NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Pelabuhan Utara dan Taruhan Nyawa

Deru angin laut bergaram berembus kencang menerpa dinding-dinding karat gudang tua nomor empat puluh di kawasan pelabuhan utara. Suasana di sekitar area tersebut tampak sunyi dan mati, jauh dari hiruk-pikuk aktivitas bongkar muat kargo yang biasa terjadi di dermaga utama. Hanya ada suara deburan ombak kecil yang menghantam lambung dermaga kayu dan pekikan burung camar sesekali di langit mendung.

Taksi online yang ditumpangi Reina berhenti tepat seratus meter sebelum gerbang utama gudang atas permintaan gadis itu. Reina melangkah turun dengan napas memburu, merapikan mantel rajutnya, lalu berjalan mengendap-endap menyusuri jalan setapak berkerikil dengan pengawasan super ketat di dalam hatinya.

Meski rasa takut sempat mencengkeram ulu hatinya, tekad Reina jauh lebih besar. Ia tidak bisa membiarkan Nathaniel Arcturus menggunakan kelemahan perusahaan untuk menjatuhkan Jino, apalagi sampai merusak hari pernikahan mereka yang tinggal menghitung minggu.

Klik.

Pintu besi besar gudang tua itu tidak terkunci rapat; pintunya sedikit terbuka, memperlihatkan celah gelap di dalamnya. Dengan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran jantungnya, Reina mendorong daun pintu besi tersebut perlahan hingga terbuka cukup lebar untuk tubuhnya menyelinap masuk.

Suasana di dalam gudang terasa lembap, berbau debu, oli mesin, dan karat besi tua. Cahaya matahari sore merangsek masuk melalui celah-celah atap seng yang berlubang, membentuk garis-garis cahaya terang di tengah ruangan yang remang-remang.

"Aku tahu kau akan datang, Nona Lunox."

Sebuah suara bariton yang dingin dan mengejek tiba-tiba menggema di antara dinding-dinding beton yang kosong.

Reina terkesiap, menghentikan langkahnya seketika. Dari balik tumpukan peti kemas kosong di sudut ruangan, sosok Nathaniel Arcturus melangkah keluar dengan senyuman miring penuh kemenangan. Pria itu mengenakan setelan jas kasual tanpa dasi, berjalan mendekat perlahan sambil memainkan sebatang korek api di sela-sela jarinya. Tidak terlihat adanya pengawal di sekitar Nathaniel, seolah pria itu sangat percaya diri bahwa ia memegang kendali penuh atas situasi saat ini.

Reina menatap Nathaniel dengan sorot mata tajam tanpa rasa gentar sedikit pun. Ia mendongakkan dagunya, menolak untuk terlihat lemah di hadapan musuh bebuyutan calon suaminya itu.

"Jadi, kau benar-benar bernyali besar datang seorang diri ke sarang musuh hanya demi selembar surat ancaman murahan," puji Nathaniel sinis, berhenti beberapa meter di hadapan Reina. "Aku harus akui, keberanianmu memang luar biasa. Pantas saja Jino West sampai tergila-gila."

"Simpan pujian basi itu, Nathaniel," balas Reina dingin, suaranya menggema tegas di dalam ruangan luas tersebut. "Katakan apa maumu sebenarnya? Hentikan permainan kotor ini dan biarkan perusahaan Jino keluar dari intrik busukmu."

Nathaniel tertawa kecil—sebuah tawa meremehkan yang membuat darah Reina mendidih. Ia melangkah mendekat lagi, memaksa Reina mundur selangkah hingga punggung gadis itu membentur tumpukan kotak kayu keras.

"Permainan ini baru saja dimulai, Reina," bisik Nathaniel tajam, matanya menatap lapar ke arah gadis di hadapannya. "Kau pikir aku peduli pada perusahaannya? Yang kuinginkan sejak awal adalah meruntuhkan kesombongan Jino West. Dan cara terbaik untuk menghancurkan seorang raja adalah dengan merebut ratu yang paling diagungkannya."

Sebelum Nathaniel sempat mengangkat tangannya atau melakukan gerakan yang lebih jauh, suara deru mesin kendaraan berat dan rem mendadak berdecit keras dari luar pelataran gudang. Suara itu begitu menggelegar, memecah kesunyian pelabuhan utara dalam hitungan detik.

Brak!

Pintu besi utama gudang tua itu ditendang dari luar hingga jebol dan terlempar menghantam lantai beton dengan suara dentuman yang memekakkan telinga.

Baik Reina maupun Nathaniel langsung menoleh kaget ke arah sumber suara.

Di ambang pintu yang hancur berantakan, berdiri sosok Jino West. Pria itu tidak lagi mengenakan jas rapinya; kemeja hitamnya tampak sedikit berantakan, lengan bajunya digulung sampai siku, dan manik mata kelamnya memancarkan aura membunuh yang jauh lebih mengerikan daripada badai mana pun di muka bumi. Di belakang Jino, beberapa pengawal pribadi bersenjata lengkap langsung bergerak sigap menyebar, mengunci seluruh akses keluar masuk gudang.

