Hidup tanpa cinta memang hampa, tapi kehampaan tercipta karna adanya cinta.
Apakah hanya wanita yang harus menjadi bahan perbandingan dan apakah semua kesalahan harus ditanggung oleh wanita juga.
Lantas, di mana keadilan itu berada? Mereka bilang cinta membawa kebagian dan cinta menuntun kita ke kehidupan baru, tapi yang aku rasakan jatuh terbalik dari pernyataan itu semua.
Hidupku hancur, harga diriku terhina semua orang mencemooh bahkan mengucilkan aku.
Apakah ini yang di namakan hidup baru penuh kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Niatku
“Jangan sakiti aku, Ma ....” Terdengar sangat jelas suara rintihan balita di telinga Erli.
Namun, ketika netranya mencari sumber suara dan saat ia hendak beranjak, wanita hamil itu menggenggam erat pergelangan tangan Erli.
“Tong nempo kuring sorangan! (jangan tinggalkan saya sendirian!)” pinta wanita itu.
Melihat wajah memelas wanita itu, Erli pun mengurungkan niatnya, tetapi batinnya sangat penasaran dengan suara yang ia dengar barusan.
Apa aku bermimpi? Tapi, bagaimana mungkin, itu terdengar sangat nyata? Gumamnya dalam hati.
Lagi-lagi Erli melirik ke semua arah memastikan tidak ada pergerakan seseorang yang mencoba mengerjainya dan ke sekian kalinya dia mendengar suara tangisan itu.
Namun, perhatian Erli teralihkan karna wanita yang duduk di sebelah menarik baju yang dia kenakan dan suara itu juga menghilang begitu saja, sontak gadis itu terheran-heran. Ke mana suara itu menghilang, ketika netranya tertuju ke suatu arah, mobil Rafan telah berhenti di hadapan mereka.
“Ayo, cepat masuk!” titah Rafan.
“Iya,” katanya sembari menoleh ke belakang.
“Apa yang kamu lihat? Cepat masuk! Kasihan ibu itu,” tegur Rafan seraya membukakan pintu untuk Erli.
Erangan wanita itu semakin kuat dan beberapa kali dia berteriak karna rasa sakit yang amat dahsyat. Jemari Erli di genggam sangat kuat oleh wanita hamil tersebut, berulang kali gadis itu memohon agar dilepaskan genggamannya. Namun, permintaan Erli tidak di hiraukan oleh wanita tersebut.
Bahkan genggaman itu semakin kuat dan tangan kiri wanita hamil itu mencengkeram pundak Erli, sontak gadis berambut panjang tersebut berteriak histeris dan teriakan Erli membuat Rafan semakin panik. Sehingga pria itu tidak sadar, bahwa dia telah menerobos lampu merah. Dalam kepanikan samar-samar Rafan mendengar sirene polisi di belakang mobilnya.
“Pasti ada kecelakaan di sekitar sini,” ujar Rafan pelan.
“Fokus, jangan meleng!” ucap Erli dengan suara yang menggelegar.
“Iya ....” Rafan melirik sebentar spion tengahnya, terlihat dua motor polisi yang masih membuntut di belakang mobilnya.
“Kenapa para polisi itu mengejar kita?” tanya Rafan sembari menatap Erli yang meringis menahan sakit.
“M-mana aku tahu? Tolong p-percepat laju mobilnya! Aku tidak tahan dengan siksaan ini,” keluh Erli terbata-bata.
Rafan yang masih kebingungan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tapi kali ini Rafan mengurangi laju mobil yang dia kendarai sejak tadi. Merasa ada cela, kedua polisi tersebut langsung menyelip dan memblokir pergerakan mobil Rafan.
Turunlah seorang polisi paru baya dan mengetuk kaca mobil Rafan.
“Selamat malam, boleh perlihatkan surat-surat kendaraan dan SIM Anda!” pinta polisi tersebut dengan nada suara yang pelan.
“Malam.” Rafan mengeluarkan semua surat mobil dan SIM.
“Pak, tolong di percepat pemeriksaannya! Kasihan ibu ini mau melahirkan,” ungkap Erli panik.
Polisi paru baya tersebut mengintip sebentar ke dalam mobil dan tanpa berkata lagi, dia mengembalikan semua surat mobil Rafan.
“Kami akan mengawal sampai ke rumah sakit terdekat,” ujar polisi berkumis tipis.
“Terima kasih, Pak!”
Rafan mengangguk dan bersiap melajukan kembali mobilnya, selang dua puluh menit kini mereka sampai di RS Maherdika. Di depan ruang UGD wanita itu di papah keluar oleh Erli dan beberapa perawat datang membawa brankar, dengan sigap tiga perawat UGD mendorong brankar sampai ke ruang bersalin.
Selang dua menit seorang dokter wanita masuk ke ruangan yang di mana wanita itu di rawat. Tidak lama kemudian perawat keluar dan bertanya kepada Rafan dan Erli, pertanyaan umum yang di lakukan kala ada pasien yang akan melahirkan.
“Apa Anda keluarganya?” Menatap Rafan dan Erli secara bergantian.
Begitu tegasnya Erli menjawab, “Bukan, kami hanya pejalan kaki yang lewat di sekitar sana. Dan membantu beliau.”
