"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."
Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.
Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.
Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiamat Finansial Baron Wijaya
Deru badai di luar bunker bawah tanah terdengar samar, tenggelam oleh derap cepat ketukan papan ketik mekanik Belladona. Ruangan tak berakar sejarah itu dipenuhi pendar lampu indikator server yang berkedip biru. Belladona menatap tiga monitor melengkungnya dengan mata melebar penuh adrenalin. Di atas layar, sebuah visualisasi tiga dimensi dari pemindai biometrik milik internal Wijaya Group sedang memproses data.
Di sudut meja kerja, seutas kabel data taktis menghubungkan gawai enkripsi Liam ke komputer Belladona. Gawai itu berisi tangkapan data mentah sidik jari serta pemindaian retina mata Leo saat tangan kanan Gaizka itu merenggang nyawa di ruang kerja sore tadi.
Liam Jeren berdiri tegak di belakang kursi Belladona. Kaos taktis abu-abunya mencetak bahunya yang tegap. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap deretan angka enkripsi dengan tatapan mata elangnya yang sedingin es di dasar jurang.
"Berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan, Dona?" tanya Liam. Suara rendahnya mengalun tanpa riak keraguan.
"Protokol keamanan berlapis milik Gaizka memakai sistem two-factor authentication biometrik yang ketat banget," Belladona menjelaskan tanpa mengalihkan pandangannya dari barisan kode hijau yang bergulir cepat. "Sistemnya harus ngedeteksi sidik jari dan sandi dinamis dari token enkripsi yang dipegang Leo. Untungnya, waktu Leo diseret dan dieksekusi, gawai lu berhasil nyedot pancaran sinyal token aktifnya via kloning frekuensi nirkabel jarak dekat."
Belladona menekan tombol enter dengan penekanan yang mantap.
BIP!
Layar monitor utama yang semula memancarkan warna merah peringatan instan berubah menjadi hijau. Grafik tiga dimensi sebuah brankas baja digital terbuka perlahan di layar, menampakkan jalur akses utama ke seluruh urat nadi keuangan Gaizka Wijaya. Rekening-rekening cangkang di Swiss, brankas siber di Cayman Islands, hingga akun investasi privat di Panama yang tersembunyi dari radar hukum kini terpapar telanjang di depan mata mereka berdua.
"Pintu gerbang neraka udah kebuka, Liam," seringai licik terukir di sudut bibir Belladona. "Gua ngeliat total aset likuid senilai empat triliun rupiah di tiga bank Swiss, dan sekitar dua triliun dalam bentuk obligasi bayangan di Panama. Semuanya itu modal utama yang disiapin Gaizka buat proyek reklamasi teluk sama biaya operasional jaringan mafianya."
Liam melangkah maju satu tindak. Wajah barunya tidak memancarkan ketamakan, melainkan sebuah kepuasan dendam yang begitu pekat.
"Kuras semuanya, jangan biarkam ada yang tersisa," perintah Liam. Suaranya terdengar datar namun memiliki tekanan yang kejam. "Jangan sisakan satu sen pun. Alihkan seluruh dana likuid itu ke ratusan rekening bayangan di Eropa Timur, lalu pecah kembali ke dalam bentuk aset kripto yang tidak bisa dilacak oleh badan intelijen mana pun."
Jemari Belladona langsung melesat kembali di atas papan ketik bagai kilat. "Siap, Tuan Muda Jeren. Proses pengurasan massal dimulai. Gua juga bakal ngehapus seluruh riwayat transaksi asli terus ngeggantinya pake jejak digital palsu yang ngarahin ke instruksi penutupan akun seolah-olah dilakuin secara sah sama mendiang Leo sebelum dia tewas."
Di layar, angka-angka nominal triliunan rupiah milik Gaizka Wijaya mulai menyusut dengan cepat. Ratusan miliar menguap setiap detiknya, mengalir melewati kabel serat optik bawah laut menuju jaringan akun hantu yang dikendalikan oleh Belladona.
Proses kiamat finansial itu berjalan sunyi di dalam bunker, akan tetapi dampak di luar sana akan menghancurkan seluruh kekuasaan Gaizka bagai gempa tektonik. Gaizka telah membantai seluruh keluarga Elikai demi kekuasaan dan kekayaan, dan malam ini, Liam membalasnya dengan mencabut fondasi utama dari kekuasaan tersebut. Tanpa uang, seorang gembong mafia tidak lebih dari seekor serigala tua ompong yang menanti ajalnya.
