Bentuk tubuhku lebar ke samping, rambut gaya kuno dan wajahku tidak sebening kaca.
Sepotong blus potongan sederhana dan padanan rok menutup dengkul, hampir ketinggalan jaman. Gaya busana itu yang kupakai jika mengikuti ekskul di sekolah. Cuma tinggi badanku yang sedikit menolong walaupun tidak bisa dibilang tinggi seperti model.
Kebanyakan temanku lebih sering menggunakan jeans dan kaos saat mejngikuti ekskul. Berbeda dengan mereka, potongan pakaianku selalu sama dengan Minggu lalu. Rok di bawah dengkul dengan blus potongan biasa. Kata mereka aku ketinggalan jaman. Manusia purba dan langka.
"Kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya mendatangkan malu untuk keluarga ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yani Wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Melawan Arin.
Kemenangan kecil itu mampu membangkitkan rasa percaya diri. Aku semakin yakin bahwa aku punya kelebihan seperti teman lainnya. Jika rata-rata temanku berkulit bening dan aku tidak, maka aku punya prestasi yang patut dibanggakan. Sedikit kelebihan ini mampu menutupi kekurangan diriku dan membuatku lebih percaya diri.
"Kalisha! Hebat ya bisa juara. Aduuuh temanku ini diam-diam_"
"Diam-diam koit haaa." Aku potong ucapan seorang teman. Gelak tawa kami di dalam kelas menggema. Hampir semua teman mengelilingi diriku. Masih ada gap waktu sebelum belajar dimulai.
"Huuuss Icha jangan berkata begitu!" Nai melarang.
Seorang teman yang lain berkata, "Tahu nggak kalian majalah Mudi yang terkenal itu. Banyak yang lihat, disukai sama sebaya kita. Dengan begitu Icha mulai dikenal orang banyak karena nama, wajah dan seketnya muncul di halaman majalah."
"Wiiiih selamat Icha." Tepuk tangan dari semua teman. Aku terharu. Dua titik air bening jatuh dari sudut mata ini.
"Aku tak sangka." Beberapa orang teman bersuara.
"Tunjukkan pada Arin, diri kamu lebih baik dari dia, Cha."
"Iya tuh, dia yang suka merendahkan orang!"
"Teman-teman terima kasih ucapannya ya juga dukungan kalian ke aku. Ini hanya juara 3. Aku minta maaf ya, belum bisa berikan apa-apa buat kalian," kataku sedih.
"Tak apa Ica, kami tidak mengharapkan itu. kami ikut senang kamu bisa menang lomba," ucapkan seorang teman mewakili yang lain.
"Kalian teman yang baik hiiikk."
"Loohh...looh kok nangis sih Cha?" Tanya Andi heran.
"Sudah, sudah teman-teman. Bu guru datang." Nai mencari tempat duduk. Teman lain melakukan hal yang sama. Masing-masing siap di bangku dan menunggu Bu guru muncul.
Sejak itu rasa percaya diriku timbul walaupun tidak penuh. Rasa rendah diriku tetap ada meskipun sedikit. Namun ku tak terlalu sedih seperti kemarin. Karya-karya sketsaku menjadi penghibur hati.
"Heh melamun, mau istirahat nggak Cha?" Nai menyadarkan lamunanku.
"Nggak di sini saja."
"Mau makan bakso nggak?"
"Tidak masih kenyang." Aku berusaha merekam gagasan yang lewat di dalam kepala. Sebuah ide untuk membuat sketsa fashion.
"Kamu bawa bekal dari rumah ya?"
Aku menggeleng, "Tidak lagi."
"Terus apa yang kamu pikirkan?"
"Ide Nai. Ide ini muncul. Akh kamu ganggu saja sih Nai. Terus gimana ini? Mana kertas Nai?" Aku segera mencari kertas dan pena. Aku abaikan tatapan Nai yang penuh tanda tanya. Lalu segera ku buat goresan-goresan di selembar kertas putih. Nai menarik nafas.
"Oh itu kiranya. Kamu kan bisa menggambar di rumah Icha."
"Selagi gagasan ini ada. Kalau sampai di rumah bisa hilang lagi," kataku. Sekarang garis besar dan sedikit detailnya telah ku tuangkan di atas kertas. Aku lanjutkan saja di rumah.
"Kamu mau ikut lomba lagi ya?"
"Belum Nai. Tunggu ada event lomba lagi. Aku bikin yang lebih bagus. Kamu kan punya banyak gambar Icha, pilih salah satunya dan kirim."
"Iya tapi ide ini selalu muncul di kepala aku. Aku sering terbayang cuma belum ku lukis di kertas. Baru hari ini."
"Aku mau cari elang." Nai berdiri. Aku sontak mendongakkan kepala.
"Haa apa? Mau cari Elang buat apa?" Aku berhenti melukis.
"Ciieee langsung berhenti dengar nama Elang disebut. Ini urusan aku dengan Elang, mau tau aja hehehe." Nai sengaja menggoda.
"Oh begitu. Terserah mau bilang atau nggak. Kamu belum tahu ya Elang itu di Jakarta. Dia ikut lomba."
