Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Malam semakin larut. Setelah percakapannya dengan Jovan berakhir, Darren masih berada seorang diri di ruang kerja. Lampu meja menjadi satu-satunya penerangan di ruangan itu. Tatapannya kosong menatap dokumen-dokumen yang tergeletak di atas meja. Namun tidak satu pun tulisan di sana yang benar-benar mampu ia baca. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama, yaitu Serina. Wanita yang pernah menjadi cinta pertamanya. Wanita yang selama bertahun-tahun hanya mampu ia simpan dalam ingatan.
Dan sekarang... Adiknya sendiri ingin menikahinya.
Darren mengusap wajahnya kasar. "Kenapa harus seperti ini?" Ia tertawa kecil, tetapi terdengar getir.
"Aku bahkan baru saja berniat untuk kembali mendekatinya." Darren menundukkan kepalanya.
Ia masih mengingat Serina ketika mereka masih sekolah. Gadis yang selalu duduk di bangku dekat jendela. Gadis yang sering membawa buku terlalu banyak hingga hampir terjatuh ketika berjalan. Gadis yang dulu pernah memberinya sebuah saputangan ketika lututnya terluka saat bermain basket. Hal-hal kecil yang mungkin sudah dilupakan Serina.
Namun bagi Darren... Semuanya masih tersimpan jelas. Dan sekarang wanita itu telah menjadi seorang ibu, Seorang janda, seorang wanita yang sedang berusaha membesarkan putranya seorang diri.
Darren menghela napas. "Aku terlambat..."
*
*
Keesokan harinya.
Darren akhirnya memutuskan untuk menemui Serina.
Bukan untuk menyatakan perasaan. Bukan untuk menghalangi Jovan. Ia hanya ingin memastikan keadaan wanita itu setelah semua rumor yang menyerangnya.
Mobil Darren berhenti tidak jauh dari rumah kontrakan Serina. Pria itu turun dan berjalan menuju rumah sederhana tersebut. Namun sebelum mengetuk pintu, ia sempat melihat Serina sedang menjemur pakaian di halaman. Wanita itu mengenakan pakaian sederhana. Rambutnya diikat. Wajahnya terlihat lelah, tetapi ia tetap berusaha tersenyum ketika melihat Farel bermain di teras.
Darren terdiam. Pemandangan sederhana itu justru membuat dadanya terasa sesak.
"Masih sama... Dia masih menjadi Serina yang dulu." gumamnya pelan
Darren akhirnya mengetuk pagar. Serina pun menoleh.
"Pak Darren?"
Darren tersenyum. "Maaf mengganggu."
Serina segera menghampiri. "Tidak apa-apa. Silakan masuk."
Darren melangkah masuk. Farel yang sedang bermain langsung berlari menghampirinya.
"Om Darren!" Darren tersenyum dan mengusap kepala anak itu.
"Halo, jagoan."
"Om datang sama Om Jovan?"
Pertanyaan itu membuat Darren terdiam sesaat.
Serina juga terlihat sedikit canggung. "Tidak," jawab Darren akhirnya. "Om datang sendiri."
Farel mengangguk. "Oh..."
Anak itu kemudian kembali bermain. Darren dan Serina duduk di kursi teras. Beberapa detik mereka hanya diam.
"Ada apa, Pak Darren?" tanya Serina.
Darren menatapnya. "Aku hanya ingin memastikan keadaanmu."
Serina tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja."
"Benarkah?"
Serina terdiam.
Darren melanjutkan, "Aku dengar masih ada orang-orang yang membicarakanmu di tempat kerja."
Serina menundukkan wajahnya. "Sudah biasa."
"Serina..."
"Aku tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain katakan."
Ia tersenyum getir. "Yang bisa aku lakukan hanya bekerja dan mengurus Farel."
Darren menatap wanita itu dengan tatapan penuh perhatian. "Kau tidak perlu merasa bersalah atas semua itu."
Serina mengangkat wajahnya. "Kenapa Bapak mengatakan itu?"
"Karena kau memang tidak melakukan kesalahan."
Serina terdiam. Darren menarik napas panjang.
"Dan mengenai Jovan..."
Nama itu membuat Serina sedikit menegang.
"Kenapa dengan Jovan?"
Darren menatap halaman. "Dia benar-benar ingin melindungimu."
Serina tersenyum tipis. "Aku tahu."
"Dia sudah mengatakan kepadamu tentang keinginannya menikahimu?"
Serina terdiam. Kemudian mengangguk. "Sudah."
Darren merasakan dadanya kembali sesak. Namun ia menyembunyikannya. "Dan apa jawabanmu?"
Serina menghela napas. "Aku belum memberikan jawaban."
Darren menatapnya. "Kenapa?"
Serina terdiam cukup lama. "Aku masih mencintai almarhum suamiku."
Darren menundukkan pandangannya. "Aku tahu."
"Aku juga takut." jawab Serina
"Takut?" tanya Daren
"Takut jika aku menerima Jovan, orang-orang akan berpikir aku melupakan Riki."
Darren segera menggeleng. "Menikah lagi bukan berarti melupakan seseorang."
Serina menatapnya. Darren tersenyum tipis.
"Orang yang sudah pergi akan tetap punya tempatnya sendiri di hati kita."
Serina terdiam. Kata-kata itu membuat matanya berkaca-kaca. Darren melanjutkan dengan suara lembut.
"Riki adalah ayah Farel. Dia adalah bagian dari masa lalumu. Tidak ada seorang pun yang bisa menghapus itu."
Serina menundukkan wajahnya. "Terima kasih."
