Masih dalam area bacaan 25 tahun ke atas.
Apa yang terjadi ketika masa pubermu datang, dimana secara psycologi kamu masih labil.
itulah yang dialami seorang pemuda, ketika dalam mencari jati diri, Barno hanyut dalam lingkungan kehidupan yang mengarahkan nya ke petualangan cinta, yang di penuhi gejolak batin.
Dua wanita yang termasuk sepupunya sendiri, Ia terjebak dalam perasaan.
**************
Barno hanya diam, bingung mau menjawab apa. Ia tidak menyangka kalau Suhut akan menagih janjinya beberapa hari yang lalu. Semua itu berawal dari kekesalannya akibat ejekan temannya itu, yang menyatakan kalau dirinya adalah pria cupu dalam hal bergaul dengan wanita.
"Hei, gimana? Kau bilang sudah punya pasangan bebas kemarin. Jadi nggak kita tukar pasangannya," tanya Suhut dengan bibir menukik kebawah, memancarkan sebuah ejekan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uncle Jo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
jangan lupa dukungannya, ya. like komentar fav bunga atau kopi dan juga 🌟🌟🌟🌟🌟.
Biar author tetap semangat. terima kasih.
💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋
"Aku duluan, ya," ucap Liana kepada Barno setelah mobil yang dikendarai Suhut menghilang di kejauhan
"Lia, tunggu!" Barno menyusul Liana yang sudah berjalan beberapa langkah, dan langsung meraih tas gadis itu. "Biar aku bantu bawakan tasmu," ucapnya lagi.
"Eh! Tidak perlu."
Walau Liana protes, tapi tasnya sudah berada di tangan Barno, dan berjalan cepat di depannya menuju kosan.
"Nggak apa-apa. Aku tau kalau kau itu kelelahan dalam perjalanan. Sebagai Abang aku harus bisa berbuat baik."
Liana hanya menatap bingung dengan sikap Barno, dan kembali berjalan menyusul pemuda tersebut. Sesampainya di depan pintu kos, Liana mengambil tasnya dari tangan Barno.
"Terima kasih," ucap Liana.
"Hmmm … Boleh aku ikut masuk ke dalam. Aku sangat haus." Barno tersenyum tipis.
Sikap Barno yang begitu sopan, membuat Liana semakin bingung. Ia menatap pemuda itu sejenak.
"Baiklah. Tapi kau tunggu di sini, di dalam sangat berantakan."
"Oke!" Barno mengangguk.
Setelah Liana masuk kedalam kosannya, Barno bersandar di dinding samping pintu menunggu Liana. Sekelebat kejadian malam itu, di mana ada seseorang yang datang diam-diam dan meng—oral batangnya. Erna telah mengakui kalau bukan dirinya yang melakukan hal tersebut. Oleh sebab itu Barno ingin membuktikan sesuatu. Apakah Liana yang melakukannya?
Setelah 15 menit berlalu, pintu terbuka dan Liana muncul dengan pakaian kaos oblong yang begitu ketat, dipadukan dengan celana yang begitu sangat pendek, hanya menutupi sampai bagian paha atas gadis itu saja.
"Kau sudah boleh masuk," ucap Liana menyadarkan Barno yang sedang diam mengagumi kemulusan pahanya.
"Ehh … oh, iya!" ujar Barno dan masuk ke dalam mengikuti LIana.
Setelah menutup pintu, Barno berdiri dengan mata fokus ke arah pinggul Liana yang begitu padat melenggok dengan sempurna, sesuai dengan langkah kakinya yang menuju sebuah kursi.
"Apa kau yang melakukannya malam itu?"
"Kau mau minum apa?" tanya Liana dengan wajah datar.
Kamar yang berukuran 5×5 meter itu cukup rapi, semua tertata dengan sempurna, membuat Barno mengangguk beberapa kali karena kagum.
"Sudah lama aku tidak kesini. Kau tetap saja seperti dulu, orang yang begitu rapi dan bersih," puji Barno, lalu duduk di atas tempat tidur Liana.
"Jangan duduk di kasur aku!" ujar Liana setelah menoleh ke arah Barno.
"Bukankah biasanya aku duduk di sini setiap mengunjungimu?"
"Hmmm… terserah kau lah! Kau mau minum apa?"
"Kalau ada, susu dingin. Kalau nggak ada, susu biasa aja," ujar Barno dan merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan kaki masih tetap menginjak lantai, ia juga merentangkan kedua tangannya supaya tubuh sedikit rileks.
"Aku nggak punya susu. Adanya minuman soda."
"Ya udah. Itu pun jadi." Barno kembali duduk.
Posisi kulkas berada tepat dimana Barno menghadap, sehingga ketika Liana membungkuk untuk mengambil minuman untuknya, mau tidak mau matanya langsung terarah ke pinggul Liana. Celana ketat yang begitu pendek, membuat belahan antara paha dan pinggul terpampang sangat jelas.
"Oh Tuhan. Kenapa dia terlihat sangat seksi? Apa aku bisa melakukanya dengan Lia? Kalau memang dia yang melakukan itu padaku malam itu, mungkin haru ini aku bisa menaklukkanya. Tapi … ahhh! Lebih baik aku coba saja."
Walau ada ketakutan dalam hati karena takut Liana akan marah, tapi Barno mencoba untuk memberanikan diri. Ia pun mulai mendekat dan berdiri tepat di belakang Liana yang sedang membungkuk untuk mengambil minuman soda kaleng dari dalam kulkas.
Perlahan tapi pasti, bagian pinggang kebawah, Barno tempelkan tepat di pinggul Liana, membuat gadis itu langsung kaget, karena merasakan ada tonjolan yang menempel di pinggulnya.
"Kau …. Kenapa kau dekat sekali denganku, menjauh, lah!" bentak Liana.
"Aku hanya mau lihat, kok. Kau lama sekali cuman ngambil minuman, jadi aku mau bantu," kilah Barno.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
*Argon* , kurus panjang, susan 🙏🙏🙏