Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: STRATEGI SANG RATU DAN JEBAKAN DI BALIK Sumpah YAYASAN
Sinar matahari pagi menembus kaca jendela ruang kerja Kediaman Pratama. Setelah badai emosi yang menguras jiwa semalam, suasana di antara Aris dan Kirana kini dipenuhi aura ketenangan yang dingin dan penuh perhitungan. Kirana berdiri di depan meja kaca, jemari lentiknya dengan cermat menata lembaran akta legalitas Yayasan Perlindungan Anak dan Wanita Kirana Pratama serta sertifikat pengalihan 50 persen saham pribadi Aris yang baru saja ditandatangani kemarin.
Aris melangkah mendekati istrinya, merapikan kerah gaun putih yang dikenakan Kirana. Ada binar kebanggaan yang tak tertutup dalam tatapan sang Presdir.
"Kamu yakin dengan rencana ini, Kirana?" tanya Aris dengan suara rendah penuh perhatian. "Erick Brotoatmodjo bukan pengacara biasa. Dia licik, berpendidikan tinggi di Barat, dan terbiasa memanfaatkan celah hukum korporasi."
Kirana mendongak, menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman anggun namun memancarkan ketegasan luar biasa dari seorang wanita yang telah lulus dari kawah candradimuka penderitaan hidup.
"Justru karena dia merasa dirinya paling pintar, Mas," sahut Kirana pelan. "Erick dan ayahnya, Raymond, mengira aku adalah titik lemah di rumah ini. Mereka pikir aku adalah ibu tiri polos yang mudah dihancurkan dengan manipulasi masa lalu. Kesombongan itulah yang akan menjadi lubang kubur bagi kesemuanya."
Kirana mengetuk akta pendirian yayasan dengan ujung jarinya. "Erick mengincar porsi kepemilikan saham 30 persen pendirian Pratama Corp. Tapi dia lupa, begitu saham 50 persen milikmu dialihkan secara hukum ke dalam aset nirlaba yayasan sebelum gugatan pembekuan aset resmi terdaftar di pengadilan, status hukum saham tersebut berubah menjadi aset terlindung publik yang tidak bisa disita atau disengketakan oleh klausul bisnis swasta."
Aris menatap istrinya dengan rasa kagum yang tak terlukiskan. Wanita yang dulu dihina oleh keluarga dan para kolega bisnisnya sebagai "pemburu harta" kini menunjukkan kejelian strategi hukum yang bahkan mampu mengecoh para advokat senior.
"Kamu memanfaatkan publikasi besar-besaran di ulang tahun Pratama Corp minggu lalu," ujar Aris, matanya berbinar menyadari kejeniusan skenario istrinya.
"Tepat, Mas," tegas Kirana. "Malam ini, Erick berniat menjebakmu dalam pertemuan tertutup di Hotel Fairmont untuk memaksa penandatanganan kesepakatan damai fiktif sebelum sidang minggu depan. Kita akan melayani permainannya. Tapi malam ini, bukan kamu yang akan memegang kendali... melainkan aku."
Pukul 20.00 WIB.
Suasana Executive Lounge di lantai paling atas Hotel Fairmont Jakarta terasa begitu eksklusif dan privat. Denting gelas kristal dan alunan musik piano lembut menyamarkan intrik berdarah yang sedang dirancang di salah satu sudut ruangan.
Erick Brotoatmodjo duduk santai di sofa kulit berukir emas. Pria muda itu menyesap single malt whiskey-nya dengan senyum culas. Di hadapannya, beberapa berkas perjanjian pengalihan aset dan pembatalan gugatan telah tertata rapi. Di sampingnya, dua pengacara senior Brotoatmodjo Holdings tampak mengumbar wajah penuh kemenangan.
Pintu lounge terbuka. Aris Pratama melangkah masuk. Namun, yang membuat alis Erick terangkat heran adalah sosok wanita yang berjalan anggun di samping Aris. Kirana hadir mengenakan setelan blazer hitam elegan, memegang sebuah map dokumen tebal berwarna merah darah.
"Selamat malam, Presdir Aris... Nyonya Kirana," panggil Erick seraya berdiri, memberikan gestur setengah membungkuk yang dipenuhi sindiran. "Saya terkejut Nyonya Kirana masih sudi berjalan berdampingan dengan pria yang diduga mematikan alat penunjang hidup kakak kandungnya sendiri."
