Raavero Alves ... Pengacara tampan, maskulin, angkuh, obsesif dan agresif, melakukan dua kesalahan fatal dalam hidupnya. Dia menikahi Rania Alexander untuk sebuah kesepakatan damai dan membawa pulang mantan kekasihnya ke Kediaman Alves, dua hari selepas pernikahannya dengan Rania.
Rania Alexander ... Seorang Wedding Planner. Dia gadis angkuh, cantik, ambisius dan pantang menyerah berjuang untuk menolak pernikahannya dengan Raavero. Dia sedang membangun karirnya dan muak pada pria.
Sementara sang mantan kekasih, berusaha untuk menempatkan kembali posisinya seperti semula saat masih menjadi kekasih Raavero.
Perang dingin di antara keduanya, ditambah sikap anti-pati Ibunda Raav pada Rania, memperburuk keadaan.
Raavero berada di antara dua pilihan, di antara tiga wanita dengan kerumitan mereka masing-masing. Dia hanya harus memilih satu di antara keduanya. Wanita yang dia cintai atau wanita yang melahirkan puterinya?
***********************************************
Dengan rendah hati mohon kritik dan sarannya untuk Author agar lebih baik lagi dalam menulis.
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, favorit, share, vote agar Author lebih semangat menulis. Makasih untuk dukungannya.
by Senja Cewen...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 Memikat Seseorang...
Mata Rania berkaca-kaca saat melihat Andara. Gadis itu adalah konfigurasi paling nyata pengantin wanita tercantik sejagad.
Pilihan Andara jatuh pada gaun pengantin model mermaid. Dia memilih lace gown statement sleeves, bertaburan kristal Swarovski dan mutiara, memberikan kesan mewah dan glamour. Ekspresi sempurna dari seorang Andara Lourez. Mutiara di long veil -nya mencuatkan kesan feminim dan anggun. Dilengkapi belt mungil bertaburan mutiara, gaun indah itu menempel sempurna di tubuh rampingnya. Andara berhasil jadi pengantin tercantik di dunia hari ini.
Apresiasi untuk Mariah, beauty consultant La Belle. Berkat tangan ajaibnya, wajah Andara semakin memancarkan aura pengantin. Mariah memilih konsep flawless glamour seperti pada pernikahan Rania sebulan lalu.
Andara dan Yoga punya kisah cinta unik. Prayoga Angkasa Laurent Qenant, blasteran Bali - Jerman, seorang pengusaha kaya raya dan keturunan bangsawan. Sedangkan Andara Aryana Lourez, model cantik awalnya dan karena sebuah skandal, karir modelnya berakhir. Dia dihujat netizen karena skandal yang menyeret namanya dan sempat di penjara selama 5 bulan. Keduanya kemudian dipertemukan oleh skandal Andara dan kisah mereka happy ending.
Rania terbangun dari lamunannya saat namanya dipanggil.
"Rania!!!"
Tangan Dawnia melambai-lambai. Gadis itu berjinjit di antara para bridesmaid memanggil Rania segera bergabung. Rania menolak pergi. Dawnia semakin berisik memanggilnya.
"Rania!!! Kemari!!!"
Enggan, Rania akhirnya menguak kerumunan para wanita lajang hingga berjejer dengan Dawnia.
"Hanya wanita lajang yang boleh menangkap buket bunga. Mengapa menyuruhku kemari?"
Rania memelototi sahabatnya. Dari sudut Ballroom Raavero memperhatikannya. Rania bisa menebak isi pikiran Raavero dari radius 10 meter. Istrinya ikutan berbaris bersama para bridesmaid, siap sedia menangkap bunga pengantin. Apakah dia berharap bisa menikah lagi?
"Turut ramai sajalah, kamu. Tanganmu jangan diangkat! Awas ada suamimu. Dia akan menelanmu hidup-hidup, jika kau berani menangkap buket bunganya!" seru Dawnia mengingatkan. Dari kejauhan Raavero begitu menggoda. Yah Tuhan, dia kembali lagi pada pria itu. Dia memaki dirinya sendiri.
Hentikan Rania!!!
Mereka masih sabar menunggu Andara berbalik dan melempar buket di tangannya. Dawnia menoleh pada Rania.
"Mengapa kamu tak datang semalam? Dasar tidak setia kawan."
"Aku ketiduran."
"Kamu ketiduran sementara sahabatmu menunggumu di pesta melepas lajang?" Dawnia berdecak.
"Entahlah ... Andara marah padaku?"
"Jelaskan nanti padanya! Andara terlalu bahagia untuk marah. Ditambah La Bella -mu berhasil memuaskannya. Itu di luar ekspetasi dan itu menyelamatkanmu."
"Aku punya sedikit masalah."
