[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deep Talk
Mereka bertiga berbaring di rerumputan. Berbantalkan ransel masing-masing.
Awalnya Bima asyik dengan kameranya. Namun ia ikut terhanyut dengan cerita dua gadis itu. Susi dan Mayang saling bercerita. Kisah mereka.
Mayang awalnya hanya mengatakan kalau hari pertama ia mengobrol dengan Susi di ruang ganti adalah hari dimana ia merasa tak sendiri. Selama ini ia banyak memendam kesedihan. Susi mengatakan semua lukanya dengan ringan, begitu saja seolah tak sakit lagi.
Susi lalu menceritakan kisahnya. Betapa ia dulu juga berdarah-darah menghadapinya. Papanya selingkuh. Kisah klasik hancurnya rumah tangga dan hancurnya hati sang anak. Bahkan ia yang pertama kali tahu. Mamanya sibuk bekerja. Papanyalah yang menjemputnya sepulang sekolah. Ia masih Sekolah Dasar, waktu itu mereka masih tinggal di Jakarta.
"Papa pikir aku belum ngerti. Dia sering mampir sebentar sepulang jemput Susi, nggak langsung pulang ke rumah. Susi nunggu di mobil. Kadang ikut turun. Papa sering antar makanan. Kadang juga barang, entah itu apa di dalam bungkusan. Tante itu baik, dia ramah sama Susi. Bahkan tahu nama Susi. Kata Papa itu teman Papa."
"Mama sama Papa nggak pernah berantem. Papa begitu sayangnya sama Susi. Dia suka ngasih Susi hadiah, semua permintaan Susi selalu dituruti. Tapi Papa cuma bilang jangan bilang Mama ya kalau Papa punya temen," Susi berkata sinis.
"Susi masih polos. Awalnya nggak ngerti. Terus Susi kelas 4. Papa ngajak Susi beli peralatan untuk bayi. Baju bayi, banyak deh pokoknya. Katanya buat teman Papa. Dia bilang Tante itu mau punya bayi. Itu buat kado."
"Susi percaya. Namanya juga masih kecil. Tapi Papa makin sering mampir. Kadang lebih lama di dalam rumah. Terus sering nganterin susu bayi berkotak-kotak. Terus Susi juga lihat mereka bertengkar. Nggak tau mereka ngomong apa. Susi nunggu di mobil." Susi menyeka air matanya yang hampir jatuh. Ini kali pertamanya ia bercerita seperti ini. Ia menganggap Bima yang cuek tak mendengar. Toh kisah ini dia ceritakan untuk Mayang.
"Susi akhirnya cerita sama Mama. Waktu itu Papa ikut PON. Jadi Mama yang jemput sekolah. Mama kaget. Susi tahu Mama kaget. Tapi ditutup-tutupin. Ia menggali semua cerita yang Susi tahu. Susi hafal rumah Tante itu. Mama minta Susi nunjukin jalan," Susi tercekat. Mayang memeluknya dari samping. Ia ingin ikut menangis. Diam-diam Bima ikut mendengarkan.
"Mama nangis di mobil pulangnya. Susi nggak sekolah seminggu. Mama bawa Susi ke rumah Nenek. Mereka cerai. Mama marah. Papa punya anak diam-diam sama Tante itu selama ini. Coba Susi nggak bodoh. Susi harusnya bilang sama Mama sejak dulu. Susi nggak tau. Mungkin Mama bisa maafin Papa kalau dulu ketahuan. Masalahnya, Papa ketahuan udah terlanjur punya anak sama Tante itu."
"Mama nggak pernah nyalahin Susi. Tapi Susi tetap merasa bersalah sampai sekarang. Mama terguncang. Susi bingung. Susi juga sayang Papa. Terus Susi ikut Papa sampai Susi SMP. Mama pindah ke sini. Mulai karir yang baru. Rumah Nenek Susi di sini."
"Pas udah gede Susi tahu. Papa yang salah. Papa nyakitin Mama. Susi tinggal berempat sama Tante itu. Sama anaknya, adik Susi. Susi nggak pernah mau panggil dia Mama."
"Lama-lama Papa berubah. Susi nggak dikasih ketemu sama Mama. Susi kangen Mama. Seiring umur bertambah, karir atlet Papa turun. Usaha yang sebelumnya lancar juga banyak kendala. Papa merugi besar. Tante itu lebih benci sama Susi dari sebelumnya. Dia nyalahin Susi. Bilang Susi bawa sial. Bilang kalau uang habis buat nyekolahin Susi. Papa nggak belain Susi lagi. Dia juga pusing sendiri. Susi pernah didorong, Papa diem aja. Susi pengin kabur, tapi nggak bisa. Susi nggak dikasih akses untuk telepon Mama," Susi terisak namun kembali menenangkan dirinya sendiri.
"Akhirnya Susi kabur malam-malam. Susi cuma punya alamat Mama. Susi naik bis. Uang Susi cuma cukup untuk turun dari bis. Supir bis juga bingung. Rumah Nenek Susi masih jauh lagi, mereka juga nggak tau alamat pastinya dimana. Susi akhirnya diantar ke kantor polisi. Susimenginap semalaman di situ. Mereka yang antar Susi pulang. Mama kaget lihat Susi. Mama nangis, Susi apalagi. Susi ngerasa hancur banget. Susi berhenti sekolah setahun. Terus tahun depannya ngulang lagi kelas 9 SMP. Setahun itu Mama ngantar Susi bolak-balik ke dokter. Ganti psikolog berapa kali, entah Susi lupa. Susi bahkan baru berhenti minum obat pas kelas 10. Susi merasa bersyukur. Mama sayang sama Susi. Papa nggak berani ganggu lagi. Susi nggak mau tahu juga kabar Papa gimana. Susi trauma. Mama tahu itu."
Mayang menangis. Susi memeluknya. Ternyata menjadi Susi tak semudah itu. Ia juga punya banyak luka. Awalnya Bima hanya menyimaknya. Akhirnya ia ikut bercerita juga. Ini kali pertamanya mencurahkan kisahnya. Bahkan Mayang baru mengetahuinya sekarang.
Bima menceritakan tentang Papanya yang selingkuh. Ninggalin dia yang masih kecil bersama Mamanya yang hamil. Ia juga mengisahkan bagaimana Mama kehilangan bayinya. Yang ini Mayang sudah tahu. Tapi tentang Om Adam, Mayang baru mendengar sekarang. Ia nampak terkejut, ia tak bisa untuk tak menangis. Mas Bimanya ternyata menyimpan lebih banyak luka. Susi juga terkejut mendengarnya. Bima yang dingin, ternyata ia menyimpang luka yang sama banyaknya seperti dirinya.
"Mayang jangan bilang Mama kalau Mas Bima cerita ya. Takut Mama sedih kalau ingat." Mayang mengangguk.
"Tapi Bima salut sama Susi. Susi nggak bandel kayak Bima. Ya, kita sama-sama hancur karena perceraian orangtua kalau dipikir-pikir."
"Siapa bilang nggak bandel?" Susi tertawa. Ingatannya kembali mengingat masa lalunya.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