Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Brak, brak, brak!
Pagi-pagi sekali, seseorang menggedor pintu kamar Revan dengan penuh amarah.
Saat itu Revan masih sibuk mengejar seseorang di dalam mimpinya. Tiba-tiba suara gedoran keras membuyarkan tidurnya. Dia cuma menjilat bibir, lalu berguling ke sisi lain.
“Siapa sih? Ganggu banget...” gumamnya tanpa benar-benar terbangun.
“Revan! Dasar bajingan! Gue tahu lo ada di dalam! Cepat buka pintunya!”
Bersamaan dengan suara gedoran yang semakin keras, terdengar teriakan seorang perempuan muda dari balik pintu.
“Siska?! Kenapa dia datang ke sini?”
Revan langsung terbangun. Dengan panik, dia meraih jam tangan di samping tempat tidur.
“Jam lima lewat tiga puluh?! Sepagi ini?! Dia mau apa?”
Tiba-tiba Revan teringat kejadian kemarin.
Pertemuan orang tua murid.
Meskipun secara tidak sengaja dia berhasil menemukan beberapa petunjuk penting, ulahnya juga sudah membuat Siska kerepotan. Acara pertemuan orang tua yang sudah dipersiapkan pihak sekolah dengan susah payah berantakan begitu saja. Bahkan ibu Desi hampir sampai harus dilarikan ke rumah sakit!
Kemarin Revan sebenarnya berniat menjelaskan semuanya kepada Siska. Namun, karena terlalu sibuk dengan penyelidikannya, dia malah lupa.
Setelah itu, Siska meneleponnya berkali-kali.
Tapi Revan sama sekali tidak berani mengangkat telepon.
Bukan cuma itu, Siska bahkan mengirimkan rentetan makian lewat WhatsApp. Perempuan itu juga bilang kalau rencana mereka sudah ketahuan dan Revan harus bertanggung jawab atas semua kekacauan tersebut!
Revan tadinya berencana mencari jalan keluar hari ini.
Dia sama sekali tidak menyangka Siska akan datang pagi-pagi begini untuk menggedor pintunya.
Dari cara perempuan itu berteriak, jelas sekali Siska tidak akan pergi sebelum memarahinya habis-habisan!
Revan sempat berniat membuka pintu.
Namun, setelah berpikir lebih jauh, dia langsung mengurungkan niat.
Orang tuanya ada di lantai bawah.
“gue laki-laki dan sekarang cuma pakai celana dalam bergambar bunga. Kalau gue membiarkan perempuan masuk dan orang rumah melihatnya, bagaimana gue jelasinnya?”
“Nggak! Pokoknya pintunya nggak boleh dibuka!”
“Revan! Gue punya informasi lokasi lo! Jangan pura-pura lo!”
Siska kembali berteriak dari luar.
“gue tahu lo di dalam! Cepat buka pintunya!”
Revan langsung memeluk bantal erat-erat dan bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.
Aneh memang.
Saat berhadapan dengan orang lain, Revan sama sekali tidak takut.
Tapi entah kenapa, menghadapi Siska justru membuat nyalinya ciut.
Apalagi setelah memikirkan kejadian ketika dia harus berpura-pura menjadi ayah perempuan itu.
Rasanya seluruh tubuhnya langsung lemas.
“Bagaimana? Jangan kira gue nggak bisa tangkap lo!”
Suara Siska kembali terdengar.
Tak lama kemudian, terdengar suara gemerincing benda logam dari luar.
“Biar gue kasih tahu sesuatu!”
“Gue pemilik kontrakan ini dan gue punya kuncinya!”
“Gue buka pintunya sekarang!”
Siska jelas tidak sedang menggertak.
Sebelum Revan sempat bereaksi, kunci sudah masuk ke lubang pintu.
Klik.
Kunci mulai diputar.
“Waduh, mampus!”
Begitu menyadari pintu akan terbuka, Revan langsung tahu keadaan sudah gawat.
Dia buru-buru menyelinap ke bawah tempat tidur.
Namun, setelah melihat ke kiri dan kanan, dia sadar kamar itu terlalu sempit. Tidak ada tempat yang cukup untuk bersembunyi.
