Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Adel akhirnya menunjukkan aksinya, dia memang sudah memantau beberapa karyawan tetap dengan posisi yang cukup mentereng dan dia tahu gaji gadis itu sangat besar.
Dia memang tengah magang di perusahaan swasta terbesar dikota tempat tinggalnya ini, dia sudah memiliki banyak teman di banyak divisi terutama yang dari kalangan atas dengan gaji lumayan.
"Jadi kan kita nongkrongnya?". Tanya salah satu dari mereka saat ini.
Mereka tengah makan siang di kantin kantor, mereka merencanakan weekend untuk sekedar nongkrong bersama, inilah alasan utama Adel sangat marah dan kesal kepada Rania karena telah mengambil mobilnya dan jatah belanjanya di kurangi oleh Ardi sampai-sampai dia harus mencari sampingan pekerjaan dengan menjadi affilator pada sosial media.
"Tentu, kita harus nongkrong besok, ada menu baru ditempat baru waktu itu, gimana menurut kalian?".
Dia sengaja ikut dan mendekati para petinggi perusahaan agar dirinya bisa mendapatkan akses bagus nantinya setelah kuliahnya selesai dan dia sudah mendapatkan tiket itu.
Dibalik sikapnya yang seenaknya itu dia memiliki kelebihan dengan rupa yang cantik, pembawaan yang bagus, serta otaknya yang cerdas sehingga dia bisa mendapatkan perhatian dari banyak kalangan divisi di perusahaan itu.
"Kamu, memang pintar memilih tempat Del, saya suka sekali dengan tempat yang kamu rekomendasi kan itu, nanti kita kesana bersama yah".
Manager keuangan bernama Yasmin itu yang cukup dekat dengan Adel itu tersenyum, dia menyukai gadis itu karena dia punya bakat yang bagus apalagi pembawaan yang bisa membuat siapa saja menyukainya.
"Makasih ibu bos, saya senang jika anda menyukainya, tempat itu memang cocok untuk menjernihkan pikiran setelah seminggu dan sebulan penuh dengan pikiran pekerjaan".
Adel tersenyum penuh arti kearahnya, dia sudah menemukan target yang dia cari untuk kakaknya, perempuan yang sama kayanya dengan Rania apalagi penghasilannya yang sangat bagus belum lagi jika dia bersama kakaknya, dia akan mendapatkan keuntungan besar dengan mendapatkan rekomendasi tetap untuk bisa menjadi karyawan di perusahaan tanpa banyak rintangan.
"Ya sudah kalian jika ingin ikut silahkan saja, kita bisa seperti bersama nanti".
Mereka semua mengangguk dan menyetujui apa yang dikatakan Yasmin barusan, mereka memang menyukai tempat rekomendasi Adel itu sejak mereka pertama kali kesana.
Setelah makan siang dan kembali ke rutinitas kerja mereka, sedangkan Adel sudah memiliki pemikiran tentang bagaimana nongkrong yang dia inginkan itu.
"Aku harus mendapatkan ibu Yasmin sebagai kakak iparku, dia akan menjadi salah satu aset berharga kami nanti". Ucapnya dalam hati.
Ardi yang semula berjaya ditempat kerja kini mulai merasa sangat tertekan, kini rekan kerjanya mulai terang-terangan membuatnya merasa tidak nyaman ditempat kerja, seakan mereka sudah bekerjasama untuk membuatnya pergi dari sana tanpa apapun.
Dia tidak peduli pada mereka hanya saja pekerjaannya banyak yang terbengkalai karena perbuatan mereka sehingga dia harus melakukan sesuatu yang akan mereka sesali seumur hidup karena berani mengusiknya
Dia berjalan dan mengetuk pintu bos nya untuk mengadukan semua ini agar dia memperbaiki kinerjanya yang berantakan karena ulah teman-temannya.
Tok..tok.. Dia mengetuk pintu perlahan agar tidak menggangu sang bos
"Masuk". Perintah dari dalam ruangan.
"Maaf bos, apakah bos sedang sibuk?, boleh saya bicara sebentar?".
Lelaki yang merupakan suami Tania itu akhirnya mendongkak dan menatap Ardi yang kini menatapnya dengan perlahan.