Sungguh berkarisma sekali gadis ini, Rafan meneliti wajah Erli sembari tersenyum tipis.
“Bagaimana dengan biaya administrasinya?” tutur perawat itu.
Lagi-lagi Erli menjawab tanpa ragu.
“Lakukan saja yang terbaik! Masalah biayanya dan lainnya nanti saya yang tanggung.”
“Mari saya antar untuk validasi, Teh!” Tangan kanan perawat tersebut mengarahkan ke suatu tempat.
Erli melangkah membuntut di belakang perawatan dan saat di tengah lorong langkahnya terhenti. Gadis itu menjepit rambutnya dan mengeluarkan satu per satu barang yang ada di dalam tas, terlihat kepanikan di wajah gadis itu.
Rafan yang terbengong memperhatikan Erli dari belakang dan pria itu hanya mengintip sebentar ke dalam tas gadis yang memiliki tahi lalat di bawa mata kirinya.
“Kamu cari apa?” Rafan masih menatap penasaran tas yang di obrak-abrik oleh Erli.
“ATM sultan!” katanya ketus.
Emang ada ATM sultan? Sepertinya dia anak orang kaya, gumam Rafan dalam hati.
Pria berambut gondrong tersebut melirik benda tipis berwarna hitam yang terselip di buku harian.
“Ini yang kamu cari?” Menyodorkan benda itu.
Erli melirik sebentar dan kening gadis itu mengernyit.
“Di mana kamu dapatkan ini?” ketusnya, “kamu curi, ya?” Pertanyaan Erli membuat Rafan sedikit tersinggung.
Namun, kekagumannya membunuh kemarahan yang di timbulkan oleh Erli. Gadis imut yang mampu menaklukkan hatinya yang keras bak batu karang di tengah lautan.
“Jangan banyak tanya, cepat lakukan yang harus di lakukan!” perintah Rafan seraya menarik Erli mendekat ke resepsionis rumah sakit.
Selepas melakukan validasi dan membayar sebagian fasilitas yang digunakan wanita yang dia bawa ke mari. Harap-harap cemas Erli duduk menanti kelahiran anak yang ada di kandungan sang ibu, gadis itu berjalan mondar-mandir di depan pintu bersalin dan beberapa kali dia mengintip aktivitas di dalam sana.
Kenapa lama sekali? tanya Erli pada dirinya sendiri.
Baru saja dia bergumam terdengar suara tangisan bayi yang menggema di dalam sana, seketika gadis itu tersenyum lebar dan dia mengintip penasaran dari kaca pintu.
“Hai, dia sudah lahir!” ujar Erli penuh semangat.
Rafan mengangguk dan mendekat ke pintu, dua orang itu saling menatap. Tatapan keduanya semakin dalam, saat perawat membuka pintu mereka berdua salah tingkah sampai-sampai kepala mereka berdua saling beradu.
Erli mengelus jidatnya dan Rafan pun juga mengelus sebentar kepala bagian depan.
“Bayi dan ibunya selamat,” kata perawat berlesung Pipit.
“Boleh saya masuk ke dalam? Saya mau lihat wajah bayi itu,” tuturnya lembut sembari melempar senyuman.
“Boleh, silakan!”
Perawat berlesung pipit tersebut menghalangi langkah Rafan.
“Maaf, Tuan tidak di perbolehkan masuk.” Menatap Rafan.
“Kenapa? Saya juga mau lihat bayinya,” keluh Rafan serta mengintip.
“Nanti saya bawa keluar bayinya, dan Anda bertugas mengadzani sang bayi.” Perawat wanita itu bergegas masuk dan tidak lama keluar lagi bersama Erli yang menggendong bayi yang baru saja lahir ke dunia ini.
Tanpa berlama-lama lagi, Rafan mengambil alih tugas sang ayah bayi. Selepas itu mereka saling bergantian mengendong bayi yang berkulit putih berhidung mancung, ketika Erli menggantikan Rafan mengendong bayi itu.
Pandangannya tidak pernah terlepas dari wajah sang bayi. Jemari mungil itu bergerak pelan dan menggenggam telunjuk Erli, bayi imut yang baru saja lahir beberapa waktu lalu mampu mengalihkan perhatian Erli dan senyuman yang manis membuat jantung gadis itu seakan berhenti berdetak. Rasa haru yang saat ini menyelimuti hatinya membuat buliran bening itu menetes membasahi sebagian besar pipinya.
Tidak, aku tidak boleh berbuat sesuatu yang akan menyakitimu, Nak! ujarnya dalam hati.
“Iya, aku berjanji akan merawatmu sekuat tenaga. Walau dunia tidak menerima keberadaan kita, Sayang.” Erli mengelus perutnya sembari menatap wajah bayi yang berada dalam gendongan.
“Kamu berbicara sama siapa?”
Pertanyaan Rafan membuat Erli terkejut dan gadis itu segera mengusap kedua pipinya.
“S-sama bayi ini ‘lah!” seru Erli tergagap.
“Dia ‘kan punya ibu. Kenapa kamu mau merawatnya?” tanya Rafan dengan kalem.
Erli menelan kasar salivanya, tampak kepanikan di wajah Erli.
kemasan isi cerita yang menarik 💞 keren 💕semangat selalu sahabat q sayang👍
tes..
that's right answered🤭
miss you thor♥