Bagaimana jadinya jika seorang perempuan yang berpenampilan tidak menarik bisa membuat seorang CEO tampan jatuh cinta? Yang awalnya membenci jadi cinta, seolah ada kekuatan magic yang membutakan matanya. Kemampuan gadis itu sungguh membuat sang pria terpedaya.
"Jadilah kekasihku! Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau." Itulah tawaran yang diberikan oleh Juno kepada Aruna Rhea. Gadis yang berpenampilan kampungan, tetapi berhasil membuat Juno mabuk kepayang.
Siapa sangka ada rahasia di balik penampilan Aruna, yang membuat Juno kesulitan mendapatkan cintanya.
#Sequel dari novel 'My Lovely Idiot Husband'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amih_amy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Lelucon
...***...
Aruna fokus menatap layar datar di hadapannya. Layar itu menampilkan video rekaman kejadian yang terjadi di sebuah ruangan. Aruna mengenali tempat itu. Itu adalah ruangan yang menjadi akses satu-satunya menuju ke toilet kafenya Juno.
Rekaman video itu menunjukkan tayangan di waktu ketika Aruna melewati tempat itu dalam keadaan pusing, dan hendak masuk ke area toilet. Sepertinya Juno sudah memotong rekaman tersebut agar Aruna lebih cepat menemukan pelakunya.
Setelah menonton beberapa saat, ternyata dugaan Aruna benar. Dena berjalan mengendap-ngendap mengikuti Aruna dari belakang, lalu tak berselang lama ia pergi dengan tergesa-gesa. Walaupun rekaman CCTV itu tidak menunjukkan apa yang dilakukan Dena selanjutnya di dalam toilet, tetapi rekaman itu tidak menunjukkan ada orang lain lagi yang melewati tempat itu selain mereka berdua. Aruna semakin yakin jika Denalah pelakunya. Hingga setengah jam kemudian, dua orang perempuan yang pertama kali menemukan Aruna pun melintas di sana. Lalu salah satu dari mereka keluar lagi mencari bantuan.
Aruna menyipitkan kedua matanya, sambil mendorong kacamata besar pada pangkal hidungnya. "Eh, kayak kenal," ucapnya.
Dia menekan tombol pause, lalu membesar layar untuk memperjelas wajah yang ia kunci gambarnya. Aruna mengenali sosok laki-laki yang menggendong tubuhnya dari kamar mandi. "Chef Alfath," serunya terkesiap. "Kenapa dia bisa ada di sana? Bukannya dia masih di Singapura?" ujarnya lagi merasa bingung.
"Ternyata bukan Juno yang nolongin aku. Dasar pembohong! Sok jadi pahlawan kesiangan yang ngaku-ngaku nolongin aku, padahal dia nggak ada di TKP saat itu." Aruna mengumpat kesal. Pasalnya, sampai Aruna berhasil diselamatkan oleh Alfath, batang hidung Juno sama sekali tidak kelihatan. Namun, lelaki itu dengan bangganya menobatkan dirinya sebagai pahlawan.
...***...
Juno baru selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi. Lelaki yang sudah berhasil membuat Aruna kesal hari ini terlihat lebih fresh dengan wajah yang selalu berseri. Rambut basahnya masih menyisakan tetesan air yang meluncur melewati dahinya. Juno terlihat maskulin dengan hanya mengenakan jubah mandi yang mempertontonkan bagian dadanya yang dibiarkan terbuka. Sembari berjalan menuju lemari baju, tangannya sibuk menggosok rambut basahnya menggunakan handuk kecil.
Bep! Bep! Bep!
Suara notifikasi chat pada ponsel mengalihkan atensinya. Juno lantas berjalan menuju nakas tempat ponselnya berada. Lalu mengambil ponselnya dan membaca pesan tersebut.
Grup chat 'Homeless Child's
Devan
Ada yang bisa menjelaskan ini? @Juno, ini cewek yang pingsan kemarin, kan?
Abizar
Baru gue mau tanya juga. Nyokap gue juga ngirim foto itu barusan.
Devan
Sama, itu juga emak gue yang ngirim. Katanya Juno mau kawin sama, tuh, cewek. @Juno, keluar, woy! Kasih konfirmasi. 🤨
Juno menatap sebuah foto yang baru dikirim oleh sahabat sekaligus saudara sepupunya tersebut. Jelas itu adalah foto Aruna dengan bajunya yang semalam. Kening Juno mengernyit heran. Dari mana ibu mereka bisa mendapatkan foto tersebut. Sejenak berpikir, Juno ingat kalau para ibu itu juga mempunyai grup chat 'emak-emak cari mantu'. Dulu, Ara pernah menceritakan hal itu kepada Juno. "Pasti kerjaan mami," cetus Juno berkata pelan.
....
Alfath
Itu Rere, kan? Kenapa penampilannya jadi beda.
Devan
Cakep, ya, Al. Gue jadi tersepona.
Abizar
Terpesona
Devan
Iya, tahu. Biar lo protes aja.
....
Setelah chat Alfath muncul, raut wajah Juno jadi berubah masam. Ia pun mengetikkan sesuatu untuk membalas chat mereka.
^^^Juno^^^
^^^@Devan, apa yang mesti gue jelasin?^^^
^^^@Alfath, dia Aruna. Memangnya kenapa kalau penampilannya beda?^^^
Devan
Jelasin dengan konkret! Apa bener lo mau kawin sama, tuh, cewek?
Alfath
Nggak mungkin, gue tahu Rere nggak mungkin setuju.
^^^Juno^^^
^^^@Alfath, jan sotoy. Gue udah pernah tidur sama dia, ya. Asal lo tau.^^^
Abizar
😱
Devan
Jangan lebar-lebar melongonya, Bi. Entar ada cicak masuk mulut lo, disangka terowongan.
