NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meretas Macet Dalam Gengaman

Jarum jam di layar ponselku sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB ketika aku duduk di bangku beton halte depan kampus. Angin sore berhembus agak kencang, menerbangkan beberapa helai rambutku. Di sebelahku, Rara setia menemani sembari sesekali melirik ke arah jalanan raya yang sudah mulai dipadati oleh lautan kendaraan. Arus lalu lintas sore itu benar-benar merayap, khas jam pulang kantor kota besar yang melelahkan.

"Vi, si Arga beneran bisa jemput lu jam segini?" tanya Rara sambil mengipasi wajahnya dengan buku catatan kuliah.

"Lihat tuh jalanan, macetnya udah kayak antrean sembako. Dari tadi mobil-mobil di depan kita boro-boro jalan, gerak sedetik aja sujud syukur."

Aku meremas tali tas kainku, ikut menatap jengah ke arah kepulan asap knalpot di depan.

"Dia bilang sih mau jemput, Ra. Tadi pas jam istirahat siang dia sempat chat pendek nyuruh gue tetep nunggu di sini."

"Ya semoga aja dia gak tua di jalan," cibir Rara, namun sedetik kemudian dia menyengir lebar saat sebuah mobil hitam mewah yang sangat kami kenali perlahan merapat ke tepi halte tempat kami berada.

Kaca mobil diturunkan, menampilkan wajah tampan Arga yang tampak sedikit lelah namun matanya langsung mengunci posisi dudukku. Pria itu menekan tombol pembuka kunci pintu otomatis dari dalam.

"Shavia, masuk," panggil Arga dengan suara baritonnya yang berat.

"Nah, pangeran lu udah jemput. Gue duluan ya, Vi. Selamat terjebak macet romantis!" goda Rara heboh sambil melambaikan tangan, langsung berbalik arah menuju pangkalan ojek online di sudut gang, tanpa memberiku kesempatan untuk membalas ejekannya.

Aku nyengir canggung, lalu buru-buru membuka pintu mobil dan mendudukkan diriku di samping Arga. Begitu pintu tertutup, hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut kulitku, kontras dengan hawa panas jalanan di luar.

"Hai, Arga," sapaku dengan senyuman manis yang tertahan di bibir.

"Hai," sahut Arga pendek. Pria itu mengulas senyuman tipis yang sangat samar sebelum kembali menginjak pedal gas perlahan, membawa mobil kami masuk kembali ke dalam barisan kemacetan yang luar biasa padat.

"Sorry agak lama. Jalanan dari kampus gue bener-bener gak bergerak."

"Gak apa-apa kok, Arga. Aku juga baru keluar kelas sekitar lima belas menit yang lalu," jawabku santai.

Namun, dugaan Rara ternyata benar-benar menjadi kenyataan yang pahit. Tiga puluh menit berlalu, mobil hitam Arga hanya berhasil maju sejauh seratus meter. Di depan kami, deretan lampu rem berwarna merah menyala statis bagai pajangan. Klakson kendaraan sesekali bersahut-sahutan, menciptakan atmosfer sore yang sangat menjengkelkan bagi siapa pun yang terjebak di dalamnya.

Aku melirik Arga yang mulai menghembuskan napas panjang beberapa kali. Pria itu berulang kali membetulkan posisi duduknya, menatap jengkel ke arah papan penunjuk jalan di depan, yang masih sangat jauh dari rute kosanku.

"Sumpah, ini macetnya gak masuk akal," gumam Arga ketus, mengetuk-ngetuk setir mobil dengan jari-jarinya. Pria itu mendadak menoleh ke arahku, menatap perutku sekilas.

"Lu... udah laper belum?"

Aku tertegun sejenak, lalu refleks memegangi perutku yang memang sudah mulai mengeluarkan suara keroncongan halus sejak keluar kelas tadi. Aku meringis canggung.

"Eh... sebenarnya agak laper sih, hehe. Kan terakhir makan pas jam istirahat siang tadi."

Arga terdiam berpikir sejenak, mata tajamnya menyapu ke arah deretan ruko pertokoan di pinggir jalan raya. Tepat di sebelah kiri kami, sebuah restoran keluarga bernuansa kayu yang hangat terlihat cukup ramai namun memiliki area parkir yang memadai.

Dengan gerakan nekat yang sangat tiba-tiba, Arga langsung memutar setir ke kiri, memotong jalur sebuah motor, dan membawa mobilnya masuk ke dalam area parkir restoran tersebut.

"Eh...Arga. Kita mau ngapain ke sini?" tanyaku bingung saat pria itu mematikan mesin mobil sepenuhnya.

Arga melepaskan sabuk pengamannya, lalu menoleh menatapku dengan tatapan mantap yang tidak menerima bantahan.

"Daripada kita berdua stres dan mati kelaparan di dalam mobil yang gak bergerak, mending kita makan dulu di sini. Nanti kalau jalanan udah agak lowong, baru kita lanjut pulang. Yuk, turun."

