Peringatan! Novel coming of age.
Terinspirasi dari kisah nyata.
Kehidupan remaja tidak hanya di isi masa-masa manis, tetapi juga pahit. Di sini kita akan mengulik sisi berandal dari kehidupan anak SMA. Cerita ini mengangkat tema tentang kenakalan remaja.
Raffi Hannes merupakan remaja yang populer tampan, supel dan punya segudang prestasi. Seperti remaja pada umumnya, Raffi penasaran akan banyak hal. Dia merupakan anak baik-baik yang lambat laun berubah karena rasa penasarannya itu.
Dari mulai ketidaksengajaan mengkonsumsi obat terlarang, membully, hingga pergaulan bebas. Semuanya pernah dilakukan Raffi karena berada di lingkaran pertemanan yang super toxic. Apakah Raffi mampu mengendalikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auraliv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Pesan Misterius
...༻☆༺...
Raffi memilih bungkam. Dia tidak bisa melawan betapa keras kepalanya Gamal. Alhasil Raffi menjauh dari kerumunan. Hal serupa juga dilakukan Elsa.
Gamal begitu ambisius mengenai tujuannya. Raffi yakin pasti Gamal diberi imbalan yang besar jika sukses menjadi ketua osis. Imbalan itu tentu saja diberikan oleh orang tua Gamal yang super kaya. Raffi akan segera tahu, bila Gamal sudah menjadi ketua osis nanti.
Saingan terberat Gamal adalah Putri. Sebab Putri juga terlihat melakukan kesibukan seperti Gamal. Cewek tersebut membagikan setangkai bunga dan cokelat kepada semua orang. Bersikap seramah mungkin agar bisa mengambil hati banyak murid.
Sementara Agung, menghabiskan waktunya di mushola seperti biasa. Dia cukup santai layaknya Raffi. Kalah atau menang, Agung akan menerima dengan lapang dada. Menurutnya nasib itu ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
Raffi menghabiskan waktu di kelas bersama teman-teman yang lain. Dia juga bersikap santai dengan Ratna. Seolah tidak ada apapun yang terjadi.
Tidak terasa, bel pertanda pulang berbunyi. Para guru nampaknya memutuskan untuk memulangkan murid lebih awal. Seluruh murid tentu saja menymbut dengan seruan girang. Mereka saling berdahuluan mengambil tas, lalu keluar dari gerbang sekolah.
Berbeda dengan Raffi. Ia selalu pulang belakangan dibanding yang lain. Raffi tengah merapikan meja dan kursi di kelas. Dia membantu temannya yang giliran menyapu.
"Raf, lo kok kayak nggak minat gitu jadi ketos?" tanya Royan. Dia merupakan teman sekelas Raffi. Berperawakan tinggi dan keturunan orang Ambon.
"Emang nggak minat, Yan." Raffi menjawab sambil mengambil tas dari dalam laci. Saat itulah sebuah kado berukuran kecil jatuh dari sana.
"Menurut gue, lo itu paling cocok dibanding kandidat lain. Kami satu kelas udah janji buat pilih elo. Jangan bilang-bilang Gamal ya!" Santi yang juga kena giliran menyapu ikut menyahut. Dia terlihat merapikan meja guru yang berhamburan.
Atensi Raffi yang mendadak terfokus dengan kado, tidak begitu mendengarkan perkataan Santi. Dia justru mengambil kado kecil yang terjatuh ke lantai.
"Lah, lo dapat kado lagi?" Royan menaikkan kedua alisnya.
"Tau nih, kayaknya gue nggak lihat ada satu lagi di bawah meja," jawab Raffi sembari membuka bungkus kado.
"Isinya apaan?" tanya Santi sambil memegang sapu. Dia menoleh ke arah Raffi.
Raffi terdiam. Sebab dia tidak menemukan isi kado selain secarik kertas. Dahi Raffi berkerut. Apalagi pesan yang dia baca bukanlah kalimat romantis seperti biasanya.
'Tolong! Gue ngerasa, cuman lo yang bisa bantu. Raffi... lo itu adalah sepercik harapan gue. Kalau lo mau tahu gue siapa, kita ketemu hari minggu nanti di kedai depan gang Camelia.'
Begitulah pesan yang tertulis di secarik kertas. Raffi segera menyembunyikannya saat Royan dan Santi mendekat bersamaan.
"Apaan sih, Raf? Jangan bikin kami penasaran." Santi mendesak seraya menghentak-hentakkan kaki.
"Bukan apa-apa kok. Ini cuman surat norak aja. Ada namanya, kasihan dia. Kalian nanti ngejekin," kilah Raffi. Dia telah mengamankan surat ke dalam saku celana.
"Jangan-jangan dari cewek yang lo suka ya? Makanya lo nggak mau nunjukkin ke kami," ujar Royan dengan ekspresi mengejek.
"Yang bener? Kasih tahu kami dong. Sumpah ya, gue itu sebenarnya penasaran sama cewek yang disuka sama Raffi," ungkap Santi. Dia iseng meletakkan dagu ke ujung pegangan sapu.
Tanpa sepengetahuan Raffi, sedari tadi Elsa mendengarkan dari depan kelas. Gadis itu urung masuk karena hendak mendengarkan pembicaraan Raffi.
