NovelToon NovelToon
Setelah Putri Kandung Itu Kembali.

Setelah Putri Kandung Itu Kembali.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sci-Fi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.

Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.

Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 MOLL

Hari ini adalah hari libur. Bee sudah bersiap sejak pagi, Ia mengenakan kaus putih sederhana dipadukan dengan celana jeans biru dan sepatu kets.

Hari ini ia berencana pergi ke mal bersama Cristal.

Tujuannya sederhana. Membeli beberapa pakaian formal untuk digunakan saat mulai magang pada hari Senin.

Bee baru saja keluar dari kamar ketika pintu kamar di sebelahnya terbuka.

Jelita keluar sambil mengikat rambutnya. "Bee... kamu mau ke mana?"

Bee berhenti melangkah. "Mau jalan sama Cristal." Balas bee "Mau beli baju buat magang." Lanjut bee

Mata Jelita langsung berbinar. "Serius?"

Bee mengangguk. "Boleh aku ikut?" Jelita merapatkan kedua tangannya di depan dada. "Please..."

Bee sempat berpikir beberapa detik. Sebenarnya ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Cristal, Namun menolak Jelita hanya akan menimbulkan masalah baru.

Akhirnya Bee tersenyum tipis. "Baiklah."

"Yeay!"

Jelita langsung memeluk lengan Bee dengan penuh semangat. "Makasih, Bee."

Bee hanya membalas dengan senyum kecil.

Sesampainya di lantai bawah. Mamah Lana yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menoleh "Mau berangkat?"

"Iya, Mah." Bee menjawab sopan.

Jelita langsung menghampiri Mamah Lana. "Mamah, aku ikut Bee ke mal."

Mamah Lana tersenyum. "Boleh ding" Beliau mengambil dompetnya, Kemudian mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam. "Nih. Pakai saja sesuka kamu"

Jelita menerimanya dengan mata berbinar. "Mah... ini..."

"Kartu tambahan Mamah." Balas mamah Lana "Belanja yang kamu perlukan."

"Terima kasih, Mah." Jelita langsung memeluk Mamah Lana dengan senang.

Bee berdiri beberapa langkah dari mereka. Diam.

Mamah Lana kemudian menoleh Bee. "Bee."

"Iya, Mah?"

"Tolong jaga Jelita ya."

Bee mengangguk pelan. "Iya."

Tidak ada pertanyaan apakah Bee membawa uang.

Tidak ada kalimat, "Kamu juga beli yang kamu perlukan."

Bee hanya tersenyum tipis. Ia memang masih memiliki tabungan dari beasiswa yang selama ini ia simpan. Uang itu cukup, Jadi ia tidak berniat meminta apa pun.

Di dalam mobil.

Jelita tampak sangat bersemangat Ia terus bercerita tanpa henti. "Bee."

"Hm?"

"Aku bahagia sekali."

Bee tersenyum. "Syukurlah."

"Akhirnya aku bisa berkumpul sama keluarga kandungku, dan tidak merasa kekurangan uang juga." Jelita memandang ke luar jendela sambil tersenyum. "Aku berharap kebahagiaan ini akan terus berlangsung."

Bee mengangguk pelan. "Iya."

"Tidak akan ada..." Jelita berhenti sejenak. "...gangguan." Saat mengucapkan kata terakhir itu, Jelita melirik Bee sekilas.

Bee menangkap tatapan itu Dadanya terasa sesak.

Namun ia memilih menoleh ke arah jalan, Seolah tidak memahami maksud ucapan Jelita.

Sesampainya di mal. Bee segera menghubungi Cristal.

Tak lama kemudian ponselnya berbunyi.

"Bee..." Suara Cristal terdengar kecewa. "Maaf banget, Aku gak jadi ke mal."

"Loh, kenapa?"

"Aku mendadak ikut Papih sama Mamih ke luar kota."

Bee tersenyum. "Gak apa-apa, nanti kita belanja lagi."

"Maaf ya."

"Iya."

Setelah panggilan berakhir, Bee memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Cristal gak jadi datang?" tanya Jelita.

Bee mengangguk. "Iya."

"Kalau gitu kita tetap belanja ya."

Bee tersenyum. "Ayo."

Beberapa jam kemudian...

Bee baru menyadari sesuatu.

Sejak tadi... Yang lebih banyak berbelanja bukan dirinya, Melainkan Jelita.

"Baju ini lucu."

"Bee, pegang dulu ya."

"Nih."

"Tasnya juga."

"Bee, yang itu juga." Tanpa sadar, kedua tangan Bee sudah penuh dengan kantong belanja.

Sedangkan Jelita berjalan di depan dengan riang.

"Wah... Sepatu ini juga bagus."

Bee hanya mengikuti dari belakang. Sesekali tersenyum melihat antusiasme Jelita, Meskipun lengannya mulai pegal.

Beberapa pengunjung bahkan sempat mengira Bee adalah asisten pribadi Jelita karena hampir semua kantong belanja berada di tangan Bee.

Setelah keluar dari toko terakhir, Jelita akhirnya menoleh. Melihat Bee yang membawa begitu banyak kantong belanja.

"Oh. Maaf ya, Bee." Kata jelita "Aku jadi merepotkan kamu." Nada suaranya terdengar ringan, seolah itu bukan masalah besar.

Bee menggeleng sambil tetap tersenyum. "Gak apa-apa." Balas bee "Yang penting kamu senang."

Jelita kembali tersenyum lalu berjalan lebih dulu menuju toko berikutnya.

Bee menghela napas pelan. Ia memperbaiki posisi kantong belanja di kedua tangannya, Dalam hati ia berkata, "Tidak apa-apa... Aku hanya perlu bertahan sedikit lagi. Sampai aku lulus kuliah..."gumam dalam hati "Setelah itu, aku akan belajar hidup mandiri tanpa merepotkan siapa pun."

