Luna Christina seorang gadis mandiri, ceria dan baik hati namun sedikit bar-bar, rambut birunya yang unik menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang melihatnya. Dia terikat skandal dengan seorang pria lumpuh yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Ia terpaksa harus menikah dengan Gamaliel Park seorang pria dingin yang diselamatkannya. Tanpa Luna ketahui pria itu adalah CEO dari perusahaan terbesar di negeri ini.
Misteri dan masa lalu apakah yang akan terungkap melalui pernikahan mereka?
Akankah Luna mampu bertahan dengan Gama yang terpuruk? apa yang akan Gama lakukan untuk menguak misteri kematian keluarganya? silahkan dibaca!!!
Season 2
Bima si pria dingin yang sudah menginjak usia 34 tahun belum juga menemukan tambatannya hatinya, dia hanya pasrah dan tidak memikirkan hal itu, baginya menjalin hubungan dengan seseorang akan sama beratnya dengan membangun bisnis dengan perusahaan besar.
Suatu hari dia bertemu seorang gadis sedingin Es yang ternyata sama sama dikhianati oleh kekasih mereka masing-masing.
Cinta pertama Bima menikah dengan cinta pertama gadis itu, saat mantan mereka muncul dihadapan mereka masing-masing, meminta untuk kembali membangun hubungan, saat itulah keduanya menghancurkan kedua masa lalu mereka dengan cara menjalin pernikahan kontrak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
"Kau hanya milikku, jangan pergi dan jangan pernah tinggalkan aku,"
-Gamaliel Park-
"Hal itu berlaku juga untukmu!"
-Luna Christina-
...****************...
"Jangan menebak sesuatu yang belum pasti, itu hanya akan menimbulkan spekulasi tak berdasar!" ketus Bima.
"Tapi auranya sama, apa mungkin dia belum meninggal? kita tidak tau wajahnya seperti apa sekarang karena ia pasti sudah dewasa apa mungkin dia itu adiknya Ken?" ucap Aiden.
"Mungkin kebetulan saja, Ken mengatakan bahwa ia melihat Video gadis itu dan memastikan bahwa dia memang benar-benar sudah meninggal," ucap Bima.
"Lalu kenapa Ken menatapnya seperti itu?" tanya Aiden lagi.
"Mungkin dia merindukannya, Ken sangat menyayangi gadis kecil itu, hanya saja memang aura Luna mirip dengan Ken, bisa saja itu sebuah kebetulan, wajah mereka jelas berbeda, aku belum pernah melihat wajah adik Ken kurasa dia mirip dengan Ken," balas Gama .
"Sebenarnya mereka tidak terlalu mirip, aku sempat melihat fotonya sewaktu kecil, kalian tau kan pria itu tidak suka membicarakan tentang adiknya," ujar Aiden.
"Hmmm ya sudah, kita bisa cari tahu tentang ini nanti," ucap Gama yang dianggukkan oleh Aiden dan Bima.
"Gama, bisa beri kami pakaian? ini basah semua!" ucap Aiden yang mulai menggigil.
"Ck... merepotkan, itu salah kalian sendiri!" balas Gama dengan tatapan tidak suka, sebab ia tidak mau barang yang dibeli langsung oleh Luna di pakai oleh mereka.
Katakanlah dia sedikit kekanak-kanakan tapi memang begitulah sifatnya.
"Ayolah, apa kau mau kami bertelanjang dada disini?" ucap Aiden dengan menaikkan satu alisnya.
"Benar Gam, apa kau mau kami memperlihatkan hasil kerja keras kami pada istrimu itu? aku yakin dia akan tertarik," ucap Bima menggoda Gama dengan senyum menyeringai.
Gama menatap tajam ke arah mereka, " kenapa nasibku sial sekali punya teman tidak berakhlak seperti kalian!" ketus Gama.
"Pfftttthhh....hahhahah, tampaknya kau sudah jatuh cinta pada gadis itu Gama, hahahah tak kusangka kau akan membuka hatimu kembali!" tawa Bima terbahak-bahak saat melihat wajah kesal Gama.
"Apa kalian sudah kenal lama?" tanya Aiden.
"Sudah!" jawab Gama.
"Berapa lama?" tanya Aiden penasaran.
"Mungkin hampir seminggu," ucap Gama dengan wajah tanpa dosa mengatakan seminggu adalah waktu yang lama.
"Ck....sialan kau, hampir seminggu kau bilang lama dasar aneh!" ketus Aiden ya malah dijahili oleh Gama.
"Pfhhtt....hahahahah, kena kau," tawa Gama.
Tanpa Gama sadari, Aiden dan Bima tersenyum tipis saat melihat pria itu tertawa.
"Selamat datang kembali Brother!" batin Aiden dan Bima.
"Ck...benar kau sudah jatuh cinta dengan Luna, dasar bucin!" ledek Bima.
"Ehmm...untuk perasaan itu aku belum pasti, aku akan melihat perkembangannya, aku tidak mau menyalahartikan perasaanku, aku tidak mau dia tersakiti nanti," ucap Gama kembali ke mode serius.
"Terserah padamu Gama, dia kan sudah sah menjadi milikmu!" ucap Aiden.
"Sudahlah, mana pakaiannya, ini sangat dingin....brrrrrrr...." ucap Bima yang sudah menggigil.
Gama memberikan mereka pakaian baru yang dibeli oleh Luna tadi, setidaknya mereka tidak kedinginan malam ini.
Sementara itu di luar rumah, Luna tengah mengendap-endap di halaman rumahnya sendiri.
Ia sedang mencari keberadaan Ken. Luna berjalan perlahan, suasana di depan rumah terlihat remang-remang karena hanya ada satu lampu yang menerangi tempat itu, nun cahaya bulan dan bintang-bintang terlihat jelas dari sana.
