Mereka sudah pernah memulai meskipun tanpa cinta, bahkan hubungan itu sudah berakhir dengan meninggalkan cinta yang baru datang karena sesal. Setelah yang terkasih pergi. Lalu apa jadinya, jika yang kita pikir telah pergi, dia kembali?
Cerita masa lalu itu tersuguh kembali di depannya. Seolah di sadarkan apa yang dia lakukan dua puluh lima tahun lalu adalah suatu dosa.
Bukan lagi tentang kisahnya. Namun, kisah ini seolah mengulik konflik pelik yang belum pernah menjadi titik. Mejabar memoar rasa yang hampir memudar. Menguji diri yang berdiri di balik jeruji janji. Resah dalam kungkungan dosa berbalut rasa.
Masih cerita tentang cinta yang penuh kemelut, karena tak tersambut. Rasa yang tersesat, karena terlambat memahami sebuah hakekat dalam diri yang terjerat. Berharap ada setitik asa dalam kisah yang bisa dirasa.
Meneruskan kisah Alvina. Kisah ini tentang anak-anak dari para tokoh di Alvina.
Tidak update tiap hari. Semoga layak di nikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•> BAB 31 <•
Helm, satu kantong plastik berisi baju yang dikenakan Kemal, juga ponsel dan dompet diberikan pihak rumah sakit pada Nino yang mengaku sebagai kerabat Kemal. Kemal mendapatkan penanganan khusus, selain dia seorang pembalap terkenal, itu juga karena Nino salah satu perawat di rumah sakit tersebut. Jadi Nino pakai akses khusus itu.
Kebetulan hari ini Nino libur, setelah semalam shift malam. Rencananya dia ingin tidur dan keesokan paginya pulang ke Medan menemui sang mama yang sedang sakit.
Masih ingat Nino kan ya?
Ya, benar. Nino yang sama, bocah yang kepalanya dihantam Dafa pakai balok kayu sampai berdarah dan Kemal yang menerima tuduhan itu dari Bu Cici, Mama Nino.
"Nino ...." Mata yang hampir terpejam itu kembali terbuka lebar mendengar panggilan dokter yang keluar dari IGD.
"Ya, Dok." Nino berdiri dan menghampiri dokter yang menangani Kemal.
"Cidera saraf tulang belakang, menyebabkan kelumpuhan di seluruh anggota badannya. Sebaiknya kamu hubungi keluarganya, kita akan segera merujuknya ke Rumah Sakit Dr. Soetomo. Peralatan di rumah sakit ini kurang memadai untuk melakukan tindakan operasi. Dan harus ada keluarga untuk tanda tangan persetujuan tindakan."
"Baik Dok, lakukan aja dulu persiapannya. Saya akan menghubungi keluarganya."
Tanpa tunggu perintah kedua, Nino pergi ke kantin rumah sakit. Dia buka ponsel Kemal. Nino bersyukur karena nggak ada kata sandi yang Kemal tambahkan. Sebuah wajah ayu, berkerudung ungu, terpajang sebagai wallpaper.
"Tante Alvina." Dia nggak mungkin lupa dengan wajah dan nama itu. Karena dosa masa lalunya yang pernah menyebut maminya Kemal itu wanita penggoda.
"Maafkan semua dosa Nino, Tante. Maafkan dosa Mama juga," lirihnya. Akhirnya sebentar lagi dia akan bertemu dengan maminya Kemal dan meminta maaf atas dosa yang dia perbuat di masa lalu.
Dia buka pesan berlogokan gambar telepon warna hijau. Banyak pesan dan panggilan dari beberapa orang, salah satunya adalah Dafa. Dia buka nama Dafa terlebih dahulu, dia mikir ngomong sama orang yang udah kenal lebih nyaman. Namun ternyata, dua kali dia berusaha memanggil kenapa direject?
Selain Dafa, ada nama BiQi, Nauval, dan Zoya. Semuanya berusaha menelpon Kemal dan mengirim pesan, 'kamu dimana?'. Ada apa sebenarnya?
'Drrrrrttttttt'
Pesan suara dari Dafa.
"The time is over. Ternyata kamu lebih memilih menikah daripada menyelamatkan gadis pujaanmu. Segitu doang nyalimu? Bye Kemal ...."
Nino tercengang. Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan dua sahabat yang dulu saling melindungi?
Matanya tertuju pada pesan suara di atasnya.
"Kayaknya ada yang kangen sama kekasihku. Dengarkan aku Kemal Abdullah, jika sampai besok pagi kamu tidak datang di Villa Melati Pandaan, aku pastikan gadis pujaanmu tidak akan mampu menatap wajahnya sendiri. Kamu berpikir aku akan merusak wajahnya? Bukan, bukan. Aku bukan mau merusak wajahnya, tapi aku akan merusak .... Aku di bantu lima orang temanku untuk mencicipinya. Panik nggak tuh? Panik kan ya? Panik dong .... Pasti panik lah ...."
