" Gadis kecil sebaiknya kamu tanda tangani saja surat itu "
Begitulah ucapan dari Hendra saputra pemilik perusahaan Jewelery yang terkenal di kota ini kepada seorang gadis bernama Yesa. Dia mengancam dengan sorot matanya. Dan akhirnya kerena tidak memiliki kekuasaan. Yesa menanda tangani surat itu.
Sesaat senyum puas penuh kemenangan muncul di bibir Hendra Saputra.
Cerita novel ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu hanyalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan
Nulis nya cuma iseng
Update na semau gue 😋
selamat membaca ^^,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ovhiie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALAM NENEK
Mobil sport hitam tampak melaju melewati jalan bukit di perkampungan, Di sisi kiri dan kanan terdapat pepohonan yang memagari jalanan.
Beberapa jam kemudian mobilnya berhenti di bawah pohon di depan rumah yang sangat sederhana. Di halaman depan terdapat taman yang tersusun rapi. Ada dua kursi dan satu meja yang mengarah ke taman di terasnya. Pasangan suami istri itupun turun dari mobilnya.
Saat turun dari mobil, mereka mendapati seorang wanita berpenampilan lembut sedang menyirami tanaman. Wanita tersebut memang sudah berumur, tapi sorot matanya yang lembut dan wajahnya yang selalu tersenyum membuatnya terlihat ramah.
"Salam Nenek." Arya menyapa sambil mencium tangannya, Nenek mengusap kepalanya dengan lembut. Setelahnya dia tersenyum hangat padanya
"Salam Nenek" Yesa ikut menyapa
"Sayang kamu sudah datang." Kata Nenek lalu tersenyum lebar melihat cucu kesayangannya pulang, gadis itu langsung memeluk tubuhnya dan mencium pipinya.
"Ini Nek" Kata Yesa sambil menyodorkan kantong plastik putih berisi buah segar yang sudah di belikan khusus untuk Neneknya dari supermarket kecil dipinggir jalan tadi.
"Apa ini sayang?" Nenek bertanya saat meraihnya.
"Itu buah apel kesukaan Nenek."
"Aduuh, cucu Nenek yang satu ini." Sahut Nenek sambil melihat isinya "Mari silahkan masuk." Nenek mempersilahkan masuk dengan sopan.
Pasangan suami istri ini berjalan mengikuti Neneknya memasuki ruang tamu. Ruangan itu nyaman sekali di dinding kiri kanannya terpajang beberapa foto keluarga Yesa. Merekapun duduk di sofa dipenuhi dengan bantal yang menghadap ke televisi.
"Nak Arya, kamu duduk disini saja, Nenek akan menyiapkan makan siang dulu. Kalian sudah lapar kan?" Nenek bertanya dengan lembut. Pasangan suami istri ini hanya tersenyum menjawabnya.
"Aduuh maaf ya Nak Arya, rumahnya sempit dan berantakan, ya sudah Nenek tinggal dulu ya. Anggap saja ini rumah sendiri, Yesa mari kamu bantu Nenek masak di dapur."
Yesa mengangguk
"Suamiku, kami tinggal dulu ya sayang."
Laki laki itu hanya tersenyum sambil menatap Nenek dan Istrinya itu memasuki salah satu pintu yang menunju ke dapur. Pandangan Arya beralih pada salah satu pintu yang tidak jauh dari tempat duduknya. Meskipun pintu itu hanya terbuka sebagian, tapi dia dapat melihat dengan jelas isi ruangan di dalamnya. Sesuatu di dalam ruangan tersebut membuatnya terkejut.
Arya memberanikan diri memasuki ruangan itu, dia hampir tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Di dinding ruangan itu di penuhi dengan foto-foto Istrinya. Itu membuat yakin bahwa ruangan ini adalah kamar Istrinya, dia memerhatikan dengan seksama pada setiap foto tanpa bingkai yang menempel di dinding. Senyum dari bibirnya muncul saat memandang foto istrinya waktu kecil.
Ternyata istriku memang begitu dari dulu, imut juga.
Alih-alih Arya bicara dalam hatinya, tiba-tiba istrinya muncul di balik pintu.
"Suamiku, aku mencari mu tadi, aku kira kamu sedang keluar. Ternyata kamu ada disini, makan dulu yu sayang." Ajak Yesa sambil meraih tangannya.
"Baiklah"
Arya mengikuti langkah Yesa di samping berjalan menuju meja makan. Tidak terbayang oleh Arya ini kali pertamanya dia makan bersama di rumah sederhana bersama Istri dan Neneknya. Saat itu dia merasa beruntung memiliki Istri dan Neneknya yang begitu baik.
