WARNING!!! BIJAKLAH MEMBACA!!! NOVEL DEWASA!!! JIKA TIDAK SUKA SKIP SAJA .
Laura Elsabeth Queen tidak menduga ia akan bertemu kembali dengan Zafran Volkofrich mantan kekasihnya, di acara ulang tahun teman sekelas mereka, 10 tahun yang lalu mereka berpisah dengan tidak damai, orang tua Laura menentang keras hubungan mereka karena Zafran pria miskin. Zafran masih sakit hati pada Laura dan ingin membalas dendam.
Di sisi lain Laura mengetahui rahasia kedua orang tuanya setelah mereka meninggal, dan kini beban berat berada di pundak Laura.
Sedangkan Zafran pria miskin itu kini telah berubah menjadi penguasa dunia bisnis.
Bagaimana kisahnya yuk baca kelanjutannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 32
Zafran berusaha membuka gaun Laura yang kini telah tersingkap, paha mulus, dan kaki jenjang gadis itu membuat Zafran semakin ingin memiliki Laura.
Pria itu kemudian mencium leher Laura dengan rakus tanpa kelembutan.
Zafran, hentikan..." Suara Laura lemah, sangat pelan, ia kehabisan tenaga. Air matanya mulai berderai.
"Aku tahu kau juga menginginkannya." Zafran masih mencium leher Laura dan terus turun, hingga gaun Laura semakin terbuka.
"Aku mohon hentikan Zafran..." Suara lirih Laura memohon terdengar putus asa.
Gaun Laura semakin terbuka namun tangan Zafran mendadak berhenti ketika gadis itu mengatakan sesuatu padanya, suaranya pelan, nyaris seperti bisikan, karena seluruh tenaganya telah terkuras.
“Aku masih perawan, Zafran… jangan sakiti aku. Kumohon…”
Tubuh Zafran terhenyak.
Pria itu membeku di tempatnya, seolah waktu mendadak berhenti. Tangannya yang tadi mencengkeram kini mengendur. Dadanya yang sejak tadi bergemuruh oleh gairah mendadak terasa sesak.
“Perawan…?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
“Kau belum pernah sama sekali…?”
Laura mengangguk lemah. Air mata yang sejak tadi meleleh kini kian luruh, membasahi pipinya yang pucat.
“Aku tidak pernah menyerahkan diriku pada siapa pun,” ucapnya lirih, suaranya bergetar. “Dan aku tidak ingin… bukan seperti ini.”
Tatapan Zafran tertancap pada mata Laura—mata yang tak lagi melawan, hanya dipenuhi ketakutan dan luka. Untuk pertama kalinya, amarah dalam dirinya runtuh, digantikan rasa kaget dan sesuatu yang menusuk lebih dalam dari rasa bersalah.
Ia melepaskan Laura sepenuhnya.
Laura segera menarik tubuhnya, menjauh setapak, memeluk dirinya sendiri seolah melindungi sisa keberaniannya.
Zafran mundur, napasnya berat. Tangannya mengepal, bukan karena ingin menyakiti, melainkan karena menahan gejolak di dadanya.
“Sial…” desisnya lirih.
Zafran mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras.
“Pergilah ke kamar mandi. Kunci pintunya.”
Laura menatapnya ragu, tubuhnya masih gemetar.
“Aku tidak akan menyentuhmu,” lanjut Zafran, suaranya rendah namun tegas.
“Tidak malam ini.”
Laura tak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu melangkah pergi dengan kaki yang masih lemah.
Zafran berdiri sendiri di tengah kamar, menatap gelang kecil di tangannya. Benda yang tadi ingin ia buang, kini terasa lebih berat dari besi.
“Apa yang hampir kulakukan…” gumamnya, penuh penyesalan yang tak ingin ia akui.
"Apa yang harus ku lakukan." Kata Laura menangis di dalam kamar mandi, karena merasa diperlakukan tidak adil oleh Zafran, ia berharap masa kerjanya berjalan dengan cepat dan lancar, namun setiap detik yang ia lalui bersama Zafran seakan berlalu sangat lama.
Zafran yang baru kembali ke kamarnya terhenti langkahnya saat mendapati Gaby sudah duduk santai di atas ranjangnya. Wanita itu tampak cuek, lalu tersenyum manis begitu menyadari kehadiran Zafran.
Pria itu berhenti sejenak di depan pintu penghubung, lalu menutupnya perlahan—seolah ingin memastikan tak ada lagi yang mengganggu pikirannya malam ini.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Zafran datar, tanpa menoleh sedikit pun. Ia langsung melangkah ke arah meja dan menuangkan alkohol ke dalam gelasnya.
“Kau tidak datang ke kamarku,” jawab Gaby enteng. “Dan kebetulan, pintu kamarmu tidak terkunci.”
Zafran meneguk minumannya tanpa ekspresi.
“Aku juga penasaran,” lanjut Gaby, bangkit dari ranjang dan berjalan mendekat, “kenapa kau keluar dari pintu itu. Ada apa di sana?”