Sekali lagi Nino dibuat tercengang. Ini Dafa yang mana? Kalau Dafa yang sama, bukannya dulu Dafa yang mukul kepalanya gegara bilang Alvina wanita penggoda. Ada apa dengan mereka?
Ah, itu urusan belakangan. Sekarang, telpon Nyonya Alvina, maminya Kemal. Memberi kabar keluarganya bahwa Kemal mengalami kecelakaan. Setelah itu misi penyelamatan. Menyelamatkan kekasih Dafa yang dikangenin Kemal.
Nino mulai bingung, nama siapa lagi yang harus dia coba hubungi? Satu pun dari nama di atas tidak ada yang mengangkat telponnya. BiQi, Nauval, Zoya bahkan Mami Alvina nya Kemal, tak menjawab panggilan Nino melalui ponsel Kemal.
Satu persatu dia dial nomer di kontak Kemal, sambil berjalan menuju parkiran dia berusaha menelpon. Sambil nunggu ada yang merespon, Nino lajukan mobilnya menuju alamat yang disebutkan Dafa. Kalau nggak macet, setengah jam sudah sampai ke alamat yang diucapkan Dafa di pesan suaranya.
Sepanjang perjalanan, Nino tidak bisa menerka apa yang terjadi pada dua sahabat itu. Apa cuma gegara satu gadis yang mereka cintai merusak segalanya sampai seperti ini?
*****
"Nauval, kamu disini bukan untuk mendengar saja. Apa solusi darimu? Bukankah tugasmu memastikan dia baik-baik saja?" seru Bae.
Nauval terkejut. Seruan Bae membuat wajahnya menegang. Apa yang bisa dia lakukan? Dari semalam dia belum tidur, mengelilingi Surabaya demi mencari Kemal. Selain itu, apalagi yang bisa dia lakukan?
"Apa yang bisa Nauval lakukan Bi?"
"Menikahlah dengannya!"
Bukan hanya Nauval yang melotot sambil membuka mulutnya. Semua yang ada di ruangan itu termasuk Dhira mendongakkan kepalanya dan menatap Bae dengan tatapan penuh tanya. Namun, semua hanya diam.
'Tok tok tok tok'
Pintu di ketuk.
Tanpa menunggu perintah Nauval berjalan membuka pintu kamar Dhira. Malik berdiri di depannya dengan wajah pucat penuh dengan kecemasan.
"Boleh Malik masuk Kak Val?" tanya Malik. Suaranya gemetar.
Entah mengapa seolah mengerti kecemasan yang ditunjukkan Malik, dada Nauval ikut berdebar. Dia bukakan pintu mempersilahkan Malik masuk.
"Mam, Kemal kecelakaan." Seru Malik dengan suara bergetar.
Ucapan Malik itu membuat tubuh Alvina melemas dan jatuh terduduk di atas kursi kecil depan meja rias. Membuat Bae menjatuhkan ponsel yang baru dia keluarkan dari kantong celananya. Dan Mas Rizal terkesiap menoleh ke arah Malik.
Sedang Dhira wajahnya menegang, air mata di pucuk matanya sekali lagi bersiap jatuh menetes. Nauval tidak menyangka ini, tapi dia sudah tahu kalau Kemal tidak mungkin sengaja lari dari pernikahannya.
Sejenak semua terdiam, seolah bibir mereka sepakat untuk saling bungkam, mencerna kalimat yang Malik ucapkan.
"Bagaimana keadaannya? Dimana dia sekarang?" Pertanyaan Nauval memecah kesunyian. Wajah mereka semua berubah seolah setuju dengan pertanyaan Nauval.
"Sedang perjalanan dirujuk ke Dr. Soetomo, Kak Val. Kondisi Kemal mengalami lumpuh total karena cidera saraf tulang belakang. Papa sama Mama juga Mbak Mala sudah meluncur ke sana."
"Ayo, kita ke sana sekarang!" pekik Nauval. Semua yang ada di ruangan itu, yang tadinya hanya diam, kini beranjak mendengar ajakan Nauval. Kecuali Dhira.
"Lalu bagaimana dengan pernikahan Dhira, Mami? Apa pernikahan Dhira benar-benar dibatalkan? Trus bagaimana reputasi Dhira, Mi? Karir Dhira baru dimulai dan akan hancur gara-gara batal menikah?"
"Kemal sedang meregang nyawa, Sayang. Pernikahan ini ...."
"Semua bukan salah Dhira, Mami. Kenapa harus Dhira yang menerima imbasnya?" teriak Dhira.
