananda Anggit: iya sekali lagi makasih ya kak 😁
total 3 replies
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author 😍
Ananda Anggit
🥳🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!