"Lo tau Asam Sulfat? Tapi, itu belum cukup buat lelehin hati lo yang beku. Tapi, gue juga gak bakal Nyerah semudah itu"
~ Arfenik Arkasa
Arfen, si Bocah Sains sang badboy ahlinya PHP, Pemecah rekor murid terlambat setiap hari. Paling enggak bisa patuh sama peraturan.
Arfen yang gak bisa nurut peraturan terlalu hobi mengganggu Lathifa si gadis Hukum yang identik dengan peraturan dari kelas IPS Satu.
Siapa yang sangka, Gangguan iseng Arfen setiap harinya berakibat jatuhnya ia terlalu dalam pada cinta nya Lathifa.
Mampukah Arfen menaklukan Hati beku Lathifa? Apakah Lathifa si gadis hukum mau menerima sang BadBoy?
Ingin tau kisah nya?
Cek yuk ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
***
Yang tadi minta up lagi. Nih Author kasih. Jangan lupa Like, komen, vote and Rate yah Guys. Biar Author makin semangat up nya. Lob yuuu...
***
"Ngapain lo ngajak gue kesini? Mau minta kegantengan gue? Sorry, ganteng nya gue itu gak bisa di bagi. Jadi sadari diri aja, takut nya lo udah gak lama. " Sinis Cowok tengil ini, menatap sinis cowok jangkung yang kini tengah berada di hadapan nya.
"Gue waras. Enggak mau nanggepin celotehan gila lo. " sahut Cowok jangkung itu, santai.
"Terus ngapain ngajakin gue ke sini? Berdua lagi? Tempat nya sepi, lo mau apa? " Tanya Arfen lagi dengan tatapan menyelidik.
"Gue mau nanya ke elo. Lo, tulus enggak ke Thifa? " tanya nya. Yah dia adalah Zefan. Yang mengajak Arfen bertemu hanya berdua.
"Tanya sama diri lo sendiri. Lo layak gak nanya kayak gitu ke gue?"
"Gue akui. Gue gak layak nanya kayak gini ke elo. Gue akui, Gue suka sama Dua cewek sekaligus, dan dengan rakusnya pengen miliki keduanya. Satu bersampel pacar, satu nya sahabat. Okeh. Gue tau gue sampah. "
"Ralat, perilaku lo sampah kalo muka lo ganteng, nah perilaku lo lebih rendah dari sampah, karna muka lo standart. " sahut Arfen santai, Namun di balik ketenangan Arfen kali ini. Dia sedang menerka - nerka. Apa rencana Zefan kali ini. Dengan mengucap kan hal dramatis ini.
Apa lagi siasat anak ini?
Batin Arfen, dia masih terlihat tenang.
"Iyah, emang gue sampah. Puas lo? Gue ngajak lo ketemuan di sini cuma mau ngomong. Lo tau kan, Gue sama Thifa udah sahabatan sekitar lima tahun. Dan sekarang giliran elo jaga dia. "
"Maksud lo apa? " Arfen mengernyitkan dahi nya.
"Thifa Cinta nya ke elo. Dan enggak gue. Gue mau pindah sekolah. Gue gak bisa tiap hari liat kalian bareng. Takut nya, Gue jadi gila dan malah nyulik Thifa. Gue enggak mau buat Thifa benci ke gue. Seenggak nya di anggap sebagai sahabat, itu udah lebih dari cukup buat Gue. "
"Kalo masalah nya Thifa cinta nya ke gue. Iyah gue tau, gue sadar. Yah wajar, Gue lebih ganteng. Tapi, harus banget yah lo pindah sekolah? Zefan Awirayan, lo itu sahabat yang baik di mata Thifa. Gue gak mau Thifa kehilangan sahabat nya, dan nanti dia sedih. Kalo dia sedih, "
"Thifa enggak kehilangan gue. Lain kali mungkin kita bakal ketemu lagi, dan itu waktu gue udah Move on. Kalo gue menetap di sini. Takutnya, Thifa akan benar - benar kehilangan sahabat nya. Jadi, lo paham kan? "
"Gue harap lo bakal balik nemuin kita lagi. Gimanapun juga, Lo tetep sahabat nya Thifa. "
"Santai, Gue bakal balik. Jadi, lo tolong Jaga Thifa yah. Jangan pernah sakitin, apalagi kecewain dia. Gue bakal bunuh elo kalo sampai lo lakuin itu. "
"Itu gak akan pernah terjadi. Kalo pun terjadi, Gue udah bakal lompat dari Jurang duluan. "
"Arfen? Zefan?!" Seru Gadis mungil itu, yang setengah berlari ke arah Zefan dan Arfen. "Kalian ngapain? Kok di sini?! " tanya nya lagi. Bagi Thifa, suatu kejanggalan bila Arfen san Zefan berbicara?
