Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Seorang wanita paruh baya tengah menatap nanar sebuah foto lawas kenangan dirinya dengan suaminya.
Foto yang di ambil saat dirinya menikah siri yang hanya sah di mata agama itu, adalah satu-satunya kenangan yang ia miliki dengan sang suami.
Hatinya terlampau hancur menjadi serpihan kecil tak berharga tatkala ia mengingat malam itu, malam penuh duka.
Suaminya......
Telah meninggalkannya hanya demi menikahi seorang janda kaya yang berasal dari ibu kota.
Saat itu....
Dia tengah mengandung tiga bulan. Bahkan, suaminya pun mengetahui tentang kehamilannya.
Namun, begitulah pria kebanyakan.
Menjadi egois demi mengejar nafsu dan mencapai ambisinya menguasai harta targetnya.
Wanita itu, adalah Santika......
Ibu dari Radhi Praja Bekti.
Sesungguhnya, ayah Radhi tidak lah mati.
Hanya saja Santika terpaksa mengatakan demikian agar Radhi tidak lagi mencari keberadaan sang ayah.
"Bagaimanakah kabarmu hari ini, Reksa?
Bahkan aku bisa hidup tanpa uangmu.
Lihatlah.......
Tidak kah kau bangga melihat putramu yang terlahir dari rahim ku kini menjadi kuat dan harus menerima imbas dari kejahatan putramu bersama janda kaya itu?
Aku tak kan pernah bilang bahwa Tuhan tak adil padaku.
Aku hanya menitipkan salam ku padamu,
melalui angin yang sampai kini menjadi saksi tangis-tangisku di setiap malam hampa yang ku lalui.
Semoga.......
Semoga saja kau tak bersujud di kaki ku apalagi di kaki putraku nanti.
Karna itu.....
Tentu saja pasti akan melukai harga diri seorang Reksa Adi Prama"
********
Seorang wanita tengah menatap anggun dirinya pada cermin di hadapannya.......
Dress berwana hitam berbahan perpaduan kain satin dan brukat emas terkini, membingkai tubuhnya yang molek meski ia telah melahirkan empat orang anak.
Jelita menatap dirinya sendiri yang nampak anggun. Senyum manisnya terukir tatkala penampilannya begitu sempurna.
Di saat yang bersamaan, Pintu kamar di ketuk pelan tiga kali.
Suara Liana terdengar lembut memanggil namanya, pelayan yang ia pekerjakan semenjak empat tahun silam.
"Masuk!"
Suara Jelita terdengar merdu di telinga siapapun yang mendengarnya.
Radhi yang merebahkan dirinya di ranjang tersenyum meski hanya mendengar suara sang istri. Berpura-pura memainkan ponsel, Radhi terus melirik istrinya.
Radhi menatap istrinya penuh pemujaan.
Kekaguman yang tiada tanding, membuat Radhi sulit berpaling dan terlanjur jatuh terlalu dalam bak di dasar lautan terdalam pada pesona istrinya.
"Maaf, nyonya.
Anda memanggil saya?"
Tanya Liana seraya menunduk dalam.
"Ya. Duduklah".
Jawab Jelita dengan mengintrupsikan Liana untuk duduk di sofa.
"Persiapkan dirimu dan hatimu untuk bertemu dengan ayah Calista, putrimu.
Aku berjanji......
Sebulan lagi, ku pastikan kau bertemu dengan Darrel dan terbebas dari belenggu ayah dan ibu tiri Darrel si pecundang itu....
Ingat, kau harus menjadi kuat seperti aku, Liana".
Keterkejutan itu tak mampu Liana tutupi.
Darrel?
Liana terkejut setengah mati.
Bagaimana bisa nyonya nya ini tau segala sesuatu tentang nya dan putrinya.
Jantung Liana berdetak tak beraturan, bahkan meski hanya mendengar nama Darrel di sebut.
Takdir macam apa ini?
Di saat Liana menjauh demi menjaga kelangsungan hidup putrinya berjalan dengan baik, kini ia akan bertemu dengan keluarga Darrel yang begitu jijik padanya.
Liana tergugu dalam lamunan.
Kembali pada masa lalu, jelas bukan itu yang Liana inginkan.
Jelita memandang Liana, menelisik tentang apa yang Liana pikirkan.
"Jangan terus menjadi pecundang dan bersembunyi di balik bayang-bayang, Liana.
Kau harus bangkit dan perjuangkan hak putrimu untuk bahagia.
Jangan terlalu lama menanggung dosa karna telah memisahkan ayah dari putrinya.
