Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Murong dan Yu Liu
Para pelayan melotot kaget.
Jadi, Nona Kelima baru saja menyebut Nona Sulung dan Nona Keenam sebagai anjing?
"Xuan Chongyue!" Xuan Qingqing, yang menyadari maksud di balik ucapan itu berteriak marah
"Aku ada di sini. Untuk apa kau berteriak?" Chongyue tersenyum main-main. "Apa kalian semua sudah memeriksakan diri kepada tabib? Jika kalian tiba-tiba gila lalu menggigit orang di jalan, penyakit itu bisa menular."
"Kau..." Xuan Qingqing mengepalkan tangannya dengan marah. Dia kemudian mengambil cambuknya dari pelayan dan melayangkannya ke arah Chongyue.
"Xuan Qingqing, kau benar-benar mencari kematian." Ekspresi Chongyue berubah dingin ketika melihat cambuk itu melesat ke arahnya.
Xuan Qingqing mencibir sambil mempererat genggaman pada cambuknya. "Aku tidak percaya Istana Shiyue akan berkonflik dengan Kediaman Jenderal hanya untuk membela sampah sepertimu!"
"Apakah begitu?" Chongyue tersenyum sinis. Sudut matanya melirik sekilas ke arah atap sebelum kembali menatap cambuk yang semakin mendekat.
Dia tidak menghindar.
Tepat sebelum ujung cambuk menyentuh tubuhnya, sesosok bayangan melesat cepat dan menghalangi serangan dengan pedang.
Kemudian, seorang pria tegap berdiri kokoh di hadapan Chongyue.
Wajah pria itu cukup tampan, tetapi ekspresinya sedingin es. Jubah hitam yang dikenakannya semakin menambah aura intimidatif yang terpancar dari tubuhnya.
Chongyue mengernyit heran.
Meskipun sejak keluar kamar tadi dia sudah menyadari keberadaan orang di atas atap, dia tidak menyangka orang yang bersembunyi di sana ternyata melindunginya.
Mungkinkah dia bawahan yang dikirim Bei Mingye?
Detik berikutnya, seorang wanita melompat turun dan mendarat di halaman.
Dia melirik dingin ke arah Xuan Qingqing dan Xuan Xi sebelum berbicara dengan suara datar, "Sebelumnya Istana Shiyue sudah memberikan peringatan tegas kepada Xuan Yang bahwa Nona Kelima berada di bawah perlindungan Istana Shiyue kami."
Xuan Xi dan Xuan Qingqing terkejut.
Mereka tidak menyangka Istana Shiyue benar-benar menempatkan pengawal pribadi di halaman kumuh ini!
"Nona Xuan, jika sampai terjadi sesuatu pada keselamatan Nona Kelima, keberadaan Kediaman Jenderal ini dipastikan akan menghilang dari Kerajaan Dong!" Yu Liu memberikan ancaman tegas.
Mereka datang ke tempat ini atas perintah langsung Raja Hantu.
Meskipun keduanya tidak mengerti mengapa tuan mereka begitu melindungi keselamatan Nona Kelima ini, karena tuan mereka telah mengutus mereka ke sini, mereka harus melindunginya dengan baik!
Mendengar ancaman Yu Liu, Xuan Qingqing hampir meledak karena marah. Namun Xuan Xi dengan sigap menahan lengannya.
"Kakak, Istana Shiyue bukanlah kekuatan yang bisa kita provokasi secara terbuka." Xuan Xi menurunkan suaranya agar hanya Xuan Qingqing yang mendengarnya. "Jika Ayah sampai mengetahuinya, masalahnya akan semakin rumit. Mari kita cari kesempatan lain."
Xuan Qingqing menggertakkan gigi, jelas merasa sangat tidak rela. Namun karena takut menghadapi kemarahan ayahnya, dia hanya bisa menghentakkan kaki sebelum berbalik dan pergi bersama rombongan pelayan.
Sebelum benar-benar menghilang di balik gerbang, Xuan Xi menoleh sekali lagi dan melayangkan tatapan tajam penuh kebencian kepada Chongyue.
Setelah mereka pergi, Chongyue mengamati kedua pengawal yang masih berdiri di hadapannya.
Dia mengangkat sebelah alisnya dan bertanya santai, "Bukankah seharusnya kalian memperkenalkan diri terlebih dahulu?"
"Nona Kelima, bukankah kau sudah bisa menebaknya?" Yu Liu menjawab dengan nada datar. "Kami berdua berasal dari Istana Shiyue."
Mendengar jawaban itu, Chongyue menyunggingkan senyum tipis. Dia melipat kedua tangan di depan dada sambil menatap mereka bergantian.
"Bei Mingye yang memerintahkan kalian ke sini, bukan? Namun dari pembawaan kalian, kalian berdua tidak cocok menjadi pembunuh bayaran. Kalian lebih cocok menjadi pengawal pribadi."
Yu Liu dan Murong saling bertukar pandang dengan terkejut sebelum kembali menatap Chongyue dengan penuh selidik.
"Mengapa kau bisa menyimpulkan bahwa kami tidak cocok menjadi pembunuh bayaran?" Yu Liu bertanya heran.
Gadis di hadapan mereka memang benar.
Mereka berdua bukan pembunuh bayaran dari Istana Shiyue, melainkan pengawal pribadi Raja Hantu!
