Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Ketidakadaan Zuraida di rumah itu membuat si kembar sangat kehilangan. Mereka tak bersemangat menjalani hari-harinya baik di rumah atau sekolah. Setiap hari mereka selalu menanyai daddy mereka kapan Zuraida akan pulang ke rumah mereka.
Daddy mereka tak bisa menjawab pasti. Arfan sendiri kesulitan menghubungi istrinyanya itu. Secepatnya ia akan ke desa dan memaksa Zuraida pulang bersamanya.
"Kalian kenapa nggak happy?," tanya opa saat mengajak si kembar main.
"Opa tahu kenapa Zuraida pergi?," Sena bertanya balik.
Opa tak langsung menjawab. Opa justru memanggil istrinya untuk menjelaskan pada kedua cucunya.
"Oma tahu?," tanya Sena.
"Zuraida sama daddy kalian berpisah. Kalian akan berkumpul lagi sama mommy."
Sena dan Sean saling tatap. Lalu kembali menatap oma mereka.
"Oma tahu ke mana Zuraida pergi?."
"Nggak, lagi pula itu tidak penting. Terpenting kalian bersama lagi."
Sean dan Sena masih di tempatnya setelah oma dan opa pergi. Mereka mencoba menghubungi Zuraida namun masih belum bisa.
"Bagaimana ini Sena?," mata Sean berkaca-kaca.
"Aku nggak mau Zuraida pergi," katanya lagi.
"Aku mau ikut Zuraida saja." Racau Sean.
"Aku juga mau ikut kamu dan Zuraida, Sean. Kita harus mencari Zuraida." Imbuh Sena.
Kedua anak itu meminta supir membawa mereka ke sekolah lama. Berharap bisa bertemu dengan Firman. Mereka menunggu Firman di mobil. Begitu Firman terlihat keluar dari sekolah buru-buru saja Sena dan Sean turun dari mobil. Berlari menghampiri Firman.
"Ada apa," tanya Firman.
"Om tahu di mana Zuraida?," Sean balik tanya.
Firman menatap kedua anak itu lalu menggelengkan kepala.
"Benar om nggak tahu?." Tanya Sean lagi.
"Nggak."
"Ke mana dong Zuraida pergi? Siapa yang tahu ya?." Sean duduk di bangku yang tidak jauh dari mereka.
"Sudah kalian telepon?," tanya Firman.
"Nggak aktif." Jawab Sena.
"Dari kapan Zuraida nggak ada di rumah?."
"Sudah beberapa hari." Sena dan Sean memasang wajah sendu.
"Sudah tanya daddy kalian."
"Sudah, tapi daddy nggak mau bilang di mana. Cuma katanya Zuraida butuh sendiri."
Firman diam sejenak. Apa Zuraida masih di desa atau ke mana?. Ia juga mau tanya sama calon istrinya tidak enak takut malah membuat salah paham. Lebih baik kalau ada waktu Firman sendiri pulang ke desa dan mencari tahu keberadaan Zuraida.
Si kembar pulang lagi dengan tangan kosong.
Di kantor Arfan sedang pusing-pusingnya. Tak fokus pada pekerjaan karena fokusnya hanya pada Zuraida. Banyak dokumen yang bermasalah, untung saja ada asistennya yang teliti hingga tak sampai menyebabkan kerugian.
Kini pria itu harus kedatangan Wilona untuk segera menikahinya lagi.
"Aku nggak bisa menikahimu Wilona," Arfan menolak.
"Bagaimana kalau aku hamil?," desak Wilona.
"Kamu mau anak kita nggak ada daddy. Sena sama Sean juga pasti sedih adik mereka tak diakui oleh daddy mereka." Memasang wajah sendu dengan air mata yang sudah menetes.
"Kamu nggak mungkin hamil Wilona." Tegas Arfan tetap menolak.
"Kita tunggu saja, kalau aku hamil kamu harus menikahiku." Wilona tak melepaskan Arfan barang sedikitpun.
Arfan tak menjawab. Ia ragu mengingat permainannya dengan Wilona dilakukannya tak hanya satu sekali tapi lebih. Arfan mengecek rambutnya frustrasi.
"Nggak apa-apa aku jadi istri kedua jika Zuraida tak mau dicerai." Lirih Wilona.
Arfan tetap diam. Sudah pasti Zuraida akan meminta cerai jika itu sampai terjadi dan ia yang tak menginginkannya.