'Surat dari cewek yang disuka Raffi? Bukannya itu gue ya? Tapi gue nggak ada bikin surat buat dia.' Benak Elsa bertanya-tanya. Dia segera melangkah masuk ke kelas. Raffi lantas dapat menyaksikan kehadirannya.
"Nah, Elsa pas banget datang! Raffi kayaknya dapat surat dari gebetannya, El!" seru Royan yang tak tahu apa-apa mengenai hubungan Raffi dan Elsa.
Plak!
Raffi reflek memukul pundak Royan. Bisa-bisanya cowok keturunan Ambon tersebut menyimpulkan yang tidak-tidak.
"Apaan deh! Gue nggak ada bilang suratnya dari cewek yang gue suka. Ngarang lo, Yan." Raffi membantah tegas. Namun Elsa malah tersenyum licik sambil berkacak pinggang.
"Eh, lo jangan senyum-senyum kayak gitu ya, El. Gue tahu betul maksud senyuman itu apa," pungkas Raffi. Dia yang sangat mengenal Elsa. Tahu betul maksud raut wajah yang ditunjukkan cewek itu. Jika Elsa menampakkan ekspresi begitu, maka sebentar lagi dirinya akan melakukan kejahilan.
"Lo kayaknya bener, Yan. Suratnya pasti dari gebetan dia." Elsa memutuskan bermain bersama Royan dan Santi. Ia berjalan kian mendekat.
"Udah deh. Kita pulang yuk. Gerbang udah renggang." Raffi sengaja merubah topik pembicaraan. Melingus begitu saja melewati Santi dan Royan. Tetapi Elsa malah berdiri di depan pintu. Mencoba menghalangi jalan Raffi.
"Lo kenapa?" tanya Raffi.
"Mana suratnya. Gue mau lihat" Elsa membuka lebar telapak tangannya. Menuntut Raffi agar bisa memberikan surat yang dia maksud.
Raffi mendengus kasar. Dia sudah memasukkan tangan ke saku celana. Namun di waktu bersamaan, Vina terdengar berteriak memanggil Raffi. Panggilannya otomatis membuat Raffi dan Elsa menoleh secara bersamaan.
Selang sekian detik, Vina tiba di tempat Raffi berada. Cewek berbadan agak berisi itu tampak mengatur nafasnya terlebih dahulu.
"Kak, aku boleh minta bantuan?" Vina menatap Raffi penuh harap. Padahal di sebelahnya sudah jelas ada kakak sepupunya. Ia bisa saja meminta bantuan kepada Elsa.
"Emang lo kenapa, Vin?" Elsa bertanya dengan perasaan cemas.
"Ban sepedaku bocor. Bengkel kan cukup jauh dari sini. Aku mau minta bantuin Kak Raffi buat bawa aku ke bengkel..." tutur Vina pelan. Dia menjawab pertanyaan Elsa, namun tatapannya tertuju ke arah Raffi.
Elsa perlahan menunduk kecewa. Sebenarnya selama beberapa hari, Vina bersikap dingin kepadanya. Elsa tak tahu kenapa. Yang jelas Vina sudah tidak seramah dulu lagi. Vina bahkan melarang Elsa menjejakkan kaki ke kamarnya. Suasana di rumah menjadi kurang harmonis.
Elsa memutuskan memendam masalahnya sendiri. Lagi pula menurutnya, masalahnya dengan Vina bisa jadi termasuk perihal keluarga. Elsa akan mencari tahu sendiri penyebab perubahan sikap Vina.
Sebelum mengiyakan, Raffi menatap Elsa. Tetapi cewek yang ditatapnya justru sibuk menundukkan kepala.
"El? Lo ikut juga kan bantuin Vina?" tanya Raffi. Sukses menyadarkan Elsa dari lamunan dalam sekejap.
"Eh, gue?" Elsa menunjuk dirinya sendiri. Ia bermaksud memastikan.
"Bukannya Kak Elsa tadi pakai motor ya?" imbuh Vina. Dia melirik Elsa secara selintas.
"Oh, iya bener juga. Gue tadi pakai motor. Hampir aja lupa!" Elsa menepuk jidatnya sendiri. Sebenarnya dia tidak lupa. Kedatangannya untuk menemui Raffi, karena hendak memberikan sesuatu. Elsa telah menyiapkan hadiah valentine-nya semenjak kemarin.
Dahi Raffi mengerut dalam. Heran dengan gelagat Elsa yang tiba-tiba bersikap kikuk.
"Lo kenapa sih?" timpal Raffi.
"Emangnya gue kenapa?" Elsa membalas sembari berjengit. "Ya udah, anterin Vina ke bengkel sana. Gue mau pulang duluan. Hati-hati ya!" lanjutnya. Kemudian berjalan laju menuju parkiran.
Raffi yang masih keheranan hanya geleng-geleng kepala. "Kakak sepupu lo kenapa coba? Dia kegigit nyamuk jenis apa tadi malam? Nggak biasanya dia canggung gitu," katanya. Tetapi Vina hanya membalas dengan gelak kecil. Cewek itu terkekeh sambil menutupi area mulutnya.
...____...
Catatan Author :
Halo guys... kali ini aku mau nyapa kalian sama pertanyaan.
Coba tebak siapa yang bakalan jadi ketos?
Lalu menurut kalian, siapa yang kirim pesan misterius sama Raffi?
Ayo, ayo silahkan jawab di komentar.. hehe :v