Rara wijaya wanita yang cerdas, baik hati dan termaksud gadis pemberani. Dia harus menikah dengan Rendy Handoko seorang CEO muda. Pria yang memiliki penampilan yang tampan dan kepribadian yang sombong.
Dari awal pertemuan mereka sudah mengibarkan bendera perang.
Rendy merasa Rara menikahinya karena harta. Oleh karena itu Rendy selalu berkata kasar kepadanya.
Sementara itu Rara yang memiliki kepribadian ceria harus berubah seratus delapan puluh derajat untuk meruntuhkan kesombongan suaminya.
Tidak ada hari tanpa keributan dan kecemburuan di antara pasangan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ylfrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 32
Rara melihat wanita itu menerobos masuk ke dalam kamar tanpa kata permisi . Rara langsung mengejarnya dan mendapati mereka sedang berpelukan. Untung saja Rendy sudah mengenakan celana dan bajunya ketika ia kebelet ke kamar mandi sebelum Rara bangun.
Melihat pemandangan seperti itu penglihatannya mulai kabur, Rara langsung terjatuh ke lantai yang beralaskan tembok. Kakinya tiba-tiba lemah ketika melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain, ada apa dengannya pikir Naura saat ini. berani sekali mereka mempermainkan Rara
Sedangkan Aurel yang melihat Rarw ada di sana langsung kaget ketika menyadari perempuan yang di pikir sudah meninggal kini masih hidup dan mereka sedang berduan, Aurel menepuk pipinya untuk menyadarkan yang ia lihat adalah manusia sungguhan. Rara mencoba mencari pegangan ia ingin kembali berdiri dan melarikan diri dari tempat ini dan ketika ia sudah berhasil berdiri tidak sengaja Rara menyenggol gelas dan langsung jatuh ke lantai. Rara terdiam melihat serpihan kaca itu. ia seperti pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya .
Rendy membuka matanya dan menoleh ke arah suara itu. Ia melihat Rara sedang berdiam diri. Dan ketika ia menyadari sebuah tangan melingkar di perutnya itu bukan tangan istrinya. Rendy langsung bangkit dan berlari ke arah Rara, Rendy juga mengangkat tubuhnya agar tidak terkena serpihan kaca
Setelah Rara berdiri di tempat yang aman Rara menepis tangan Rendy dan berlari keluar dari Villa tersebut
Mungkin bagi Aurel kehadiran Rara yang masih ada membuat ia terlihat cemas, cemas jika Rendy tidak akan bisa ia miliki lagi. Namun, ia tersenyum ketika berhasil membuat Rara dan Rendy ribut kembali.
Rara berlari ke jalan setapak tanpa lelah, ia ingin mencari jalan keluar, ia ingin bertemu mamanya saat ini, Rara menyesal tidak mendengarkan perkataan mamanya tempo hari. Rara menepis air mata, Rara membenci perihal ia yang tidak mengingat apa-apa.
"Rara kau masih sakit?" Ucap Rendy menahan tangannya agar tidak lari lagi, Rendy khawatir jika terjadi apa-apa dengan Rara
"Sekarang kau peduli karena aku sakit?" tanyanya
"Ra"
"Kau jahat Ren, kau sengaja membawa aku kesana untuk melihat kebersamaan kalian! Apa benar aku istri kamu?" tanyanya lagi
"Rara aku juga tidak tahu"
"Jika aku istri kamu kenapa foto dia yang ada di sana? Rasanya sudah cukup jelas dengan foto yang aku lihat di sudut ruangan itu"
Rendy hanya terdiam
"Aku bingung harus mempercayai kau atau mempercayai mereka yang mengatakan kau itu tidak baik untuk aku"
"Atau jangan-jangan kau juga yang membuat aku terluka seperti ini?" pikir Rara sudah mulai kemana-mana
Rara mencoba melepaskan genggaman Rendy yang terlalu kuat. Tetapi tenaganya tidak cukup untuk melakukan itu, Rara menatapnya dengan tatapan yang sulit ia jelaskan, Rara juga melihat tatapan pedih dari matanya.
Rendy berfikir tidak aja jalan lain lagi, ia memaksa Rara untuk naik ke punggung belakangnya. Rara masih tetap dengan keras kepalanya sampai lelaki itu melakukan hal yang ia sukai, Rendy menggendong Rara agar kembali lagi ke Villa itu.
Beberapa kali Rara memberontak dan pada akhirnya ia kalah juga, Rara hanya diam karena kelelahan setelah berlari.
"Wanita itu ada di masa laluku, sedangkan kau ada di masa sekarang dan masa depanku!" kata Rendy dan Rara hanya terdiam seraya mempererat pegangan tangannya yang melingkar di dada Rendy
"Percaya sama aku kali ini" Lagi-lagi Rara hanya diam, kepalanya sudah pusing memikirkannya
Aurel masih memikirkan bagaimana Rara bisa hidup lagi. Bukankan Rara sudah meninggal dan tidak mungkin juga ia bisa melihat makhluk asral. Itu tidak mungkin pikir Aurel. Selagi pikiran itu menguras isi otaknya, Ia melihat kedatangan Rendy yang sedang menggendong Rara. Aurel tersenyum kesal yang ia lihat adalah nyata.
Punggung yang sering menggendongnya dulu kini telah beralih menggendong wanita lain, orang yang dulu mengejarnya kini telah mengejar wanita lain. Jika Rara bisa membuat ia terluka dengan perlakuan Rendy kepadanya, maka Aurel juga bisa membuat Rara lebih terluka lagi.
"Rendy kau jahat ya?" Omel Aurel menghampiri mereka berdua, seakan-akan dialah wanita yang paling tersakiti
"KELUAR DAN PERGI DARI SINI!" Teriak Rendy merasa hilang kesabaran melihat kedatangan Aurel yang membuat ia harus ribut kembali dengan istrinya
Mendengar bentakan kasar itu Aurel langsung pergi, sebelumnya ia tidak pernah melihat kemarahan Rendy seperti itu. Kini Rendy sudah berani memarahinya demi wanita lain.
"Aku lelah!" Ucap Rara yang merasa nafasnya semakin sesak, Rendy langsung membaringkan tubuh Rara di ranjang tidur dan ia langsung terlelap.
Pak Harris dan Pak Adit masih mencari keberadaan Rara dan Rendy. Tetapi jangan panggil dia Harris Handoko jika tidak bisa menemukan orang yang hilang. Dan di dalam pencarian itu Bu Silvi juga ikut andil, ia tidak ingin anaknya di sebut penculik.
Dan ketika orang suruhannya mendapatkan informasi dimana keberadaaan Rendy, Pak Adit bersama istrinya begitu juga Pak Harris bersama istrinya langsung menuju ke tempat itu.