Di usia dua puluh lima tahun, Gurkha pergi meninggalkan keluarganya dan habitatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KE VILLA
Devi terdiam atas perintah Gurkha yang menyuruhnya untuk kembali ke Villa. Mungkin yang harus ia lakukan sekarang hanyalah diam dan patuh. Jika mengambil tindakan prontal kepada sikap Gurkha, kesempatan untuk mencari celah bertemu orang tuanya akan hilang.
Saat ini kesempatan kabur dari sisi Gurkha sangat banyak, tapi buat apa, ia takut menjadi "mangsa" Naga. Tindakan selanjutmya ia harus perhitungkan. Sudah menjadi rahasia umum kalau Naga sering membuat penduduk Nusa Dewata yang berada di sebelah selatan lebih merasa terancam, dari pada wilayah yang lain. Makanya penduduk yang berada di sebelah selatan hampir rata mempunyai senapan angin.
"Kenapa melamun?" tanya Gurkha sambil menghabiskan satu porsi dessert dan susu. Mereka berdua sedang makan siang tanpa banyak bicara, seperti yang dulu-dulu, dimana Devi menjadi tawanannya.
Sikap Devi selalu sama, diam dan banyak pikiran, kadang Gurkha kasihan melihat wanitanya, tapi mau gimana lagi, sebagai Manusia Naga ia sangat terbatas. Semua tingkah lakunya ia harus pikirkan, jangan sampai nama keluarga Pak Surya ayah angkatnya tercoreng gara-gara perbuatannya.
"Gurkha, aku memikirkan kejadian tadi malam, aku trauma terhadap Naga. Kenapa Naga menginginkan aku, apa yang membuat dia menyukaiku? aku merasa tidak nyaman terhadap situasi ini."
"Aku yakin Naga Api sangat cinta padamu, tidak mungkin dia berbuat begitu, kalau tidak cinta padamu."
"Kamu sok tahu, memangnya kamu pernah ketemu Naga." ejek Devi.
"Hemm... sudahlah, jangan bahas itu lagi. Ini pertemuan kita yang terakhir, jika aku tidak datang lagi padamu berarti aku sudah tidak ada di Dunia."
"Gurkha!! ngomong jangan ngawur, jika kamu mati aku tidak ada teman, jadi bertahanlah hidup untuk aku. ngomong-ngomong kamu mau kemana, mau berperang?"
"Aku memang mau berperang ke tapal batas, doain supaya aku selamat." ucap Gurkha dengan wajah datar. Matanya sayu tanpa gairah.
"Aku tidak bisa berkata kalau begini, apa yang kamu cari lagi, kamu sudah punya semuanya, kenapa menjadi relawan, aku tidak habis pikir dengan dirimu." gerutu Devi kesal.
"Oke, aku pergi dulu, sebaiknya aku menyiapkan diri untuk besok pagi."
"Gurkha, bagaimana kalau aku ikut membantumu bersiap. Sebagai sekretarismu aku akan membantumu dan mengantarmu ke Bandara."
"Lebih baik kamu tinggal disini, kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik. Doain aku supaya aku selamat dan bisa bertemu kembali denganmu.Tidak usah sering keluar." ucap Gurkha getir, dia mendekati Devi, memandangnya dengan mesra.
"Gurkha, aku tidak mau tinggal di kantor, aku mau tinggal di rumahmu." kata Devi serius, dia merasa aman di tempat Gurkha daripada di tempat lain. Disamping jauh dari masyarakat dia juga ingin hidup menyepi.
"Kalau begitu kita pulang sekarang, kau boleh tinggal di rumahku sampai kapanpun."
"Aku siap-siap dulu." kata Devi berdiri. DIa menyuruh Office boy membersihkan meja bekas mereka makan.
"Kita pulang satu mobil?" tanya Devi mengimbangi langkahnya Gurkha.
"Kamu ikut aku, besok kamu bisa naik taxi ke Kantor." saran Gurkha, tangannya menggandeng tangan Devi.
Gurkha pamit sekali lagi kepada karyawannya. Semua mata karyawan serempak memandang orang nomor satu di kantornya itu menggandeng seorang wanita, biasanya tidak ada wanita yang sukses menggoda bos mereka.
"Bos selamat, supaya langgeng." ucap Pak Romi tersenyum penuh arti
kepada pasangan Gurkha dan Devi.
Gurkha tersenyum dan memeluk Devi dengan mesra. Devi yang mendapat perlakuan istimewa dari Gurkha hanya tersenyum simpul saja.
"Tolong jaga dia sepanjang aku pergi, aku pastikan dia selamat dan jangan mencoba menggodanya, karena dia adalah calon ibu dari anakku." kata Gurkha sambil tersenyum. Matanya mesra memandang Devi. Tidak lupa bibir Gurkha berlabuh di kening Devi.
"Siap bos, cepatlah kembali setelah urusan bos selesai." kata Pak Romi, mereka semua memberi selamat kepada bos mereka, ponsel mereka mengabadikan moment yang langka itu. Tumben mereka melihat bos nya begitu mesra kepada seorang gadis.
