⚠️ PERINGATAN
Jika pembaca hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab, di hitung sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye: 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Atau Baca di judul Bab contoh:
[POV FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]
[POV FRAGMEN KEDUA: GU MOYUAN]
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebenc
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKUTU YANG BELUM SALING PERCAYA [FRAGMEN KEENAM: MO WUXIN]
Mo Wuxin membutuhkan waktu tiga bulan untuk menemukan cara menghubungi Jing Mo—organisasi yang menyebut dirinya Penjaga Kesunyian hidup persis sesuai namanya, tidak meninggalkan jejak yang bisa dilacak dengan mudah, bahkan oleh seseorang yang terlatih membaca jiwa dan mimpi.
Ia akhirnya menemukan jalan lewat cara yang tidak terduga: meninggalkan pesan di mimpi seorang tetua di sebuah kuil kecil yang, berdasarkan intuisinya, mungkin punya hubungan tersembunyi dengan organisasi itu. Pesan itu sederhana—permintaan untuk bertemu, bukan untuk berkonfrontasi lagi, tapi untuk berbicara.
Jing Mo muncul seminggu kemudian, di kedai teh yang sama tempat mereka pertama kali berhadapan, dengan ketenangan yang sama seperti sebelumnya.
"Aku tidak menduga kau akan mencariku," ia berkata, duduk di seberang Mo Wuxin tanpa diundang. "Aku menduga kau akan terus mencari jawabanmu diam-diam, seperti yang kukatakan boleh kau lakukan."
---
"Aku bertemu seseorang bernama Xu Ming, di sebuah kota bernama Yunhe," Mo Wuxin berkata, tanpa berputar-putar lagi. "Ia mengaku sebagai salah satu dari tujuh fragmen. Ratusan orang mempercayainya, mengorbankan tanah dan tabungan mereka untuk 'berkah'-nya."
"Aku tahu tentang Xu Ming," Jing Mo berkata, tidak terkejut sedikit pun. "Kami sudah mengawasinya selama enam bulan."
"Dan kalian tidak melakukan apa pun?" Mo Wuxin bertanya, tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang mendekati kemarahan.
"Kami sedang menyusun cara paling efektif untuk membubarkan pengaruhnya tanpa menciptakan kekacauan yang lebih besar daripada yang sudah ada," Jing Mo berkata. "Membongkarnya secara paksa dan mendadak sering kali membuat pengikut yang paling setia justru semakin fanatik, meyakini penindasan itu sendiri sebagai bukti kebenaran ajaran mereka."
---
Ini bukan jawaban yang membuat Mo Wuxin merasa lebih baik, tapi juga bukan jawaban tanpa logika.
"Aku sudah mencoba caraku sendiri," ia berkata. "Mendekati beberapa pengikutnya secara personal, membuka celah keraguan tanpa konfrontasi terbuka. Sebagian berhasil. Sebagian tidak."
"Kami tahu itu juga," Jing Mo berkata. "Kami mengawasimu di Yunhe."
Mo Wuxin menatapnya, menyadari betapa luas jangkauan pengawasan organisasi ini, dan betapa sedikit yang sebenarnya ia ketahui tentang mereka dibandingkan dengan yang mereka ketahui tentangnya.
---
"Aku datang untuk mengusulkan sesuatu," Mo Wuxin akhirnya berkata. "Kalian menyembunyikan pengetahuan ini sepenuhnya, berharap itu mencegah kekacauan. Tapi kekacauan tetap terjadi—Xu Ming membuktikannya, dan aku curiga ia bukan satu-satunya. Menyembunyikan kebenaran tidak menghentikan orang menciptakan kebohongan tentangnya. Ia hanya memastikan tidak ada seorang pun yang cukup tahu untuk membedakan keduanya."
"Apa usulanmu?" Jing Mo bertanya, nadanya tetap datar tapi matanya menunjukkan perhatian yang lebih serius daripada sebelumnya.
"Berbagi pengetahuan secara selektif, dengan orang-orang yang bisa dipercaya menggunakannya bertanggung jawab," Mo Wuxin berkata. "Bukan menyebarkannya bebas. Tapi juga tidak mengunci semuanya di balik kesunyian yang hanya menciptakan ruang kosong bagi penipu untuk mengisinya."
---
Jing Mo diam lama, mempertimbangkan usulan itu dengan keseriusan yang tidak coba ia sembunyikan.
"Usulanmu punya masalah mendasar," ia akhirnya berkata. "Siapa yang memutuskan siapa yang 'bisa dipercaya'? Kami sudah mencoba pendekatan seperti itu berabad-abad lalu, sebelum kau lahir. Beberapa orang yang kami percaya ternyata menyalahgunakan pengetahuan itu untuk kepentingan mereka sendiri, persis seperti yang kami takutkan sejak awal."