Darren mengangguk. Namun kemudian Serina berkata,
"Pak Darren..."
"Hmm?"
"Kenapa Bapak selalu baik kepada saya?"
Pertanyaan itu membuat Darren membeku. Ia menatap mata Serina. Ada begitu banyak jawaban yang ingin ia berikan. Karena sejak dulu aku mencintaimu. Karena aku tidak pernah benar-benar melupakanmu. Karena ketika melihatmu lagi, perasaanku kembali.
Namun tidak satu pun kalimat itu keluar. Darren hanya tersenyum.
"Karena kau adalah orang yang sedang membutuhkan dukungan."
Serina mengangguk. "Oh..."
Darren mengalihkan pandangannya. Ia tidak sanggup menatap terlalu lama. Karena semakin lama ia menatap wanita itu, semakin sulit baginya menyembunyikan perasaannya.
Tiba-tiba Farel berlari menghampiri mereka. "Om Darren!"
Darren menoleh. "Ada apa?"
"Farel mau tanya."
"Tanya apa?"
Farel duduk di samping Darren. "Kalau Om Jovan menikah sama Bunda..."
Darren terdiam, sedangkan Serina langsung menatap putranya. "Farel..."
"Tapi Farel cuma mau tanya."
Darren tersenyum tipis. "Silakan."
Farel menatap Darren dengan polos.
"Om Darren bakal datang ke pernikahannya?"
Darren kembali terdiam, Serina menjadi terlihat canggung.
Darren akhirnya tersenyum. "Tentu."
"Om Darren senang kalau Bunda menikah sama Om Jovan?"
Pertanyaan itu jauh lebih sulit. Darren menarik napas perlahan. Kemudian ia mengusap kepala Farel.
"Kalau Bunda bahagia, Om juga bahagia."
Serina menatap Darren. Ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang membuatnya merasa aneh. Namun ia tidak tahu apa.
Darren kemudian berdiri. "Aku harus pergi."
"Pak Darren mau pulang?"
"Iya." Darren menatap Farel. "Jaga Bunda baik-baik, ya."
Farel mengangguk. "Siap!"
Darren tersenyum. Kemudian ia menatap Serina.
"Serina."
"Iya?"
"Jangan mengambil keputusan karena tekanan siapa pun."
Serina mengangguk.
"Ambillah keputusan yang benar-benar membuat hatimu tenang."
Setelah mengatakan itu, Darren berbalik dan berjalan menuju mobil. Namun sebelum masuk, ia berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah rumah kecil tersebut.
Serina masih berdiri di depan pintu. Mata mereka bertemu.
Darren tersenyum dan Serina membalasnya. Kemudian Darren masuk ke dalam mobil.
Begitu pintu tertutup, senyum di wajahnya perlahan menghilang. Ia menatap lurus ke depan. Tangannya menggenggam kemudi.
Serina...
"Kalau aku jujur kepadamu sekarang, apa yang akan terjadi?"
Darren menghela napas.
"Tidak. Bukan sekarang." Ia menutup mata sesaat.
Jovan sudah lebih dulu datang kepadamu. Dan aku tidak akan menghancurkan kesempatan adikku hanya demi perasaanku sendiri.
Sementara itu, di rumah kontrakan...
Serina masih berdiri di depan pintu. Ia menatap mobil Darren yang perlahan menjauh. Ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan. "Kenapa Pak Darren selalu seperti itu?" Serina mengerutkan keningnya.
Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja pergi itu sedang menyembunyikan perasaan yang telah bertahun-tahun ia simpan.
Di tempat lain, Jovan baru saja keluar dari rumah keluarganya. Ia memegang ponselnya. Nama Serina tertera di layar. Jovan menatapnya cukup lama. Kemudian ia menarik napas.
"Haruskah aku menelepon?" Ia ragu.
Namun akhirnya jarinya menekan tombol panggil.
Tidak lama kemudian, suara Serina terdengar dari seberang.
"Halo?"
Jovan tersenyum kecil. "Halo, Serina."
"Iya?"
"Aku mau datang."
"Ke rumah?"
"Iya."
Serina terdiam. "Ada apa?"
Jovan menatap jalan di depannya. "Aku ingin membicarakan sesuatu."
"Jangan bilang soal pernikahan lagi."
Jovan terkekeh kecil. "Justru itu yang ingin aku bicarakan."
Serina menghela napas. "Jovan..."
"Aku tahu." Nada suara Jovan berubah lebih lembut.
"Aku nggak akan memaksamu."
"Lalu?"
"Aku cuma ingin memberimu satu alasan lagi untuk mempertimbangkan keputusanku."
Serina terdiam, sedangkan Jovan tersenyum tipis.
"Dan kali ini, aku ingin bicara bukan sebagai orang yang pernah terlibat dalam kecelakaan itu."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi sebagai seorang pria yang ingin berdiri di sampingmu."
Jantung Serina berdetak sedikit lebih cepat. Namun sebelum ia sempat menjawab, Jovan sudah berkata,
"Aku datang sore nanti."
Telepon pun terputus. Serina hanya bisa memandangi layar ponselnya. Sementara Jovan menatap jalan di depannya. Untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari sesuatu. Keinginannya untuk menikahi Serina mungkin bukan lagi sekadar tentang rumor. Bukan hanya tentang Farel. Bukan hanya tentang rasa bersalah, namun ada sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang perlahan tumbuh tanpa ia sadari. Dan semakin ia mencoba menyangkalnya...
semakin jelas perasaan itu terasa.
Bersambung...
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
Awal cerita sudah sedih .... 😭