Adella Mahendra, gadis cantik dengan segudang prestasi. Kehidupannya bagaikan salah naik angkot, oper sana oper sini, pindah sana pindah sini.
Bagi sebagian orang, mungkin akan merasa senang jika berada di posisi Adel, tetapi tidak bagi Adel yang membuat dirinya harus di putar putar karena memiliki tiga orang tua yang sangat menyayanginya. Ditambah lagi dengan seseorang yang telah lama mencintainya dan begitu posesif terhadapnya.
Lanjut baca yuk, gimana jungkir baliknya Adel tetapi dengan sejuta pesona nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner 2
"Mau makan di luar atau ke rumah Bunda?? tapi Papah Vano gak di rumah?" tawar Dokter Vikky yang baru saja keluar dari parkiran Rumah Sakit
"Di luar saja Mas, Mas tau sendiri kan kalau Bunda udah ketemu aku, gimana?"
Dokter Vikky mengangguk, dia masih ingat ketika membawa Adella kecil dulu bermain ke rumah nya, Bunda Aira dan Papah Vano menahan Adel dan diminta untuk menginap.
"Emangnya Papah Vano kemana?"
"Luar kota Han"
"Bunda gak ikut?"
"Bunda nemenin Oma, Oma lagi gak enak badan"
"Kenapa Mas? aku jadi kangen ma Oma, beliau udah kayak Oma aku sendiri, dari kecil manjain aku"
Tangan kiri Dokter Vikky mengacak rambut Adel "Biasa, penyakit orang tua Han, dan kamu memang cucu Oma, istri aku, Nyonya Vikky Bagaskara"
Adel tersipu malu mendengar ucapan Dokter Vikky, laki laki tampan incaran banyak wanita, yang katanya dingin, tetapi begitu hangat jika bersamanya, dengan gamblang nya mengungkapkan kata kata yang membuat wanita mabuk kepayang
"Mas depan belok kiri ya"
"Siap Nyonya Vikky"
Sesuai perintah Adel, Dokter Vikky melajukan mobilnya persis sesuai dengan arahan penumpang cantiknya itu
Mobil pun berhenti, tetapi mata Dokter Vikky melihat ke arah Adel "Yakin makan di sini Han?" tanya nya ragu
"Mas tidak suka?? kita pindah aja kalau gitu!"
"Bukan....Mas suka, tetapi aneh saja, tiga tahun di Jerman selera kamu belum berubah"
"Awalnya Mas ragu untuk mengajak kamu makan di pinggir jalan, tetapi malahan kamu yang minta" lanjutnya lagi
"Tiga tahun kulalui di Negara orang, aku cantik, aku modis, aku gaul dan aku kaya, tetapi untuk makanan seleraku kampungan, aku lebih suka masakan kampung atau rumahan daripada masakan restoran, walau tidak dipungkiri aku juga pecinta seafood"
"Dan aku juga suka produk lokal, termasuk...."
"Suami lokal seperti Mas" ucap Dokter Vikky dan sukses membuat pipi Adel merah
Karena malu, Adel langsung keluar meninggalkan Dokter Vikky yang masih asyik tersenyum mengingat tingkah Adel
Mereka berdua kini berada di sebuah tempat makan, bukan restoran mewah, atau pun rumah makan ber kelas, tetapi kaki lima pinggir jalan.
"Permisi neng Adel, mau makan apa??"
"Seperti biasa Pak, lele dan tempe penyet, es teh tawar dan es jeruk"
Adel menatap wajah Dokter Vikky yang dari tadi malahan asyik melihat interaksi Adel dengan penjual penyetan itu
"Mas makan apa?? jangan bilang makan aku, udah basi"
"Tau aja kamu Han, samain aja kayak kamu"
"Pak semua dua porsi ya, minumnya juga" ucap Adel kepada Bapak penjual penyetan itu, dan langsung menyiapkan pesanannya
"Sering ke sini Han?"
"Baru semingguan ini Mas, dulu nya waktu aku belum ke Jerman sering juga makan di sini"
"Pantes, bapak nya apal ma kamu, ke sini sama pacar??"
"Ngaco deh Mas, mana ada anak Sd pacaran, sama Mam dan juga si kembar"
Dokter Vikky terkekeh "Kalau seminggu ini sama siapa?"
"Sama Papi, kadang juga Bang Kenzi kalau lagi gak sibuk"
Makanan pun datang, seporsi lele dan tempe penyet dengan sambal trasi, dan juga es teh tawar serta es jeruk siap menemani makan malam kali ini.
Mereka makan malam dengan tenangnya, karena memang paling enak makan penyetan tidak sambil ngomong. Adel dan Dokter Vikky begitu menikmati makanan tradisional ini, walaupun sederhana dan harga kaki lima tapi gak kalah dengan masakan bintang lima.
Dokter Vikky memperhatikan gadisnya itu makan, walaupun cantik dan modis tetapi dia tidak jaim jaim saat makan, apalagi menye menye seperti yang abege abege lakukan.