Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Pameran Jinling
Sinar matahari pagi menyinari Kota Jinling, membawa kehangatan yang mengusir embun beku sisa malam.
Di balkon Presidential Suite Hotel Shangri-La, Lin Chen berdiri menghadap matahari terbit. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara pagi masuk ke paru-parunya. Di dalam Dantian-nya, dua pecahan Giok Penelan Surga berputar perlahan, memancarkan aura pemurnian yang sangat menyejukkan.
Rasa nyeri di meridiannya yang sempat ia rasakan kemarin kini lenyap tak berbekas. Fondasi Qi-nya telah stabil sepenuhnya. Dengan kapasitas pemulihan energi yang mencapai 1.000%, Lin Chen kini bisa menggunakan Seni Pedang Roh Pembelah Langit tanpa takut kehabisan tenaga di tengah pertarungan.
"Jinling," gumam Lin Chen dengan senyum tipis. "Mari kita lihat pertunjukan apa yang kau tawarkan hari ini."
Di belakangnya, pintu geser terbuka. Su Ruoxue melangkah keluar dengan setelan jas kerja wanita berwarna abu-abu muda yang elegan. Rambutnya diikat rapi, wajahnya memancarkan kepercayaan diri penuh. Ratu Es dari Donghai telah kembali ke performa puncaknya.
"Siap untuk menghancurkan monopoli Keluarga Wei?" tanya Lin Chen, berbalik dan mengulurkan lengannya.
Su Ruoxue tersenyum manis, menggamit lengan suaminya. "Denganmu di sisiku, aku bahkan siap membeli seluruh kota ini."
Pusat Pameran Internasional Jinling.
Gedung raksasa berbentuk kubah itu sudah dipenuhi lautan manusia sejak pukul delapan pagi. Ratusan perusahaan farmasi, kosmetik, dan alat medis dari seluruh provinsi mendirikan stan mereka. Ribuan distributor, dokter, dan awak media berdesak-desakan mencari inovasi terbaru.
Di area paling strategis, tepat di tengah pintu masuk utama, berdiri stan raksasa milik Konsorsium Wei. Panggungnya megah, dihiasi lampu kristal dan SPG cantik yang membagikan sampel produk.
Di sana, Wei Zixuan berdiri dengan angkuh sambil memegang gelas sampanye, menerima sanjungan dari para pengusaha kecil. Meskipun malam sebelumnya ia sempat dipermalukan oleh Lin Chen dan ditegur oleh Shen Bing, Wei Zixuan telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa Shen Bing hanya peduli pada Tabib Lu dan nyawa kakeknya.
Keluarga Shen berbisnis di sektor properti dan logam mulia; mereka tidak pernah menyentuh industri farmasi. Wei Zixuan yakin, di siang bolong ini, Konsorsium Wei tetaplah raja tak terbantahkan di pameran.
"Tuan Muda Wei, lihat ke sana," bisik salah satu pengawalnya sambil menunjuk ke arah sudut paling ujung dari gedung pameran.
Wei Zixuan menoleh dan tersenyum sinis. Di sudut sempit dekat pintu akses toilet dan tempat pembuangan sampah, terdapat sebuah stan kecil berukuran 2x2 meter dengan spanduk sederhana bertuliskan: Grup Kosmetik Su - Embun Surgawi.
Itu adalah ulah Wei Zixuan. Sebagai sponsor utama, ia diam-diam memindahkan lokasi stan Grup Su ke tempat paling terpencil dan bau di seluruh gedung.
Saat itu, Lin Chen dan Su Ruoxue baru saja tiba di stan mereka.
Melihat lokasi yang sangat tidak layak tersebut, alis Su Ruoxue berkerut. Beberapa pengunjung yang lewat bahkan menutup hidung mereka karena aroma tempat sampah yang tak jauh dari sana.
Wei Zixuan berjalan menghampiri mereka dengan gaya arogan, diiringi beberapa kroninya.
"Oh, Presiden Su! Tuan Lin!" sapa Wei Zixuan dengan nada mengejek yang dikeraskan. "Bagaimana stan baru kalian? Bukankah ini sangat cocok untuk perusahaan kecil dari daerah udik seperti Donghai? Tenang saja, tempat sampah di sebelah sana sangat dekat, jadi kalian bisa langsung membuang produk 'Embun Surgawi' kalian yang tidak laku itu."
Kerumunan di sekitar Wei Zixuan tertawa terbahak-bahak.
Su Ruoxue menatap Wei Zixuan dengan dingin. "Tuan Muda Wei, bukankah kau berjanji tadi malam untuk memberikan stan VIP utama untuk kami di depan Nona Shen?"
