NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Hannah

Di Balik Cadar Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.

Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.

Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menikmati Waktu Bersama Riri

Sudah dua hari Hannah tidak memberi kabar. Pesan yang dikirim Faz tak kunjung mendapat balasan. Bahkan, ketika ia mencoba menghubungi nomor Hannah, tidak ada jawaban.

Faz mulai bertanya-tanya. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan perempuan itu? Apakah ada sesuatu yang membuat Hannah menghilang begitu saja? Atau jangan-jangan, semua ini ada hubungannya dengan pemotretan dua hari lalu?

Sejak kejadian itu, sikap Hannah memang terasa berbeda. Namun, Faz tidak menyangka perempuan bercadar itu akan menghilang tanpa sepatah kata pun.

Suara bel dari depan rumah membuyarkan lamunannya. Faz beranjak untuk membuka pintu. Ia sedikit terkejut ketika mendapati Alya berdiri di hadapannya.

“Halo, Faz.”

Faz menatap perempuan itu sekilas sebelum bertanya, “Ada perlu apa kamu ke sini?”

Alya mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa? Aku nggak boleh main ke rumah tunanganku sendiri?”

“Al, bukankah aku sudah bilang kalau kita bukan tunangan lagi?”

“Itu menurutmu, Faz. Aku sendiri nggak pernah menganggap hubungan kita sudah berakhir.”

Faz mengembuskan napas pelan. Pembicaraan yang sama lagi. Entah sudah berapa kali ia mencoba menjelaskan keputusan itu kepada Alya, tetapi perempuan itu selalu memiliki jawaban untuk menepisnya.

“Oh iya, aku juga sedikit kecewa sama kamu,” ujar Alya tiba-tiba.

“Kecewa soal apa lagi?”

“Kemarin, kamu bahkan nggak memperkenalkan aku sebagai tunanganmu.”

Faz mengernyit. “Apaan sih, Al? Kita sudah membicarakan masalah ini baik-baik. Kenapa kamu terus mengungkitnya?”

Alya tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan wajah Faz dengan saksama, seolah sedang mencari sesuatu dari sorot matanya.

“Faz, apa kamu sedang menyukai seseorang?”

Faz terdiam sesaat, lalu menatap Alya dengan curiga.

“Kenapa kamu malah menyelidikiku?”

“Aku cuma bertanya.” Alya menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu. “Aku melihat sorot matamu berbeda ketika memandang Hannah.”

Faz menghela napas. “Itu hanya urusan pekerjaan, Al. Hannah fotografer yang sedang membantuku. Wajar kalau aku memperhatikan pekerjaannya.”

“Benarkah?”

“Tentu saja.”

Alya tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak benar-benar mencapai matanya.

“Kamu kenal Hannah sejak kapan?”

“Sekitar dua minggu yang lalu. Memangnya kenapa?”

Alya terdiam beberapa saat sebelum kembali bertanya, kali ini dengan nada yang lebih hati-hati.

“Kamu benar-benar nggak ingat kalau sebelumnya pernah bertemu dengannya?”

Faz mengerutkan kening.

“Maksudmu, aku pernah bertemu Hannah sebelum ini?”

“Iya. Sepertinya aku pernah melihatmu bersamanya.”

“Kapan?”

Alya menggeleng pelan. “Sepertinya waktu kelulusan ku. Entahlah. Tapi yang jelas, waktu itu dia belum bercadar.”

Faz menatap Alya lebih serius. Ada sesuatu dalam ucapan perempuan itu yang membuatnya merasa tidak nyaman.

“Mungkin kamu salah orang.”

“Aku nggak mungkin salah mengenali Hannah. Dia teman SMA-ku, Faz.”

Faz terdiam.

Teman SMA?

Ia tidak pernah mendengar Hannah bercerita tentang teman-teman lamanya. Bahkan, selama dua minggu mengenalnya, Faz merasa perempuan itu selalu menyimpan jarak antara dirinya dan orang lain. Ada bagian dari hidup Hannah yang seolah sengaja dikunci rapat-rapat.

“Tapi, sekarang Hannah malah nggak bisa dihubungi,” lanjut Alya.

Faz spontan menegakkan tubuhnya.

“Kamu menghubunginya?”

“Iya. Kemarin, waktu pemotretan, aku sempat meminta nomor teleponnya.”

Faz hanya mengangguk pelan. Ia sendiri sudah mencoba menghubungi Hannah berkali-kali, tetapi hasilnya tetap sama.

“Aku juga nggak bisa menghubunginya,” jawab Faz akhirnya.

Kali ini, nada cemasnya tak bisa disembunyikan.

Alya menangkap perubahan itu. Namun, ia tidak segera menanggapinya.

“Apakah kamu tahu sesuatu?” tanya Faz.

Alya menggeleng.

Ada sesuatu yang sebenarnya ingin ia katakan. Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia belum memiliki cukup bukti untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Ingatannya tentang malam itu pun tidak sepenuhnya utuh. Ia hanya mengingat beberapa potongan kejadian sebelum semuanya menjadi kabur karena dirinya terlalu banyak minum.

Alya tidak ingin membuka sesuatu yang belum tentu benar.

Setidaknya, belum sekarang.

“Kalau begitu, kabari aku kalau kamu berhasil menghubunginya,” ujar Alya sebelum beranjak pergi.

Faz mengangguk singkat.

Namun, setelah pintu tertutup, pikirannya justru semakin dipenuhi pertanyaan.

Siapa sebenarnya Hannah bagi Alya?

Dan mengapa perempuan itu tampak begitu yakin bahwa Faz pernah mengenal Hannah sebelum dua minggu yang lalu?