"Hah benarkah? Kok aku ketinggalan berita."
"Makanya non kalau ditanyain itu jawab."
"Dia pergi. Ketinggalan berita kamu."
"Sudah berapa lama Cha?"
"Tiga hari. Kalau nggak percaya telpon saja sama Elang."
"Kok kamu tahu sih. Aku curiga nih.
"Curiga apaan Nai? Ya tahulah aku sama Elang kan satu ekskul. Dia pamit sama kami kemarin. Katanya mau berangkat ikut lomba di Jakarta."
"Yaaah nggak jadi deh. Di sini saja."
"Katanya kamu mau jajan, pergi saja."
"Tak asyik nggak sama kamu Icha. Ayolah kita kantin!"
"Baiklah demi kamu, aku temani."
Kantin dengan meja yang tidak terlalu penuh oleh teman-teman. Aku duduk di kursi dengan meja yang masih kosong.
"Banyak yang belum datang," kata Nai. Di tangan Nai membawa nampan berisi bakso, lumpia dan es gunung. Masing-masing dua porsi untuk aku dan Nai. Nampan ibu kantin dipinjam oleh Nai.
"Banyak sekali ini Nai. Lumpianya enam," kataku takjub.
"Pas kok, aku tiga kamu juga sama. Makan Cha!"
"Bakso dulu," kataku.
"Terserah."
Ruangan mulai ramai. Siswa lain berdatangan membeli jajan. Meja hampir penuh. Hanya bangku di sebelah kami yang masih kosong.
"Nah kamu di sini Icha." Aku menoleh ingin tahu pemilik suara.
"Ya ada apa Ndi??" Andi duduk di sebelah kami. Andi mencomot risoles.
"Bu Walikelas cari kamu."
"Owh pentingkah? Tentang apa ya Ndi?"
"Tidak tahu Cha. Nanti saja ke ruang guru. Bu guru tak menyuruh aku panggil kamu secepatnya."
"Oh baiklah."
"Waahh Andi ngomong iya, tangannya cepat pula, risoles tinggal dua. Lapar ya Ndi?" Nai terlihat kecewa. Aku tertawa pelan.
"Ambil lagi ke sana Ndi. Aku yang bayar," pintaku.
"Aku ambil lagi ya, ganti yang tadi 4, kalian belum makan kan?"
"Buruan Ndi, 10 menit lagi masuk kelas."
"Yoi Nai, kamu kelihatannya lapar sekali. Masih kurang tuh bakso semangkok?"
"Ho oh cepat ya Ndi. Lapar...." jawab Nai.
Selang berapa menit Andi datang lagi dan kami makan bersama. Sayangnya suasana damai merubah keruh dengan datangnya Arin. Lagi-lagi Arin.
Dengan santainya Arin berkata, "Sudah keluar dia dari ngumpetnya. Sedang pacaran, makan bakso dengan Andi." Uuhh mulutnya ingin ke sumpel dengan bakso besar yang masih ada di piring. Dua orang genk Arin berdiri di belakang.
"Arin!!!" Seru Andi, "Kamu jangan ngomong sembarangan ya. tak ada orang pacaran di sini, tahu!"
"Andi, aku tidak bilang kalian pacaran tapi seperti pacaran," Elak Arin.
"Kata-kata kamu itu menggiring pikiran teman-teman. Bisa saja teman-teman beranggapan bahwa aku dan Icha pacaran."
"Huuuh betul!" Tambah Nai membenarkan Andi.
"Kemarin kamu bilang aku pacaran dengan Elang. Sekarang kamu ngomong Andi pacaran dengan aku. Maksud kamu itu apa? Menyebar berita sembarangan saja," kataku. Sebal dengan Arin.
"Jangan dekat-dekat Elang!" Kata Arin.
"Susah ya ngomong sama kamu tuh. Sudah dibilang aku nggak pernah dekat-dekat Elang." Aku berdiri maju. Berani menatap Arin dengan mata garang.
"Eehh berani ya kamu!"
"Kenapa aku harus takut sama kamu?" Aku maju lagi. Jarak diriku dengan Arin hanya dua jengkal.
"Eeeeeiiy Icha, Icha stop! Jangan maju lagi. Jangan teruskan!" Tangan andi menahan tanganku.
"Aku berani Ndi, perlu ku tampar mulut dia ini." Aku geram.
"Maju Cha." Dorong Nai.
"Eeee jangan sampai Icha. Ingat kalian bisa dipanggil guru BK. Nai hhhhh!" Cegah Andi. Matanya melotot pada Nai.
"Biarkan saja Ndi. Biar dia tahu Icha bisa marah."
"Tidak boleh. Hati boleh panas, kepala tetap dingin ya."
"Hhuuh siram air es saja Ndi," kata Nai.
Akhirnya bel sekolah yang membubarkan kami. Aku sudah nekat saja ingin menampar Arin. Benar-benar aku lupa akibatnya bila perkelahian terjadi. Aku tak mau sampai papa menerima aduan dari sekolah.
...Ω bersambung Ω...
semamgat
Semangat kaka
Terima kasih do'anya author Neyna.😘😘