Dendam seorang adik kepada gadis yang dia cintai atas kematian kakaknya. Asmara, gadis sederhana, penyanyi dangdut hajatan yang sedang naik daun, berubah nasibnya saat sebuah tuduhan pembunuhan dia terima tanpa dia bisa membuktikan kebenarannya.
Nasib apa itu.?
sepahit apakah nasibnya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rcancer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikmat Tuhan..
Perempuan itu terdiam, semua orang menatap ke arahnya. Nampak sekali dia sedang memikirkan ucapan kedua orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Dia juga menatap lekat kepada kedua anaknya yang sedang menatapnya juga. Dia menghela nafas dalam dalam, dan menenangkan hatinya yang tak karuan, Hingga akhirnya dia pun bersuara,
"Baiklah pak, aku bersedia menikah dangan tuan Angkasa.."
dan semua orang yang terlibat dalam pembicaraan disitu, hampir serentak menyunggingkan senyumnya atas keputussan yag diambil perempuan beranak dua.
"Benarkah kamu sudah yakin Mara.?" tanya pria paruh baya yang duduk dihadapannya itu.
"Mara yakin pak, entah itu buat kebahagiaan aku atau anak anak, yang pasti aku lebih berat dan lebih memikirkan masa depan mereka juga. Benar kata bapak, semoga dengan menikah apa yang akan terjadi dimasa depan bisa teratasi dengan baik dan masalah antara aku dan tuan Angkasa bisa selesai, aku akan terima tanggung jawab tuan Angkasa. aku hanya berharap, semoga keputusanku ini tak salah."
"Makasih nak, makasih, kamu mau memberi kesempatan buat anakku menebus kesalahannya, tante nggak bisa berjanji, tapi tante akan berusaha semampu tante, memberikan yang terbaik untuk kalian dan anak anak. terimakasih.." ucap Ranti dengan airmata yang kembali mengalir deras dari kedua matanya.
"Syukurlah nok, semoga ini adalah pilihan yang tepat buat kamu. Ibu juga nggak mau selamanya kamu sendirian membesarkan anak anak, sedangkan ayah kandung mereka dengan tangan terbuka mau menerima kalian.." Ucap Bu Lastri.
"Anak anak gimana.? kalian setuju kan, mamah menikah dengan om angkasa.?" tanya Ririn.
Kedua anak itu nampak bingung, mungkin karena masih kecil atau mungkin memang ada hal lain yang mereka pikirkan hingga mereka tak langsung menjawab pertanyaan tantenya.
"Kok diem.? kalian suka kan sama om Angkasa.?" tanya Zia, dan keduanya menganggukk. "nah kalian mau enggak om angkasa jadi papah kalian.?"
"Papah..?" tanya Biru yng berada di dekapan Zia. dan Zia mengangguk,
"Kata orang, dulu mamah dibuang sama papah aku tante, apa om Angkasa nanti tidak akan membuang mamah setelah jadi papah.?" pertanyan polos sang anak tentu saja membuat semuanya terisak kembali. Mereka tidak tahu bahwa orang yang mereka maksud adalah orang yang sama.
"Aku nggak mau tante kalau nanti mamah dibuang lagi " sambung Langit.
"Kita nggak apa apa nggak punya papah.. biar kita nggak dibuang lagi.."
"Nggak, om Angkasa nggak mungkin buang kalian lagi, Eyang janji sama kalian, kalau om Angkasa membuang kalian, Eyang akan marahin om Angkasa.." ucap Ranti dengan nada yang bergetar menahan isak tangisnya.
"Berarti om Angkasa nakal yah eyang.? om Angkasa sering dimarahin eyang.? kaya aku sama langit, sering dimarahin mamah hehhe.." ucap bocah polos itu bahkan sambil tertawa.
"Jadi gimana.? kalian mau nggak om Angkasa jadi papah kalian.? tanya Zia..
"Gimana mah.?" tanya keduanya menatap mamahnya. dan Asmara mengangguk pelan.
"Kata mamah boleh tante.."
"Berarti kalian mau dong.?"
"Kalau di ijinin mamah ya berarti mau tante, masa tante Zia gitu aja nggak tau.." ucap Biru sambil mengerucutkan bibirnya, membuat semuanya tersenyum gemas.
"Jadi gimana selanjutnya bu...."
"Ranti pak.."
"Oh iya bu Ranti, Asmara sudah setuju, anak anak sudah setuju, apa nggak sebaiknya anak ibu suruh datan kesini.?"
"Dia mungkin lagi dalam perjalan kesini kok pak.." kata Ririn.
"Ngapain.?"
"Nih, anak anak minta PS."