Tanpa pilihan lain, Revan langsung membuka pintu menuju balkon.
Dia berlari keluar.
Tepat saat tubuhnya berhasil masuk ke balkon, pintu kamar sudah terbuka.
“Revan! Gue masuk!”
Siska muncul di ambang pintu.
“Sudah, jangan sembunyi lagi! Gue mau membicarakan sesuatu yang penting!”
“Revan?”
Tidak mendapat jawaban, Siska mulai melihat-lihat seluruh kamar.
Ketika masuk ke kamar tidur, matanya langsung menangkap pintu balkon yang terbuka.
“Hah! Mau lari ke mana lagi lo?”
Siska buru-buru berlari menuju balkon.
Namun, saat sampai di sana, tidak ada seorang pun.
“Aneh...?”
Dinda melihat ke kiri dan kanan.
“Dia benar-benar tidak ada di sini?”
“Mustahil... Aku yakin tadi malam dengar orang itu batuk. Kok sekarang tiba-tiba menghilang?”
“Jangan-jangan orang itu benar-benar punya kasus besar yang harus diselidiki?”
“Revan...?”
Siska kembali masuk ke dalam rumah dan memeriksa seluruh ruangan sekali lagi.
Sementara itu, setelah yakin pintu balkon sudah tertutup, Revan perlahan memunculkan kepalanya dari balkon sebelah.
Karena situasinya sudah sangat genting, dia tidak punya pilihan selain memanjat melalui teralis balkon dan berpindah ke balkon rumah sebelah.
Dia sama sekali tidak tahu apakah Siska sudah pergi atau belum.
Jadi, Revan hanya bisa jongkok sambil menundukkan kepala di balkon rumah empat perempuan cantik yang tinggal di sebelah.
Beberapa menit kemudian, dia mendengar suara rolling door dari lantai bawah.
Revan memberanikan diri mengintip.
Benar saja.
Siska sedang mengunci rolling door toko buah milik keluarganya.
Setelah itu, perempuan tersebut berjalan pergi menuju sekolah.
Namun, sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, Siska sempat berbalik dan melirik ke arah balkon.
Revan langsung kaget setengah mati.
Dia buru-buru menundukkan kepala lagi.
“Gila... hampir jantungan gue!”
Revan menepuk-nepuk dadanya.
“Pagi-pagi begini sudah dibuat lari-larian. Jangan-jangan ini petualangan yang harus gue lalui hari ini?”
Dia menghela napas.
“Kalau iya, petualangannya benar-benar tidak menyenangkan.”
Setelah melihat Siska mengunci rolling door, Revan baru menyadari satu hal.
Orang tua Siska ternyata tidak ada di rumah.
Kemungkinan mereka sedang pergi membeli stok buah untuk toko.
Pantas saja Siska berani datang mencarinya sepagi ini.
“Kalau tahu begini, tadi gue buka pintu saja dan bicara baik-baik dengannya.”
Revan menyesal.
Kalau saja dia tahu rumah itu kosong, dia tidak perlu sampai kabur lewat balkon seperti maling.
Dia berniat membersihkan debu yang menempel di tubuhnya.
Namun, saat melihat dirinya sendiri, Revan langsung terdiam.
Dia baru sadar kalau dirinya masih setengah telanjang.
Yang menempel di tubuhnya hanya celana dalam bergambar bunga.
Sandal pun tidak dipakai.
“Ya sudah. Mandi dulu.”
Revan akhirnya memutuskan kembali ke balkon rumahnya.
Namun, baru beberapa langkah, dia tiba-tiba menyadari sesuatu.
Petualangannya hari ini memang baru saja dimulai.
Tapi sekarang...
Pintu balkonnya sudah dikunci dari dalam oleh Siska!
“Arrggh! Sial!”
Revan menarik gagang pintu berkali-kali.
Tidak bergerak.
Dia kemudian memeriksa jendela.
Sama saja.
Jendela itu juga dilengkapi teralis pengaman dan tidak mungkin dibuka dari luar.
“Arrggh! Gila!”
Revan menggaruk kepalanya dengan frustrasi.
Dalam hati, dia benar-benar mengutuk Siska.
Perempuan itu ternyata penuh akal.