Manik mata Jino langsung mengunci sosok Reina yang berdiri terpojok di dekat peti kemas, lalu beralih menatap tajam ke arah Nathaniel Arcturus yang berdiri terlalu dekat dengan gadisnya. Suhu di dalam gudang seolah merosot drastis hingga titik beku.

"Nathaniel," suara Jino menggelegar rendah, berat, dan dipenuhi amarah mendarah daging yang siap meledak. "Kau benar-benar mencari kematianmu sendiri hari ini."

Nathaniel sempat terkejut melihat kecepatan kedatangan Jino, namun ia dengan cepat memulihkan seringai sinis di wajahnya. Ia bahkan tidak mundur sedikit pun, justru melirik Reina dengan tatapan penuh provokasi.

"Wah... lihat siapa yang datang menyelamatkan sang putri," ucap Nathaniel mengejek. "Kau terlambat beberapa menit, Jino. Dan selama beberapa menit itu, aku bisa saja—"

Bugh!

Belum sempat Nathaniel menyelesaikan kalimatnya, Jino sudah melesat bagaikan kilat melintasi jarak di antara mereka. Sebuah hantaman pukulan telak mendarat sangat keras di rahang Nathaniel, membuat tubuh pria itu terpelanting jatuh tersungkur ke lantai beton yang keras.

Nathaniel mengerang kesakitan, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar. Namun, sebelum ia sempat bangkit, Jino sudah mencengkeram kerah jas pria itu dengan satu tangan, menariknya berdiri paksa, lalu melayangkan pukulan kedua yang jauh lebih brutal hingga Nathaniel kembali terhuyung jatuh.

"Jino! Sudah! Jangan pukul dia lagi!" teriak Reina panik, berlari kecil mendekati Jino dan mencengkeram lengan kokoh pria itu. "Dia tidak layak membuatmu mengotori tanganmu sendiri!"

Mendengar suara Reina, amarah membara di dada Jino perlahan-lahan ditarik mundur oleh akal sehat. Pria itu menghentikan pukulannya, melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah Nathaniel dengan kasar. Jino membuang muka, lalu berbalik cepat dan langsung merengkuh tubuh Reina ke dalam dekapannya yang erat dan protektif.

Jino membenamkan wajahnya di ceruk leher Reina, menghirup napas dalam-dalam dengan tubuh yang masih bergetar hebat akibat rasa panik yang luar biasa.

"Kau bodoh... kau benar-benar gadis paling bodoh yang pernah kutemui, Reina," bisik Jino parau, suaranya bergetar hebat menahan ketakutan kehilangan. "Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu tadi? Jantungku rasanya hampir copot saat tahu kau kabur ke tempat berbahaya ini sendirian."

Reina membalas pelukan itu dengan erat, menepuk-nepuk lembut punggung bidang Jino untuk menenangkannya. Hatinya terasa hangat; ia tahu tindakan nekatnya tadi salah besar dan membuat pria itu ketakutan setengah mati, namun di detik yang sama, pelukan ini membuktikan betapa besar dan tulusnya cinta Jino kepadanya.

"Maafkan aku... aku hanya tidak ingin dia memanfaatkan kelemahanmu," bisik Reina tulus di bahu Jino.

Sementara itu, Nathaniel yang masih tersungkur kesakitan di lantai dengan wajah babak belur berusaha bangkit sambil menyeka darah di bibirnya. Ia menatap tajam ke arah pasangan yang sedang berpelukan itu dengan senyuman penuh kebencian dan keputusasaan.

"Kalian... kalian pikir ini sudah berakhir?" geram Nathaniel lemah, menatap punggung Jino. "West Corporation akan tetap runtuh! Bisnis keluargamu akan hancur lebur!"

Jino bahkan tidak repot-repot membalikkan tubuhnya untuk menatap pria sialan itu lagi. Dengan suara dingin tanpa emosi, Jino memberi titah kepada para pengawalnya.

"Bawa dia keluar. Serahkan pada pihak kepolisian atas tuduhan penculikan, ancaman pembunuhan, dan spionase industri. Pastikan dia mendekam di penjara seumur hidup dan tidak akan pernah melihat matahari bebas lagi," perintah Jino mutlak.

"Baik, Tuan!" seru para pengawal serempak, langsung menyeret tubuh Nathaniel keluar dari gudang tanpa memberi ruang bagi pria itu untuk melawan.

Di dalam kesunyian gudang tua pelabuhan utara yang kini berangsur tenang, Jino melonggarkan sedikit pelukannya, menangkup wajah Reina dengan kedua tangan besarnya. Ia menatap lekat-lekat manik mata cokelat gadis itu, lalu mendaratkan ciuman yang dalam, penuh rasa syukur, kepemilikan, dan cinta yang teramat mutlak di bibir Reina.

Badai terbesar dalam hidup mereka akhirnya benar-benar tumbang. Dan di bawah langit pelabuhan yang mulai mencair, Reina dan Jino melangkah keluar bersama menuju masa depan baru yang telah mereka pertaruhkan dengan seluruh jiwa raga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!