Reyhan, Hasby Nugraha, Dera, Nanda dan Baron. Mereka bersahabat sejak kecil, tumbuh bersama, menikah dan berstatus duda bersamaan.
Siapa sangka, di balik keceriaan dan kekonyolan mereka. Tersimpan misteri masa lalu yang rumit.
Siapa menduga, salah satu diantara mereka putra salah satu jutawan. Siapa yang mengira, salah satu diantara mereka putra seorang mafia yang di takuti dan telah membunuh salah satu ibu sahabat kelima duda tersebut.
Akankah persahabatan mereka tetap abadi hingga maut memisahkan? atau misteri masa lalu akan terkuak dan memecah belah persahabatan mereka?
Kunci dari jawaban itu semua terletak pada orang tua masing masing.
Bagaimana kisah selanjutnya yang akan mewarnai perjalanan mereka? asmara, wanita, dan pertengkaran diantara mereka akan menjadi batu sandungan persahabat kelima duda tersebut.
Semua tokoh terinspirasi dari member grup chat. Yuk ikuti kisahnya, jangan lupa vote, like dan komen ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku menemukanmu
Setelah mendapatkan ancaman dari Willian, Hasby dan yang lainnya duduk di kursi di ruang meeting, mengoreksi apa kesalahan yang sudah mereka lakukan.
Hasby memijit-mijit keningnya sementara Reyhan mengacak-ngacak rambutnya.
"Gue enggak habis pikir, ternyata pemilik perusahaan ini serem dan sadis juga." Ucap Hasby membuka suara.
"Lu pikir, serem mana sama momy lu Ga?" tanya Nanda.
"Momy gue lah!" sahut Hasby tertawa lebar.
"Tak kalah sadis sama emaknya si Reyhan." Baron menimpali.
"Kalau sudah marah nyerocos sampai muncrat." Dera ikut menimpali lalu mereka tertawa terbahak bahak.
"Pak William tidak ada apa apanya, kita buat nasi kucing bisa apa?" sahut Nanda lagi. "Mempelajari berkas saja tidak becus."
Tanpa mereka sadari, William memperhatikan dan mendengarkan obrolan mereka di ambang pintu, lalu menggampiri mereka.
"Dengarkan saya baik-baik dan catat di kepalamu itu, saya pendiri dan pemilik saham terbesar perusahaan ini. Saya punya hak dan kuasa penuh untuk memerintah atau bahkan mengusir kalian semua dari perusahaan saya. Buat apa mempertahankan orang yang tidak becus dalam pekerjaannya. Catat itu baik-baik!!"
Nanda matanya melebar lalu berdiri menghadap William.
"Aku-?"
"Duduk." perintah William menunjuk ke arah Nanda.
"Tidak, anda tidak bisa memerintah kami. Apalagi pekerjaan yang anda berikan tidak ada dalam kontrak kerja." Balas Nanda dengan raut wajah serius.
Raut wajah William berubah masam. Melihat sikap Nanda seolah olah ia sedang berbicara dengan dirinya sendiri. William berjalan mendekati, menghirup aroma tubuh Nanda yang memiliki aroma parfum maskulin yang sama dengan dirinya.
"Jangan banyak bicara, aku tunggu besok pagi laporan yang aku minta. Kau paham?" setelah bicara seperti itu, William berlalu begitu saja meninggalkan ruangan.
Baron tertawa geli mengingat perintah William untuk mengumpulkan data warga komplek tempat ia tinggal.
"Nape lu ketawa?" tanya Reyhan.
"Gue pikir kalian semua sama bodohnya dengan pak William. Bokap gue RT setempat, otomatis Bokap gue tau dong data warga komplek?"
"Kenapa gue kagak kepikiran sampai situ?" gumam Hasby manggut manggut.
"Dah tenang saja, semua beres. Biar gue atur." Baron menepuk dadanya.
"Sip! ayo kita berangkat!" ajak Hasby kepada Baron dan yang lain.
***
William memutari setiap blok komplek Permai Indah dengan mobil mewahnya. Sesekali ia memperhatikan setiap warga komplek yang tengah duduk duduk di bangku jalan komplek yang sudah di sediakan RT setempat.
Perlahan William memperlambat laju mobilnya. Matanya menatap ke depan ke arah sosok wanita yang tengah berjalan melenggok dengan ciri khas rambutnya yang selalu di kepang. Wanita itu berjalan santai, memainkan rambutnya di putar ke kiri dan kekanan sambil bersiul, dan wanita itu tidak lain adalah Patma.
"Titttttttttttt!!!!"
Patma melonjak kaget, dari mulutnya keluar umpatan. Lalu balik badan dan bertolak pinggang.
"Sialan lu ya, belum tau rasanya di jitak tangan gue. Lo tau kagak? setiap yang kena jitakan gue pasti kagak kenape nape! eh sialan ayo keluar lu!!" umpat Patma menendang ban depan mobil milik William.
"Patma? apa aku tidak salah lihat?" ucap William pelan. "Kalau Patma masih hidup, berarti wina dan yang lain masih hidup juga."
"Hei juki! Sardun! keluar kagak lu!" rutuk Patma. "Enak saja lu udah bikin gue kaget!"
William memutuskan untuk keluar menemui Patma. Namun niatnya ia urungkan kembali, lalu duduk dengan tenang memperhatikan Patma dari dalam mobil.
"Kalau memang dia itu Patma, pasti dia takut dengan suara anjing." Gumam William, takut salah sasaran. Kemudian ia mengambil ponsel di saku jasnya lalu memutar suara anjing yang selalu di takuti Patma.
"Guk! guk! gukgukkkkkk!!"
"Aeh suara si herder?" ucap Patma pelan, matanya melebar tengok kiri kanan. Perlahan berjalan mundur lalu ambil langkah seribu.
"Berarti benar, Patma." Gumam William lalu melajukan mobilnya, suara anjing dari ponsel miliknya terus di nyalakan.
Patma yang merasa di kejar anjing herder. Melepas kedua sandal, lalu di tentengnya. Berlari tunggang langgang. Sementara ibu ibu komplek yang kebetulan berada di tepi jalan tertawa terbahak bahak melihat tingkah laku Patma yang konyol.
Menyadari dirinya jadi bahan tertawaan dan ternyata suara anjing herder itu tidak ada wujudnya. Bella berhenti melangkah, lalu menepi dan memungut dua kerikil.
"Mampus kau, berani sekali ngerjaon gue!" umpat Patma sambil melempar dua kerikil berukuran biji kelereng dan tepat mengenai kaca depan mobil milik William.
"Trekk!"
"Trekk!"
Beruntung mobil miliknya anti pecah meski menggunakan peluru. William tersenyum merasa telah berhasil menakut nakuti Patma.
"Kau sudah kutemukan, tinggal yang lain.Tunggu pembalasanku, Patma." Gumam William.
baru baja udah srek Ama bahasenye
top markotop dah
B...
Msh muda bgt dah men'Duda'??
Ikutan nimbrung ma Mas mas Duda
🙏🤺🏃🥰