"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Lampu-lampu kristal raksasa bergaya Barok memancarkan cahaya keemasan yang megah di balik langit-langit tinggi aula utama Musée Des Arts Décoratifs.
Musik klasik dari orkestra gesek menggema anggun, berpadu dengan gemerincing gelas porselen dan riuh bisik-bisik dari ratusan bangsawan, konglomerat, serta tokoh mode ternama Eropa.
Semua orang mengenakan busana terbaik mereka, lengkap dengan topeng pesta bernilai tinggi yang menyembunyikan identitas di balik kilau berlian dan bulu-bulu indah.
Di balkon mezanin lantai dua yang temaram dan memutar melingkari lobi utama, Emma berdiri bersandar pada pembatas marmer. Dari ketinggian itu, ia menggenggam tangkai gelas sampanye, menatap kerumunan tamu bertopeng di bawah bagaikan seorang ratu yang sedang mengamati papan catur miliknya.
Di sampingnya, Xavier berdiri dengan anggun, sementara Kevin menjaga Leon dan Leah yang sedang menikmati kue-kue kecil di meja bundar tak jauh dari sana.
"Dia sudah masuk," bisik Xavier pelan.
Matanya yang tajam menunjuk ke arah pintu masuk utama lantai dasar.
Emma mengarahkan pandangannya ke bawah. Di antara barisan pengawal dan lalu lalang para tamu bertopeng, sesosok pria berjanggut tipis dengan postur tubuh tinggi tegap melangkah masuk.
Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam buatan penjahit terbaik Savile Row dan topeng kulit hitam bergaya tegas yang hanya menutupi area matanya, meskipun separuh wajahnya tertutup topeng, aura dominan, kemurkaan, dan kegelisahan yang memancar dari tubuh pria itu tidak bisa disembunyikan.
Sorot matanya yang tajam bergerak liar mengedari ruangan dan menyapu setiap wanita bergaya anggun yang berdiri di lobi.
Sebuah senyuman dingin dan sarat akan celaan terukir di bibir Emma dari balik topeng platinumnya.
Rasa cemas yang dulu selalu menghantuinya setiap kali mendengar nama Alfie sekarang telah menguap sepenuhnya dan berganti menjadi kepuasan manis yang membakar dadanya.
"Lihat betapa frustrasinya dia, Xavier," panggil Emma.
"Dia datang ke Paris seperti serigala kelaparan yang mencari mangsa tanpa pernah tahu bahwa mangsanya sekarang memegang kendali atas seluruh hutan ini."
Xavier mengulas senyum tipis dan menyilangkan tangannya di dada.
"Egonya yang tinggi tidak akan membiarkan dirinya pulang tanpa jawaban, Emma, tapi malam ini tempat ini milikmu."
Di lantai dasar, Alfie mengabaikan beberapa pengusaha yang mencoba menyapa atau menawarkannya minuman. Troy berjalan tergesa-gesa di sampingnya dan berbisik tegang.
"Pak Alfie, manajer operasional pameran bilang Emma Ellis berada di area VIP. Namun pihak penyelenggara menolak memberi tahu posisi pastinya, karena protokol kerahasiaan."
"Aku tidak butuh izin mereka, Troy!" ujar Alfie dengan suara parau yang tertahan.
"Wanita itu ada di bangunan ini. Carikan aku daftar tamu VIP atau sebutkan ciri-cirinya!"
"Pak, hampir semua wanita di sini mengenakan gaun malam hitam dan topeng berlian," sahut Troy panik sembari mengamati sekeliling.
"Sangat sulit membedakan mereka di tengah pendar lampu pesta topeng ini."
Alfie mengepalkan tangannya rapat-rapat. Jantungnya berdebar kencang secara tidak wajar sejak ia melangkah masuk ke dalam aula ini. Sensasi aneh dan perasaan sesak yang sama seperti malam badai salju empat tahun lalu kembali menghantam ulu hatinya dengan sangat kuat.
"Dia ada di sini," gumam Alfie.
Ia mengabaikan perkataan Troy dan mulai menerobos kerumunan tamu bertopeng dengan langkah lebar dan tidak sabar.
Dari lantai atas, Emma meletakkan gelas sampanyenya di atas nampan pelayan yang melintas. Ia menoleh ke arah Xavier dan kedua anak kembar mereka.
"Aku akan turun," ucap Emma datar.
Emma melangkah meninggalkan balkon mezanin dan berjalan anggun menuruni tangga melingkar berkarpet merah yang menghubungkan lantai atas dengan lobi utama. Gaun malam hitamnya menyapu anak tangga dengan gemulai, sementara kalung berlian The Dark Willow di lehernya memancarkan pendar cahaya yang memikat setiap mata yang memandang.
Para tamu di sekitar lantai dasar perlahan terdiam dan memberi jalan saat menyadari sosok wanita bertopeng platinum dengan keanggunan luar biasa itu sedang berjalan turun.
Bisik-bisik kekaguman mulai menyeruak di antara kerumunan. Alfie yang sedang berdiri di dekat pilar utama lantai dasar, mendadak menghentikan langkahnya, seperti ada dorongan magnetis yang tak kasat mata, pria itu berputar dan membalikkan tubuhnya ke arah tangga utama.
Pandangan Alfie terkunci pada sosok wanita gaun hitam yang baru saja menjejakkan kakinya di lantai lobi.
Langkah Emma begitu tenang, penuh dengan rasa percaya diri seorang ratu.
Dari balik topeng berduri platinumnya, mata Emma menatap lurus ke arah Alfie dan tatapannya dingin tanpa emosi, seolah pria itu hanyalah kerikil tak berharga di jalannya.
Alfie terpaku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Postur tubuh wanita itu, cara berjalannya yang anggun hingga leher jenjang yang dihiasi berlian hitam itu terasa begitu familier sekaligus asing secara bersamaan.
Saat Emma melangkah melewatinya di antara kerumunan tamu yang berdesakan, jarak di antara mereka terkikis menjadi hanya beberapa senti. Kibasan gaun sutra hitam Emma menciptakan embusan udara halus yang melintasi wajah Alfie.
Bersamaan dengan itu, seberkas aroma samar tercium oleh penciuman Alfie, aroma khas bunga lavender yang dipadu dengan wangi kayu cendana yang lembut.
Aroma unik dan sangat spesifik yang hanya pernah dimiliki oleh satu wanita dalam hidupnya.
Dunia Alfie seolah berhenti berputar pada detik itu juga. Seluruh pertahanan mentalnya hancur berkeping-keping dan tanpa mampu menahan dirinya, sebelum wanita bertopeng hitam itu melangkah lebih jauh, Alfie melayangkan tangannya ke depan.
Jemari kekarnya refleks mencengkeram pergelangan tangan halus wanita itu dengan sangat erat dan menahannya di tempat.
Emma menghentikan langkahnya, namun ia tidak terkejut maupun panik. Ia perlahan memiringkan kepalanya dan menatap cengkeraman tangan Alfie di pergelangan tangannya, lalu menoleh menatap mata Alfie dari balik topeng platinumnya dengan tatapan tajam yang dingin.
Tubuh Alfie gemetar hebat. Matanya melebar dan memancarkan kombinasi antara ketidakpercayaan, kerinduan, dan ketakutan yang luar biasa.
Dengan suara yang parau, bergetar, dan sarat akan kepedihan yang tertahan, Alfie berbisik, "Flossie?"