"Hahaha! Nona Shen?" Wei Zixuan mendengus meremehkan. "Nona Shen hanya kebetulan butuh suamimu yang pandai menebak penyakit itu! Jangan bermimpi Keluarga Shen akan membelamu di ranah bisnis farmasi! Di sini, akulah rajanya. Jika aku bilang kalian berjualan di dekat toilet, maka di situlah tempat kalian!"
Lin Chen, yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, perlahan melangkah maju.
Melihat Lin Chen bergerak, Wei Zixuan secara refleks mundur selangkah, masih trauma dengan kekuatan Lin Chen. Namun ia segera membentak, "Jangan macam-macam, Lin Chen! Ini tempat umum yang diliput ratusan media! Jika kau berani memukulku, satpam pameran dan polisi akan langsung menangkapmu!"
"Memukulmu?" Lin Chen tersenyum tipis. "Mengotori tanganku untuk menampar lalat sepertimu di pagi yang cerah ini terlalu melelahkan."
Lin Chen melirik jam tangannya. "Sembilan, sepuluh... Waktunya pas."
"Apa yang kau bicarakan, dasar gila?!" ejek Wei Zixuan.
TIN! TIIN!
Tiba-tiba, suara klakson mobil yang sangat keras dan berwibawa menggema dari arah pintu masuk utama gedung pameran. Pintu kaca raksasa itu terbuka lebar, dan sebuah iring-iringan kendaraan yang tidak lazim masuk tepat ke pelataran karpet merah.
Enam buah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam berhenti berjajar.
Seluruh pengunjung, wartawan, dan pengusaha seketika terdiam. Keangkuhan Wei Zixuan membeku di wajahnya. Logo naga emas yang terukir di pintu mobil-mobil itu adalah simbol kekuasaan mutlak di Jinling—Keluarga Shen!
Pintu mobil utama terbuka. Puluhan pengawal berjas hitam segera membentuk barikade.
Dari dalam mobil, Shen Bing melangkah keluar. Ia mengenakan setelan jas wanita berwarna merah menyala, memancarkan aura dominasi seorang ratu. Namun, yang membuat seluruh gedung menahan napas adalah sosok yang keluar setelahnya.
Seorang pria tua berambut putih, mengenakan tunik tradisional sutra, melangkah keluar tanpa bantuan tongkat. Ia berjalan dengan tegap, wajahnya memerah sehat, dan matanya memancarkan ketajaman harimau tua.
Itu adalah Shen Wanshan, Kepala Keluarga Shen! Pria yang dirumorkan berada di ambang kematian akibat koma berbulan-bulan, kini berdiri tegak di depan publik!
"T-Tuan Tua Shen?!" Wei Zixuan nyaris menggigit lidahnya sendiri. Lututnya gemetar hebat.
Mengabaikan ribuan tatapan mata yang terkejut, Shen Wanshan dan Shen Bing berjalan lurus melewati stan raksasa milik Konsorsium Wei seolah stan itu hanyalah tumpukan batu. Mereka membelah kerumunan, berjalan lurus menuju sudut terpencil tempat Grup Su berada.
Setibanya di depan stan kecil itu, Shen Wanshan—orang paling berkuasa di Jinling—membungkuk sedikit di hadapan Lin Chen!
"Tuan Lin, Nona Su," suara Shen Wanshan bergema dan direkam oleh puluhan kamera wartawan yang mengikuti di belakang. "Maafkan kedatangan orang tua ini yang sedikit terlambat. Saya dengar ada lalat yang mencoba menghalangi bisnis dewa penolong Keluarga Shen?"
Dewa penolong?!
Kerumunan meledak dalam bisik-bisik histeris. Pemuda Donghai itu adalah dewa penolong Keluarga Shen?!
Lin Chen menatap Wei Zixuan yang kini wajahnya sepucat kertas HVS. "Kakek Shen terlalu sungkan. Hanya saja, Tuan Muda Wei merasa stan ini adalah tempat paling pantas untuk produk istriku."
Shen Wanshan menoleh perlahan menatap Wei Zixuan. Tatapan harimau tua itu begitu berat hingga Wei Zixuan langsung jatuh berlutut di lantai dengan bunyi bruk yang keras.
"W-Wei Zixuan menyapa T-Tuan Tua Shen... Ini... ini hanya salah paham..." Wei Zixuan tergagap, air matanya mulai menggenang.