Nada suaranya dibuat polos, pura-pura tak tahu apa-apa.
“Aku baru saja menemui Laura,” jawab Zafran singkat. “Kami membicarakan pekerjaan.”
“Hm…” Gaby menggumam pelan.
“Lain kali jangan masuk ke kamarku tanpa seizinku,” sambung Zafran dingin, tetap tak menatap Gaby.
“Begitukah…” ujar Gaby lirih.
Gaby kini sudah berdiri tepat di belakang Zafran, lalu memeluk tubuh pria itu dari belakang. Tangannya membelai punggung Zafran dengan gerakan menggoda.
“Kalau begitu… malam ini kita bisa melakukannya di sini?” rayu Gaby lembut.
“Sudah lama sekali kita tidak bersama. Kau mengirimku ke Maldives, tapi tak sekalipun datang menemuiku.”
Nada suaranya berubah cemberut.
Zafran menghela napas pelan, lalu melepaskan tangan Gaby dari tubuhnya.
“Aku sangat lelah,” katanya tanpa emosi. “Bisakah kau kembali saja ke kamarmu?”
Zafran berjalan ke arah laci, mengambil sebuah kartu, lalu menyodorkannya pada Gaby.
“Belilah apa pun yang kau mau.”
Zafran tahu, uang selalu menjadi jawaban bagi para wanita, dan saat ini, ia hanya ingin Gaby segera pergi.
“Tapi Zafran…” Gaby merajuk, jelas tak puas.
Zafran menoleh. Tatapannya tajam, dingin, tanpa ruang untuk dibantah.
Gaby terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Baiklah,” kata Gaby akhirnya.
“Kalau kau butuh seseorang untuk melepaskan kepenatanmu… kau tahu aku ada di mana.”
Gaby membelai dada Zafran sekali lagi sebelum berbalik dan melangkah keluar dari kamar itu.
Pintu pun di tutup.
Dan Zafran kembali sendirian, namun pikirannya sama sekali tidak tenang. Berulang kali ia memikirkan Laura, gadis itu... Benar-benar tidak bisa di kendalikan. Memiliki Karakter kuat yang cerdas dan selalu membuatnya kehabisan kalimat. Semua titahnya selalu di patahkan dengan narasi yang masuk akal.
***
Sinar matahari pagi menembus jendela besar ruang makan, menyinari meja tempat Zafran dan Laura duduk berhadapan. Zafran bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka—tenang, dingin, dan penuh kendali.
Sebaliknya, Laura terdiam sejak awal. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Beberapa menit sebelumnya, Stark menjemput Laura untuk menemani Zafran sarapan pagi. Bukan permintaan—lebih menyerupai perintah.
“Hari ini kita temui pria yang memberimu gelang itu,” ujar Zafran tegas sambil memotong makanannya.
Laura tak menanggapi. Ia hanya menunduk dan terus menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia tahu, jika sarapan itu tak dihabiskan, Zafran akan kembali marah. Dan pagi ini, Laura terlalu lelah untuk berdebat.
“Habis kan sarapanmu,” lanjut Zafran sambil mengelap mulutnya.
“Aku akan menunggu di luar.”
Zafran bangkit dan pergi begitu saja.
Begitu pria itu menghilang dari pandangan mata Laura, Laura pun membuang garpu dan sendoknya dengan kasar hingga berbunyi nyaring di atas piring.
“Dia berlagak seperti suami yang mengatur seluruh hidupku,” geram Laura, menggertakkan giginya.
Laura telah menyelesaikan sarapan paginya dan tak lama kemudian, mereka sudah berada di koridor kapal. Angin berhembus kencang, membawa aroma laut dan dingin yang menusuk. Dari kejauhan, tampak gugusan bukit dan garis pulau—tanda kapal akan segera merapat dan pelayaran mereka hampir berakhir.
Zafran berdiri dengan tangan bersedekap, menatap Laura tanpa ekspresi.
Beberapa saat kemudian, seorang pria datang dengan senyum mengembang.
“Laura!”
Luwis berjalan cepat menghampiri mereka, wajahnya jelas menunjukkan rasa senang.
“Aku senang kau menghubungiku dan ingin bertemu,” katanya hangat.
Namun senyum itu memudar seketika saat ia melihat Zafran keluar dari balik koridor, berdiri tak jauh dari Laura dengan tatapan tajam yang mengawasi setiap gerakannya.
Zafran pun melangkah mendekat.
“Luwis… aku ingin mengembalikan ini. Maafkan aku. Ucap Laura pelan sambil mengulurkan gelang itu. Nada suaranya sarat rasa tidak enak.
“Kenapa?” tanya Luwis, jelas tidak senang, meski tetap menerima gelang tersebut.
“Apa kau tidak menyukainya?” Tanya Luwis penasaran.
“Bukan begitu,” jawab Laura cepat.
“Aku hanya merasa tidak pantas menerimanya.”
Luwis tersenyum tipis, senyum yang seolah menyindir seseorang di hadapannya. Ia mengerti sepenuhnya posisi Laura.