"Huuuush ... kecilkan suaramu, Dek. Banyak tamu dan wartawan di bawah." Nauval sambil berjalan ke arah Dhira.
"Apa salah Dhira Mas Nau? Jika hari ini Kemal meregang nyawa, apa Dhira juga harus menanggung malu karena pernikahan Dhira yang dibatalkan?" pekik Dhira.
"Huuuush ... jangan teriak."
Spontan Dhira memeluk Nauval. Nauval sedikit tersentak menerima pelukan spontan Dhira. Gadis yang biasanya selalu menjaga jarak, hari ini memeluknya erat sambil terisak.
"Waktu itu Dhira sudah siap terluka seandainya Kemal menolak Dhira, tapi bahkan setelah Dhira berusaha menyakinkan, Kemal tetap setuju menikah. Kalo hari ini dia menyesal dan ingin mengejar cintanya lalu kecelakaan sampai meregang nyawa, apa salah Dhira Mas Nau?" oceh Dhira dengan isakannya.
"Nggak ada yang salah, Yang. Kita hanya sedang diuji. Dhira sanggup menunggu sampai Kemal sembuh, kan?"
"Dhira sanggup menunggu Mi, tapi Dhira nggak bisa menanggung malu," isak Dhira masih dalam pelukan Nauval.
"Kalo begitu menikahlah denganku! Kamu mau menikah denganku?" Meski sedikit ragu, tapi Nauval beranikan diri untuk menyerukan itu. Dhira mendongak dan menatap dalam ke arah Nauval.
"Hanya sampai Kemal sembuh. Setelah Kemal sembuh, aku akan menjatuhkan talak kepadamu," ucap Nauval lagi.
"Jangan bermain-main dengan pernikahan, Nau. Aku memintamu menikahi dia karena aku melihat ada cinta di matamu untuknya!" seru Bae yang membuat wajah Nauval terkesiap.
"Dan membuat Zoya berhenti mengharapkanmu."
"Sebaiknya jangan membuang-buang waktu. Kasian Kemal disana, yang juga butuh support kalian." Malik memecah suasana.
Akhirnya ....
Duduk di depan penghulu dengan menjabat tangan Rizal, Nauval masih nggak percaya kalau Tuhan menakdirkannya menikah hari ini. Dengan gadis pujaannya pula. Meskipun ini terjadi hanya karena sebuah perjanjian.
Dengan lantang Nauval ucapkan Ijab Kabul di depan saksi, para keluarga, semua tamu dan wartawan di rumah. Mereka batalkan acara sakral tersebut di Masjid Agung dengan alasan tiba-tiba Dhira tidak enak badan.
"Para hadirin sah?" tanya Pak Penghulu tak kalah lantang.
"Saaaahhhh ...." jawab hampir semua yang hadir.
Raut lega terpancar dari wajah Nauval sambil mengaminkan doa yang diucapkan Pak Penghulu. Didampingi Alvina, Lilin, Dinda dan Naura, Dhira berjalan menuruni tangga menuju tempat prosesi akad nikah terjadi untuk melanjutkan acara selanjutnya.
Demi apapun, wajah cantik mirip Vebby Palwinta itu hari ini semakin terlihat mempesona. Bukan hanya Nauval yang tercengang dengan kecantikan Dhira dengan balutan kebaya putih milik Laksmi Muslimah wedding itu. Semua yang hadir tak bisa mengalihkan pandangannya dari Dhira kecuali Bae.
Tatapan pria setengah tua itu tertuju pada wanita di sebelah Dhira. Ibu sang mempelai, wanita pujaan hatinya, candunya yang sanggup membuatnya menunggu sampai dua puluh lima tahun lamanya untuk mendapatkan cintanya, tapi masih saja Tuhan belum mengizinkan mereka bersama.
"NGGAK SAH! Ini semua nggak SAH!"
Teriakan itu membuat semua mata tertuju pada gadis yang mengenakan gaun dengan model dada dan punggung terbuka setinggi paha berdiri di depan pintu. Para wartawan pun tak melewatkan kesempatan untuk menjepret kameranya. Wajahnya memerah entah karena amarah atau menahan sakit pengkhianatan yang dilakukan Nauval, pria yang membuatnya meregang nyawa.
Aksinya meminum racun serangga dan memutus urat nadi di tengkuk leher sebelah kanannya karena cintanya ditolak Nauval waktu itu, hampir membuat Nauval meringkuk di penjara karena Bilqis yang cemas dan takut kehilangan putrinya melaporkan Nauval sebagai penyebabnya.
"Ini tidak benar BiQi? Kenapa BiQi membiarkan belahan jiwa Zoya menikah dengan wanita lain?" pekik Zoya pada Bae yang langsung lari memeluk keponakan perempuan satu-satunya.