"Waktu kecil, Yesa itu suka jahil pada teman-temannya, keras kepala, kadang dia juga sering menangis." Nenek mulai bercerita sambil makan. Arya terlihat mau mendengarkan dengan seksama. "Dia itu paling dekat dengan Dudi sahabatnya. Nenek ingat waktu dulu Nenek pernah memarahinya karena dia suka memanjat pohon."
"Benarkah!" Arya terkejut lalu melirik istrinya, yang dilirik hanya sibuk mengunyah makanan favoritnya.
"Kadang, Nenek sedih jika dia menanyakan keadaan ayah dan ibunya. Bahkan dia sering sekali melamun di jendela kamarnya. Dia juga suka merasa iri pada temannya. Setidaknya dia ingin sekali memanggil ayah dan ibunya saat dia dalam masalah."
"Begitu rupanya."
Istriku ternyata dibalik wajahmu yang cantik itu. Kamu begitu banyak menyimpan luka. Sendirian tinggal di dunia yang besar ini kamu sangat kesepian. Pantas sikapmu begitu ceria. Jika aku jadi dirimu. Aku akan membenci seluruh dunia ini.
Setelah bicara dalam hati, laki-laki itu sambil mengusap kepala istrinya dengan sangat lembut, melimpahkan semua kasih sayangnya.
"Hari ini cuaca begitu buruk. Bagaimana kamu bisa datang kemari? Apa kamu tidak sibuk?"
"Tidak Nek, aku tidak sibuk, tentu saja bisa."
"Nak Arya, sepertinya Nenek lihat kamu tidak makan banyak. Apa kamu tidak suka masakan Nenek? "
"Oh tidak, tentu saja suka. Ini rasanya enak." Arya menjawab dengan nada sopan
"Yesa!" Nenek memanggil
"Iya Nek." Yesa menjawab
"Sayang kalau Nenek perhatikan, kamu kelihatan lelah. Apa kamu sakit?" Nenek bertanya seraya menatap wajah cucunya dengan selidik.
"Tidak Nek, aku baik-baik saja."
"Istriku, apa kamu lelah?" Arya ikut bertanya sambil menatap Yesa dengan lembut.
"Hanya sedikit, tapi sekarang sudah tidak lelah lagi. "
"Tapi kelihatannya kamu tidak sehat, apa kamu sakit. Apa tubuhmu ada yang terluka?" Nenek bertanya-tanya lagi
"Kemarin aku sempat terserang flu, tapi aku baik-baik saja sekarang." Setelah bicara Yesa menggesek batang hidungnya dengan punggung tangan. Ia memang bukan gadis yang rapuh. Hanya sakit kecil seperti itu, dia masih bisa menahannya.
"Istriku, apa kamu baik-baik saja? " Arya menyentuh kedua pipi istrinya dengan sangat lembut. Aku sangat khawatir begitu matanya bicara, gadis itu mengangguk dengan cepat.
"Aku baik-baik saja."
"Yesa, kamu ikut Nenek yuuk." Ajak Nenek setelah selesai makan
"Kemana Nek?" Arya yang bertanya
"Ke dokter kandungan."
Pasangan suami istri itu setuju dengan saran Neneknya tanpa banyak bicara. Dan akhirnya Arya melajukan mobilnya, memecah jalanan hingga sampai di rumah sakit.
*****
Di dokter kandungan
Saat itu, dokter tengah memeriksa urat nadinya, harap-harap cemas muncul di wajah tiga orang itu.
"Nenek, aku baik-baik saja."
"Kalau begitu, duduklah dengan tenang." Nenek mengusap punggung Yesa dengan lembut menenangkan.
"Bagaimana keadaannya dokter ?" Arya bertanya sambil berdiri di samping Yesa.
"Tubuhnya sedikit lebih dingin. Tapi itu tidak masalah." Dokter wanita menjelaskan
"Iya itu benar Dokter, aku baik-baik saja kan" Kata Yesa sambil berusaha meyakinkan suaminya agar jangan terlalu cemas memikirkannya.
"Lalu apakah ada berita lain?" Nenek bertanya dengan wajah penuh harap
"Tidak ada." Dokter menjawab singkat membuat Nenek menghela nafasnya kecewa.
"Hhh, aku sudah menduganya." Aku kira dia sudah hamil begitu gumamnya dalam hati.
"Apa saya perlu memberinya obat?"