Kini.....
saatnya kau bangkit dari keterpurukanmu.
Tatap dunia dengan angkuh.
Pusatkan matamu pada lawan, berjalan lah anggun dan perlihatkan pada dunia, bahwa kau wanita yang pernah di tindas sedemikian rupa, kini mampu berdiri tegak dan tak goyah dengan apapun",
Lanjut jelita penuh penekanan.
Jelita seakan tau apa yang Liana pikirkan.
"Tapi nyonya..... saya tidak......"
"Hentikan kalimatmu. Aku tidak suka di bantah.
Percayalah ......
Suatu hari nanti, kau dan Darrel akan berterima kasih padaku.
Lakukan apa yang aku perintahkan dan suatu saat, kebahagiaan akan menyertai kluarga kecil kalian".
Liana berubah menjadi yakin.
Tanpa di minta, air matanya menetes membasahi pipi mulusnya.
Di dunia ini, hanya jelita lah yang berani mengambil resiko dan peduli padanya.
Di saat seluruh dunia menggunjingnya dan Liana menghadapinya seorang diri, tangan Jelita lah yang terulur bersiap menerima nya yang terperosok dalam jurang kedukaan.
Sebatang kara jelas bukan keadaan yang Liana inginkan.
Namun kini, Liana percaya bahwa Jelita adalah saudara berwujud nyonya yang dikirim tuhan untuk membantunya bangkit dari keterpurukan, membalas segala rasa sakit yang orang tua Darrel torehkan.
"Terima kasih, nyonya. Saya bersedia"
Jawab Liana mantap.
Sekali lagi, Jelita tersenyum penuh kemenangan.
******
"Mas..... Makan malam sudah siap.
Mari turun".
Ajak Dewi sedikit takut pada suaminya.
Belakangan ini, Chandra semakin dingin tak tersentuh. Wajah yang dulu terbiasa ramah, kini seperti predator yang siap menerkam mangsanya bila sedikit saja Dewi salah bicara.
"Aku makan malam di luar, bersama Jelita".
degg
Jantung Dewi terasa menghentak dalam sekali detak.
Jelita?
Bagaimana mungkin? Ada apa dengan Chandra?
Seperti ada gemuruh petir yang menggelegar dalam hati Dewi.
Tanpa kata, Dewi meluruhkan air mata yang kesekian kalinya.
"Benarkah?", Tanya Dewi lirih.
"Ya..... tentu saja.
Aku dan Lita.... kami semakin dekat belakangan ini".
Ungkap Chandra tanpa perasaan.
Tangan Chandra mengancingkan kancing lengan kemejanya secara brgantian.
Matanya menerawang jauh, membayangkan beberapa hari ini komunikasi nya dengan Jelita cukup baik.
Hatinya tengah berbunga-bunga. Bahagianya terlampau tinggi. Pada akhirnya, hati sang istri lah yang terluka..
Kemana perginya cinta yang dulu Chandra agung-agungkan?
Kini..... telah sirna sudah.
Chandra mengalihkan tatapannya pada Dewi, mengernyit bingung pada istrinya yang terisak-isak.
"Istri mana yang rela suaminya menemui wanita lain di luaran sana?".
"Hei....
Bahkan dulu Jelita ku tinggal menikah denganmu saat dia hamil.
Aku hanya ingin menebus dosa masa laluku.
apa itu salah?
Salahkah aku bila aku menemuinya dan berniat hendak memulai segalanya dari awal?
Jangan manja.........
Dulu, kau bahagia saat aku meminangmu. Jadi, biarkan Jelita juga merasakan kebahagiaan yang sama sepertimu.
Jadilah bijak dan jangan egois kali ini".
Chandra berkata dengan sangat dingin.
Ia meraih dompet, ponsel, kunci mobil serta jas berwarna navy dan berlalu dari kamar tempatnya berseteru dengan istrinya baru saja.
Tidak ada lagi berpamitan......
Tidak ada lagi mencium punggung tangan.....
Tidak ada lagi kecup kening mesra seperti dulu......
Tidak ada lagi kata lembut yang menggaung menentramkan hati.......
Yang ada hanya sakit dan luka tak berkesudahan.
Dewi meluruh ke lantai.
Menyulam luka dan merangkai duka, hingga tersusun menjadi susunan derita tiada batas.
"Bunuh aku saja dengan tanganmu, mas Chandra....
Dari pada aku harus hidup menyaksikan kehancuran rumah tangga kita.
Itu jauh lebih baik bagiku."
Batin Dewi meronta......
🍁🌺🍁