NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Langkah Menuju Ketakutan Terbesar

Meloudy tertegun sejenak, hatinya berdebar tak menentu. Perlahan ia menyimpulkan sendiri di dalam hati — ternyata atasannya yang dingin dan tegas ini sedang jatuh cinta, sendirian, pada seseorang yang bahkan tak ia temui. Pria yang selalu tampak kuat dan tak tergoyahkan itu ternyata menyimpan kerinduan sedalam ini, terpendam rapat-rapat di balik sikapnya yang dingin.

"Jadi… Tuan mencintainya, bukan?" tanyanya pelan, matanya membelalak sedikit karena terkejut.

"Dan beliau… tidak tahu?"

Vano tersenyum getir, mengangguk samar namun tak menjawab langsung. Ia tak berniat menceritakan lebih jauh — tak menceritakan bahwa sosok itu adalah seseorang yang tak pernah ia lihat secara langsung, seseorang yang hanya tau melalui layar ponsel, seseorang yang wajahnya pun tak ia ketahui. Itu terlalu rumit, terlalu gila untuk dijelaskan. Cukup baginya bahwa sosok itu adalah obat penenang yang selama ini ia cari, satu-satunya tempat di mana ia merasa aman dari hiruk-pikuk dunia.

"Beliau hanya… tidak tahu," jawabnya singkat, memilih menutup kebenaran yang sebenarnya.

"Dan mungkin lebih baik begitulah."

Meloudy menghela napas pelan, rasa haru bercampur sedih menyelimuti hatinya. Ia sama sekali tak menyadari bahwa sosok yang diceritakan Vano itu bukan orang lain — melainkan dirinya sendiri, sosok bertato yang berdiri tepat di sampingnya saat ini.

"Tidak akan pernah selamanya?" gumam Meloudy pelan, hatinya berputar cepat. Pikirannya langsung melompat ke kemungkinan yang paling menyakitkan. Jangan-jangan… orang yang dicintainya itu sudah menikah? Sudah menjadi milik orang lain?

Belum sempat kata-kata itu meluncur dari bibirnya, ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar hebat, disusul nada dering yang memecah keheningan.

Nama kakak sepupu yang muncul di layar ponselnya membuat beberapa menit kemudian darahnya seakan berhenti mengalir —

Nadine Cesa Wiguna.

klik.

"Iya, kak nadine?"

Wajah Meloudy seketika pucat pasi. Matanya terbelalak. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tiba-tiba tersengal-sengal, terlalu cepat dan dangkal. Jemarinya tak lagi kuat menggenggam ponsel itu, benda itu terlepas, jatuh berdentang di lantai atap yang keras.

"Meloudy!"

Vano tersentak kaget. Ia langsung melangkah cepat ke arah gadis itu yang mulai limbung, dadanya naik turun tak beraturan, matanya terbelalak penuh ketakutan.

"Tenang… tarik napas, Meloudy, tarik napas pelan…"

Vano tahu betul apa yang sedang terjadi. Ia mengenali tanda-tanda itu — napas yang tak terkendali, gemetar hebat, rasa panik yang meledak tiba-tiba. Ia juga memiliki kondisi yang sama.

Tanpa ragu, ia merangkul bahu Meloudy, mendekapnya lembut namun tegas, membiarkan gadis itu bersandar padanya.

"Lihat mataku… ikuti aku, tarik napas dalam… lalu buang perlahan… begitu… lagi…" suaranya rendah, tenang, berulang-ulang menuntunnya.

Ia membiarkan kepala Meloudy bersandar di dadanya, satu tangannya mengusap punggungnya pelan, memberikan rasa aman yang sangat dibutuhkannya saat ini.

Meloudy masih terisak pelan, napasnya tersengal namun perlahan mulai teratur. Vano mengusap punggungnya lembut, lalu berkata dengan suara yang sangat lembut namun tegas:

"Maafkan aku… izinkan aku membuka sedikit kancing bajumu, ya? Agar kau lebih mudah bernapas."

Tanpa menunggu penolakan, dengan hati-hati dan penuh rasa hormat, ia membuka tiga kancing yang menutupi bagian leher kemeja itu — cukup agar udara lebih leluasa masuk, tanpa tau sedikit lagi saja vano membuka lengan sebelah kanan bahunya akan terlihat ukiran tato yang selama ini ia lihat hanya di layar pribadi kantornya, di layar laptopnya, maupun layar ponselnya.

Ponsel di lantai masih berdering terus-menerus, memecah keheningan malam. Vano berlutut, mengambilnya, lalu menempelkan benda itu ke telinganya. Suara cemas dan terengah-engah terdengar dari seberang sana.

"Meloudy?! Meloudy kau di sana?! Jawab aku!"

"Saya Vano, atasan Meloudy," jawabnya tegas namun tenang.

"Apa yang terjadi? Mengapa dia begitu panik?"

Suara Nadine terdengar bergetar, penuh tangis yang tertahan:

"Terima kasih Tuhan… Tolong… cepat ke Rumah Sakit Umum pusat sekarang juga. Ibu… Tante Mila mengalami serangan jantung mendadak. Dokter sedang menanganinya sekarang. Kami… kami belum tahu hasilnya."