Dia pasti sudah menduga Revan bakal kabur lewat balkon. Karena itulah, setelah masuk ke kamar, dia sengaja mengunci pintu dari dalam.
“Sial banget!”
Revan melihat keluar melalui teralis balkon.
Dia berada di lantai tiga.
Balkonnya juga cukup menjorok keluar.
Kalau dia memanjat sampai ujung teralis lalu melompat ke bawah...
Itu sama saja dengan bunuh diri.
Revan mulai mondar-mandir di balkon sempit.
Kasus Tangan Hilang sudah memasuki tahap paling penting.
Masih banyak hal yang harus dia lakukan.
Tapi sekarang...
Dia bahkan tidak bisa masuk ke rumah sendiri!
Kalau saja ponselnya ada di tangannya, dia masih bisa menelepon seseorang untuk meminta bantuan.
Masalahnya, ponselnya juga tertinggal di dalam kamar.
“Siapa yang bisa gue panggil?”
Revan terus mondar-mandir.
Sampai akhirnya, pandangannya berhenti pada balkon rumah sebelah.
Dia terdiam beberapa detik.
Kemudian matanya berbinar.
“Kalau begitu... Gue coba cara ini saja.”
Revan menarik napas dalam-dalam.
“Gue harus nekat!”
Dia memutuskan masuk melalui rumah sebelah.
Kedua unit tersebut berdempetan. Kalau dia berhasil masuk dari pintu utama rumah tetangga, dia bisa keluar ke lorong dan kembali menuju pintu rumahnya sendiri.
Kebetulan, Revan tahu betul siapa yang tinggal di sebelah.
Empat perempuan muda yang dikenal cantik dan suka bergaul.
Mereka hampir selalu menghabiskan malam di luar dan jarang pulang lebih awal.
Jadi, kemungkinan besar tidak ada seorang pun di rumah pada jam seperti ini.
Revan hanya bisa berdoa dalam hati.
“Semoga pintu balkon mereka bisa dibuka dari dalam.”
Dia menarik napas panjang.
Lalu, dengan cara yang sama seperti sebelumnya, Revan menyeberang menuju balkon sebelah.
Untungnya, balkon rumah itu tidak dilengkapi pintu teralis.
Revan memegang gagang pintu dan menariknya perlahan.
Klik.
Pintunya terbuka.
“Syukurlah...”
Tata letak rumah tersebut hampir sama dengan tempat tinggal Revan.
Balkonnya langsung terhubung dengan kamar tidur.
Namun, begitu masuk, Revan langsung mencium aroma yang cukup kuat dari dalam kamar.
Aroma khas parfum seorang perempuan.
Harum, lembut, dan sedikit memabukkan.
Revan mengernyitkan hidung.
“Kayaknya gue pernah mencium aroma ini...”
Dia berpikir beberapa saat.
“Jangan-jangan punya Naya?”
Sepertinya kamar ini memang milik Naya.
Tirai kamar masih tertutup.
Revan langsung merasa sedikit khawatir.
Bagaimana kalau ternyata ada orang di rumah?
Dia perlahan mengintip ke arah tempat tidur.
Kasurnya berantakan.
Sebagian sprei bahkan sudah terjatuh ke lantai.
Namun, yang paling penting...
Tidak ada seorang pun di atas tempat tidur.
Revan langsung mengembuskan napas lega.
“Untunglah.”
Dia buru-buru meninggalkan kamar dan menuju ruang tamu.
Di salah satu sisi ruang tamu, tepat di dinding tempat televisi berada, terdapat sebuah pintu kaca yang mengarah ke kamar mandi.
Revan baru saja melangkah masuk ke ruang tamu ketika tiba-tiba...
Byur...
Terdengar suara air dari dalam kamar mandi.
Revan langsung berhenti.
“Jangan-jangan...”
Sebelum sempat berpikir lebih jauh, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.
Cahaya dari dalam kamar mandi langsung menerangi ruang tamu yang sebelumnya remang-remang.
Dan pada saat yang sama...
Seorang perempuan yang baru keluar dari kamar mandi tiba-tiba berhadapan langsung dengan Revan!
“Ahhhh!”
Teriakan nyaring menggema di seluruh ruang!