"Salah paham?" Shen Wanshan mendengus dingin, suaranya seperti guntur di telinga Wei Zixuan. "Mulai detik ini, Keluarga Shen menarik seluruh investasi properti, jalur distribusi, dan dukungan finansial dari Konsorsium Wei! Selain itu, aku mengumumkan bahwa Grup Su dari Donghai adalah mitra strategis eksklusif Keluarga Shen!"
Shen Bing melangkah maju dan memberikan instruksi kepada asistennya. "Hancurkan stan Konsorsium Wei di depan. Ganti spanduknya. Mulai hari ini, stan utama itu adalah milik Grup Su."
"TIDAK! Anda tidak bisa melakukan ini!" teriak Wei Zixuan putus asa. Jika Konsorsium Wei kehilangan dukungan Keluarga Shen dan dipermalukan secara publik, jaringan bisnis mereka akan runtuh dalam semalam!
Namun, tidak ada yang peduli pada tangisannya. Para pengusaha dan distributor medis yang tadinya menjilat Wei Zixuan, kini berbalik arah 180 derajat. Layaknya sekawanan hyena yang mencium bau daging segar, mereka berhamburan berlari menuju stan kecil Su Ruoxue.
"Presiden Su! Kami dari Grup Medis Jinling menawarkan kontrak distribusi senilai 100 Juta Yuan!"
"Nona Su, kami berani membeli Embun Surgawi dengan harga dua kali lipat!"
"Minggir! Presiden Su, biarkan perusahaan kami yang menjadi agen tunggal Anda di provinsi ini!"
Dalam sekejap, Su Ruoxue dikelilingi oleh ratusan taipan yang memohon-mohon untuk bekerja sama dengannya. Su Ruoxue tersenyum profesional dan mulai menangani tawaran-tawaran itu dengan kecerdasan bisnisnya, sementara Lin Chen berdiri di belakangnya, memastikan tidak ada yang berani berbuat tidak sopan.
Lin Chen menatap Wei Zixuan yang diseret keluar dari gedung oleh pengawal pameran. Tuan Muda arogan itu telah kehilangan segalanya tanpa Lin Chen perlu mengangkat satu jari pun.
Inilah kekuatan sejati. Ketika sebuah naga telah menampakkan wujudnya, ia tidak perlu memangsa semut; semut-semut itu akan saling menginjak untuk menjauh darinya.
Namun, di saat kemenangan manis itu berlangsung, dari lantai dua balkon VIP gedung pameran, sepasang mata mengawasi Lin Chen dengan tatapan mematikan.
Sosok itu mengenakan jas abu-abu, memegang sebuah teropong kecil. Ia menempelkan alat komunikasi ke telinganya.
"Lapor, Tuan Muda Lin Tian," bisik pria berjas abu-abu itu. Suaranya bergetar karena campuran antara rasa takut dan kegembiraan menemukan targetnya.
Di ujung telepon, dari Ibukota Jingcheng, suara tawa Lin Tian terdengar. "Jadi, rumor itu benar? Sampah cacat itu tidak hanya masih hidup, tapi dia juga bisa membuat Keluarga Shen membungkuk padanya?"
"Benar, Tuan Muda. Sepertinya Tuan Muda Lin Chen menggunakan kemampuan medis yang sangat luar biasa untuk menyembuhkan Shen Wanshan. Fisiknya juga terlihat sehat, tidak seperti orang cacat."
"Menarik..." gumam Lin Tian sinis. "Dia pasti mendapatkan semacam warisan tabib kuno di Donghai. Tapi medis bukanlah kekuatan tempur. Jika dia bersembunyi di balik rok Keluarga Shen, aku tidak bisa menggunakan preman biasa."
Lin Tian terdiam sejenak, lalu memberikan perintah mematikan. "Kirim kabar kepada 'Tujuh Pembunuh Bayangan' dari Asosiasi Assassin Ibukota. Beri mereka bayaran 500 Juta Yuan. Aku ingin kepala kakakku tersayang dibawa kembali ke meja kerjaku sebelum akhir bulan ini. Dan pastikan, hancurkan juga perusahaan istrinya hingga mereka berdua merasakan keputusasaan sebelum mati."
Pria berjas abu-abu itu menyeringai. "Sesuai perintah Anda, Tuan Muda."
Di lantai bawah, di tengah kerumunan yang bersorak, Lin Chen tiba-tiba menolehkan kepalanya tepat ke arah balkon VIP lantai dua. Mata Golden Eye-nya menangkap bayangan pria berjas abu-abu itu melarikan diri ke pintu keluar.
Sebuah senyum iblis yang membekukan darah terlukis di bibir Lin Chen.
Akhirnya kau menemukan aku, Adikku tersayang. Kirimkan semua pembunuhmu. Aku akan menyambut mereka dengan pedangku.