"Seorang pembunuh bayaran sejati harus menguasai cara menyembunyikan aura keberadaannya dengan sempurna agar tidak terdeteksi musuh." Chongyue mengangkat sebelah jarinya seolah sedang menjelaskan sesuatu yang sederhana. "Namun begitu aku melangkah keluar kamar, aku sudah bisa menangkap posisi kalian dengan jelas. Bahkan aku yang baru berada di tingkat seniman bela diri tingkat tiga bisa menyadari keberadaan kalian. Menurut kalian, apakah teknik penyamaran kalian sudah cukup baik?"
Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan kembali melangkah masuk ke kamarnya.
Yu Liu dan Murong saling memandang sejenak sebelum akhirnya mengikuti dari belakang.
Setibanya di dalam kamar, Yu Liu langsung mengerutkan kening saat melihat kondisi ruangan yang begitu menyedihkan. Murong tetap diam tanpa ekspresi di sampingnya.
Jika gadis ini memiliki hubungan khusus dengan Yang Mulia, mengapa dia harus tinggal di ruangan sekumuh ini?
Tempat ini benar-benar tidak berbeda dengan gudang kayu tua yang terbengkalai!
Chongyue menuangkan dua cangkir air dan meletakkannya di hadapan Yu Liu serta Murong.
"Tempatku hanya memiliki air putih. Tidak ada teh. Silakan diminum jika kalian mau."
"Kau..." Yu Liu hendak meraih cangkirnya ketika pandangannya terpaku pada wajah Chongyue. Kedua matanya seketika membelalak karena terkejut.
Melihat reaksinya yang berlebihan, Chongyue mengerutkan kening. Dia segera melangkah menuju meja rias dan mengambil sebuah cermin kayu.
Begitu melihat pantulan wajahnya, dia menyadari semburat biru yang mulai terlihat di kedua matanya.
"Khasiat obat racikan ini memang tidak bertahan lama. Efek penyamarannya sudah luntur."
Dia kemudian mengeluarkan sebotol cairan obat dari lengan bajunya, lalu meneteskan beberapa tetes ke masing-masing matanya.
Untungnya, perubahan ini baru terjadi setelah dia berada di dalam kamar.
Seandainya matanya berubah saat Xuan Qingqing dan Xuan Xi masih berada di halaman, kedua wanita itu pasti sudah menimbulkan keributan besar.
Setelah memejamkan mata selama beberapa saat, Chongyue kembali membukanya.
Sepasang matanya telah kembali berwarna hitam pekat.
Chongyue berbalik dan menatap kedua pengawal tersebut. "Siapa nama kalian berdua?"
Yu Liu masih tertegun. Dia yakin penglihatannya tadi tidak salah. Dia benar-benar melihat sepasang mata gadis itu berubah menjadi biru jernih yang begitu indah.
"Murong." Saat Yu Liu masih terdiam, Murong akhirnya berkata dengan dingin. Dia menunjuk rekannya sebelum melanjutkan, "Dan dia Yu Liu."
Chongyue mengangguk paham. "Jika kalian berdua ingin tinggal di sini, silakan. Namun jika kalian tidak mau, kalian bebas pergi kapan saja."
Dia bisa menilai bahwa Murong adalah tipe pria pendiam dan tidak banyak menuntut, sedangkan Yu Liu sepertinya tidak terlalu menyukainya.
Lagipula, Chongyue sedang sibuk meningkatkan kultivasinya. Dia tidak memiliki waktu untuk meladeni mereka berdua.
"Kami tidak akan pergi." Yu Liu menjawab tegas sambil menatap Chongyue. "Tuan kami memberikan instruksi khusus bahwa misi kami adalah memastikan keselamatan Nona Kelima hingga beliau kembali."
Chongyue hanya mengangkat bahu, sama sekali tidak memusingkan hal itu.
"Kalau begitu, lakukan saja sesuai keinginan kalian."
Setelah mengatakan itu, dia melangkah keluar kamar dan mulai melatih fisiknya di tengah halaman.
Pagi hari merupakan waktu yang paling ideal untuk menempa tubuh dan mengasah kemampuan bela dirinya.
Murong dan Yu Liu berdiri di ambang pintu sambil mengamati setiap gerakan Chongyue dengan kening berkerut.
Untuk apa mempraktikkan gerakan pertarungan jarak dekat seperti itu tanpa menggunakan tenaga dalam?
Sia-sia saja!
Setelah menyelesaikan satu rangkaian gerakan, Chongyue menghentikan langkahnya. Dia mengambil handuk bersih dan mengusap keringat di lehernya.
Kemudian dia menoleh kearah Murong sambil berkata, "Murong, kemarilah dan jadilah lawan latihanku hari ini."
Murong awalnya ingin menolak. Namun setelah berpikir sejenak, dia akhirnya melangkah maju.
Keduanya berdiri berhadapan dan memasang kuda-kuda.
Chongyue menatap Murong dan memperingatkan, "Kerahkan seluruh kekuatanmu atau kau sendiri yang akan terluka."
"Baik." Murong mengangguk singkat.
Begitu melihat lawannya telah bersiap, Chongyue langsung bergerak. Tinju kanannya melesat lurus menuju leher Murong dengan kecepatan tinggi.
Tepat ketika tinjunya hampir mengenai sasaran, Murong memiringkan kepala dengan lincah dan menghindari serangannya.
Namun, Chongyue justru menyunggingkan senyum sinis.
Tinjunya yang semula terkepal tiba-tiba terbuka. Kelima jarinya melengkung seperti cakar dan langsung mengarah ke bagian vital di leher Murong.