Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
~Jumat pagi, pukul 05:45 WIB~
Matahari baru saja mengintip dari ufuk timur, memancarkan semburat oranye yang memantul di kaca-kaca jendela kelas SMA Garuda. Embun pagi masih menempel di dedaunan pohon beringin raksasa di dekat gerbang. Sementara sebagian besar siswa masih tertidur lelap atau baru selesai mandi, Bella Anastasia sudah berada di sekolah. Gadis itu tidak sendirian, di belakangnya berjalan beriringan empat anggota inti Unit Manajemen Krisis: Dion, Rindi, Tono, dan Bono. Mereka sedang melaksanakan apa yang Bella sebut sebagai Standard Operating Procedure (SOP) Inspeksi Perimeter Mingguan.
Bella mengenakan seragam putih abu-abu yang disetrika tanpa cela, sepatunya disemir hitam mengkilap. Di tangannya, ia memegang sebuah papan dada (clipboard) berisi lembar ceklis (checklist) tabel inventaris keamanan fisik.
"Dion, laporkan status penguncian gembok gerbang belakang dan kondisi kawat berduri di atas tembok sektor barat," perintah Bella tanpa menoleh, matanya sibuk memindai engsel gerbang utama sekolah yang sedikit berkarat.
Dion yang kini sudah sangat terbiasa dengan bahasa birokrasi bosnya, langsung membuka catatan di ponselnya. Ia membusungkan dadanya, merasa bangga dengan peran barunya sebagai Head of Internal Security.
"Lapor, Bos. Gembok gerbang belakang sudah diganti dengan tipe kuningan anti-cut (anti-potong) sesuai anggaran yang Rindi cairkan dua hari lalu. Kawat berduri di sektor barat ada yang berkarat sepanjang dua meter, kemungkinan karena korosi air hujan, tapi masih cukup tajam untuk merobek celana siapa pun yang nekat manjat."
Bella berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah Dion, lalu mencoret sesuatu di papan dadanya dengan pulpen merah.
"Sebuah sistem keamanan tidak dinilai dari bagian terkuatnya, Dion, melainkan dari titik terlemahnya," ucap Bella dengan intonasi datar namun mendidik, layaknya seorang instruktur Training and Development. "Kawat yang berkarat akan lebih mudah patah jika dipotong dengan tang beton. Dalam ilmu Manajemen Operasional, ini disebut Preventive Maintenance (Pemeliharaan Preventif). Kita memperbaiki kerusakan sebelum kerusakan itu dieksploitasi oleh pihak eksternal, bukan menunggu sampai ada musuh yang berhasil masuk. Rindi, alokasikan dana kas untuk mengganti dua meter kawat tersebut hari ini juga."
Rindi yang sedang menguap lebar langsung tersentak dan berdiri tegak. "S-siap, Bos! Hari ini juga gue cari kawat baru ke toko material. Harga grosir, gue jamin."
"Bagus," Bella kembali berjalan menyusuri tembok luar sekolah. "Alasan saya memperketat keamanan fisik sekolah kita hari ini bukan tanpa dasar empiris. Berdasarkan analisis SWOT yang kita lakukan tempo hari, kita menghadapi ancaman nyata dari faksi radikal di dalam tubuh Geng Serigala. Toni mulai menolak cara damai yang diterapkan Leo."
Mendengar nama Toni, rahang Dion mengeras. Ia mengingat bagaimana Toni mencoba menikam Bella di pelabuhan. Insting bertarungnya seketika menyala, membuat otot-otot di lengannya menegang.
"Bos, kalau si Toni anjing itu emang mau main kotor, kenapa kita nggak serang duluan?" tanya Dion dengan nada bergetar menahan amarah. "Kita tahu markas tongkrongan dia di mana, kasih gue izin bawa anak-anak kelas dua belas yang loyal sama kita. Kita gerebek dia sebelum dia sempat nyerang sekolah kita."
Sarah Paramitha mendesah pelan di dalam tubuh Bella, mengubah mentalitas preman reaktif menjadi manajer yang proaktif adalah pekerjaan penuh waktu. Ia berbalik dan menatap Dion tepat di matanya.
"Dion, mari kita proyeksikan Return on Investment (ROI) dari saranmu," kata Bella, menggunakan nada dingin yang selalu sukses meredam emosi anak buahnya. "Opsi A: Kita menyerang duluan, hasilnya? Kita melanggar hukum pidana. Kita melanggar perjanjian damai kita sendiri dengan Leo, yang akan membuat Leo kehilangan muka dan terpaksa ikut menyerang kita demi gengsinya. Pak Surya akan mencabut otonomi kita, dan bonus bulanan kalian hangus total. Opsi B: Kita memperkuat pertahanan (Defensive Strategy), membiarkan Toni menyerang lebih dulu, merekam tindakannya, dan membiarkan sistem hukum yang menghancurkannya."
Bella menyilangkan lengannya di dada. "Sebagai eksekutif, saya memilih Opsi B. Kekerasan proaktif adalah tanda kemiskinan intelektual. Kita hanya akan bertarung secara fisik jika dan hanya jika ancaman itu sudah berada dalam jarak sentuh dan nyawa kita terancam. Di luar itu, kita menggunakan birokrasi."