Satu jam sebelum matahari terbit, bilah kemajuan di monitor Belladona menyentuh angka seratus persen. Sebuah teks besar berwarna perak menyala di layar.
TRANSACTION COMPLETED.
ALL ACCOUNTS BALANCE: 0.00 USD.
"Selesai," Belladona menyandarkan punggungnya ke kursi dengan helaan napas panjang yang sangat melegakan. "Gaizka Wijaya udah resmi miskin total pagi ini. Rekeningnya lebih bersih daripada piring dicuci, hahahaha."
Liam mengambil kacamata titaniumnya di atas meja, mengenakannya kembali dengan gerakan yang sangat stabil. Seringai dingin tersungging di bibir pucatnya. "Mari kita lihat seberapa lama serigala tua itu bisa bertahan saat kawannya menyadari bahwa bos mereka tidak lagi memiliki uang untuk membayar kesetiaan mereka."
____________________________________________
Keesokan paginya, di dalam ruang kerja pribadi Gaizka Wijaya, atmosfer udara terasa begitu menyesakkan. Gaizka duduk di balik meja kerjanya dengan wajah yang pucat pasi, matanya melotot tajam menatap layar laptop ThinkPad milik Leo yang kini ia kuasai.
Tangannya yang gemuk gemetar hebat saat mencoba menyegarkan halaman perbankan privat Swiss miliknya berulang kali. Tetapi, angka merah yang tertera di sana tetap tidak berubah.
0.00.
Ia beralih memeriksa akun investasinya di Panama. Hasilnya sama. Kosong melompong. Seluruh harta haram yang ia kumpulkan dari darah dan air mata selama puluhan tahun telah lenyap tanpa bekas dalam waktu semalam.
BRAAAK!
Gaizka menghantamkan laptop tersebut ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Pria paruh baya itu berdiri dengan napas yang memburu pendek, dadanya naik turun dengan kasar karena kepanikan dan amarah yang menjalar di seluruh sarafnya.
"Leo... bajingan itu benar-benar menguras seluruh hartaku sebelum dia mati!" raung Gaizka, suaranya parau menahan geram. Paranoianya yang dipicu oleh bukti palsu buatan Liam kini telah mencapai puncaknya. Ia yakin Leo telah memindahkan seluruh uangnya ke Kartel Naga Merah sebelum ia di eksekusi kemarin sore.
Tiba-tiba, ponsel pribadi Gaizka di atas meja berdering keras. Layarnya menampilkan nama salah satu kontraktor utama proyek reklamasi teluk. Gaizka mengangkatnya dengan tangan yang gemetaran.
"H-Halo?"
"Tuan Gaizka! Apa yang terjadi dengan transfer dana pagi ini?!" suara di seberang telepon terdengar panik dan marah. "Bank baru saja menolak cek Wijaya Group karena saldo Anda kosong! Jika dalam waktu dua puluh empat jam dana pelicin untuk pejabat kementerian belum masuk, proyek reklamasi teluk resmi dibatalkan dan seluruh aset Wijaya Group akan disita oleh negara!"
Telepon itu terputus. Belum sempat Gaizka mencerna hantaman tersebut, pintu ruang kerjanya digedor dengan kasar dari luar. Beberapa kepala staf keamanannya masuk dengan wajah yang panik.
"Tuan Gaizka! Para tentara bayaran di pelabuhan utara menolak bergerak!" lapor salah satu anak buahnya dengan suara bergetar. "Mereka tahu rekening operasional kita dibekukan! Mereka mengancam akan membelot dan menjual informasi gudang kita ke kepolisian jika gaji mereka tidak dibayar tunai siang ini!"
Rasanya ada petir yang menyambar kepala Gaizka di soang bolong, hantaman demi hantaman menghujam pertahanan Gaizka Wijaya bagai godam besi. Dinasti kriminal yang ia bangun dengan kekejamannya kini runtuh seketika dalam hitungan jam. Tikus yang terpojok itu merosot jatuh ke kursi kebesarannya, menatap kosong ke arah langit-langit dengan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya. Kiamat finansial telah tiba, dan pintu neraka bagi sang paman baru saja terbuka lebar.