Aris mengepalkan tangannya, hendak melangkah maju, namun Kirana menyentuh lengan suaminya dengan lembut—sebuah isyarat agar Aris tetap tenang.
Kirana duduk di sofa berhadapan langsung dengan Erick. Posisinya tegap, tatapan matanya lurus menembus manik mata Erick tanpa ada sedikit pun pendar ketakutan.
"Simpan teater murahmu untuk ruang sidang minggu depan, Tuan Brotoatmodjo," ujar Kirana dengan nada suara dingin dan tenang yang mengintimidasi. "Kami datang ke sini bukan untuk meminta belas kasihan, apalagi menyetujui pemerasan bernilai triliunan rupiah yang dirancang oleh ayahmu."
Erick tertawa terkekeh, menyandarkan punggungnya di sofa. "Nyonya Kirana yang terhormat, rupanya Anda belum sadar posisi. Bukti dokumen medis dan klausul opsi akuisisi 1986 ada di tangan kami. Sekali berkas itu kami daftarkan besok pagi ke Pengadilan Niaga, saham Pratama Corp akan dibekukan, nama Aris Pratama akan tercemar sebagai penjahat medis, dan nilai saham perusahaan Anda akan anjlok ke titik nol dalam hitungan jam."
"Apakah Anda yakin berkas itu masih memiliki nilai tawar, Erick?" potong Kirana santai.
Kirana membuka map merah di mejanya, lalu mendorong dua lembar dokumen bersampul emas ke hadapan Erick.
"Silakan dibaca," kata Kirana singkat.
Erick mengerutkan keningnya, meraih dokumen tersebut dengan acuh tak acuh. Namun, begitu matanya menyapu lembar pertama—Akta Pengesahan Kementerian Hukum dan HAM atas Yayasan Perlindungan Anak dan Wanita Kirana Pratama yang diterbitkan tadi siang—wajah Erick mendadak berubah kaku.
"Apa-apaan ini?!" desis Erick.
"Itu adalah akta pengalihan resmi 50 persen saham pribadi Aris Pratama yang kini telah sah menjadi dana abadi (endowment fund) milik yayasan publik," jelas Kirana dengan senyum manis yang mematikan. "Berdasarkan Undang-Undang Yayasan dan Hukum Korporasi Pasal 47, aset yang telah dihibahkan untuk kepentingan nirlaba publik sebelum adanya putusan sela pengadilan terlindungi dari segala bentuk sita jaminan (conservatoir beslag) atas sengketa bisnis perorangan."
Wajah Erick mulai memucat. "Anda... Anda sengaja mengalihkan saham ini untuk menghindari pembekuan?!"
"Bukan menghindari, Erick," pangkas Kirana, suaranya meningkat satu tingkat lebih tegas. "Tapi melumpuhkan ambisi ketamakan ayahmu! Jika besok pagi Anda mendaftarkan gugatan pembekuan aset ke Pengadilan Niaga, yang Anda gugat bukan lagi Aris Pratama secara pribadi, melainkan badan hukum yayasan publik yang menaungi puluhan ribu anak yatim dan korban kekerasan wanita!"
Kirana maju sedikit, menatap Erick yang mulai mandi keringat dingin.
"Bayangkan tajuk utama berita seluruh media nasional dan internasional besok pagi, Erick," bisik Kirana tajam. "Brotoatmodjo Holdings Menggugat Dana Kemanusiaan Yatim Piatu Demi Merebut Aset Bisnis Masa Lalu". Apakah kredibilitas investasi perusahaan Singapura milik ayahmu akan bertahan menghadapi kehendak publik?"
Pengacara senior di samping Erick mendadak panik. Mereka saling berbisik dengan wajah pucat pasi. Mereka menyadari betul bahwa jebakan opini publik dan perlindungan hukum yayasan yang dipasang Kirana telah mengunci pergerakan mereka secara permanen!
"Kamu... wanita licik!" geram Erick, mengepalkan tangannya di atas meja hingga gelas wiskinya bergetar.
"Aku bukan wanita licik, Erick," sahut Kirana dengan keagungan seorang ratu. "Aku hanyalah seorang ibu dan istri yang mempertahankan rumah dan masa depan anak-anakku dari iblis pemeras seperti kalian!"