Dengan senyum yang tetap terukir di wajahnya, Bee kembali melangkah mengikuti Jelita, meski perlahan ia mulai merasa bahwa dirinya bukan lagi anggota keluarga yang sedang berbelanja, melainkan seseorang yang hanya diminta menemani.

Di lantai dua mal.

Bee masih berjalan di belakang Jelita. Kedua tangannya dipenuhi kantong belanja.

Di depan, Jelita tampak sibuk melihat-lihat etalase toko berikutnya. "Bee, nanti kita masuk toko itu juga ya."

"Iya." Bee hanya menjawab singkat sambil tetap tersenyum.

Di sisi lain koridor. Kak Juna dan Xian baru saja keluar dari sebuah toko perlengkapan interior. Mereka sedang membahas konsep kafe yang akan segera mereka bangun. "Aku rasa konsep minimalis lebih cocok." ucap Xian.

Kak Juna mengangguk. "Bisa dipadukan dengan nuansa hangat."

Belum sempat pembicaraan berlanjut, langkah Kak Juna mendadak terhenti. Tatapannya tertuju ke arah seorang gadis yang sangat dikenalnya. Bee.

Kak Juna memperhatikan Bee yang membawa begitu banyak kantong belanja hingga hampir menutupi tubuh mungilnya.

Sementara gadis di depannya berjalan santai tanpa membawa apa pun.

Xian ikut mengikuti arah pandangan Juna. "Itu Bee, kan?"

"Iya."

Xian mengernyit. "Siapa wanita itu?"

Kak Juna tidak menjawab.

"Kenapa dia bersikap seenaknya sama Bee?"

Tatapan Kak Juna berubah dingin. Rahangnya mengeras, Namun ia tetap diam.

Xian menghela napas. "Kalau lo mau diam..." Ucapnya "Gue yang nyamperin." Tanpa menunggu jawaban, Xian langsung berjalan menghampiri Bee.

Kak Juna akhirnya ikut melangkah di belakangnya.

"Bee."

Bee yang sedang berjalan langsung menoleh. "Xian?" Wajah Bee langsung tersenyum cerah. "Kak Juna. Juga di sini? "

Xian tertawa kecil. "Kenapa bawa barang sebanyak itu?"

Bee melihat kantong-kantong di tangannya. "Oh... Ini Sekalian nemenin belanja." Jawabnya santai.

Xian melirik sekilas ke arah Jelita, Kemudian kembali menatap Bee. "Capek?"

Bee menggeleng sambil tersenyum. "Enggak kok."

Kak Juna yang berdiri di samping Xian tidak berkata apa-apa. Namun matanya sempat memperhatikan kedua tangan Bee yang mulai memerah karena terlalu lama membawa kantong belanja.

Saat itulah Jelita menoleh Matanya langsung membulat. "Cowok ganteng.."

Xian tersenyum ramah. "Halo."

Jelita langsung tersenyum manis. "Hai."

Bee segera memperkenalkan mereka. " Xian. Ini Jelita." Ucapnya "Jelita.... "

"Halo, aku jelita anak kandung keluarga luwis " Potong Jelita

Jelita langsung mengulurkan tangan. "Senang bisa kenal dengan cowok ganteng"

"Eum.." Xian membalas jabat tangannya dengan sopan.

Namun perhatian Jelita segera beralih. Tatapannya kembali jatuh pada Kak Juna yang berdiri tak jauh dari mereka. Dengan senyum paling manis yang bisa ia tampilkan, Jelita mendekati kak Juna.

"Halo lagi, Kak Juna."

Kak Juna hanya mengangguk singkat. "Hm... "

" Aku senang bisa ketemu lagi."

"Iya."

Jelita masih berusaha mencari percakapan. "Kakak juga lagi belanja?"

"Iya."

"Belanja apa?"

"Keperluan kerja." Jawaban kak Juna selalu singkat.

Tidak memberi celah untuk percakapan panjang.

Namun Jelita tetap tidak menyerah. "Kalau nanti ada waktu..."

"Aku..."

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Kak Juna sudah mengalihkan pandangannya kepada Bee. "Bee."

"Iya, Kak?"

"Berikan kantong belanjanya."

Bee langsung menggeleng. "Gak usah, Kak. Aku bisa kok."

Kak Juna mengulurkan tangan. "Bee." Nada suaranya tetap datar, Namun terdengar seperti perintah.

Bee akhirnya menurut. Satu per satu kantong belanja berpindah ke tangan Kak juna.

Kak Juna mengangkat semuanya dengan mudah.

Lalu menatap Bee. "Kamu bukan kuli angkut."

Bee tersenyum canggung. "Ini juga gak berat."

"Kalau tidak berat..." Kak Juna melirik bekas kemerahan di telapak tangan Bee. "Kenapa tanganmu sampai merah?"

Bee refleks menyembunyikan tangannya di belakang tubuh. "Gak apa-apa."

Xian ikut menghela napas. "Bee."

"Kalau capek bilang."

"Jangan dipendam terus."

Bee hanya tersenyum kecil. "Iya, Kak."

Di samping mereka, Jelita menggigit bibir bawahnya pelan. Ia tidak menyangka kak Juna yang begitu dingin justru memperhatikan hal-hal kecil tentang Bee.

Perhatian yang sejak tadi ia harapkan untuk dirinya...

Malah diberikan kepada Bee.

Meski wajahnya tetap tersenyum, rasa iri kembali muncul di dalam hatinya.

1
Daniel Kang
💪semangat bee
Lin-khay💞
Halo kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!