Vano menegang, namun ia tetap berusaha menahan kepanikannya agar tak menulari Meloudy.

"Baik. Kami segera ke sana."

Ia menutup panggilan, lalu menatap Meloudy yang masih menatapnya dengan mata yang kabur, penuh ketakutan. Dengan lembut ia memegang kedua bahu gadis itu, menatap lurus ke matanya.

"Meloudy… dengarkan aku. Kita akan ke rumah sakit sekarang. Aku yang akan mengantarmu."

Meloudy masih berdiri mematung di tempatnya, tubuhnya sesekali bergetar pelan, matanya kosong menatap ke depan tanpa fokus. Ia tak menjawab, tak bergerak, seakan dunia di sekitarnya berhenti berputar.

Vano tidak memaksanya. Dengan lembut ia mengarahkan gadis itu untuk duduk di bangku beton di sudut atap yang terlindung. Lalu ia berlutut di hadapannya, memegang kedua tangan Meloudy yang terasa dingin dan gemetar di dalam genggamannya yang hangat.

"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya pelan, lembut namun jelas, menatap lurus ke dalam mata Meloudy yang masih kabur.

"Kau tidak perlu berbicara sekarang. Tarik napas saja. Aku di sini. Kita tidak akan ke mana-mana sampai kau siap."

Ia mengusap punggung tangan Meloudy berulang kali, memberikan keteguhan yang gadis itu sangat butuhkan saat ini.

Meloudy menatapnya lama, perlahan kesadaran kembali menyusup ke matanya. Ia mengangguk pelan, sangat pelan, namun pasti. Bibirnya bergetar saat satu kata akhirnya meluncur lirih:

"Ibu… aku harus menemui Ibu…"

"Ya, kau akan menemui Ibu. Aku yang akan mengantar mu, jadi kau tidak perlu memikirkan apa pun," ucap Vano lembut, lalu berdiri perlahan sambil tetap menggenggam tangan gadis itu.

"Pegang tanganku. Pelan-pelan saja."

Meloudy berdiri dengan bantuannya, tangannya mencengkeram lengan jas Vano erat, seakan itu satu-satunya penopang yang ia miliki. Mereka berjalan turun dari atap, langkah Meloudy masih sedikit goyah, namun Vano berjalan di sampingnya, sabar dan selalu siap menahan jika ia terhuyung.

Perjalanan menuju rumah sakit berlangsung dalam keheningan yang lembut. Vano menyetir dengan tenang, sesekali melirik ke arah Meloudy yang menatap ke luar jendela, tangan kanannya meremas ujung lengan bajunya erat. Vano tidak banyak bicara — ia tahu, kehadirannya saja sudah cukup. Sesekali ia menyuruhnya minum air putih yang ia siapkan, dan Meloudy menurut tanpa banyak tanya.

Sesampainya di lobi rumah sakit, Vano memarkirkan mobil, lalu menoleh ke arahnya sekali lagi.

"Kita sudah sampai. Aku akan menemanimu ke sana. Semuanya akan baik-baik saja."

Meloudy menarik napas panjang, mengangguk, lalu membuka pintu mobil. Langkahnya masih berat, namun ia tidak lagi berjalan sendirian.

^^^Bersambung...^^^

1
Miranda.
terus kalo lu awalnya ga suka sama elona, kenapa berhubungan sama dia jir?😡😡
Miranda.
Vano brengsekk. mentang² kaya aja mempermainkan wanita kau jingan!!😡😡😡
Miranda.
yep. sadar juga nih orang/Smug/
Miranda.
gajelas jir si Vano. aku kalo jadi elona kek eughh
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
Tak ada yang bisa mengalihkan pikiran Vano dari sosok gitaris yang terus membayangi pikirannya. Ya, meskipun disekelilingnya penuh dengan suara musik, tapi pikirannya tetap tertuju pada Laudys
Xlyzy
Alhamdulillah semoga ibu lekas membaik dan puluh supaya melody ga sedih lagi
Xlyzy
dengarkan ibu mu mel pasti itu pertanda baik
Isma Iis
gak sekalian aja orangnya langsung bawa pulang suruh main gitar di depan anda Tuan Vano
Isma Iis
gak bisa Tuan, meloudy harus menyembunyikan lengannya terutama dari anda Tuan Vano
Isma Iis
pas tau ternyata meloudy itu Laudy, nyesal tau rasa
Isma Iis
galak amat
Acylia_Celyn
mahal sih ini, di tempatku nasi bungkung dgn berbagai isian(lauk) yang melimpah harganya 10k aja. itu udah di tambah kerupuk dan sambel serta sayurnya
Acylia_Celyn
hidup dgn dililiti hutang tuh emang nyusahin sih😭
Acylia_Celyn
uww, dia lagi sama siapa dan dipikirannya mikirin siapa
Acylia_Celyn
what what an?
Acylia_Celyn
alasannya hanya karna tau tatonya?..
Mingyu gf😘
Banyak banget masalah mu vano
Mingyu gf😘
Gila sumpah ini udah tahap.obses
Mingyu gf😘
Dasar murahan, kamu juga vano, tegas dikit domg
naws
kapan ini semua terumgkapp? penasaran mau liat reaksinya vano 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!