"Yah ... Itu terlihat jelas di wajahmu. Sejak menikah, hidupmu penuh masalah. Sepertinya aku tak akan mau menikah. Ngomong-ngomong, kamu terlihat seksi dengan gaun itu. Seperti ingin memikat seseorang?"
"Diamlah!"
"Apa kamu belum tidur dengannya? Kamu ingin mabuk dan menarik perhatiannya dengan minidress-mu itu?"
Dawnia terus-terusan menyenggol tubuh Rania. Terus menggodanya. Wajah Rania menghangat sebelum memerah. Rania memberi senyuman sinis.
"Dia memperkosaku."
'What's???"
Dawnia terbelalak. Mulutnya menganga. Jawaban frontal Rania terlalu vulgar. Dawnia memperhatikan sekeliling mereka. Para wanita lajang fokus pada pengantin dan buketnya. Cuma mereka berdua saja yang bisik-bisik.
"Wow .... That's cool ... Raavero sepertinya pria anti - mainstraim."
Dawnia bertepuk tangan. Rania memukuli lengan sahabatnya, gemas.
"Cool? Dasar perempuan gila. Dia memperkosa sahabatmu. Apanya yang cool? Bukankah itu tindakan asusila? Aku akan mencari pengacara dan melaporkan ke pihak berwajib."
"Raavero luar biasa. Dia tidak sabaran. Lagipula, aku akan melakukan hal yang sama, jika aku punya istri 'KuPer' sepertimu," ejek Dawnia. Rania refleks mencubiti perut langsing sahabatnya. Dawnia terkekeh.
"Kapan itu terjadi?" tanya Dawnia. Dia penasaran.
"Kemarin."
"Itulah alasan kamu tidak datang? Ini gila. Dia menikahimu dan membawa Mikaila pulang ke Kediaman Alves. Benarkan?"
"Aku tak pernah cerita. Darimana kamu tahu?"
"Orang-orang mulai bergosip, Rania. Istri Alves yang tak tahan, diam-diam balas dendam. Dia mengencani Andrew Darwin. Back street. Aku tertarik menulis kisahmu menjadi sebuah novel."
"Siapa penyebar hoaks itu?"
"Di kota ini, angin punya telinga. Itulah mengapa kamu perlu berhati-hati!"
Suara Master of Ceremony hentikan bincang-bincang mereka. Rania masih melongo tak percaya pada kenyataan orang menggosipkan mereka.
"Kita akan menghitung mundur, yah! Tiga ... Dua ... Satu ... Lempar ..."
Pekik hiruk pikuk, tawa, canda memenuhi ballroom itu. Buket bunga di lempar, terbang jauh ke belakang dan ditangkap oleh ... di luar dugaan. Buket itu ditangkap oleh seorang pria tinggi dan sangat tampan. Pria itu tak asing.
"Lucius Samoedra Biru?"
Desis Rania dan Dawnia bersamaan. Keduanya saling memandang. Lalu bengong. Para wanita yang patah hati mengajukan keberatan dan semua terdiam saat menoleh pada Lucius. Sukar mengabaikannya. Dia sangat tampan. Pria itu mendatangi tempat Rania dan Dawnia berdiri. Melirik pada Dawnia. Wajah gadis itu tegang dan tanpa sadar dia menarik tangan Rania. Meremasnya kuat.
"Sepertinya kau akan segera menikah. Selamat," bisik Rania menggoda. Tatapan keduanya terpaku pada Lucius yang semakin dekat. Dawnia mencibir.
"Berkatmu ... pria ini harusnya milikmu."
"Tetapi dia lebih tertarik padamu! Aku bisa apa? Harusnya kamu bersyukur."
"Jika kau tak menyuruhku menggantikanmu menemuinya ... "
"Itu jodoh. Berhenti meremas tanganku. Kau bisa remukan tulang-tulangku."
"Ini masuk dalam berita acara La Bella? Kau merencanakannya?"
Dawnia memelototi Rania. Dia curiga. Rania tidak percaya, gadis itu curiga pada-nya dan La Bella.
"Kau menuduhku mengkhianatimu? Ini improvisasi murni. Percayalah. Lucius tak pernah minta bantuan padaku. Atau tanyakan pada Andara. Dia melempar buket sejauh itu. Bukankah terlihat berlebihan? Apakah dia punya tambahan energi setelah menikah?" Rania mengernyit. "Hey .... Di mana nyalimu? Bukankah kau selalu terlihat berani? Hadapi dia!"
"Oh aku ingin menendang bokongmu sekarang, Rania."
Dua sahabat itu saling melirik dan balas-balasan berbisik. Mulut mereka komat-kamit. Andara memperhatikan tingkah dua sahabat itu sambil menggeleng geli. Mereka melakukannya lagi.