"Kami main Truth or dare. Mau ikutan? " tanya Arfen, merangkul gadis nya yang hanya sebahu itu.
"Eh boleh, sih. "
"Truth or Dare Thif?" Tanya Zefan langsung.
Deg. Thifa terdiam, Ayolah haruskah Thifa menyatakan perasaan nya pada Arfen, karna Truth or Dare?
"Gue pilih Truth deh. Kalo Dare takut nya, kalian ngasih tantangan yang enggak enggak. " waspada Thifa.
"Jujur Thif. Sebutin Orang yang pernah lo cinta siapa aja. Sebutin semuanya!" Tanya Zefan langsung to the point.
Kan, Apa gue bilang. Masa iyah gue harus ngaku? Gak ngaku, gue bohong dong. Ambyar!
Batin Gadis mungil ini lagi. Ia merasa keputusan nya untuk menghampiri Zefan dan Arfen, adalah satu kesalahan. Yah, kesalahan besar.
"Gue pernah suka ke elo Zefan. Gue sih gak tau itu suka atau enggak. Tapi, yang jelas yang sekarang Gue cinta sama Arfen. Gue sih yakin itu cinta. "
"Woh sama dong. Gue juga cinta sama elo. " Celetuk Arfen santai. Mendaratkan satu kecupan di pipi kanan Thifa.
"Lain kali liat tempat dong. Gak liat apa gue masih di sini. Kalian ini, Gue bisa cemburu entar. " Protes Zefan mencoba setenang mungkin.
"Emang lo siapa? Bukan nya hanya patung yang berbicara? "
Bekhhhh
"Tuh lambe lain kali di Pasang Rem deh! " protes Gadis mungil itu menginjak kaki nya Arfen. Bukan nya menjerit, Arfen malah menaik turunkan alisnya menatap Thifa. Membuat Thifa memutar bola matanya jengah.
"Gue harap, lo tepatin janji lo. " Zefan berjalan pergi, meninggalkan Thifa dan Arfen di sana.
"Fen, Zefan kenapa? "
"Gue cinta ke elo"
"Gila! Gendeng! Halu!! Sedeng! Gesrek!! "
"Apapun itu yang penting Gue Cinta ke elo. "
---
"Oh, sekarang udah sadar diri gitu? Jadi mau mundur teratur? " Seru Gadis manis yang kini ada di hadapan Zefan.
"Jadi lo dari dulu udah sadar. Kalo Gue suka ke Thifa? Makanya lo gak pernah respons perasaan gue? " tanya balik Zefan.
"Yaps, Lo benar. Gue emang udah sadar dari dulu, kalo lo suka ke Thifa. Dan Gue juga udah sadar dari dulu kalo Arfen sukanya ke Thifa. " sahut Raisa santai, tanpa ada rasa bersalah.
"Terus kenapa lo gak bilang ke gue? "
"Kalo gue bilang ke elo, Entar lo jadian dong sama Thifa. Lah terus nasib nya sepupu gue gimana? Maaf lah yah, Gue sih lebih milih Thifa sama sepupu Gue. "
"Jadi karna itu lo tarik ulur perasaan Gue. Biar gue gak nyatain cinta gue ke Thifa. "
"Kurang lebih sih gitu, Mau gimana lagi. Segendeng apapun Arfen. Dia tetep sepupu gue. Yah Gue mihak nya dia lah. Maaf yah... "
"Gue bakal maafin elo. Tapi, ada syarat nya? "
"Apa?? "
Cup..
Zefan mengecup lembut kening Raisa sebentar.
"Itu hukuman nya. Karna elo, udah tarik ulur perasaan Gue. " Zefan melenggang begitu saja. Meninggalkan Raisa di sana.
***
Nexttt??
Lanjut??
Btw, Raisa mirip ke Rei apa Aisyah yah?