Abizar
Abang gue udah nackal ternyata.
Devan
Baru nyaho, lo? Udah lama kali 🤣
Alfath
Gue mau tanya sama Rere.
^^^Juno^^^
^^^Jan sok akrab lo! Aruna udah gue segel. Gue bakalan batasin siapa aja yang boleh deket sama dia.^^^
Devan
Dih, posesif.
....
Juno menyimpan ponselnya lagi di atas nakas. Ia memilih untuk melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. Walaupun suara notifikasi pesan masuk terdengar berkali-kali, Juno tidak peduli.
...***...
Cahaya lampu pijar telah dipadamkan ketika sang surya mulai memancarkan sinarnya yang terang. Hari telah berganti, menandakan seorang Aruna harus memulai aktivitasnya lagi.
Hari ini Aruna berangkat ke kantor dengan wajah yang berseri. Penampilannya masih tetap sama seperti biasanya, dengan rambut dicepol tengah dan kacamata besar masih setia bertengger di hidung mancungnya.
"Pagi, Mbak Mita." Aruna menyapa resepsionis di tempat kerjanya sembari berjalan santai. Mita pun membalas sapaan Aruna. Kini Mita begitu ramah terhadap Aruna. Bukan hanya karena Aruna adalah seorang manajer di perusahaan tersebut, melainkan karena keramahan Aruna yang seolah menular pada setiap orang yang dia sapa. Aruna selalu berusaha bersikap baik pada orang lain. Kecuali orang tersebut sudah berbuat jahat kepadanya, sebisanya Aruna akan membalas sesuai porsinya. Aruna bukan orang yang pendendam. Ia hanya ingin menuntut keadilan.
Setelah Aruna sampai di ruangan kerjanya. Tak lama Dena datang bersama dengan Indira dan Yoga. Kepala Aruna mendongak ketika mendengar suara cempreng Dena yang tengah bercerita sesuatu kepada kedua asistennya tersebut. Cuplikan rekaman video CCTV yang menampilkan wajah Dena kembali terbayang. Aruna pun seketika naik pitam.
"Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?" Dena merasa risih ditatap oleh Aruna sedemikian tajam. Ada gurat kekhawatiran yang terpancar dari wajahnya. Sorot mata yang Aruna hunuskan menyimpan banyak pertanyaan.
Aruna mengalihkan pandangannya, lantas mengedikkan bahu sebelum ia melanjutkan lagi pekerjaannya. Dena sedikit curiga, tetapi ia bersikap masa bodoh lalu duduk di kursi kebesarannya. Tak berselang lama Dena kembali berdiri, ia pamit untuk pergi ke kamar mandi.
"Aku ke toilet dulu."
"Oke." Hanya Indira yang menyahut sambil mengangkat ibu jarinya. Yoga hanya melirik, lalu fokus pada pekerjaannya lagi. Sedangkan Aruna, perempuan itu ikut berdiri.
"Ibu mau ke toilet juga?" tanya Indira kepada Aruna sambil mendongakkan kepala.
"Iya, mungkin agak lama. Kalau nanti ada yang nyari suruh tunggu saja," jawab Aruna.
"Ibu sakit perut, ya?" Indira terkekeh, dan Aruna hanya tersenyum menanggapinya sebelum dirinya melangkah pergi.
...***...
Aruna berjalan dengan santai memasuki area toilet wanita. Ada seorang karyawan perempuan yang baru keluar dari pintu toilet tersebut. Tentu saja Aruna mengenalinya. "Santi, kamu lihat Bu Dena, nggak?" tanya Aruna pura-pura.
Santi menganggukkan kepalanya tanda hormat kepada Aruna. "Ada di dalam, Bu. Tadi saya lihat dia masuk bilik toilet nomor dua," jawabnya sopan.
"Oke, makasih." Santi pun pergi, dan Aruna masuk ke dalam area kamar mandi. Aruna memindai seluruh ruangan. Terlihat hanya pintu bilik nomor dua yang tertutup rapat. Yang lainnya dibiarkan terbuka menandakan tidak ada orang yang menggunakannya. Aruna tersenyum smirk, sepertinya di sana hanya ada dirinya dan Dena saja. Ia pun melancarkan rencananya.
Dikuncinya pintu utama area tersebut, setelah itu Aruna mengambil selang jet wasser toilet yang berada di bilik nomor satu, lalu Aruna berdiri menunggu. Setelah itu, ketika tubuh Dena berada di depan wastafel hendak mencuci tangannya. Semburan air dari bilik pertama berhasil membuat Dena kelabakan dan kebasahan.
"Hei, apa-apaan ini? Siapa yang berani menyiramku kayak gini?" Dena berbalik badan mencari sumber air tersebut. Aruna–sang pelaku, hanya tersenyum lebar ketika mereka berhadapan. "Aruna, apa yang kamu lakukan? Kamu pikir ini lelucon, hah?" pekik Dena meradang.
Aruna menyimpan selang jet wasser toilet itu pada tempatnya, lalu berjalan mendekati Dena. "Jadi, apa yang Bu Dena lakukan padaku kemarin malam juga lelucon?" sindirnya tajam membuat Dena sontak membungkam.
...***...
...Hayoloh, ngaku!...
...Kira-kira Dena mau ngaku, nggak, ya? Ramekan kolom komentar, ya. Makasih. Jangan lupa jempolnya. 👍...
semangat ya author 👍👍👍👍
ditunggu karya selanjutnya 💪💪💪💪
spil pemeran juno nya 😊😊
manusia kaya dena ini banyak di dunia nyata