Suara Harry Styles mengalun merdu mengiringi perjalanan mereka berdua Gurkha memacu mobil sport navy blue itu dengan kecepatan sedang, ia ingin menikmati suasana jalanan yang ramai. Pandangannya terarah pada jalanan yang ramai dan padat. Banyaknya gedung menjulang tinggi yang menghiasi ibu kota.
Tiba-tiba rasa haru mengoyak jiwanya, ia teringat ibunya yang di bakar hidup-hidup. Seandainya ia nekad menikahi Devi, tentu kejadian itu akan terulang kembali.
Mereka telah membuangnya tanpa merasa sedih, kini mereka kembali mencarinya dan menyuruh berperang dengan kelompok Naga Es yang akan merebut wilayah mereka.
Amanat Kakek dan Ayahnya untuk merebut wilayah utara yang di kuasai oleh Naga Es, membuat Gurkha harus pergi meninggalkan Devi, demi membela bangsanya. Gurkha harus turun tangan karena bangsa Naga Es sangat kuat dan banyak. Dan saat ia harus berusaha mengambil kembali milik bangsanya, ia justru bertemu kembali dengan wanitanya. Masalah baru yang membuat hidupnya hampa dan semakin nelangsa. Ia mencintai kekasihnya, dan sekarang harus pegi dari sisinya untuk berperang dengan Naga Es. Kenapa hidupnya begini?.
Gurkha tetap fokus pada jalanan yang sepi dan menanjak. Sesekali ia melirik Devi lewat ekor matanya. Wanita itu tetap termenung, serta menyimak setiap lagu yang keluar dari playlist mobil. Ia merasa sangat beruntung bisa mencintai, sekaligus membagi ranjang dengan Devi, tidak seperti Naga lainnya yang tidak mampu berbaur dengan manusia.
Pria itu mengalihkan pandangannya dari wajah Devi, karena semakin lama ia menatap Devi, semakin sulit lagi ia menahan hasratnya.
Tak terasa enam puluh menit berlalu akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Devi tercenung sesat, apakah benar tindakannya pindah kesini? operasi plastik atau tidak, dia tetap jatuh ke tangan Gurkha, tapi dia tidak merasa rugi, karena orang lain tidak mengenalnya. Tujuan hidupnya masih banyak, belum satupun bisa terealisasi. Dia masih punya dendam dengan Gatot dan yang lainnya.
Seperti bulan-bulan sebelumnya suasana Villa masih tetap sama, hanya pohon-pohon yang kelihatan semakin subur dan rindang. Suasana sangat indah, karena beberapa pohon sedang berbunga. Sebentar lagi akan musim buah.
Suara mobil Gurkha sudah terdengar memasuki tempat parkir. Seperti biasanya Amira akan berlari keluar untuk menjemput Gurkha, tapi langkahnya terhenti, sepasang kaki jenjang turun dari mobil, mata Arima nanar melihat gadis yang berada di depannya. Perasaannya hancur dan sangat kecewa, Gurkha ternyata mengajak seorang wanita ke Villa. Arima mengendus bau wanita itu, tapi yang ia dapati adalah aroma Devi, kenapa wajahnya berbeda. Arima tidak habis pikir.
"Kau Devi atau siapa?" celetuk Arima sinis, mata hitamnya menatap tajam kepada Devi.
"Mau apa kau kesini? Bukankah kau sudah lari dari Tuan Gurkha?" pekik Arima membuat Devi kaget. Ia mulai khawatir melihat Devi berwajah lain. Mengapa Gurkha membawanya ke rumah, apa Tuan mau melanjutkan keinginannya untuk menikah dengan bangsa manusia.
"Arima bicara yang sopan, ini calon istriku!" bentak Gurkha mendekat dan menggandeng Devi masuk ke dalam.
"Aku tidak tahu kenapa dia berbeda dan semakin cantik." gerutu Arima kepada dirinya sendiri. Ia sangat benci kepada wanita yang merebut hati Gurkha, dan bertingkah manja. Kerjanya cuma duduk melamun dan melayani Tuannya. Belum pernah sekalipun ia mencari buah untuk Tuan atau mengambil pembagian susu di puncak bukit, dasar wanita laknat, sekali aku marah jantungmu bisa copot.
Kemarahan Arima sudah diambang batas, dia lari ke bawah, lari dan lari. Rasa dengkinya mengaduk jiwanya, seharusnya ia pergi dari rumah ini. Tapi cintanya kepada Gurkha melebihi tingginya Gunung Himalaya, sangat merangsuk sampai ke tulang sumsumnya.?
*****
penasaran sama lanjutannya
KARYA NYA BAGUS SAYA SUKA😍👌👌👌
SEMOGA MAKIN SUKSES KARYA NYA
GOOD JOB👍👍👍
aku merasa blm puas thooooor ceritanya gantung bgm si gukha
ktnya mau menikahi Devi
terus Devi kerja apa dan pd akhirnya mereka bs bersatu apa gk