Jangan lupa like dan komennya setelah membaca. Terima kasih.
Menjadi tulang punggung keluarganya, tidak membuat Zayna merasa terbebani. Dia membantu sang Ayah bekerja untuk membiayai sekolah kedua adik tirinya hingga tamat kuliah.
Disaat dia akan menikah dengan sang kekasih, adiknya justru menggoda laki-laki itu dan membuat pernikahan Zayna berganti menjadi pernikahan Zanita.
Dihina dan digunjing sebagai gadis pembawa sial tidak menyurutkan langkahnya.
Akankah ada seseorang yang akan meminangnya atau dia akan hidup sendiri selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Mengatakan semuanya
Akhirnya Pak Doni bisa mendapatkan tiket malam itu juga. Ayman segera pergi bersama dengan asistennya itu. Awalnya dia meminta Pak Doni untuk pulang besok atau lusa karena dirinya merasa tidak enak dengan keluarga asistennya itu. Akan tetapi, ditolak oleh pria itu dan tetap kembali bersama.
Selama perjalanan, Ayman merasa tidak tenang sebelum mendengar suara wanita itu. Dia selalu kepikiran keadaan Zayna. Begitu sampai di bandara, Ayman segera menuju apartemen bersama dengan Pak Doni karena motornya ada di sana.
"Pak Doni, aku langsung pulang saja," ucap Ayman yang akan segera menuju motornya.
"Anda tidak ingin istirahat dulu? Anda pasti masih lelah."
"Tidak apa-apa. Saya istirahat di rumah saja, kalaupun saya tetap di sini, pasti tidak bisa istirahat."
"Baiklah, Tuan. Hati-hati."
Ayman segera melajukan motornya menuju rumah di mana sang istri sedang menangis. Beberapa kali pria itu hampir saja menabrak pengendara lain. Namun, akhirnya dia sampai di tempat tujuan dengan selamat. Rumah tampak sepi, lampu pun sudah mati. Ayman yakin Zayna sudah tertidur.
Pria tidak mau membangunkan sang istri. Dia mencari kunci rumah yang biasanya dibawa. Begitu pintu terbuka, yang tampak hanyalah keheningan. Tujuannya adalah mencari sang istri. Pria itu pun memasuki kamar dengan pelan.
Tampak Zayna meringkuk di atas kasur yang sudah lusuh. Ayman tersenyum, rindunya telah terobati. Dia lega melihat istrinya baik-baik saja. Pria itu mendekati Zayna dengan pelan. Saat akan menyelimuti tubuh sang istri, dia melihat wajah wanita itu yang sembab, pasti istrinya habis menangis. Ayman bertanya-tanya, apa yang membuat sang istri menangis?
Tampak ponsel dalam genggaman tangan wanita itu. Perlahan Ayman mengambil untuk mencari penyebabnya. Mudah-mudahan saja dia menemukan jawabannya di sana. Namun, sayang, ponselnya sudah mati. Pria itu pun mencharger ponsel itu. Dia menyelimuti tubuh Zayna dan mengusap rambutnya dengan pelan.
"Apa yang membuatmu menangis? Apa Mama sudah melakukan sesuatu hingga kamu meneteskan air mata? Jika itu memang terjadi, seperti yang Kiran bilang, aku tidak akan menuruti keinginan Mama lagi. Bagiku air matamu sangatlah berharga. Tidak selayaknya kamu meneteskannya."
Ayman masih menatap Zayna yang tertidur. Dia merasa bersalah karena sudah meninggalkan istrinya seorang diri. Andai saja kebohongan ini tidak dilakukannya, pasti pria itu tidak perlu mencari alasan untuk pergi dan bisa membawa Zayna ke mana pun.
Setelah beberapa menit, Ayman pun membuka ponsel istrinya. Untung saja Zayna tidak memakai kata sandi. Yang pertama dia lihat sudah pasti aplikasi chatting. Tampak panggilan darinya beberapa kali yang tidak terjawab. Ada juga pesan dari beberapa teman lainnya yang juga tidak dibalas oleh Zayna. Namun, ada yang menarik perhatiannya yaitu sebuah nomor yang tidak tersimpan di ponsel itu.
Ayman pun membukanya dan benar saja, dia terkejut melihat foto dirinya bersama dengan Kinan. Bahkan beberapa gambar terlihat mereka seperti bermesraan. Zayna tidak mengenal adiknya, sudah pasti wanita itu menganggap jika Kinan adalah kekasih Ayman.