“Itu hanya gelang murahan, Laura. Kenapa kau merasa tidak pantas?” katanya santai.
“Kalau kau tidak mau, buang saja.”
“Semalam juga hampir kubuang ke laut.”
Suara Zafran menyela tiba-tiba.
Luwis menoleh, rahangnya mengeras.
“Jadi sekarang bosmu juga melarangmu memakai gelang?” sindirnya, menatap Laura tanpa menghiraukan Zafran.
“Sampai kau harus mengembalikannya?”
“Aku tidak suka karyawanku memakai aksesori saat bekerja,” jawab Zafran dingin, dan dengan asal-asalan.
“Apalagi gelang murahan. Membuat mataku sakit.” Cetusnya lagi.
Luwis menghela napas, lalu menatap Zafran tajam.
“Apa kau Laura?” tanyanya dingin. Aku bertanya padanya, tapi kau terusyang menjawab dan mencampuri urusan kami.”
Rahang Luwis bergerak, menahan kesal.
“Masalahnya bukan pada gelangnya,” lanjutnya lugas.
"Masalahnya karena aku yang memberikannya. Benar begitu?” Luwis berkata tegas dan menekan.
Laura tetap diam.
“Laura, ikut denganku. Kita harus bicara,” ujar Luwis sambil menggenggam tangan Laura.
“Kalau kau berani melangkah satu langkah saja,” suara Zafran mengeras, penuh ancaman,
“aku akan mematahkan kakimu.” Ancam Zafran dengan tatapan dingin dan siap menyerang.
Luwis menatapnya beberapa detik, lalu melepaskan genggaman tangan Laura.
“Kau berubah,” katanya singkat.
“Menjadi pria yang bengis.”
“Semua orang bisa berubah,” balas Zafran angkuh, kembali menyedekapkan tangan.
“Terutama ketika ia tahu selalu ada musuh yang siap menikamnya dari belakang.”
Luwis terdiam sejenak, lalu tersenyum pahit.
“Baiklah,” katanya akhirnya.
“Anggap saja aku tidak pernah memberikan ini pada Laura.” Luwis pun melempar gelang itu ke laut tanpa ragu.
“Tapi satu hal,” lanjut Luwis menatap tajam ke arah Zafran.
“Jangan pernah sakiti Laura.”
“Jangan sok jadi pahlawan, Luwis,” cemooh Zafran.
“Kau tidak cocok dengan kalimat itu.”
Kapal akhirnya merapat. Beberapa penumpang mulai turun satu per satu.
Angin laut bertiup kencang, membawa aroma asin yang menusuk hidung. Gelang kecil itu telah tenggelam, lenyap bersama riak ombak yang memantulkan cahaya pagi.
Laura menatap laut dengan mata kosong. Dadanya terasa sesak, bukan karena kehilangan gelang itu, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih menyakitkan, rasa tidak berdaya.
Luwis menatap Laura dengan iba. Ada kemarahan, kekecewaan, dan kekhawatiran yang bercampur di matanya.
“Jaga dirimu baik-baik, Laura,” ucapnya pelan, namun cukup tegas. “Tidak semua luka terlihat di kulit.”
Pandangan itu kemudian beralih pada Zafran, dingin dan penuh peringatan.
“Apa pun hubungan kalian." Lanjut Luwis.
"Ingat satu hal. Dia bukan milikmu Zafran.”
Zafran menyunggingkan senyum tipis, dan sinis, senyum yang tidak pernah mencapai matanya.
“Dan kau terlalu jauh mencampuri urusan orang lain,” balasnya dingin.
“Pergilah sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran.”
Luwis mengepalkan tangannya, lalu mengendurkannya kembali. Ia tahu, melawan Zafran di sini hanya akan memperburuk keadaan Laura.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Luwis berbalik dan berjalan menjauh, langkahnya berat namun tegas, menyatu dengan kerumunan penumpang yang mulai turun dari kapal.
Laura masih berdiri kaku.
Zafran melirik gadis itu dari samping. “Kita juga turun.”
Laura tidak bergerak.
“Apa kau tidak mendengarku?” suara Zafran rendah, penuh tekanan.
Laura akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia menatap Zafran tanpa rasa takut, yang ada hanya kelelahan dan luka yang belum sembuh.
“Aku bukan barangmu, Zafran,” ucapnya pelan, namun jelas. “Dan aku juga bukan boneka yang bisa kau atur sesukamu.”
Zafran terdiam.
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada teriakan.
“Kau bisa mengancam siapa pun." Lanjut Laura, suaranya bergetar namun ia memaksa dirinya tetap tegak.
“Tapi jangan kau pikir aku tidak merasakan hal apa pun yang kau lakukan padaku.”
Laura melangkah melewati Zafran.
Zafran mematung di tempat.
Untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan kendali—bukan atas situasi, melainkan atas dirinya sendiri.
Kapal pesiar itu akhirnya benar-benar sunyi, meninggalkan sisa-sisa pesta, konflik, dan perasaan yang belum menemukan jawaban.
Bersambung~