"Baiklah Dokter, kalau itu yang anda sarankan. Lebih baik berikan mereka suplemen tenaga saja."
"Apa? Suplemen!"
Sekilas pasangan suami istri itu saling bertemu pandang karena terkejut.
*****
Saat tiba di rumah Nenek.
Nenek menyarankan kedua pasangan suami istri itu agar istirahat di kamarnya lebih awal. Dengan alasan besok mereka akan pergi berziarah ke makam ayah dan ibu. Saat ini mereka sudah berada di dalam kamar dan duduk bersandar di tempat tidur.
"Istriku, Ini minumlah." Arya bicara sambil menyodorkan obat suplemen cair yang sudah di buka kemasannya. Yesa meraih bungkusan itu.
"Istriku apakah itu aman?"
"Iyah."
"Sebelum dingin, cepatlah diminum."
"Suamiku kamu juga harus minum." Kata Yesa, dia memang sedikit ragu meminumnya
"Cih, Tidak perlu." Arya menolak dengan cepat. "Aku tidak akan apa-apa kalau aku tidak minum. Itu untukmu saja." Tidak minum obat itu juga aku sudah kuat begitu katanya dalam hati.
"Kalau begitu, aku juga tidak mau meminumnya." Yesa tidak mau kalah
"Tidak boleh!" Menyangkal cepat "Istriku kamu harus minum itu. Kamu tahu Nenek sangat menyayangimu kan? Jadi minumlah itu."
"Ahh benar juga, kita tidak bisa membuangnya, kita hanya bisa meminumnya. Suamiku kamu juga harus minum. Seharusnya ini untuk orang dewasa sepertimu."
"Baiklah, istriku kamu minum itu sebelum dingin, cepat!"
Aku tidak sabar ingin melihat reaksimu
Dan akhirnya Yesa hanya mampu menuruti perintah suaminya agar meminum suplemennya, sekilas ia mengerutkan keningnya. Pahit sekali begitu kira-kira yang dirasakannya.
Melihat reaksi wajahnya istrinya yang aneh, Arya merinding seperti terbawa pahit di lidahnya.
"Istriku, bagaimana rasanya. Apakah enak? Apa mau di tambah dengan gula?"
"Tidak perlu, kalau di tambah gula, akan mengurangi nutrisinya "
"Begitu rupanya, istriku cepatlah itu dihabiskan"
"Ahhh" Akhirnya Yesa berhasil menghabiskan suplemen yang pahit itu." Suamiku, kenapa kamu tidak minum. Menurutku ini sangat bagus untuk perkembangan hormon hehe.."
Arya hanya menjawabnya dengan tersenyum dan wajahnya mendekat.
"Istriku, kalau aku melihatmu sekarang. Sebenarnya kamu terlihat sangat cantik." Gombalnya
Ini lagi
Perlahan gadis itu mundur berusaha menjauhkan tubuh dan wajahnya perlahan. Tapi semakin dia mundur laki-laki itu malah semakin mendekat.
"Kenapa tidak mendekat? Ayo mendekatlah." Jika tidak habis kau malam ini.
"Su- suamiku, kamu mau apa?" Yesa bertanya saat dirinya sudah menciut di sudut tempat tidur. Jika sedikit saja bergerak mungkin tubuhnya sudah mendarat di ubin sana.
"Jangan mundur begitu kemarilah. Istriku apa kamu takut aku akan melahap mu. Ayo kemarilah."
"'Ja- jangan mendekat atau aku akan berteriak."
Arya terkekeh melihat reaksi wajah istrinya
yang begitu menggemaskan di matanya.
''Istriku, jika kamu ingin berteriak, silahkan saja. Tidak akan ada yang menolong mu."
Belum sempat gadis itu berteriak, laki-laki itu sudah mengunci bibirnya dengan ciumannya. Sambil tangannya melepaskan baju tidurnya, melemparnya ke sembarang tempat. Setelah pakaiannya sudah terlepas semua, dia mengecup lehernya, kecupan demi kecupan dia berikan pada setiap inchi tubuhnya, sampai meninggalkan warna merah. Tidak lupa tangannya bermain didaerah kewanitaannya.
Hemh
Kali ini lutut Arya sudah bertumpu di kedua belah paha istrinya yang putih mulus itu lalu mendekatkan wajahnya.
"Istriku, aku mencintai mu." Arya berbisik didekat telinga Yesa
"Ah!"
Gadis itu hanya mampu mencengkram jemari tangan suaminya dalam kegelapan. Rintihan demi rintihanpun terdengar hingga larut malam.