"Jangan seperti ini, Beb. BiQi mohon, jangan seperti ini! BiQi yang menyuruh mereka menikah. Biarkan mereka selesaikan prosesinya dulu, selelah itu selesaikan urusanmu dengan suami orang itu!" Ucap Bae sambil berusaha menenangkan Zoya dengan usapan lembut di punggung Zoya.
"BiQi jahat! BiQi tega sama Zoya!" Zoya melepas pelukannya dari Bae dan lari ke arah Nauval.
'Plak!'
Satu tamparan mendarat di pipi Nauval. Semua terpana melihatnya. Bersamaan dengan itu blitz kamera seperti kilat menyambar bersahutan. Nauval diam.
'Plak!'
Sekali lagi tangan Zoya mendarat di pipi yang sama. Nauval pun cuma diam tertunduk, dia sadar betapa luka gadis yang menamparnya sambil berderai air mata itu juga dia rasakan.
Langkah Dhira yang tak terima Nauval ditampar di depan umum dihentikan Alvina dengan menggenggam erat tangan Dhira.
Sekali lagi Zoya melayangkan tangannya, tapi dia urungkan untuk mendaratkannya. Zoya malah memeluk Nauval dengan erat membuat tubuh Nauval tersentak. Seketika seperti tersengat listrik, tubuhnya menegang. Dadanya mendadak sakit seperti ribuan anak panah menghujam ke dadanya. Sebesar inikah cinta gadis ini, sampai dia bisa merasakan sakitnya.
"Kenapa kamu sejahat ini padaku Kapal? Apa salahku padamu? Tak apa kamu tak mencintaiku, asal jangan tinggalkan aku! Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu Kapal ...." Zoya merintih dan menangis sejadinya di pelukan Nauval.
"Beb ...." seru Fathir. "Jangan seperti ini. Bukannya kamu nggak suka liat drama live, dan kamu sedang jadi tontonan gratis sekarang Beb. Ini bukan pernikahan orang biasa, ini pernikahan ...."
Melepas pelukan Nauval, Zoya berlari ke arah Dhira yang dihadang Malik, Rizal dan Bae serta Nauval sudah bersiap dengan berdiri di sebelah Malik.
"Pergi bersamaku sebentar saja, aku akan beri tahu kamu alasan pernikahan ini," ucap Malik. Dokter muda ini seolah paham dengan keadaan psikis Zoya.
"Siapa kamu? Menyingkir dari jalanku. Aku akan menghabisinya."
"Mari aku perkenalkan diriku. Ikutlah bersamaku sebentar saja." Kali ini Malik mengulurkan tangannya. "Beb, begitu kan mereka memanggilmu? Kembang mu sekarang sedang meregang nyawa. Apa semua yang kamu lakukan ini lebih penting dari nyawa Kembangmu?"
"Kembang? Meregang nyawa? Kenapa dengan Kembang?" Zoya panik. Dia tahu bagaimana rasanya meregang nyawa, dan hari ini saudara laki-lakinya merasakan hal yang sama?
Betapa ikatan yang mereka ikatkan sangatlah dalam. Seberapa besarpun cinta yang terpendam, akan mereka sisihkan demi menghapus air mata saudaranya. Begitulah yang Bae dan Alvina ajarkan pada orang di sekitarnya. Sembunyikan bahagiamu saat saudaramu sedang berduka dan suatu hubungan dijalin bukan hanya dengan ikatan darah ataupun status negara.
Pun dengan Malik dan Zoya. Malik berusaha melindungi Dhira dan Alvina yang mematung dengan wajah menegang melihat semua drama yang Zoya ciptakan.
Setelah itu Zoya langsung meminta persetujuan kedua orang tuanya dan Bae untuk ikut bersama Malik.
"Apa yang terjadi dengan Kembang ku?" Zoya langsung menggamit lengan Malik dan menyeretnya keluar dari kerumunan para wartawan seperti tidak terjadi apapun.
Tingkah Zoya itu membuat Malik terkesiap. Dan terciptalah senyum di bibir Malik. 'Manis.' batinnya.
Setelah kepergian Zoya dan Malik, prosesi pernikahan yang sempat tertunda dilanjutkan kembali. Sempat muncul beberapa pertanyaan dari para wartawan. Namun, Bae mampu menyelesaikan semua dengan kuasanya.
Setelah rentetan acara terselesaikan, Nauval dan Dhira memenuhi permintaan para pemburu berita untuk konferensi pers didampingi kedua orang tua mereka.
Sementara Bae yang sudah dari tadi tidak sabar ingin pergi melihat keadaan putranya, langsung menghilang setelah acara selesai. Tanpa pamit pada Alvina yang merasa bersalah karena tak bisa ikut menemani dan berada disisinya saat dia berduka.
Miss U Mbak.
Akhir yang manis 😍