Wilona keluar kantor Arfan dengan wajah senang. Setelah ini Arfan tak mungkin bisa menolaknya. Ia sudah memantapkan hati untuk kembali pada Arfan. Wilona melipir ke rumah sakit, bertemu seorang dokter kandungan yang sudah dikenalnya.
"Bisa bantu aku kan Tan?."
"Bantu apa?."
"Buat laporan kehamilan."
"Kamu kan memang sedang hamil Wilona."
"Iya, maksudku buat usia kehamilannya lebih muda beberapa minggu."
"Kenapa? Buat siapa laporan itu?."
"Arfan, Tanti, aku mau kembali padanya."
Tanti diam sejenak.
"Edwin belum tahu kamu hamil anaknya?."
Wilona menggeleng.
"Biar aja anak ini menjadi anaknya Arfan."
"Oke."
Wilona sangat bahagia semua rencananya berjalan mulus. Sudah tak sabar menunggu momen dirinya dan Arfan kembali bersama.
Wilona dikejutkan dengan keberadaan Edwin di depan rumah sakit. Yang lebih mengejutkannya lagi Edwin memapah Susan.
"Kalian pacaran?," tanya Wilona sinis.
"Kamu nggak lihat Susan sedang sakit?," sewot Edwin karena dituduh Wilona.
"Kan bisa diantar yang lain bukan mesti kamu."
"Yang ada di tempat kejadian aku ya nggak ada salahnya aku yang antar. Lagi pula Susan sahabat kamu kan?."
Wilona sangat marah. Sangat sensitif.
"Maaf, Edwin. Aku sendiri aja ke dokternya." Susan berusaha melepaskan tangan Edwin yang memeganginya.
"Nggak San, aku antar kamu sampai selesai. Urusanku dan Wilona bisa dibicarakan nanti." Edwin memapah Susan lagi. Tak menghiraukan Wilona yang marah.
Mood Wilona berubah drastis. Ia menjadi sangat pemarah setelah pertemuannya dengan Edwin dan Susan. Sahabatnya itu berani berpacaran dengan Edwin padahal ia sudah melarangnya.
Di rumah sakit Edwin begitu sabar menunggui Susan. Perempuan itu demam tinggi dan harus di rawat di IGD sampai demamnya turun dan hasil pemeriksaan darah tak menunjukkan adanya penyakit serius.
"Kamu pulang aja Ed, terima kasih sudah membawaku ke sini."
"Nggak San, aku di sini menemani kamu."
"Aku nggak mau kamu dan Wilona..."
"Hubunganku dan Wilona sedang kurang baik. Jadi nggak masalah kalau Wilona marah. Sekarang hal kecil nggak penting pun selalu membuat Wilona marah."
"Kamu sangat mencintainya?."
"Iya sih, tapi aku harus pertimbangan kembali setelah kami sering bertengkar. Tapi kamu tenang aja, ini bukan karena kamu."
Beralih pada Wilona yang baru tiba di rumah. Ia mengomeli kedua anaknya karena mereka terus membicarakan Zuraida.
"Nggak boleh lagi kalian menyebut nama Zuraida di rumah ini. Rasanya kepala mommy mau pecah setiap kali kalian menyebut nama itu. Mommy mommy kalian, jadi kalian hanya boleh menyebut nama mommy saja."
Sena dan Sean saling tatap.
"Sekali saja kalian menyebut nama itu mommy akan menghukum kalian. Mommy nggak peduli kalian anak mommy."
"Ada apa ini? Kenapa kamu marah sama anak-anak?." Tanya Arfan yang baru pulang kantor.
"Dad..." kedua anak itu langsung berlindung di belakang tubuh daddy mereka.
"Katakan pada mereka dan ini peringatan, jangan pernah menyebut nama Zuraida."
"Zuraida ibunya mereka dan masih menjadi istriku. Suka-suka mereka saja mau seharian menyebut nama ibu mereka."
"Arfan!."
Kemarahan Wilona kian memuncak saat tak mendapat dukungan. Tak ada yang peduli padanya. Sekarang anak-anaknya sudah menjauh darinya karena Zuraida. Ia tak bisa menerimanya.
"Aku akan menjadi istrimu lagi Arfan dan aku pastikan kamu dan anak-anak nggak akan bisa menyebut bahkan melihat Zuraida lagi."
Bersambung