"Dimana dia? haishh kenapa kau jadi sensian sih Luna? kok malah bawa ke hati ucapannya tadi? gini kan jadinya," gerutu Luna merutuki dirinya sendiri sambil sesekali memukul jidatnya.
Luna clingak clinguk menatap kesana kemari, ia berjalan menuju mobil sport warna kuning, diintipnya jendela mobil itu, namun tidak ada siapapun disana.
"Dia tidak disini, coba deh mobil biru itu!" ucap Luna menunjuk mobil lain, ia melakukan hal yang sama, mengintip sambil mengendap-endap dan hasilnya, ia juga tidak menemukan pria itu.
"Ck....gak ada, coba deh ke situ!" ucap Luna menunjuk mobil sport hitam.
Luna berjalan menghampiri mobil itu, sekali lagi ia mengintip dan akhirnya ia menemukan orang yang dicarinya.
Luna melihat pria itu tengah menutup matanya, namun cairan bening membuatnya mengerutkan keningnya.
"Apa dia menangis karena ku tampar tadi?" gumam Luna sambil menatap tangannya yang ia gunakan memukul wajah Ken tadi.
"Apa sesakit itu ya?"
Plakk
"Awhh.....shhhh....sakit ternyata," ucap Luna setelah menampar wajahnya sendiri.
"Aduh aku jadi merasa bersalah, seharusnya aku tidak memukulnya tadi," gumam Luna.
Merasa ada yang sedang berbicara di depan mobilnya, Ken menurunkan tangannya dan membuka matanya, dengan cepat ia mengusap air matanya.
Ken kembali menatap Luna dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ia tersenyum saat melihat gadis itu memukul kepalanya sendiri bahkan sampai menampar pipinya.
"Pfhhtt....hahahah, apa dia sudah gila? kenapa dia bisa sekonyol ini?" batin Ken yangalah tertawa saat melihat aksi Luna di dekat mobilnya.
Tok...tok..tok
Kaca mobil diketok dari luar.
Ken menurunkan kaca mobilnya dan melihat wajah Luna disana. Ia memasang wajah datarnya, seketika terlihat raut gugup di wajah Luna.
"Ada apa? bukankah aku sudah keluar nona? apa kau ingin aku pergi juga dari sini? tolonglah aku hanya akan tidur disini, aku tidak akan mengganggumu, besok ku akan pergi, bensin......
"Cukup!" bentak Luna yang mulai pusing dengan ocehan Ken.
"Kau cerewet sekali seperti Gama!" kesal Luna.
"Keluarlah, jangan tidur disini kau bisa sakit nanti dan maaf untuk yang tadi," ucap Luna pelan.
"Apa? aku tidak dengar!" ucap Ken berpura-pura.
"Ck...keluar dulu dong!" ketus Luna dengan wajah kesal.
Ken tersenyum tipis, ia menurut pada Luna. Pria itu keluar dari dalam mobil, namun seperti sebelumnya ia memasang wajah datar.
"Apa?" tanya Ken.
"A...aku minta maaf untuk yang tadi," ucap Luna.
"Yang mana?" tanya Ken.
"Saat aku menampar dan mengusirmu tadi, maaf aku hanya tidak suka di cap sebagai wanita murahan, aku bukan perempuan seperti itu, aku..aku hanya tidak suka saja dengan kata-kata itu," jelas Luna dengan nada lirih, ia menunduk menyesali perbuatannya.
Ken menatap gadis itu, ia tersenyum, senyuman mahal dan langka yang tak pernah ditunjukkannya pada orang lain selain ketiga sahabatnya. Sama seperti Gama, Ken sangat sulit disentuh, dingin, datar dan terkenal kejam.
"Hemmm....baiklah, aku juga meminta maaf karena telah mengatakan itu, aku juga punya alasan," ucap Ken.
"Apa itu karena Gama?" tanya Luna yang kini kembali menatap Ken.
Ken mengangguk sambil tersenyum.
"Ahh.... syukurlah dia punya teman yang setia seperti kalian," ucap Luna sambil mengelus dadanya merasa lega.
"Kenapa kau mengatakan itu?" tanya Ken.
"Ahhh, aku bertemu dengannya saat ia ingin bunuh diri di jembatan itu, dia sangat terpuruk hari itu, jika aku tidak cepat, mungkin saja ia tinggal nama sekarang," jelas Luna
Ken terbelalak saat mendengar sahabatnya ingin bunuh diri.
"Apa..apa itu benar?" ucap Ken sambil memegang kedua bahu Luna.
Luna merasa tidak nyaman dnegan posisi mereka dan Ken menyadari itu.
"Maaf," ucap Ken.
"Tak apa," jawab Luna.
"Ya itu benar, tapi kumohon jangan membahas itu sekarang, nanti saja saat ia sudah sembuh, aku takut ia kembali mengingat masa lalunya,"jelas Luna dengan raut khawatir.
"Apa kau sudah tau tragedi itu?" tanya Ken, Luna menganggukkan kepalanya.
"Brrh....Kak disini dingin ayo masuk!" ucap Luna yang tiba-tiba memanggil Ken dengan sebutan kakak.
"Kakak Ken ..... hahahahah....ayo kak!!,"
Ken terdiam, suara seseorang terngiang di kepalanya. Ken masih diam di tempat, hal ini membuat Luna sedikit bingung.
"Kak? Kak Ken!" panggil Luna.
"Ah...i...iya, ada apa tadi?" tanya Ken tersadar dari lamunannya.
"Ck...ayo masuk disini dingin!" ucap Luna yang malah berlari terlebih dahulu ke dalam rumah.
"Tunggu aku!" teriak Ken terburu-buru mengunci mobilnya.
.
.
.
like, vote dan komen 😊😉