"Oh pak Ardi, silahkan duduk!!, apa yang bisa saya bantu?". Ucapnya dengan pelan.
Dia menghentikan sejenak pekerjaannya untuk mendengarkan keluh kesah dari karyawannya yang sudah lumayan bekerja dengan nya itu.
"Maaf pak, saya ingin beritahu jika saya mengalami diskriminasi dari teman-teman kantor sehingga pekerjaan saya terbengkalai dan saya ingin bapak turun tangan langsung, saya sudah cukup bersabar untuk diam saja tapi ini sudah keterlaluan dan membuat pekerjaan saya berantakan, saya tidak mau mendapatkan masalah Dnegan hal yang bukan saya yang membuatnya".
Suami Tania kini menatapnya dengan tatapan intens, dia tahu jika lelaki dihadapannya ini adalah suami dari sahabat istrinya itu dan kini tengah menghadapi sidang perceraian, istrinya memang memintanya untuk meninjau kembali kinerja Ardi karena dia merasa jika Ardi hanya orang rekomendasi tanpa kemampuan jadi istri nya menyuruhnya menyingkirkannya.
Walau Ardi masuk karena rekomendasi kinerjanya selama ini bagus dan rapi, dia hanya khawatir jika pekerjaan Ardi selama ini seperti itu karena Rania dibaliknya bukan karena kemampuannya seperti yang dikatakan istrinya itu.
Dia akan memberi kesempatan laki-laki ini untuk bekerja beberapa bulan lagi untuk melihat kinerjanya, Rania tidak mungkin lagi membantunya seperti dulu karena kebenciannya itu jadi dia yakin apa yang dikerjakan Ardi kedepannya adalah murni hasil keringatnya.
"Kalau kamu merasa seperti itu saya akan beri teguran rekan-rekan kerjamu itu, disini tak ada orang yang istimewa sekalipun kamu adalah suami dari teman istri saya".
Ardi tersentak kaget karena perkataan bosnya ini, jadi benar jika Tania sudah mengadukan dirinya kepada sang bos terkait masalah pribadinya dengan Rania.
Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya karena rasa takut yang mulai menyergapnya, dia takut kehilangan pekerjaannya setelah ini.
"Maaf pak, saya tidak ingin membawa urusan personal ketempat kerja, walau mungkin saya rekomendasi dari istri saya tapi saya selalu mengerjakan pekerjaan saya dengan teliti dan bertanggungjawab, bapak pasti melihatnya, itu murni hasil kerja saya pak bukan milik orang lain apalagi milik istri saya".
Apa yang dia katakan adalah kebenarannya, Rania memang sering membantunya untuk memberikan masukan tapi secara keseluruhan dia mengerjakannya sendiri dan tanpa bantuan Rania karena dia tahu istrinya sibuk dirumah sakit.
"Kamu yakin jika itu hasil kerja kamu sendiri bukan bantuan dari Rania?".
"Saya tidak mengatakan jika 100 persen saya mengerjakannya sendiri pak, istri saya mendukung saya dengan memberi masukan untuk pekerjaan saya bukan mengerjakannya sendiri seperti yang di pikirkan ibu Tania selama ini, jika dia membahas skripsi yang dibuat Rania saya akui 80 persennya Rania memang membantuku mengerjakannya ".
Matanya mulai berkaca-kaca, mengingat betapa banyaknya bantuan dan kebaikan Rania padanya selama mereka menjalani hubungan dan berakhir menikah dan perasaan menyesal kini kembali merayap hatinya.
"Tapi ini pekerjaan kantor yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaannya sebagai dokter pak, dia sibuk dirumah sakit pak jadi saya hanya meminta saran darinya diwaktu yang bisa dia jangkau".
Sang bos mengangguk pelan, mulai mengerti, ternyata lelaki ini cukup gantle untuk mengakui hal seperti ini padahal itu cukup membuat harga dirinya terluka.
"Baik jika seperti itu saya akan meninjau pekerjaan kamu kembali nanti dan untuk masalah rekan-rekan kerjamu akan saya beri teguran setelah ini ".