Aku terpaku selama beberapa detik, tidak menyangka gunung es yang biasanya sangat teratur dan kaku ini, bisa mengambil keputusan senekat dan seimpulsif ini demi kenyamanan perutku. Rasa hangat yang luar biasa manis langsung menjalar hebat di dalam dadaku.

Begitu kami turun dari mobil, Arga melangkah lebar menyejajarkan posisinya di sampingku. Sebelum aku sempat merapikan tali tas kainku, sebuah telapak tangan yang besar, hangat, dan terasa begitu kokoh mendadak menyusup di sela-sela jariku. Arga menggandeng jemari tanganku dengan erat, menuntunku berjalan melewati kerumunan parkiran menuju pintu masuk restoran.

Deg.

Jantungku melompat kegirangan, bertalu-talu lebih kencang dari biasanya. Aku menunduk menatap tautan tangan kami, lalu beralih menatap profil samping wajah Arga yang masih terlihat lempeng dan datar, seolah menggandeng tanganku di depan umum adalah hal paling normal yang biasa dia lakukan setiap hari.

Kami memilih meja kosong di sudut ruangan dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah kemacetan jalan raya. Begitu seorang pelayan datang mengantarkan buku menu, sifat perhatian Arga yang selama ini tersembunyi mulai keluar seutuhnya.

"Lu mau makan apa, Shavia?" tanya Arga lembut, membuka lembaran menu di depannya.

"Inget ya, jangan pesan apa pun yang ada warna cabainya. Pilih yang bener-bener aman buat lambung lu."

Aku tertawa kecil melihat sifat protektifnya yang mendadak itu.

"Iya, Kapten Arga. Aku mau pesan Nasi Goreng Seafood aja deh, tapi request ke masnya jangan pakai cabai atau lada sama sekali. Minumnya es teh manis."

"Oke," Arga mengangguk paham, lalu menoleh ke arah pelayan di samping meja.

"Mas, Nasi Goreng Seafood satu, gak pakai cabai atau lada sama sekali ya. Terus buat saya, Sapi Lada Hitam satu, nasinya satu, sama es teh manisnya dua."

Setelah pelayan itu pergi membawa catatan pesanan kami, suasana di antara kami berdua terasa jauh lebih santai dibandingkan momen di dalam mobil tadi. Kami mulai menceritakan hal-hal lucu yang terjadi di kampus kami masing-masing sepanjang hari ini.

Aku menceritakan betapa hebohnya Rara yang menginterogasiku di kantin subuh tadi, sementara Arga menceritakan kebodohan Joni yang salah memakai sepatu basket sebelah kanan semua saat latihan fisik pagi tadi.

Tawa renyahku berkali-kali pecah mendengarkan cerita Arga yang ternyata bisa bersikap sangat asyik dan humoris jika benteng dinginnya sudah runtuh sepenuhnya.

Kringgg... Kringgg...!

Di pertengahan obrolan seru kami, ponsel Arga yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat. Nama 'Alya si Bawel' terpampang jelas di layar digital. Arga menghembuskan napas panjang dengan jengkel, langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel tersebut ke telinganya tanpa mengubah fungsinya ke loudspeaker.

Namun, karena suasana restoran tidak terlalu bising, suara lengkingan suara tinggi adiknya dari seberang telepon masih bisa terdengar samar-samar sampai ke tempatku duduk.

"KAAAAK ARGA!!! LU DI MANA SIH?!" omel Alya berapi-api di seberang sana, suaranya terdengar sangat nyaring dan penuh emosi.

"Gue udah nungguin di depan gerbang sekolah hampir satu jam tahu gak. Katanya tadi pagi lu janji mau jemput gue sekalian pulang latihan!"

Arga refleks menjauhkan ponselnya beberapa senti dari telinga, sepasang alisnya bertaut dalam penuh kejengkelan.

"Alya, bisa gak, gak usah teriak-teriak, kuping gue bisa pecah."

"Biarin pecah. Lagian lu di mana sih?! Gak kasihan apa lihat adek lu yang cantik ini jamuran di pinggir jalan?!" cecar Alya lagi tanpa ampun.

"Gue terjebak macet total di dekat jalan protokol kampus sebelah," jawab Arga datar, suaranya kembali dingin khas Tuan Protokol.

"Gue gak bisa jemput lu sore ini. Mobil gak bergerak sama sekali dari tadi."

Aku yang duduk di hadapannya hanya bisa membekap mulut dengan kedua tanganku, menahan tawa sebisa mungkin agar tidak mengganggu perdebatan sengit sepasang kakak-beradik yang sangat menggemaskan itu.

"Hah?! Bohong banget!" sahut Alya sansi dari seberang sana, nadanya mendadak berubah penuh selidik yang tajam.

"Jangan-jangan... lu lagi keluyuran ya bareng Kak Via. Lu sengaja kan numbalin adek lu sendiri, demi bisa pacaran romantis kan?!"