Aris yang menyaksikan keberanian dan kecerdasan istrinya tersenyum bangga. Ia kemudian melangkah maju, meletakkan bendel dokumen kedua di atas meja—laporan forensik ilmiah kepolisian mengenai pemalsuan tanda tangan mekanis Autopen Pantograph dan kaset rekaman percakapan asli Kakek Hendra dengan Raymond delapan tahun lalu.
"Dan untuk dokumen medis palsu yang kamu pamerkan kemarin..." Aris menatap Erick dengan mata membara penuh ancaman, "Tim hukum kami baru saja mendaftarkan laporan tindak pidana pemalsuan dokumen otentik dan pencemaran nama baik atas nama Raymond Brotoatmodjo dan Erick Brotoatmodjo ke Bareskrim Polri satu jam yang lalu."
Gumpalan rasa percaya diri dan keangkuhan Erick hancur berkeping-keping seketika. Pria muda yang tadi berlagak memegang kendali kini terduduk lemas di sofanya, menyadari bahwa ia dan ayahnya bukan saja gagal merebut Pratama Corp, namun kini terancam masuk ke dalam penjara atas kasus pidana berat!
"Tinggalkan Jakarta sebelum besok pagi, Erick," ancam Aris dengan nada dingin yang tak terbantahkan. "Sampaikan pada ayahmu, Raymond Brotoatmodjo... jika dia ingin perang, keluarga Pratama yang sekarang tidak akan pernah mundur satu langkah pun!"
Tanpa menunggu jawaban dari Erick yang terpaku kaku, Aris meraih jemari Kirana. Pasangan suami istri itu berbalik dan melangkah keluar dari Executive Lounge dengan dada tegap dan kepala terangkat tinggi.
Pukul 22.30 WIB.
Mobil SUV Aris menyusuri jalanan Jakarta yang tenang. Di dalam mobil, suasana begitu hangat dan lega. Beban berat dan rasa sakit yang sempat meremukkan dada mereka selama beberapa hari terakhir kini berganti menjadi kedamaian yang hakiki.
Aris menggenggam erat tangan Kirana di atas pangkuannya, sesekali mengecup punggung tangan istrinya dengan pendar cinta dan keharuan yang meluap-luap.
"Terima kasih, Kirana..." bisik Aris lembut, matanya menatap wajah anggun istrinya di bawah pendar lampu kota. "Kamu bukan hanya menyelamatkan namaku dan perusahaan... tapi kamu adalah pelindung sejati bagi keluarga ini."
Kirana tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Aris. Kehangatan dada suaminya memberikan rasa aman yang tak ternilai harganya.
"Kita melakukannya bersama, Mas," balas Kirana lirih. "Dulu aku bertarung sendirian dalam air mata penolakan. Tapi sekarang, aku sadar bahwa takdir tidak sedang menghukumku... takdir sedang menempaku untuk menjadi wanita yang cukup kuat untuk mendampingimu dan membesarkan Leo serta Maya."
Ketika mobil mereka memasuki gerbang Kediaman Pratama, dua buah sosok kecil—Leo dan Maya—tampak sudah menunggu di teras depan bersama Pak Wijaya. Begitu pintu mobil terbuka, kedua anak itu berlari menyambut mereka dengan tawa riang.
"Mama Kirana! Papa!" jerit Maya melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan Kirana.
Leo merengkuh pinggang Kirana dengan erat. "Mama... Papa... kami bikin gambar keluarga baru di kamar!"
Kirana berlutut, merangkul kedua anaknya ke dalam dadanya, mencium kening mereka bergantian dengan air mata bahagia yang menetes perlahan. Aris berlutut di samping mereka, melingkarkan lengan kokohnya mengelilingi istri dan kedua buah hatinya.
Di bawah naungan langit malam yang cerah, di atas tanah Kediaman Pratama yang dulu dingin dan penuh kepalsuan, fajar cinta sejati akhirnya terbit dengan sempurna. Air mata pernikahan yang dulu membasahi Bantal duka Kirana kini telah berganti menjadi mahkota kemenangan dari seorang wanita, seorang ibu tiri, dan seorang Nyonya Pratama sejati.
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