Lucius mematung sejenak di hadapan Dawnia sebelum tiba-tiba berlutut dan menghadiahkannya buket bunga.
Ohhhhhhhhhh manisnya...
Nada-nada penuh dukungan pada Lucius mengalir memenuhi ruangan. Beberapa wanita tanpa malu-malu terlihat ingin menggantikan posisi Dawnia. Tidak semua laki-laki mampu melakukannya. Dawnia beruntung, pria itu berani mengakui perasaannya di hadapan banyak orang.
Lucius menatap Dawnia, dalam. Seakan dunia hanya dihuni mereka berdua.
"Menikahlah denganku!"
Suasana menjadi hening. Andara menutup mulutnya oleh interupsi Lucius. Drama itu di luar konteks. Dawnia masih tertegun menatap Lucius dan bunga yang terulur padanya.
"Hei, berhenti melamun!"
Rania menyikut Dawnia menyadarkan gadis itu. Sementara sebuah suara berseru persuasif.
"Terima ... Terima ... Terima ..."
Satu ruangan mengikuti suara itu. Mereka mulai yel - yel 'terima'. Wajah Lucius mulai memerah. Dia menunduk seakan-akan bersiap menerima hukuman. Bayangkan, betapa malunya si pria jika sang wanita menolak atau kabur.
Wajah pria itu terangkat saat Dawnia mengambil bunga dan mengangguk. Senyuman merekah.
Sontak gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan resepsi itu. Rania ikut bertepuk tangan keras. Saking keras, telapak tangannya sampai sakit. Andara menghampiri mereka. Ketiganya berpelukan.
"Mari bersenang-senang malam ini," teriak Andara di antara bunyi musik.
"Untuk Rania dan Raavero, untuk Andara dan Prayoga ... Semoga bahagia sampai maut memisahkan," sambut Dawnia.
"Untuk Dawnia dan Lucius ... "
Seberat apapun masalahmu, jika kamu punya sahabat kamu akan baik-baik saja. Harusnya. Ketika Andara kembali untuk menyapa para tamu, Dawnia dan Rania mulai bernostalgia.
"Jangan terlalu banyak minum, Rania. Nanti mabuk."
Tegur Dawnia saat Rania meneguk Tequila. Rania mengabaikan peringatan Dawnia. Dia butuh sedikit untuk menghapus ingatan. Dia ingin amnesia.
"Kamu berdua akhirnya jatuh cinta? Berarti kau harus terus ingat padaku. Karena aku, kalian berdua bertemu."
Rania berkata pada Dawnia dan mengangguk ke arah Lucius. Pria itu berbincang-bincang semeja dengan Raavero.
"Dia harusnya memintaku pacaran dengannya bukan menikahinya."
Dawnia bersungut-sungut. Rania meninju lengan sahabatnya lalu menasihatinya.
"Coba Lucius ditolak tadi, para wanita lajang akan bersedia menyerbunya. Kamu berjalan menuju 'kepala tiga'. Tak ada untungnya jual mahal. Cari di mana pria yang terang-terangan mengakui perasaannya padamu?"
Rania menasihati sahabatnya. Dia meneguk minumannya lagi.
"Tumben bijak pada urusanku. Aku juga akan menasihatimu, berhenti meladeni Darwin. Pria itu mencurigakan. Jangan sampai dia jatuh cinta padamu dan menculikmu."
"Husssh ... jangan sembarang bicara! Akan mudah baginya mengirimmu ke balik sel gara-gara pencemaran nama baik."
"Dia terus menatapmu Rania. Itu sangat mengganggu. Saat Raavero menyadarinya, akan terjadi keributan besar."
"Sepertinya dia ingin membahas sesuatu denganku. Dia punya wanita yang sangat dia cintai. Namanya Elena. Oh, Raavero Alves?"
Rania minum lagi seteguk dan mencibir.
"Pria itu Casanova gila. Dialah psikopat-nya bukan Andrew. Aku hanya penyihir bagi Raavero. Lagipula, kami akan segera berpisah. Dia akan hidup bahagia bersama Mikaila dan Puteri mereka. Keduanya tadi barengan. Mereka mungkin sudah siap mengabari dunia."
Rania sepertinya mulai mabuk. Dia mulai menumpahkan uneg-unegnya. Dawnia prihatin padanya.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Ku pikir kamu dan dia ... "
"Aku dan dia???"
"Oh yah ampun. Kau memang tidak berguna. Kamu harusnya menaklukan dia bukan malah terlihat menyedihkan seperti ini," seru Dawnia tepat ketika Raavero datang pada mereka.
"Dawnia, aku akan membawanya pulang."
"Tepat sekali. Sebelum dia meracau tidak jelas."