Tono dan Bono mengangguk-angguk paham, meski otak mereka bekerja keras memproses kata-kata seperti 'proaktif' dan 'intelektual'. Tepat saat mereka berbelok di sudut tembok sekolah, dekat warung Mang Asep, Tono tiba-tiba menarik lengan baju Dion dan menunjuk ke seberang jalan.
"Bos... Bang Dion... lihat ke sana," bisik Tono panik.
Di seberang jalan raya, terparkir dua buah sepeda motor jenis matic yang knalpotnya dimodifikasi bising. Di atas motor itu, duduk tiga orang remaja berjaket denim pudar. Mereka tidak menggunakan seragam sekolah, salah satu dari mereka sedang sibuk memperhatikan gerbang samping SMA Garuda sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Mereka adalah anggota lapis bawah Geng Serigala.
"Mata-mata," desis Rindi, matanya membelalak. "Mereka lagi scouting (memantau) teritori kita, Bos."
Dion langsung mengepalkan tinjunya. "Biar gue yang urus. Gue patahin leher mereka."
"Tahan posisi, Dion!" perintah Bella tajam, suaranya seperti cambuk. Ia mengangkat tangannya, mencegah anak buahnya bergerak maju. "Jangan bereaksi reaktif. Biarkan mereka melakukan observasi. Kehadiran mereka di sana justru mengonfirmasi hipotesis (dugaan awal) kita."
Bella mengeluarkan ponsel pintarnya, menyalakan kamera, melakukan zoom maksimal, dan memotret wajah ketiga pengintai tersebut serta pelat nomor motor mereka dengan sangat jelas.
"Data adalah senjata," gumam Bella sambil menyimpan ponselnya kembali ke saku rok. "Toni tidak secerdas yang ia kira. Ia mengirim pengintai di siang bolong, di area terbuka, tanpa kamuflase. Ini adalah operasi intelijen tingkat amatir."
Bella kemudian berbalik dan berjalan menghampiri warung Mang Asep. Warung itu baru saja buka, dan Mang Asep sedang menyeduh kopi hitam di balik meja kayu tuanya yang kini jauh lebih bersih sejak insiden audit utang tempo hari.
"Selamat pagi, Paman Asep," sapa Bella dengan senyum sopan yang sangat langka.
"Eh! Neng Bella, selamat pagi, Neng! Tumben mampir sepagi ini. Mau pesen kopi atau teh manis buat anak-anak?" Mang Asep tergagap, masih menyimpan rasa segan yang besar terhadap siswi yang melunasi utang gengnya secara lunas tersebut.
"Tidak perlu, Paman. Saya datang untuk menawarkan kerja sama kemitraan B2B (Business-to-Business) tingkat lokal," kata Bella.
Mang Asep menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aduh, Neng. Mang Asep mah nggak ngerti bahasa orang kantoran. Maksudnya teh kumaha?"
"Sederhana, Paman," Bella meletakkan selembar uang seratus ribu rupiah di atas etalase kaca warung. "Ini adalah biaya retensi atau 'uang muka' layanan keamanan. Tugas Paman hanya satu yaitu jika Paman melihat anak-anak dari sekolah lain, terutama yang memakai jaket denim kusam seperti tiga orang di seberang jalan sana, sedang nongkrong atau memperhatikan sekolah ini lebih dari sepuluh menit, Paman cukup mengirimkan pesan singkat (SMS/WhatsApp) ke nomor Rindi."
Mang Asep melirik uang seratus ribu itu dengan mata berbinar, lalu melirik ke seberang jalan, menyadari keberadaan pengintai Geng Serigala.
"Paman tidak perlu menegur mereka atau ikut campur. Cukup jadi mata dan telinga kami," tambah Bella meyakinkan. "Jika informasi Paman akurat dan tepat waktu, akan ada uang pembinaan tambahan setiap akhir bulan. Apakah Paman setuju dengan SLA (Service Level Agreement) ini?"
"Setuju pisan, Neng Bella! Setuju!" Mang Asep buru-buru mengambil uang tersebut dan memasukkannya ke laci. "Tenang aja, Neng. Mang Asep bakal pantau terus 24 jam. Pokoknya kalau ada lalat asing berani masuk ke area sini, Rindi langsung Mang Asep kabari!"
"Terima kasih atas kerja samanya, Paman," Bella mengangguk hormat, lalu berbalik kepada pasukannya.
"Dion, Rindi, Tono, Bono. Kita baru saja mengamankan Early Warning System (Sistem Peringatan Dini) melalui vendor pihak ketiga. Sekarang mari kita masuk kelas, kita tunggu pergerakan karyawan toksik itu, dan kita siapkan jebakan birokrasinya."
Dion menatap punggung bosnya yang berjalan memasuki gerbang sekolah dengan rasa kagum yang tak berujung. Bagi Dion, Bella bukan sekadar ketua geng, Bella adalah arsitek perang yang mampu menyulap setiap orang di sekitarnya. Bahkan penjaga warung sekalipun, menjadi pion catur di atas papannya yang mematikan.
_____
Jangan lupa like, komen, and votenya ya