---¤---

Di sebuah vila sederhana di tepi pantai, suara ombak terdengar bergulung-gulung, sesekali memecah kesunyian pagi. Angin laut berembus lembut, membawa hawa dingin yang membuat secangkir teh hangat terasa semakin nikmat.

Hannah duduk di teras sambil membaca sebuah buku. Sesekali, ia mengangkat cangkirnya untuk menyeruput teh sebelum kembali menelusuri baris demi baris tulisan di hadapannya.

Sementara itu, Riri sibuk di dapur menyiapkan sarapan.

Kalau soal memasak, Riri memang tidak perlu diragukan lagi. Berbeda jauh dengan Hannah, yang kemampuan memasaknya sering kali membuat orang lain berpikir dua kali sebelum menyentuh makanan buatannya.

Bukan karena Hannah tidak pernah mencoba. Ia hanya belum berhasil membuat kegiatan memasak berakhir dengan hidangan yang layak disantap.

Sejak menerima pesan WhatsApp terakhir dari Alya, Hannah memutuskan untuk menenangkan diri di vila milik Riri. Ia membutuhkan waktu untuk berpikir tanpa gangguan, jauh dari studio, pekerjaan, dan segala sesuatu yang mengingatkannya pada kejadian beberapa hari terakhir.

Terutama Alya.

Pesan perempuan itu masih terbayang jelas dalam pikirannya. Ada begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab, begitu banyak kemungkinan yang membuatnya sulit merasa tenang.

Haruskah ia menghadapi Alya?

Haruskah ia menceritakan semuanya kepada Riri?

Atau, seperti yang selama ini ia lakukan, kembali menyimpan semuanya sendirian?

Hannah menutup bukunya sejenak. Pandangannya beralih ke laut yang terbentang di hadapannya.

Ia sudah terlalu lama berusaha melupakan masa lalu. Namun, kini ia mulai takut bahwa masa lalu itu sedang berusaha menemukannya kembali.

“Han! Sarapannya sudah siap!”

Teriakan Riri dari arah dapur membuyarkan lamunannya.

Hannah melirik jam di pergelangan tangannya.

“Masih pagi, Ri. Kenapa harus sarapan sekarang?”

“Pagi dari mana?” sahut Riri. “Coba lihat matahari itu! Sudah mulai meninggi. Jam segini kamu masih duduk manis sambil baca buku.”

“Sebentar lagi, deh.”

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat. Riri muncul di ambang pintu dengan kedua tangan bertolak pinggang.

“Ayolah, Han. Habis sarapan kita jalan-jalan. Oke?”

Hannah mendongak, lalu menghela napas panjang.

“Aduh, kenapa nggak dari tadi bilangnya? Mending kita makan di luar saja, terus langsung jalan-jalan.”

“Enak saja!” Riri mendengus geli. “Masak jajan terus. Aku sudah bikin nasi gurih lengkap dengan lauknya. Kamu pasti suka. Lagian, di sekitar sini nggak ada yang jual makanan seperti ini.”

Hannah melirik ke arah meja makan yang terlihat dari pintu.

“Apa saja lauknya?”

“Nah, mulai tertarik, kan?” Riri terkekeh. “Sudah, sana cuci tangan dulu. Nanti keburu dingin.”

Hannah akhirnya menyerah. Ia meletakkan buku di atas meja, lalu beranjak mengikuti Riri masuk ke dalam.

“Baiklah, baiklah. Aku makan.”

“Begitu dong. Dari tadi dipanggil susahnya minta ampun.”

Mereka pun duduk berhadapan dan mulai menikmati sarapan. Nasi gurih buatan Riri ternyata benar-benar menggugah selera. Hannah bahkan menambah porsi setelah suapan pertamanya.

Sesekali, keduanya bercanda dan saling melempar godaan. Untuk beberapa saat, Hannah bisa melupakan kegelisahan yang sejak kemarin membebaninya.

Namun, ketenangan itu tidak sepenuhnya menghapus pikirannya tentang Alya.

Hari ini, ia hanya ingin beristirahat. Ia bahkan mematikan ponselnya. Ia ingin menikmati waktu bersama Riri tanpa harus memikirkan apa yang mungkin terjadi setelah ini.

Sayangnya, Hannah belum tahu bahwa di tempat lain, dua orang sedang berusaha mencari tahu keberadaannya.

Dan salah satunya adalah laki-laki yang selama dua hari terakhir terus memikirkan dirinya.

Sementara yang lain menyimpan potongan masa lalu yang mungkin akan mengubah segalanya.

1
naar0rrrr
lanjutt yaa kakk, semangatt💪 jangan lupa mampir cs ku yakk/Smile/
naar0rrrr
Hannah kayak nya bingung mau jawab apa ya..
naar0rrrr
kenapa faz nya gak jujur ya?
naar0rrrr
lanjuttt kakk, semngatttt
naar0rrrr
di ingetinn dongg, lanjutt yaa kaaa
naar0rrrr
lanjutttt thorrrrr
Putry Chan
kmu ingin mempertemukan hannna Dengan masa lalu nya apakah mereka ini gak tau
Putry Chan
berdoa dulu insyaallah aman kok
Putry Chan
faz itu masa lalu Hannah btw mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Hannah kamu knp
Putry Chan
Hannah kamu kenal dia
aefpe fp
mampir juga ya...sesama pemula ini😍
jinggaarundari
yahhhh gantung.... lanjut terus kaa😍😍
jinggaarundari
ya ampun Hannah...
jinggaarundari
Faz cek lagi ke RS bikin dejavuu akuu, baru awal udh deep 🫠
semangat terus kaa😍😍
Renjana
pertemuan dengan siapa tu?🤭
R: dengan masa lalu 🤭
total 1 replies
Renjana
bagus kak,
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!