"Jadi kalian menyerah sepenuhnya, dan memilih kesunyian total sebagai gantinya," Mo Wuxin berkata.
"Kami memilih risiko yang lebih kecil dan lebih terkendali, dibandingkan risiko yang lebih besar dan tidak terkendali," Jing Mo mengoreksi. "Itu bukan penyerahan. Itu perhitungan."
---
"Aku punya tawaran lain," Jing Mo melanjutkan, mengejutkan Mo Wuxin dengan mengubah arah percakapan. "Kau punya kemampuan langka untuk membaca kebenaran di balik klaim seperti Xu Ming—membedakan delusi tulus dari kebohongan sadar, membaca jiwa dengan cara yang bahkan agen terlatih kami sering kesulitan melakukannya. Bergabunglah dengan kami. Bukan sebagai bawahan penuh, tapi sebagai mitra yang membantu mengidentifikasi klaim palsu sebelum mereka berkembang seperti Xu Ming, menggunakan metodemu sendiri, dengan sumber daya dan jangkauan yang jauh lebih besar daripada yang bisa kau capai sendirian."
---
Ini bukan tawaran yang diduga Mo Wuxin akan datang hari ini.
"Dan sebagai gantinya?" ia bertanya, curiga terhadap syarat yang belum diucapkan.
"Sebagai gantinya, kau berhenti mencari jawaban tentang asal-usulmu sendiri secara terbuka," Jing Mo berkata jujur, tidak berusaha menyamarkan harga sebenarnya dari tawaran itu. "Kau akan tahu lebih banyak tentang legenda ini daripada kebanyakan orang yang pernah hidup, karena kau akan bekerja dengan arsip kami sendiri. Tapi pencarianmu akan menjadi bagian dari tujuan kami—mencegah kekacauan—bukan lagi murni pencarian pribadi tentang siapa dirimu sebenarnya."
---
Mo Wuxin duduk diam, mempertimbangkan tawaran itu dengan bobot yang lebih berat daripada yang mungkin terlihat dari luar.
Ini adalah pertukaran yang jujur: akses pada pengetahuan yang lebih luas, kemampuan untuk benar-benar mengurangi bahaya yang ia saksikan sendiri di Yunhe, ditukar dengan kebebasannya untuk mencari jawaban dengan caranya sendiri, sesuai waktunya sendiri, sesuai keingintahuannya sendiri yang selama ini menjadi bagian inti dari siapa dirinya.
"Aku butuh waktu untuk memikirkannya," ia akhirnya berkata.
"Aku menduga itu," Jing Mo berkata, berdiri untuk pergi. "Aku tidak terburu-buru mendapatkan jawabanmu. Tawaran ini akan tetap terbuka."
---
"Kenapa kau menawarkan ini padaku?" Mo Wuxin bertanya, sebelum Jing Mo sepenuhnya pergi. "Kau bisa saja terus mengawasiku dari jauh, seperti yang sudah kalian lakukan di Yunhe, tanpa perlu menawarkan kemitraan apa pun."
Jing Mo berhenti, mempertimbangkan pertanyaan itu.
"Karena mengawasimu dari jauh membutuhkan sumber daya yang bisa kami gunakan di tempat lain," ia berkata, jujur tanpa berusaha membuatnya terdengar lebih mulia dari yang sebenarnya. "Dan karena, meski aku tidak sepenuhnya mempercayaimu, aku juga melihat kau melakukan sesuatu di Yunhe yang kebanyakan agen kami tidak akan pernah pikirkan—mendekati orang-orang secara personal, menghormati pilihan mereka untuk percaya atau ragu, bukan sekadar membongkar kebenaran secara paksa. Itu metode yang bisa berguna bagi kami, kalau kau bersedia menggunakannya di bawah arahan yang lebih luas daripada dirimu sendiri."
---
Ia pergi setelah itu, meninggalkan Mo Wuxin sendirian dengan tawaran yang tidak sepenuhnya bisa ia tolak, tidak juga sepenuhnya bisa ia terima.
Menerimanya berarti akses pada jawaban yang selama ini ia cari, tapi dengan harga kehilangan kebebasan mencarinya dengan caranya sendiri. Menolaknya berarti mempertahankan kebebasan itu, tapi terus bekerja sendirian, dengan sumber daya terbatas, menyaksikan lebih banyak Xu Ming lain muncul di tempat-tempat yang bahkan tidak akan pernah ia ketahui sampai terlambat.
Ia berjalan pulang malam itu tanpa keputusan, membawa pertanyaan baru yang terasa sama beratnya dengan pertanyaan lama tentang identitas dan rumah yang sudah lama menghantuinya—kali ini bukan tentang siapa dirinya, tapi tentang apa yang bersedia ia korbankan untuk menjadi seseorang yang benar-benar berguna bagi dunia yang lebih luas daripada pencariannya sendiri.