Pria itu mengepalkan tangannya dengan kuat. Mamanya sudah benar-benar keterlaluan! Mungkin ini sudah saatnya bagi Ayman untuk jujur kepada istrinya dia tidak ingin ada lagi kebohongan-kebohongan lainnya. Mengenai nanti bagaimana keputusan Zayna, pria itu akan menerimanya. Ayman akan berusaha untuk membuat sang istri memaafkannya.
Ayman menatap istrinya yang sudah terlelap. Dia pun merebahkan tubuhnya di samping sang istri dan memeluknya. Sudah empat hari mereka tidak bertemu dan rasa rindunya sungguh sangat besar. Tubuh pria itu terlalu lelah, hingga tanpa sadar dia tertidur.
Pukul 03.00 dini hari, Zayna terbangun. Dia merasa ada seseorang yang memeluknya, seketika wanita itu membuka matanya. Senyum terukir di bibirnya kala tahu sang suami ada di sampingnya. Tiba-tiba Zayna teringat beberapa foto yang masuk ke dalam ponselnya. Dia pun segera beranjak dari tidurnya dan melepaskan pelukan sang suami dengan kasar, hingga membuat Ayman terbangun.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ayman yang belum mengerti keadaan istrinya.
Zayna hanya terdiam dengan menundukkan kepala. Kedua tangannya saling meremas untuk mengurangi luka hatinya. Dia tidak tahu harus berkata apa, ingin marah pun tidak bisa. Dari dulu wanita itu selalu mengalah dalam hal apa pun karena itu dia tidak bisa marah.
"Apakah ini semua karena foto ini?" tanya Ayman sambil memperlihatkan foto yang ada di ponsel Zayna. Wanita itu hanya melirik sekilas tanpa mau mengucapkan satu kata pun, membuat Ayman hanya bisa menghela napas dengan pelan.
"Dia adikku, kemarin dia memintaku untuk menemaninya jalan-jalan," lanjut Ayman seketika membuat Zayna mendongakkan kepala menatap sang suami. Pria itu pun mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto keluarga yang dulu pernah diperlihatkan pada istrinya.
"Kamu lihatlah baik-baik. Ini fotoku bersama dengan keluarga dan ini foto yang ada di ponselmu."
Zayna merebut kedua ponsel itu dan memperhatikan dengan saksama. Ternyata bener, gadis itu adalah Kinan. Dulu saat Ayman memperlihatkan foto keluarga itu, dia tidak begitu memperhatikannya. Sekarang malah menuduh suaminya selingkuh dengan wanita lain padahal itu adalah adiknya. Zayna merasa malu, dia menundukkan kepalanya semakin dalam, membuat Ayman semakin gemas.
"Jadi semalaman kamu menangis karena melihat foto ini?" tanya Ayman membuat Zayna mengangkat wajahnya.
"Tidak, siapa yang menangis?" kilah Zayna. Dia memalingkan wajahnya agar sang suami tidak melihat.
"Lalu ini kenapa matanya sampai sembab seperti ini?" tanya Ayman sambil mengusap mata istrinya.
Zayna ikut meraba matanya. Memang semalaman dia menangis, sudah pasti sang suami melihat matanya bengkak. Wanita itu hanya diam tidak tahu harus berkata apa.
"Sayang, ada yang ingin aku katakan padamu. Aku harap kamu mengerti keadaanku dan menerima semuanya," ucap Ayman membuat Zayna menatapnya. Dia bingung dan tidak mengerti apa maksud dari kata-kata sang suami.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Aku sudah berbohong mengenai jati diriku dan juga tentang keluargaku," lanjut Ayman karena Zayna tidak berbicara.
"Mas, bohong tentang apa? Jati diri yang mana? Apa nama Mas juga palsu?"
"Tidak, kalau namaku, itu nama asli. Aku tidak mungkin menikahimu dengan menggunakan nama palsu. Aku berbohong mengenai keluargaku. Sebenarnya Aku adalah anak seorang pengusaha." Ayman pun menceritakan tentang dirinya dan keluarganya.
Pria itu bercerita sambil memperhatikan perubahan wajah istrinya. Dalam hati dia berharap Zayna mengerti keadaan lnya yang terpaksa. Namun, hingga Ayman selesai mengatakan semuanya, wanita itu hanya terdiam dan tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Maafkan aku, semua aku lakukan karena terpaksa, demi mendapat restu mama. Sekali lagi, maafkan aku," lanjut Ayman dengan suara lirih.
.
.
.