"Kalian masih suka main ps dirumah Dito.?" dan keduanya mengangguk. "bocah bandel, udah dibilangin, duitnya buat jajan aja biar kenyang.." dan keduanya hanya tertawa tanpa mau membantah perkataan pak Edi. Dan lagi lagi semuanya tersenyum karena sikap bocah kembar itu.
"Maka itu Tuan Angkasa ngajak mereka beli sekalian, biar bisa di awasi mainnya.."
"Lah kok bapaknya tahu.?"
"Tadi mereka telfon dan cerita, ujung ujungnya ya tuan Angkasa ngajak mereka beli. lagian juga tuh rumah depan juga di beli sama tuan Angkasa buat mereka.."
"Rumah depan.? Rumah depan yang mana.?"
"Itu pak, punya pak Roso." jawab bu Lastri.
"Angkasa beli rumah disini.?" taya Ranti.
"iya tante, tuh di depan yang chat ijo, katanya buat anak anak.." jawab Ririn.
"Kok saya nggak tau yah.?"
"Itu aja nggak sengaja tante, pas tuan Angkasa mengantarkan mba Mara karena kakinya sakit kebetulan pemilik rumah lagi berada disini, mereka mau pamit, eh aku iseng iseng tanya tanya. Tiba tiba tuang Angkasa ngajuin diri buat beli berapapun harganya. Terus tadi pagi bilang katanya tuh rumah buat anak anak.."
"Rejekinya bocah berarti, tuh Mara, lihat kan.? bahkan Angkasa tanpa pikir panjang sudah mempersiapkan sesuatu buat anak anak." dan Asmara hanya manggut manggut.
"Berarti kalian mulai sekarang manggil om Angkasanya di ganti dong" ucap Zia.
"di ganti.?"
"Kan om Angkasa sebentar lagi jadi papah kalian, jadi kalian harus manggilnya papah dong, jangan manggil om.."
"Apa boleh mah..?" dan lagi lagi Asmara mengganguk.
"Tuh mamah ngijinin, nanti kalau om Angkasa datang jangan panggil om lagi, tapi panggil papah."
"Oke tante, tapi kok Om Angkasa lama yah.?"
"Lah kok Om lagi.?"
"Hehhe, lupa tante, kan belum biasa."
"Makanya mulai sekarang dibiasakan, oke.?"
"Oke..!!" Dan semuanya terkekeh..
Sementara itu, pria yang sedang ditunggu, kini sudah memasuki kawasan dimana rumah perempuan dan anak anaknya berada. Namun dia tercengang begitu sampai depan rumah mereka.
"Loh itu kan mobil Zia.? berarti mamah sama Zia ke rumah Asmara.? ngapaon.?" gumam pria itu.
Dan pria itu pun memarkirkan mobilnya di belakang mobil yang dia kenali itu. dia bergegas turun dari mobil hendak memastikan tapi riba tiba..
"Papahh.!!!."
degg,
Dia tertegun. Seketika langkahnya terhenti di dekat pintu mobil, dia di sambut dua bocah yang berali ke arahnya dengan panggilan yang berbeda. Hatinya berdegup tak karuan. Kakinya gemetar seakan berat melangkah. Matanya menatap hampir tak berkedip ke arah dua bocah yang kini sudah berada dihadapannya.
"Pah, kok papah lama sih.?"
"Iya, kita sudah nungguin loh.."
Angkasa seketika berjongkok dan menatap lekat kedua bocah di depannya. Dan memegang pipi kedua anak itu.
"Kalian manggil om apa..?" Tanya pria itu yang seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di didengarnya.
"Papah.."
"Kata kakek, Om Angkasa mau menikah sama mamah, jadi aku sama Biru harus manggil om itu papah, di ganti gitu."
Degg..
"Apa.? Menikah.? Siapa yang menikah.?"
"Mamah sama om Angkasa."
Degg..
"Kapan kakek bilang.?"
"tadi, katanya sebentar lagi om akan jadi papah kita."
Degg..
Dada Angkasaa makin berdegup hebat, nafasnya menderu, matanya mulai berari, mulutnya seakan terkunci namun bibirnya bergetar. Dan sesaat kemudian
Grepp
direngkuhnya kedua bocah itu. Dan luruhlah airmatanya bersamaa ucapan syukur.
"Terimakasih Tuhan, terimakasihh, hiks hiks terima kasihh.."
@@@@
author ttp konsisten...
hidup bollywood..💪
1 server qitahh...😉👄👄👄
jadi angkasa bisa melihat apa yg terjadi .... kau akan sangat2 menyesal telah memperkosa .. mempermalukan dan menyakiti hati wanita yg kau cintai angkasa ...