Wajah Arga yang biasanya sedatar papan tulis seketika memerah padam dalam hitungan detik setelah mendengar tuduhan adiknya yang terlalu tepat sasaran.

Pria itu melirikku sekilas dengan salah tingkah, lalu buru-buru memotong kalimat Alya dengan suara yang ditekan penuh ancaman.

"Alya Wijaya, gak usah ngaco lu ya. Gue beneran gak bisa jemput karena jalanan macet. Sekarang lu buru-buru buka aplikasi, pesan ojek online aja, Ongkosnya nanti biar gue transfer nanti."

"Ih, males banget naik ojek sore-sore gini. Panas tahu!" gerutu Alya manja.

"Pesan sekarang atau semua jatah uang jajan tambahan lu bulan depan buat gue semua," ancam Arga mutlak tanpa ampun.

Mendengar ancaman dari kakaknya yang seorang diktator itu, Alya di seberang sana akhirnya mendengus pasrah dengan suara yang sangat kesal.

"Iya, iya... Dasar cowok jahat, monster es kaku. Gue pesan ojek sekarang. Awas ya lu kalau pulang rumah nanti!"

Pip.

Panggilan diputus sepihak secara kasar oleh Alya. Arga menurunkan ponselnya dari telinga dengan helaan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi, menaruh kembali benda pipih itu ke atas meja dengan ketukan agak keras.

Aku tidak bisa menahan tawa renyahku lagi. Bahuku berguncang hebat karena saking gelinya melihat wajah Arga yang masih memerah padam karena salah tingkah setelah didebat dengan adiknya sendiri.

"Hahaha! Astaga, Arga... kalian berdua beneran lucu banget deh kalau lagi teleponan. Komunikasi kalian tuh unik banget."

Arga melirikku dengan tatapan jengkel yang dibuat-buat, namun ada gurat kedamaian yang terpancar di matanya saat melihat tawa lepas dariku.

"Lucu dari mananya. Si Alya itu emang bawaannya bikin pusing kepala setiap hari. Suka asal mangap kalau ngomong."

"Tapi ucapan Alya tadi ada benernya sedikit loh," godaku jail, menopang dagu dengan kedua tangan sambil memicingkan mata ke arahnya.

"Kita emang beneran lagi makan bareng berdua di sini gara-gara kemacetan jalanan, kan?"

Arga terdiam seribu bahasa, kehabisan kata-kata untuk membalas godaanku. Pria itu memilih pura-pura sibuk merapikan posisi sendok dan garpu di atas meja untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang semakin ketara.

Tak lama kemudian, pesanan makanan kami akhirnya datang. Kami menikmati hidangan sore itu dengan penuh ketenangan. Sesuai janjiku untuk menjadi teman yang baik, aku memastikan obrolan kami tetap berjalan santai tanpa menuntut batasan apa pun.

Setelah selesai makan bersama dan menyelesaikan pembayaran di kasir, kami melangkah keluar dari restoran keluarga tersebut.

Udara malam hari kota mulai terasa menusuk kulit, langit di atas kepala kami sudah berubah menjadi gelap gulita bertabur bintang yang samar.

Kami kembali masuk ke dalam kabin mobil hitam mewah milik Arga. Begitu mesin dinyalakan dan mobil bergerak kembali memasuki jalan raya utama, suasana arus lalu lintas sore yang tadinya padat merayap kini sudah mulai terurai. Kendaraan di depan kami bergerak dengan arus lalu lintas yang lambat namun konstan, tidak ada lagi kemacetan statis yang menjengkelkan seperti beberapa jam lalu.

"Udah mulai lancar jalannya," ujar Arga sambil memindahkan tuas transmisi ke posisi berkendara, melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan sedang membelah kegelapan malam.

"Iya, untung tadi kamu nekat ngajak makan dulu ya, Arga. Kalau enggak, kita pasti masih stres terjebak di tengah jalan tadi," jawabku dengan senyuman tulus, menyandarkan punggungku ke sandaran kursi yang empuk.

Arga tidak menyahut dengan kalimat panjang, namun telapak tangan kanannya yang hangat kembali bergerak perlahan ke arah kiri, menggenggam erat jemari tangan kiriku di atas tuas transmisi mobil sepanjang perjalanan pulang kami. Sebuah kehangatan nyata yang menyalurkan rasa aman yang luar biasa ke dalam ulu hatiku.

Mobil hitam Arga melaju konstan menembus malam, bergegas berjalan untuk mengantarkanku kembali pulang menuju pekarangan rumah kosanku yang sudah mulai dekat di depan mata. Hari kesepuluh dari taruhan satu bulan kami telah ditutup dengan sebuah memori nyata yang teramat sangat indah, membuktikan bahwa retakan di dinding es sekeliling Arga Wijaya kini telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh debar nyata yang siap menuntun langkah kami berdua menuju masa depan yang sebenarnya.

1
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!